Senin, 23 Januari 2012

punya mas PSH : Deskripsi Dalam Narasi Fiksi



Pernahkan, Anda memaparkan atau menggambarkan dengan kata-kata suatu benda, tempat, suasana atau keadaan? Kegiatan yang Anda lakukan itu disebut deskripsi.
Seorang penulis deskripsi mengharapkan pembaca, melalui tulisannya, dapat melihat apa yang dilihatnya, dapat mendengar apa yang didengarnya, mencium bau yang diciumnya, mencicipi apa yang dimakannya, merasakan apa yang dirasakannya. Deskripsi merupakan hasil observasi melalui panca indera, yang disampaikan dengan kata-kata.


Berikut contoh itu:
“Bagimu, cinta adalah aroma dupa dan puja para dewa-dewa di langit. Mantra-mantra doa yang terucap dari bibir tipismu tak kumengerti, terdengar seperti dengungan ribuan suara lebah. Matamu terlihat menerawang. Kau ada disitu, berdiri mematung. Bajumu ungu, berpilin gambar naga warna emas melingkarinya. Sebentar kelopakmu memejam. Pada beranda altar dewamu, kau seperti berbisik.”
“Aku seperti tenggelam dalam khusyuk pujamu…” Bisikku lagi, dan kupercaya dia takkan mendengar karena dia di dalam kelenteng, sedang aku dipelatarannya, sembunyi dan mengintipnya seperti biasanya. Kulanjutkan kembali bisikku, “…kadang ada saja yang iseng menanyaiku kenapa aku berhenti disitu, sejenak untuk melihatmu. Tapi, selalu saja jawaban aku simpan rapat dalam dada. Aku cuma tersenyum, dan orang itu kemudian berlalu meninggalkanku.

“Terusterang, aku suka sekali aroma puja tempatmu ini. Aroma basah rincik hujan di awal musim semi, berpadu harum aroma paraffin dan wangi aroma dupa, sangat segar seperti lembab aroma telaga. Dan anganku seakan melambung mental ke negeri kahyangan, negeri pujamu. Juga selalu saja ada waktu untukku menikmatinya tiap malam saat aku pulang kerja. Dan selalu saja kutemui kau ada disitu.
“Kutakkan bosan, tak akan bosan menunggumu keluar sehabis berdoa dalam kepulan asap dupa. Entah apa yang kurasakan, seperti ada garis takdir yang menyeretku untuk kembali, lagi, dan lagi. Entah sampai kapan hal ini aku hentikan. Aku tak tahu…”(PSH).

Jika penulisnya mempunyai pengamatan yang tajam dengan semua alat-alat inderanya, kemudian menuliskannya dengan kata-kata yang tepat atau dengan menggunakan perbandingan yang tepat, deskripsi ini dapat merupakan tulang punggung yang hidup dan menawan.
Untuk menuliskan sebuah deskripsi perlu kita mengamati dengan tajam, dengan memanfaatkan semua alat indera kita. Bukan hanya pengelihatan saja, seperti yang banyak dilakukan oleh sebagian penulis pemula.

Walaupun ada bermacam-macam bentuk deskripsi yang dapat dituliskan, secara garis besar kita hanya membedakan atas dua macam saja, yakni deskripsi ekspositori dan deskripsi impresionisme.

A. Deskripsi Ekspositori
Deskripsi ekspositori adalah deskripsi yang berisi daftar rincian, semua hal, atau yang menurut penulisnya, hal yang penting-penting saja, yang disusun menurut sistem dan urut-urutan logis objek yang diamati.
Semisal contoh: jika kita mengamati dan ingin mendeskripsikan kereta api, maka urut-urutan logisnya agaknya pastilah dari depan, lokomotifnya, ke belakang, gerbong-gerbong yang mengekorinya lokomotif.
Kalau kita cukup tajam mengamati, hampir segala sesuatu mempunyai logikanya sendiri dan deskripsi ekspositori mematuhi logika ini.

B. Deskripsi Impresionistis
Deskripsi impresionistis kadang-kadang dinamakan juga deskripsi stimulatif, untuk menggambarkan impresi penulisnya, atau untuk menstimulir pembacanya. Berbeda dari deskripsi ekspositori yang biasanya agak lebih ketat terikat pada objek dan atau proses yang dideskripsikan.
Dan deskripsi ekspresionistis ini lebih menekankan impresi, atau kesan penulisnya ketika melakukan observasi, atau ketika menuliskan impresi tersebut. Agak ribet ya? Ya sudahlah, lupakan. Kembali kepenjelasan berikutnya.

C. Deskripsi dalam Narasi Fiksi
Biasanya deskripsi tidak berdiri sendiri sebagai sebuah wacana yang bebas, melainkan terikat pada wacana lain seperti narasi. Dalam wacana narasi fiksi seperti cerpen, novel, dan roman, deskrisi sangat berperan dalam mengekspresikan latar: tempat, waktu, dan suasana.
Deskripsi menjadi bagian kekuatan sastrawan yang mencipta eksotisme, estetika, dan nilai rasa.
Penulis cerpen atau novel seringkali memanfaatkan deskripsi sebagai bagian yang memikat dalam mencitrakan imaji pembaca untuk memahami latar.

Deskripsi itu menjadi salah satu daya pikat, selain unsur-unsur intrinsik yang membangun cerita. Deskripsi seringkali menjadi satu daya pikat yang menyebabkan narasi dalam roman, novel dan cerpen menjadi sangat populer, dahsyat boy.

Tidak ada komentar: