Rabu, 23 November 2011

Broken Home: Bukan Alasan Untuk Tak Berprestasi

Mungkin anda pernah mendengar atau bahkan mengetahui bahwa seseorang itu berasal dari keluargaBroken Home (BH)Untuk mengartikan kata Broken Home rasanya sangat mudah bila anda memiliki teman dari keluarga broken home. Tetapi bila ditelusuri lebih jauh, broken home adalah kurangnya rasa kasih sayang dan perhatian dari orang tua kepada anaknya, Sehingga mental si anak sendiri terpukul akan situasi tersebut. Broken Home ini dapat di sebabkan oleh Orang Tua Yang Bercerai atau pun orang tua yang terlalu sibuk dengan urusan nya masing – masing dan jika kedua orang tua ini bertemu, mereka tak jarang juga saling melampiaskan emosinya dihadapan sang anak
13186184751034912496

Dari hasil percakapan saya bersama seorang kompasioner, bahwa apapun yang dilakukan oleh seorang anak dari keluarga Broken home tersebut juga bukan perilaku menyimpang melainkan hanya sebuah ekspresi pelampiasan, dimana mereka tidak mempunyai orang tua yang layak dianggap sebagi poros untuk mengarahkan mereka (mereka sebagai arus). Maka dari itu anak tersebut melakukan berbagai macam cara dan membutuhkan ruang untuk mengekspresikan dirinya, serta ia pun menginginkan apresiasi dari lingkungan atas apa yang ia lakukan. Ekspresi nya tersebut hanyalah suatu bentuk dari perlawanan tehadap ketidakpuasan terhadap keadaan.
Saya mempunyai teman yang berasal dari keluarga broken home. Dia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara yang kesemuanya laki – laki. Kesehariannya seperti anak lain pada umumnya. Semasa sekolah sampai kuliah sekarang, entah berapa banyak dia berganti – ganti pasangan (PLAYBOY). Dari pembicaraan yang kami lakukan, ia sendiri sudah lelah dengan status playboy nya dan tidak ingin buru – buru menikah (umur 32 saja, katanya). Kehidupannya berjalan normal bahkan ia yang paling dapat diandalkan oleh Alm. Ayahnya. Dari mulai mengurus rumah tangga (belanja dan dapur), mengurus abang dan adiknya sampai pada urusan kuliahnya. Dan setelah ayahnya meninggal, ia justru yang mengurus peninggalan ayahnya. Lebih jauh, ia berkeinginan besar untuk membelikan rumah untuk ibunya. Prestasi nya di sekolah pun cukup membanggakan dalam hal kesenian. Menurut saya, ini adalah suatu hal yang positif.
Cukup panjang rasanya jika saya harus membahas tentang perilaku seorang anak yang berasal dari keluarga broken home. Bahkan tak jarang pula mereka diidentikkan layaknya seorang pelaku kriminal. Bukankah itu tidak adil bagi mereka ?
Alangkah baiknya jika kita membiarkan mereka terus menjalani hidup melalui proses pembelajaran dan pendewasaan yang biasanya didapat dari faktor seleksi alam, tentunya dengan sedikit sentuhan kasih sayang dan perhatian dari orang - orang disekelilingnya. Semoga mereka dapat melawati faktor tersebut, dan akan menjadi pribadi yang mumpuni.

Selamat Pagi


Auda Zaschkya

Tidak ada komentar: