Langsung ke konten utama

Aku Pecandu Obat-obatan Sejak Kecil

Aku lahir dengan berat badan 1.9 kg (kata mama sebesar botol kecap). Sangat jauh berbeda dengan kebanyakan bayi yang baru lahir, yang memiliki berat badan normal. Hari – hari ku teramat sulit, jangankan untuk memakan makanan lain, ASI saja pasti ku muntahkan (walaupun ada sedikit yang tertelan). Hari demi hari tubuh kecilku tak mengalami peningkatan (tetap BB nya 1,9 kg).

“Ini gak benar lagi. Masa’ umur udah 3.5 bulan tapi berat nya gak naik juga”, kata orang tuaku. Lalu mereka membawaku ke rumah sakit. Kata dokter, aku harus dioperasi karena terjadi penyempitan usus dan tidak bisa BAB layaknya bayi normal. Tapi tak bisa dilakukan operasi mengingat BB ku yg cuma 1.9 kg. Lalu saat itu juga aku mulai diopname di rumah sakit dan mulai lah Infus, Suntikan dan berbagai macam obat – obatan serta transfusi darah menjadi teman karibku ku. Selama sebulan setiap hari nya mereka memasuki tubuhku sampai akhirnya aku dinyatakan siap dioperasi dengan BB 2.25 kg.

Operasi pun terpaksa dilakukan dengan berbagai resiko, dibius dulu pasti. Dan Alhamdulillah aku tersadar dari biusan operasi (gak jadi meninggal, hiks). Kemudian aku dirawat selama 2 minggu di rumah sakit, tentunya dengan teman karibku tadi. Aku diperbolehkan pulang kerumah tetapi harus tetap melakukan rawat jalan. Kembali aku di beri obat. Sebenarnya 6 bulan berselang dari operasi pertama, sudah bisa dilakukan operasi selanjutnya. Namun Berat badanku tak menunjukkan kenaikan yang cukup drastis. Sambil menunggu, aku tetap berada dibawah pengawasan dokter dan berteman karib dengan obat – obatan.



Di umur 4 tahun, aku ke kota Medan. Berobat disini dan akan dilakukan operasi oleh dokter spesialis bedah anak. Sudah pasti, teman – teman karibku tak ingin melepaskan diri dariku, mereka selalu menemani aku jika aku sedang di rumah sakit. Dan operasi Laparatomi pun segera dilakukan. Menurut penuturan ibuku, operasi ini dilakukan dengan cara menarik usus ku (30 cm dipotong) yang ada, kemudian disambung ke anus supaya menyatu dan aku bisa BAB layaknya anak normal. Dan aku bisa mengonsumsi makanan dengan biasa. Setelah itu selesailah tugas teman – teman karibku itu.
***
Ternyata tak sampai disitu tugas obat – obatan ini menemaniku, ditahun 2004 aku divonis kista. Obat lagi - obat lagi. Mau tak mau juga aku harus menegak mereka. Dimulai dengan suntikan yang harganya mencapai Rp 1.000.000/botol.  selama 3 bulan. Lalu kista tersebut mengecil dah haidku tetap tak normal. Di tahun 2008 aku berobat kista kembali, kata dokter kistanya masih ada dan dinding rahim ku menebal. Mulailah lagi suntikan dan obat - obatan dari dokter itu ku nikmati sampai hampir 2 tahun.  Ternyata sudah cukup lama suntikan tersebut menjamah tubuhku dan dokter itu berkata, “ah.. sudahlah.. gak usah ku suntik lagi kau ya!! makin lama kulihat, makin besar badanmu”. Aku pun ketakutan dengan kata - kata dokter itu dan aku tak mau kembali ke tempat prakteknya. Kistaku masih ada saat itu, dan haidku tidak datang sebulan sekali.

Di 2010 aku mengalami 3 kali kecelakaan,  dan mereka kembali lagi bersama hari – hariku. Rasanya infus, obat – obatan, jarum suntik, dan berkantong – kantong darah itu tak mau menjauhiku. Kecelakaan terakhir menyebabkan aku harus dioperasi lagi demi memasang pen di siku kiri ku. Setelah aku dapat berjalan normal (aku sempat tak bisa berjalan), dengan sepeda motorku aku kembali ke rumah sakit. Aku ingin melakukan USG untuk melihat kista ini. Setelah pemeriksaan tersebut, aku pun dinyatakan sembuh dari kista. untuk mengatur haid, aku diberikan pil KB “Microgynon”. Pil ini diberikan selama 3 bulan. Perbulannya aku harus menegak 21 butir/21 hari.  Setelah 21 hari, di hari ke 24 barulah aku disibukkan dengan haid dan sakitnya. kini sudah memasuki bulan ketiga, semoga nanti haidku akan normal.
***
Setelah haidku  lancar nanti, maka aku akan dioperasi lagi untuk mengangkat pen di siku kiriku. Memang telah cukup banyak obat - obatan yang ku konsumsi. Namun aku tak dapat berbuat apa - apa. Berkat mereka akhirnya aku pulih walaupun tidak seperti dulu.


Selamat Pagi


Auda Zaschkya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Review Produk] Wardah Hydrating Aloe Vera Gel: Panas dan Perih di Wajah?

[Review] Make Over Intense Matte Lip Cream, se-Matte Apa sih?

Make Over Intense Matte Lip Cream ini, tentu saja bukan produk baru dari sister brand-nya Wardah dan Emina yang notabenenya produk lokal asli Indonesia. Saya juga baru tahu. Tapi ya inilah saya. Karena baru tahu, langsung pengen tahu dan senang sekali dengan produk lokal. Apalagi setelah nengok banyak review dari beauty influencer yang bilang betapa bagusnya produk ini. And finally, saya putuskan untuk meminta lip cream ini kepada salah satu teman laki-laki (Thanks bro!). Dia kasih yang nomor 08 Liberty. Karena masih penasaran sama warna lainnya which is warna kesukaan saya adalah warna ungu, saya beli sendiri juga yang nomor 20 Style. And now, it’s time to review ^_^
Kemasan
Dilihat dari luar, lip cream ini dikemas di dalam kotak berwarna hitam yang cukup mewah buat penyuka warna hitam seperti saya. Tentu saja, seperti lip cream kebanyakan, pada kotaknya bertuliskan nama produk. komposisi, tanggal kadaluarsa, dll. Tepat di salah satu sisi produknya, tak tertutup kotak lias terbuka. Men…

[Review] Mizzu Perfect Wear Eyeliner Pen, Wearable untuk Pemula

Minggu lalu, saya mendapatkan hadiah yang sangat menarik dari Try and Review (Thank you so much #TryandReviewID) yaitu sebuah Mizzu Perfect Wear Eyeliner Pen. Saya memang sudah penasaran sekali dengan eyeliner berbentuk pulpen/spidol ini, apalagi merk Mizzu yang banyak disukai para beauty vlogger. Setelah setiap hari dipakai, dan ya... sekarang waktunya untuk di-review.
Packaging:
Kotaknya ini, Mizzu sekali, di mana didominasi warna putih yang ada garis-garis hitam seperti zebra. Di bagian atas kotak berwarna hitam yang bertuliskan MIZZU yang diikuti nama produk (dalam hal ini Mizzu Perfect Wear Eyeliner Pen) dengan warna putih. Sedikit warna merah jambu (pink) di bagian bawah kotak sebagai petunjuk ukuran eyeliner pen ini yang seberat 2 mg, menjadikan kotaknya terlihat lebih manis meskipun minimalis. 
Di sampingnya (di bagian putih), terdapat kode produksi, tanggal kadaluarsa, perusahaan yang memproduksinya, dan isi kandungan si eyeliner pen ini. Menurut saya, ini sudah sangat baik kare…