Rabu, 29 Februari 2012

Ketika Canduku Menghilang

Apakah kau melihatku?
Dapatkah kau rasa perihku?
(*)
sejak kehilanganmu
mataku enggan terpejam
malam kurasa semakin kelam
sebab tak kudengar lagi :
tawa khasmu
canda riangmu
banyolan ringanmu



ah,,, februariku
sepi ini perlahan melemahkan pikirku
(*)
Atas izin-Nya
kau akan kembali
Namun kapan?
Tak sabar ku telan pil pahit KERINDUAN
(*)
Aku tahu
Sosokmu sedang terlentang
berbaring diranjang
(*)
Aku mengerti
pikiranmu ingin tenang
namun, layaknya layang-layang
ketika ingin pergi, ia pun menghilang
Begitu juga kau !
(*)
Pikiranku terus tertuju padamu
masih teringat jelas akan candamu
terekam pasti puisi KONFESImu dalam benakku
puisi pengakuan penuh cinta darimu
(*)
Pikiranku lelah
tubuhku lemah
(*)
Hufh… aku tak tahu
sepertinya aku butuh candu
entah selinting marijuana, atau
secangkir kopi pahit, atau
sebungkus kretek berbungkus biru
‘tuk temani lelap malamku

Selasa, 28 Februari 2012

Haruskah Perbedaan Suku Menjadi Alasan Orang Tua Untuk Memisahkan Cinta Anaknya?

Ego akan kesukuan masih membudaya pada sebagian masyarakat kita. Hal ini menyangkut pandangan bahwa hanya sukunya saja yang terbaik dan menganggap sebelah mata pada mereka yang tidak sesuku. Keegoan ini pun sering terjadi pada masalah perjodohan.



Putuskan saja pacarmu. Adat Istiadat, Budaya dan Suku kita berbeda sama dia.

Pernah dengar ucapan seperti itu? Anda pernah mengalaminya? Atau malah pembaca sekalian pernah mengucapkan hal itu kepada anak-anak anda?
Kenyataan seperti itu sudah pernah saya alami sebanyak dua kali, maka dari itu saya amat mengerti bila ada juga yang merasakan hal yang sama.

Di tahun 2008 Ketika saya masih kuliah D3 dulu, saya pernah mempunyai teman dekat. Sebutlah namanya Hendri. Layaknya orang lain yang pacaran, Hubungan itu pernah mengalami pasang surut. Entah karena sifatnya yang bak Don Juan secara dia anak band, sifatnya yang cemburuan terhadap teman-teman lelaki saya ataupun karena kesibukannya bekerja sebagai marketer di salah satu perusahaan telekomunikasi. Namun masalah tersebut masih bisa kami selesaikan.

Saya mengetahui dengan jelas perbedaan suku dan budaya diantara kami namun kami tidak pernah membuat itu jadi masalah, sampai suatu ketika ibu saya menanyakan asal usulnya. Ya pasti saya bilang terus terang apa adanya kepada ibu saya. Sontak ibu saya terkejut dan mengatakan  “adat istiadat kita berbeda nak, cari pacar lain aja”. Namun saat itu saya tak mengindahkan perkataan ibu dan masih saja melanjutkan hubungan dengan Hendri.
Setahun juga hubungan kami berjalan dan sejak diketahui oleh ibu tentu saja beliau tak merestuinya. Berkali-kali saya diperingati oleh ibu sampai ibu saya marah dan berkata “pacaran aja sana, nikah sekalian tapi restu mama tak pernah kamu dapatkan. Mama bilang gak boleh ya gak boleh”.

Lalu dengan berat hati saya memutuskan Hendri dengan alasan “kita ‘gak cocok lagi, banyak kali masalah selama kita pacaran, yang kamu selingkuhlah, masalah kita mengganggu kuliahku”. Namun saya tak mungkin berkata padanya tak direstui ibu karena beda suku.
Ketidaksukaan mama pada Hendripun ditunjukkan saat saya comma di Rumah Sakit dimana Hendri ingin membantu letak tidur saya yang sudah melorot, namun disanggah oleh ibu “jangan pegang-pegang”. Lalu hendripun meninggalkan ruangan.

Selanjutnya di tahun 2010 setelah saya mulai pulih, saya menjalin hubungan lagi dengan seorang pria, sebutlah namanya Bagas. Bagas ini adalah seorang mahasiswa keperawatan yang cukup pintar dalam soal pendidikan maupun ilmu agamanya sehingga saya yakin mengenalkan bagas kepada ibu saya karena type pria seperti bagas yang ibu saya suka. Ketika Bagas datang ke rumah, sambutan dari ibu saya sangat baik.
Hubungan ini cukup mulus karena Bagas bukan type pria yang flamboyant jadi sayapun cukup tenang. Sampai suatu ketika Bagas mengatakan “kita berbeda suku, aku takut orang tua ku ‘gak merestui kita”. Aku Cuma terdiam lalu berkata, maksudnya gimana?Lalu bagaspun bercerita, “dulu abangku pernah punya pacar berbeda suku dengan kami, ketika abang kenalin ke mama, memang mama sambutannya baik walau agak dingin tapi waktu kakak itu pulang mama suruh putusin cewek itu. Mau ‘gak mau ya putus mereka”. Terus abangku yang nikah kemarin itu kan sama orang sesuku kami juga, itupun dijodohin.

Lalu saya mengatakan, “lha,, kita gimana donk? Apa mesti putus juga?”. “gak lah, aku bakal cari moment yang tepat untuk ngomong sama orang tua ku tapi jangan sekarang, biarin aku tenang sampai siap sidang, sabar ya,, sedikit lagi nanti aku janji omongin sama ortuku ketika nanti aku wisuda kamu juga harus hadir,” katanya.

“Baik, pegang janjimu itu ya, aku tagih lagi nanti saat kamu mau wisuda”. Lanjutku. Hubungan ini pun kami jalani seperti biasa walaupun terkadang ada perbedaan pemahaman diantara kami.

Sidang pun selesai dan ia telah memberitahukan jadwal wisudanya sekaligus ia meminta saya untuk hadir. Dua minggu sebelum ia wisuda ibu saya pergi ke kotanya dan sempat membawakan kue untuknya. Ia amat senang menerimanya.

Dengan gembira iapun pulang dan memakan kue itu bersama ibunya dan ibunya bertanya, “kok enak, dari siapa ini?”. “Ooo dari mamanya teman ma”, jawabnya. “Teman apa teman? Kok ngasih kue sih? pacarmu ya?” Berondong ibunya lagi. “Iya, emang pacar dan kami serius”, jawabnya. Orang mana dia? Orang dari suku A, lanjutnya. “Oooo,, jangan ya nak, ‘gak boleh, beda suku sama kita” gak ada cerita lagi, tambah ibunya.

Lalu saya mendesak, bertanya bagaimana tanggapan ibunya. Ia pun menjawab, “ibu ‘gak restu. “ Ok, fine. Aku udah nemu jawabannya, berarti ini waktunya untuk kita pisah, aku tahu ini berat, tapi aku berusaha”, sambungku. “aku mau samamu”, katanya. Aku pun menjawab, “kamu mau sama kau, tapi ibumu ‘gak mau sama aku.. sama aja, restu gak kita dapatkan. Lebih baik pisah”. Dan iapun setuju walaupun ia masih mengatakan cinta lewat SMS, lalu sayapun mengatakan kalau saya sudah punya pacar lagi. Sejak itulah ia berhenti menghubungi saya.
Ketika saya ceritakan kepada ibu saya, beliau mengatakan, “Insya Allah nanti ada yang terbaik”. Lalu saya tambahkan, “Ya, mak tapi nanti kalau ami punya pacar lagi tolong mak jangan permasalahin soal beda suku dan beliau pun menyetujuinya,asalkan ‘gak beda agama, tambahnya.
Memang benar, orang tua memiliki kepentingan yang luar biasa untuk memberi yang terbaik bagi anaknya, tentu dengan tujuan ingin membuat anaknya bahagia. Meski sering tanpa disadari jalan yang mereka tempuh terkadang terkesan “egois”. Tak memikirkan perasaa anak yang sudah berusaha mencari pasangan yang terbaik untuk hidupnya. Begitulah, kacamata orangtua kerap berbeda dengan anak. Hingga ukuran kebahagiaannya pun jadi berbeda.

Saya tahu pasti, Sangat berat menghadapi kenyataan seperti yang sudah saya utarakan diatas. Namun hendaklah orang tua bersikap adil dan bijaksana juga terhadap anaknya. Bukankah Tuhan menciptakan kita dari berbagai macam suku untuk saling melengkapi? Bukankah perbedaan itu yang menyebabkan kita satu? Demokratis juga diperlukan dalam keluarga demi terciptanya keharmonisan.

Senin, 27 Februari 2012

Fenomena “Bully” di Sekolah yang Dilakukan oleh Teman dan Guru

Masa-masa berseragam merah putih, biru putih, dan abu-abu putih menyimpan kenangan tersendiri bagi kita. Segala cerita itu pasti masih terekam jelas di pikiran dan benak kita masing-masing termasuk bullying sesama teman.

Bullying ini lebih didasari oleh sikap iri seseorang terhadap yang lainnyaBullying yang pernah saya lihat memiliki beberapa bentuk, misalnya Bullying terhadap Fisik yang langsung mengenai tubuh seseorang misalnya pemukulan. Kemudian ada juga bullyVerbal yang biasanya diungkapkan lewat gossip. Selanjutnya Bully yang menyebabkan ketidakseimbangan efek Psikologis, misalnya menjelek-jelekkan orang lain.

Sedari masih duduk di bangku SD, fenomena bully – membully ini pernah saya rasakan. Mungkin penyebabnya latar belakang  dan ketidaksamaan pemikiran saya dengan beberapa teman perempuan saya saat itu (tahun 1994).

Saat itu saya Cuma memiliki seorang teman perempuan yang sangat akrab, Rina namanya. Rina yang pendiam sangat jauh berbeda kepribadiannya dengan saya. 6 tahun Selalu bersama memberikan kedekatan secara personal dan emosional tersendiri bagi kami.

Bullying dan Gosip Sesama Teman
Sangking seringnya mendengar kalimat-kalimat tersebut, saya menjadi agak minder sendiri jika berteman akrab dengan mereka (jadi sekedarnya saja), Sehingga sayapun memilih untuk akrab dengan teman-teman lelaki selain Rina.

Saat SMP (tahun 2000), saya dan Rina berpisah sekolah. Tak lama saya juga bertemu Diva, teman di kelas 1 dan 3 SMP yang sepemikiran dengan saya (walaupun tak selalu) dan Alhamdulillah kami masih bersahabat sampai sekarang walaupun kami berbeda tempat tinggal.
1330253413871221146

Diva ini adalah anak dari seorang guru di sekolah saya, sehingga beberapa teman sering mengatakan “huh,, apa ‘gak nilainya dapat bagus terus, dia kan anak guru” atau perkataan sejenis yang pastinya bernada gosip tentu membuatnya sedih karena dampak dari ucapan itu saya rasa cukup menekan faktor psikologisnya. Namun syukurnya ia tak lama terpuruk dengan situasi ini. Iapun menjadi seperti saya yang amat dekat dengan teman-teman lelaki.
Diantara teman lelaki kami, ada yang bernama Riski. Bisa dikatakan Cukup tampan dengan postur tubuh tinggi, berkulit putih layaknya bule (keturunan portugis, lamno). Kebetulan teman SD yang juga teman SMP saya sangat menyukai dia, sebutlah namanya vera, bahkan si vera rela dimintai uang oleh riski. Padahal riski sendiri tidak menyukainya. Riski pernah bilang “aku ganteng gini, gak mungkin suka sama cewek kayak dia, haduhhh da.. gak lah, kayak gak ada cewek lain aja”.

Ketidaksukaan rizki terhadap vera makin menjadi-jadi, sampai suatu saat rizki merangkul saya di depan vera, otomatis si vera ini marah sama saya dan bekata saya merebut laki-laki incarannya. Kemudian vera & the gank mulai memusuhi saya.
Selanjutnya kedekatan saya dengan teman-teman lelaki menyebabkan saya menjadi bahan gossip baru dikalangan teman-teman perempuan saya saat itu. “eh eh, liatlah si auda itu, kemarin dekat sama si A, sekarang sm si B, wah… player juga ya si auda”.Padahal saya lebih memilih dekat dengan teman lelaki karena menurut saya pribadi lelaki itu gak banyak ngomong.
Kalaupun ngumpul sama mereka gak pernah ngegosipin atau certain orang. Bahkan sampai sekarang kalau saya pulang ke kampong halaman saya, saya lebih memilih mengunjungi warung kopi bersama teman-teman lelaki dan juga Diva tentunya.

Bullying yang menyebabkan kekerasan fisik
Kembali ke Riski. Ternyata ketampanan riski menimbulkan konflik social, dimana ada juga kakak kelas laki-laki yang tidak menyukainya yang menyebabkan dirinya dibullysecara fisik.
Sepulang sekolah riski ditunggu di belakang sekolah dan terjadilah perkelahian disitu. Yang menyebabkan orang tua riski pun marah.


Bullying Yang Dilakukan Oleh Guru
Ada seorang guru yang sepertinya sangat tidak suka terhadap saya, namanya bu I. Dari kelas 1 SMP, pasti saya “dapat jatah” dari bu I. Mengapa saya katakan dapat jatah? Lha.. gimana gak, asal ibu I ini masuk kelas, pasti ada aja kesalahan saya di mata Beliau, tak ayal saya langsung disuruh berdiri didepan kelas.
Menurut saya, ini merupakan bullying secara fisik dan psikologis terhadap saya sehingga saya ketakutan sendiri jika jam pelajaran ibu I. Sedapat mungkin saya menjaga sikap didepannya, namun ada saja kesalahan saya yang menyebabkan beliau marah.
Memasuki kelas 3 SMP, saya bertemu lagi dengan beliau. Beliau mengajar seperti biasa namun terkadang masih memperlihatkan ketidaksukannya terhadap saya sampai suatu ketika ada teman yang duduk dibelakang saya tertawa terbahak-bahak, pada saat yang bersamaan saya menoleh kebelakang untuk melihat si kawan, lalu bu I membentak saya dan berkata “BIADAB” untuk saya.

Setelah berkata demikian, beliaupun langsung memarahi saya dan Seisi kelaspun terdiam. Dapatkah pembaca bayangkan betapa malunya saya saat itu? Mau nangis ‘gak mungkin, mau protes lebih ‘gak bisa. Yang ada, mata saya berkaca-kaca disaksikan oleh Diva.
Pulang sekolah, saya mengurung diri dikamar. Sejujurnya saya tidak tahu arti dari BIADAB. Lalu malam hari saya duduk sendiri dan berkata apa ya arti biadab, kok ibu itu bilang saya biadab, tak sengaja ternyata didengar oleh ibu saya, lalu saya cerita kepada ibu. Jelas ibu saya tidak terima sehingga keesokan harinya ibu saya datang kesekolah ingin bertemu dengan bu I namun dicegah oleh Wakil Kepala Sekolah. Menurut bu I, beliau tak sengaja mengatakan hal tersebut, sedang ada masalah keluarga, kilahnya.

Kemudian memasuki SMA Vera dan teman-teman perempuan lain perlahan membaik kepada saya.  Dan guru seperti ibu I pun tidak pernah saya dapati lagi sampai saya menyelesaikan sekolah.

Mari ciptakan lingkungan yang baik di sekolah dan berhentilah menciptakan kesenjangan sosial sesama teman sekolah agar terciptanya kedamaian.

Dan bagi para guru, janganlah melakukan kekerasan fisik ataupun psikologis terhadap murid. Mengapa? Bayangkan saja, interaksi antara murid dan guru disekolah yang terjadi hampir 8 jam dapat mempengaruhi sikap dan sifat si murid itu sendiri.

Pentingnya Etika Membunyikan Klakson di Jalan Raya

Pembaca sekalian pasti telah akrab dengan suara klakson, dari yang bunyinya pelan sekali sampai yang bunyinya kencang atau bahkan berkali-kali.



Para pengguna kendaraan wajib membunyikan klakson pada saat berkendara (jika diperlukan). Mengapa? Sebab, jika kita sedang diatas kendaraan, kita kan ‘gak mungkin sempat ngomong “minggir donk, saya mau lewat nih” atau “hati-hati ya, saya dibelakangmu nih”.
Saya merasa serba salah jika ingin menggunakan klakson, padahal kan saya gunakan demi kepentingan bersama. Seumur-umur saya belum pernah yang namanya nabrak orang walaupun sayanya sering ditabrak.

Terkait dengan penggunaan klakson saya pernah punya pengalaman, yang bisa dibilang lucu atau malah ‘gak banget.
Saat itu saya dan 3 orang teman ingin memenuhi undangan di rumah seorang dosen. Kalau kami naik angkutan kota (angkot), waktu tempuhnya lebih lama mengingat jarak tempuhpun lumayan jauh. Sang temanpun mengusulkan untuk memakai sepeda motor saja. Kami kan berempat, Jadi kami putuskan untuk meminjam sepeda motor pamannya teman. Tetapi sepeda motor itu tidak memiliki klakson. Mau tidak mau ya harus saya kendarai juga.
Jadi selama perjalanan pergi, saya yang mesti mengeluarkan suara ekstra keras, misalnya “ hei minggir”. Lumayan capai memang sebab ini berkali-kali saya ucapkan, tapi saya ya bisa apa kan? Dari pada saya nabrak orang toh jalan pun cukup ramai karena hari itupun hari minggu.
Kemudian pernah juga, beberapa minggu yang lalu saya ingin menuju ke kampus dengan menggunakan sepeda motor. Lagi seriusnya berkendara, tiba-tiba saya dikejutkan oleh seorang pengendara motor yang ingin menyebrang, lalu saya bunyikan klakson eh dianya malah marah. Saya hanya tersenyum dan berlalu. Padahal menurut saya, seharusnya dia memang harus hati-hati, kan dia mau nyebrang.
Karena didasari oleh rasa penasaran saya, lalu saya menjaring opini dari teman-teman via facebook dan SMS. Opini yang mereka sampaikan amat beragam, dimulai dari Ahmad dan Dewi.

Menurut mereka klakson itu sangat penting dibunyikan misalnya pada saat kita hampir menabrak penggguna jalan lain, “daripada nabrak ya mending bunyikan klakson”.
Masih kata mereka, sekarang kebanyakan pemilik kendaraan memakai klakson tidak pada tempatnya misalnya pada saat lampu lalu lintas sedang merah, “orang-orang pada hidupin klaksonnya ramai-ramai, beneran ribut jalan itu, padahalkan kenapa gak sabar aja, toh gak ada juga yang mau berhenti lama-lama, kalau bisa jalan ya pasti jalan”.

Selanjutnya menurut bunda Niken dan Putri, klakson itu sebaiknya digunakan seperlunya. Misalnya jika ada orang yang berada di jalur yang tidak benar dan menghambat perjalanan kita. Kalau ritme suara klaksonnya terdengar cukup, maka orang lainpun tidak akan marah.
Apalagi untuk pengguna mobil, jelas klakson ini amat penting seperti yang diutarakan mas Evan dan Puput, jika perlu dapat digunakan juga lampu isyarat depan belakang. Jika orang yang diklakson itu marah, “turunkan kaca mobil dan sampaikan kita sedang terburu-buru atau anda menghambat perjalanan saya”.

Seperti yang telah saya utarakan diatas, penggunaan klakson itu sendiri sangat penting. Fungsinya menjadi tanda atau warning bagi sesama pengendara. Dan bila ditelisik lebih jauh sesungguhnya karakater orang itu dapat terlihat saat ia berkendara, terutama dari cara ia menggunakan klakson ini. Orang yang cenderung tidak sabar akan terlihat ia royal memainkan klaksonnya berulang  -  ulang sehingga membuat orang marah, sebaliknya mereka yg punya sifat sabar lebih hati-hati dalam menggunakannya.

Alangkah lebih bijaknya bila kita membunyikan klakson seperlunya dan menjunjung tinggi etika dalam berkendara dijalan selanjutnya kita dapat meminimalkan polusi suara jadi gak ribut dijalan kan? Oia, selain itu bisa menghemat baterai juga lho !!!

Selasa, 21 Februari 2012

Wow, Pengemis Juga Pasang Tarif Lho !

Siapa yang tidak kenal dengan pengemis? Saya yakin kita semua sering melihat para pengemis di simpang-simpang jalan yang ada traffic lightnya. Apalagi disaat lampu merah. Beberapa pengemispun menghampiri kendaraan kita, mulai dari anak-anak hingga orang tua.


Pengemis juga kita temui di warung makan (bukan di daam mall, hanya warung biasa), terminal, pasar tradisional dan banyak tempat lainnya.

Bagaimana perasaan anda melihat mereka? Terenyuh bukan?Pasti. Saya yakin anda segera mengambil uang untuk diberikan kepada pengemis tersebut.

Termasuk saya. Jika saya hendak bepergian, saya selalu menyiapkan banyak uang koin pecahan Rp 500,- untuk saya berikan kepada mereka yang pasti akan banyak saya temui di jalan nanti. Terlepas dari mereka masih sehat ataupun tidak, saya yakin berapapun yang akan saya berikan kepadanya, sang pengemis pasti mau menerimanya, sebab yang saya saksikan memang kebiasaannya begitu. Malah mereka mengucap syukur jika telah diberi uang oleh pengguna jalan lain. Alhamdulillah, bukan? Itulah sebabnya, saya meyakini bahwa para pengemis dimana saja sama saja.

Namun suatu ketika, analisa saya tersebut malah salah. Saya jadi bingung sendiri, kok ada ya pengemis yang ‘gak mau dikasih uang walaupun terbilang kecil?

Beberapa waktu yang lalu sehabis mengantar kue di tempat langganan, bersama ibu saya ingin meluangkan waktu untuk makan siang diluar rumah. Lalu saya mengusulkan untuk menuju warung bakso dan mie ayam yang lokasinya berada di belakang Medan Plaza Jl. Iskandar Muda.
Setelah memesan bakso, kami dihampiri oleh seorang pengemis perempuan. Penampilannya lusuh seperti pengemis kebanyakan. Lalu dia menengadah tangan ke arah saya, lalu saya berikan uang receh yang selalu saya bawa dari rumah.

Pembaca tahu apa yang terjadi? Tanpa berucap sepatah katapun ia membiarkan uang tersebut jatuh dari tengadahan tangannya dan pergi meninggalkan tempat duduk saya. Sambil berjalan ke arah pelanggan warung bakso lainnya, ia melirik ke arah saya dengan tatapan sinis.

Kemudian ibu saya berujar, beliau pernah dibentak oleh pengemis yang berulang kali bertemu di pasar peunayong (Banda Aceh). Ya namanya orang sedang di pasar pasti sibuk dengan belanjaannya. Lalu ibu saya dihampiri dan dimintai uang oleh pengemis, lalu ibu saya berucap : maaf pak ya. Tak lama merekapun bertemu lagi, jawaban ibu sayapun sama, lalu si pengemispun membentak ibu saya. Pengalaman ibu saya ini menggelitik saya untuk bertanya kepada teman-teman saya yang lain.

Lalu saya mengumpulkan opini lewat SMS kepada teman-teman saya, jawaban mereka hampir sama dengan yang pernah ibu dan saya alami.

Sebutlah namanya Riko. Suatu ketika Riko sedang makan buah-buahan di warung buah. Kemudian ia dihampiri oleh pengemis yang tentunya berpakaian lusuh. Dan rikopun mengucap : maaf pak ya (secara halus tentunya). Pembaca pasti terkejut dengan jawaban si pengemis. Ia mendo’akan si Riko ini terkena bala (musibah). Lalu zaki juga berujar : aku pernah jumpa pengemis laki-laki yang sudah tua, waktu gak dikasih uang, dia malah marah-marah, menggerutu gak jelas gitu.
Masih menurut penuturan zaki, ada juga pengemis yang cukup terkenal di seputaran rex peunayong (tempat makan yang ramai di Banda Aceh). Pengemis tersebut tidak mau menerima uang kurang dari Rp 1000,-

Lalu saya bertanya lagi kepada Puput. Puput ini tinggal tak jauh dari rumah saya di Medan. Ia malah pernah bertemu pengemis. pengalaman puput : sudah dikasih Rp 1000,- dan tanpa segan sang pengemispun minta tambah lagi.

Sebagai makhluk social, wajib kiranya kita berinteraksi dengan siapa saja tanpa pandang bulu. Termasuk kepada pengemis yang menetapkan tarif seperti yang telah saya utarakan di atas. Bagaimana menurut pembaca jika mendapati kenyataan seperti itu? boleh jadi pembacapun akan kontra menghadapi mereka. Mau memberi ataupun tidak, jelas itu kembali kepada kita. Tak menutup kemungkinan juga banyak orang yang akan memilih-milih dalam beramal, tapi  bukan karena kikir namun lebih kepada faktor efektifitas dalam beramal yang tepat sasaran.

Harapan saya, jangan sampai terpancing emosi dengan tindakan mereka. Tetap diam, kalau perlu senyum saja. Tak ada salahnya jika kita saling berbagi dengan mereka. bersikaplah sewajarnya dan mari beranggapan bahwa mereka tidak seberuntung pembaca sekalian

Sabtu, 18 Februari 2012

Kecewa Kepada Perusahaan, Tak Digaji dan Tak Diterima Bekerja karena Sedang Melanjutkan Kuliah

Uang. Suatu benda yang dapat merubah kehidupan manusia. Semua orang membutuhkan uang, kan? Terlepas dari layak atau tidaknya cara mendapatkan uang, Semua orang ingin mendapatkan uang dengan bekerja menjadi apa saja.

Termasuk saya, saya juga membutuhkan uang untuk meringankan beban ibu saya. Saat itu saya merasa kalau sudah tamat kuliah (kebetulan saya tamatan program D3 sekretaris tahun 2009), saya pikir akan mudah mencari pekerjaan dengan modal gelar Ahli Madya yang telah saya sandang.

13294910041719446089
google image
Tak Digaji Oleh Perusahaan

Mulailah saya giat mencari pekerjaan pada Oktober 2009 itu. Sudah banyak surat lamaran yang saya masukkan saat itu dan awal Desember 2009 saya di terima di salah satu kantor tempat perdagangan valuta asing sebagai sales marketing. Mau tak mau saya harus mengambilnya juga dengan status masih training yang “katanya” gajinya per masuk kantor saja.

Awalnya saya diberikan tugas hanya sebagai telemarketing yang tetap berada di kantor. Rutinitas ini saya sukai, namun beberapa hari kemudian saya diikutkan dengan pimpinan kelompok kami (kami dibagi dalam 3 grup) mencari investor dengan pergi ke rumah orang tersebut (sudah membuat janji).

Di awal tahun 2010 kami yang seharusnya mendapatkan gaji walaupun sedikit malah tidak mendapatkan apa-apa. Jelas saya sangat kecewa sebab perjanjian awalnya tidak demikian. Sayapun keluar dari kantor tersebut. Yang dapat saya lakukan yaitu menghibur diri dengan mengatakan “ Ini Pengalaman, walau kecewa”. Namun saya tak patah semangat masih saja melamar pekerjaan kemana-mana.

Maret 2010 saya mendapat musibah kecelakaan dan harus total istirahat. Abang dan ibu saya berkata setelah sembuh nanti lebih baik melanjutkan kuliah ke jenjang s1. September 2010 mulai lah saya kuliah lagi mengambil Jurusan komunikasi. Kuliah ini sangat saya nikmati namun tak menguburkan niat saya untuk tetap mencari pekerjaan karena kuliah yang saya ambil berlangsung pada sore hari.

Mulai lagi saya memasukkan lamaran pekerjaan kemana – mana dan April 2011 saya mendapatkan tawaran pekerjaan dari abang saya untuk menjadi telemarketing di perusahaan jasa telekomunikasi.
13294970471514868601
google image
Tak Diterima Bekerja Karena Sedang Melanjutkan Kuliah

Di kantor ini saya diharuskan masuk pukul 08.00 wib, lebih cepat dari telemarketer lainnya yang masuk kerja pada pukul 08.30 (itupun mereka banyak yang telat sampai pukul 09.00). Tak apalah pikir saya karena Awalnya pimpinan kantor tersebut memaklumi saya yang sedang menyambung kuliah ini dengan memberikan kelonggaran waktu pulang lebih cepat 30 menit (saya kuliah sore pukul 17.00 wib)

Dari telemarketing yang tugasnya Cuma menghubungi orang via telepon, tiba-tiba saya di tugaskan menjadi Direct Marketing yang diharuskan untuk menjadi sales di luar kantor. Memang saat itu saya diberikan uang saku harian, namun Saya kecewa karena perjanjian awalnya saya Cuma jadi telemarketing namun terpaksa harus saya lakukan juga.

Kekecewaan saya bertambah lagi karena saya tidak diizinkan pulang sebelum event selesai. Jadinya saya baru pulang pukul 17.30 wib. Dimana saat itu saya sangat lelah menjadi sales marketing jadi sayapun tidak bisa masuk kuliah.

Kemudian beberapa hari setelah event selesai, saya dipaksa untuk keluar dari kantor tersebut dengan alasan bahwa sang pimpinan tidak suka dengan saya  yang masih kuliah bila bekerja. Sayapun langsung meninggalkan kantor tersebut. Beberapa hari kemudian saya datang ke kantor itu untuk mengambil gaji harian @ Rp 15.000 / hari. Lalu, saya melamar pekerjaan lagi di kantor lain.

Sempat dipanggil untuk interview dibeberapa perusahaan. Kalau ditanya sekarang kegiatan saya apa saja? Ya jujur saya menjawab saya sedang kuliah melanjutkan S1. Langsung saya ditolak.

Saya rasa bekerja dan kuliah bisa dijalankan secara bersamaan namun, rasa-rasanya gelar Amd saya tidak berguna karena selalu ditolak, jadinya Sampai saat ini saya tidak mencari pekerjaan lagi.

Sekarang yang saya lakukan yaitu kuliah pagi, sore dan malam demi menyelesaikan pendidikan S1 saya.

Dampak Negatif Hubungan Pertemanan di Dunia Maya Bagi Wanita

Memiliki jumlah teman yang cukup banyak merupakan dambaan setiap manusia dimana kita dapat saling berinteraksi dan bertukar pikiran Dengan sendirinya, Proses ini bisa dilakukan di dunia nyata dan dunia virtual (internet). Layaknya nasi yang kita konsumsi setiap hari, intenet telah memiliki porsinya dalam kehidupan kita. Mengapa internet? Sebab, internet ini memberikan dampak yang positif dan Negatif.

Untuk dampak positifnya, pasti masing-masing pribadi kita telah merasakannya dimana internet memudahkan kita dalam bekerja. Juga kita dapat melihat dunia luar secara gamblang. Lalu lewat fasilitas Facebook, Twitter, YM, dsb kita dapat bersosialisasi dengan teman. Positif bukan? Nah, pada tulisan saya ini saya akan menuliskan tentang sisi negatifnya.

Dampak Negatif Internet Bagi Wanita

Sebagai seorang penikmat internet, tentunya saya sering mendapat manfaat dari Interaksi ini. Misalnya, saya sering melihat berbagai informasi yang ada di situs pertemanan. Di sini informasi dibagikan biasanya bertujuan untuk saling mengenal dan sharing (saling berbagi pengetahuan antar anggota situs pertemanan). Sebagaimana yang saya lakukan di Facebook, Twitter, YM maupun Kompasiana yang Tentu saja berdampak positif, namun tak jarang juga saya temui berbagai dampak negatifnya.


Beberapa hari yang lalu, Facebook saya di-add oleh seseorang bernama Rudi (bukan nama sebenarnya). Saya mengkonfirmasi si Rudi ini karena saya melihat bahwasanya dia adalah teman dari teman kampus saya. Menurut informasi yang tertera pada facebooknya, Rudi (35tahun) ini adalah seorang Branc Manager sebuah Hotel Mewah di Medan.

Awalnya ia sangat sopan menegur saya, ”hai, apa kabar?” saya menjawab, ”baik”. ” Tinggal dimana”, saya menjawab seadanya daerah rumah saya. Lalu ia mengatakan, ”ooo dekatlah dengan rumah saya”?,”sudah makan, belum?”, tanyanya lagi. Kemudian sayapun tak menanggapinya, saya pikir apa-apaan ini, baru kenal kok udah sok perhatian.

Beberapa hari kemarin ia menanyakan hal yang sama, dengan ditambahkan, ”oia, kapan kita bisa jumpa?”, ”Buat apa om?, kalau mau jumpa ajak tante dan anak-anaknya juga ya”, lanjut saya. ”oo,, saya belum menikah”, katanya. Lalu saya bertanya lagi, ”kenapa om?”, ”ya karena belum ada jodohnya ”, tambahnya lagi.

Sampai malam tadi ketika saya sedang chat dengan salah seorang kompasioner perempuan, si om ini bertanya, ”lagi dimana?”, ”rumah”, jawab saya singkat. ”saya kerumah ya”, katanya. ”Buat apa om”?, kata saya. ”Buat cium-cium dan peluk-peluk kamu”, jawabnya langsung to the point.

Pernyataan dia tersebut merupakan suatu bentuk pelecehan terhadap saya. Maka tak ayal, saya langsung berkata, “anda kira saya ini perempuan apa?”. Dan saya segera menghapus dia dari pertemanan facebook saya. Tak lama berselang, saya mendapat Poke (colekan) di facebook dari dia. Tentunya tak saya gubris, mengingat pengalaman kemarin (bisa dilihat tulisan saya sebelumnya).

Saya jadi bingung dan benar-benar tak menyangka bahwa sifat supel saya menjadi boomerang bagi diri saya sendiri. Terus terang saya menjadi serba salah, saya tak menanggapi orang lain di dunia maya ini malah dibilang sombong. Jika Saya tanggapi saya malah saya yang jadi korban. Padahal, bila dilihat lebih lanjut, pembaca pasti s
udah tahu bahwa yang saya lakukan adalah hanya bertujuan untuk berinteraksi sosial.



Interaksi sosial ni sangat berpengaruh besar terhadap kelancaran hidup manusia dimana terdapat juga didalamnya penggunaan internet. Penggunaan Internet ini berdampak positif dan negatif. Sebagai makhluk sosial seyogyanya kita saling berhubungan dengan orang lain sekalipun kita tidak mengenal orang tersebut secara langsung, namun tetap waspada melihat maraknya berbagai kasus akibat penggunaan internet dan situs jejaring sosial. Jadi, sudah sepantasnya kita menjaga tingkah laku dan cara bertutur bagaimana pun juga.

Akhir kata, saya berharap agar kita penikmat internet wanita dapat membuka mata supaya bisa lebih waspada dalam bahaya penggunaan internet supaya interaksi ini dapat terjalin secara lebih baik sesuai dengan tujuan awalnya.  Dan harapan saya bagi kaum adam, jangan sembarangan memperlakukan wanita, toh wanita juga tidak mau dilecehkan.

Jumat, 17 Februari 2012

Waspadai Pengguna “Nakal” di Media Online!

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sudah sangat pesat berkembang di seluruh dunia. Salah satunya yaitu Internet yang digunakan oleh manusia untuk saling berinteraksi karena Manusia adalah makhluk social yang sudah pasti tidak dapat hidup tanpa orang lain.
13293149461624901918
image from google
Di Indonesia sendiri sangat banyak pengguna dari layanan internet, maka dari itu kini sudah sangat banyak dari provider telekomunikasi yang memberikan paket internet dari yang mahal sampai yang termurah. Dan sudah pasti, setiap individu yang pandai mengakses internet sudah memiliki akun jejaring social.
Dewasa ini, akun jejaring social semisal facebook, twitter dan G+ sudah menjadi kebutuhan kita. Selain itu kita diberikan kesempatan menulis di Kompasiana ini agar kita dapat saling berbagi antar sesama pengguna lain agar tetap berhubungan baik. Tak jarang juga, bagi kita yang memiliki akun Yahoo Massanger (YM) memberikan alamat YM kita tersebut kepada orang lain, alasannya cukup jelas yaitu hanya untuk melanjutkan silaturahmi (berinteraksi) meski di dunia maya.
Namun sangat disayangkan, penggunaan media online ini makin berpotensi untuk berbuat yang tidak senonoh. Juga sering kali disalahgunakan oleh pihak-pihak yang hanya ingin “nikmat sesaat”. Mengapa saya katakan demikian? Terlebih dahulu sebagai contoh, Silahkan baca tulisan saya yang inihttp://kesehatan.kompasiana.com/seksologi/2011/10/24/kenal-psikopat-di-dunia-maya-keperawanan-pun-melayang/ dan juga di banyak media lainnya.
Terkait dengan permasalahan tersebut, saya memiliki pengalaman yang tidak mengenakkan tentang media online ini. Berawal dari kompasiana, beliau sebut saja Budi meng-add saya. Kemudian ia memberikan nomor ponselnya, serta meng-add juga facebook saya (ada di profil kompasiana). Didasari oleh interaksi tadi, atas permintaannya saya berikan nomor ponsel saya. Kemudian dia langsung menghubungi saya dan berbicara panjang lebar (seputar tulisan reportase saya di kompasiana), jugameng-add ID Ym saya. Saya tertarik Cuma tentang tulisan yang kita bahas. Selanjutnya dia sering mengirimkan saya SMS ke no ponsel saya tersebut bertuliskan pujian ini itu (saya rasa tidak penting), toh kita baru saja berkenalan.
Saya memiliki dua no ponsel dan kebetulan nomor ponsel yang saya berikan padanya jarang saya bawa bila berpergian. Tak ayal SMSnya tak terbalas saat itu juga bila saya diluar rumah. Lalu dia mulai mengirim SMS dengan kata-kata kasar dan bilang BYE. Sepengetahuan saya bye itu adalah ucapan yang digunakan seseorang untuk mengatakan selamat tinggal, namun yang lucunya dia masih terus mengirim SMS pada saya. Pertanyaan saya, dimana letak fungsi kata BYE tadi? Selanjutnya, ia menghapus pertemanan kami di FB, YM dan Kompasiana. Ooo ya sudah, mungkin dia tak nyaman berinteraksi dengan saya.
Lama tak berhubungan via dunia maya ini lagi, beberapa hari yang lalu ia meng-add YM saya lagi. Saya confirm donkk,, kan interaksi (positive saja pemikiran saya). Tak disangka ia malah mengirimkan pesan yang berisikan tentang “kondisi perlakuannya” nya saat itu (tanda petik dua berarti negative). Juga ia mempersilahkan saya untuk membuka Cameranya (ia ingin live show di depan saya melalui webcam). Jujur saya terkejut dan menolak permintaannya serta mengatakan bahwa saya tidak nyaman. Namun berulang kali dia mengirimkan itu. Jengah juga saya, kemudian saya mem-block ID YMnya. Sudah aman, pikir saya.
Dan saya cukup dikejutkan lagi sewaktu saya memposting cerpen di event KCV di Fiksiana Community,  tiba-tiba ia mengomentari postingan saya tersebut sekaligus menyertakan salah satu link you tube (yang tidak pantas), lalu saya menghapus komentarnya. Tak Cuma sampai disitu, ia juga mengirim pesan ke kompasiana saya menceritakan perlakuan negatifnya yang saat itu sedang ia lakukan. Tentu saja tidak saya tanggapi. Cukup jengah saya atas perilakunya tersebut. Memangnya saya perempuan apa? Begini-begini saya masih punya etika bila berkomunikasi di dunia maya.
Kejadian seperti ini juga sudah pernah saya alami juga sejak beberapa tahun yang lalu namun dengan pria yang berbeda sehingga mental saya cukup teruji dalam menghadapi hal-hal yang mengganggu seperti ini sehingga saya dapat memberikan beberapa tips, yaitu Jangan memberikan nomor ponsel dan Jangan memberikan akun facebook, YM, twitter atau SKYPE.
Harapan saya, Selaku sesama pengguna media online, sudah selayaknya mementingkan Etika agar interaksi dan komunikasi yang kita lalui dapat terasa nyaman serta Internet ini dapat bermanfaat. Semoga penuturan dan kesalahan saya ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.

[KVC] Tangisan Di Hari Valentine

Kolaborasi Oleh : Auda Zasckhya + Angelina R 59
13292391041628889157
google image
13 Febuari pukul 08.00 pagi ( 16 jam sebelum hari Valentine )

Nama laki-laki itu valentino. Dia tengah tertidur lelap di sampingku. Tidurnya begitu damai, seperti anak kecil saja. Nyenyak dan membuatku enggan mengusik tetapi dia harus pergi. Jam sembilan dia harus bekerja. Dengan berat hati kubangunkan dia.
“Valent, ayo bangun!” Aku menguncang-guncang pipinya lembut. Dia menggeliat dan mengerang lalu membuka matanya. Dia tersenyum saat menatapku, memunculkan giginya yang putih. Segera dia meraih kepalaku ke dalam dekapannya.
“Aduh senangnya dibangunin bidadari di pagi hari”, Kata Valentino. Aku tersenyum memeluk pria yang sangat kucintai itu.
“Bangun dan segera mandi. Kau tak ingin terlambat kan?”, Kataku akhirnya. Valentino tersenyum lagi, dia melepaskan pelukannya dariku, bangkit dari tempat tidur.
“Padahal aku ingin menikmati pagi ini lebih lama denganmu”, Katanya sebelum menghilang ke kamar mandi.
***
Aku dan Valentino sudah bersama selama dua tahun. Kami pertama kali bertemu di sebuah pesta pernikahan. Valentino adalah sahabat sang mempelai pria sementara aku dan mempelai perempuan adalah teman semasa SMA. Kami dikenalkan kemudian menjadi akrab. Entah sejak kapan, yang pasti perlahan perasaan sayang itu muncul. Kami tidak lagi hanya makan bersama tetapi juga tidur bersama. Aku sangat mencintai Valentino. Sesuai namannya Valentino yang lahir di hari kasih sayang itu romantis dan baik hati. Perhatiannya selalu membuatku merasa spesial.
***
Tiga puluh menit kemudian, Valentino sudah siap. Dia tampak tampan dan gagah dengan setelan kemeja dan celana bahan dari katunnya.
“Kau tampak tampan memakai baju biru”,  Kataku. Dia tersenyum lagi.
“Aku tahu, kalau tidak mana mungkin melepaskanku”, Godanya. Gantian aku yang tertawa.
“Baiklah Lala. Aku pergi yah!” Katanya kemudian setelah dia sudah siap berangkat kerja. Valentino mengecup pipi dan dahiku.
“Aku pergi yah”, Katanya. Dia mengambil kunci mobilnya yang terletak di meja.
“Berjanjilah pulang ke sini jam 12 malam. Aku ingin merayakan ulang tahunmu dan juga valentine bersama”, Kataku. Valentino terdiam. Dia tidak menjawab malah mencium dahiku.
“Ayolah Valentino. Dua kali valentin dan ulang tahunmu yang lalu tak pernah kau habiskan denganku. Sekali ini saja yah!” Aku memohon. Lalu Valentino menatapku lama.
“Nanti aku SMS!” Katanya lalu berlalu dari apertementku. Aku menatap pintu apertemen yang tertutup itu dengan berbagai perasaan di dada. Dalam hati kau berdoa semoga kami bisa bersama malam ini.

13 Febuari, pukul 13.00 (11 jam sebelum hari Valentine)
Aku sedang menikmati nasi goreng sea food sabagai makan siangku ketika SMS dari Valentino datang.
“Aku akan merayakan ulang tahun dan malam valentine bersamamu.” SMS yang membuat aku mendadak kenyang. Segera kuputuskan untuk mempercantik diri di Salon.

13 Febuari pukul 15.00 ( 
9 jam sebelum hari Valentine )
Aku sedang menikmati pijitan refleksi di punggungku ketika SMS dari Valentino datang
“Aku ingin dimasaki. Masakan sesuatu yang spesial.”
Aku tersenyum membaca SMS Valentino dan segera menghentikan pijatan yang baru setengah jalan itu. Valentino paling suka tumis udang saos tiram dan capcay. Tujuanku berikutnya adalah supermarket.
13 Febuari pukul 16.00 ( 8 jam sebelum hari Valentine )
Aku sedang memilah-milah bahan masakan ketika SMS Valentino datang kembali
“Kejutkan aku dengan lingerie yang seksi nanti malam.”
Aku tersenyum membaca SMS Valentino setelah selesai belanja semua bahan masakan. Aku mencari toko pakaian di dalam.

13 Febuari pukul 20.00 ( 4 jam sebelum hari Valentine )

Aku telah menyelesaikan masakan kesukaan Valentino ketika SMSnya datang kembali.
“Mandi yang bersih yah. Aku sampai apetemen dua jam lagi.”
Aku tersenyum membaca SMS itu segera menata makanan yang telah siap itu di atas meja. Dengan setengah berlari aku masuk kedalam kamar memakai gaun merah seksiku. Tidak lupa ku kenakan lingeria yang baru kubeli tadi sore di baliknya.
13 Febuari pukul 23.00 ( 1 jam sebelum hari valentine )

Aku telah siap, aku telah cantik dan makanan yang kumasak telah dingin. Tetapi Valentino tak kunjung datang. Yang datang malah sebuah SMS yang merusak moodku. SMS dari valentino yang membuat aku murka. Segera aku banting semua masakan yang aku masak itu dan berlari ke dalam kamar menangis di sana sepenuh hati. Valentino tega, dia selalu tak pernah merayakan hari ulang tahun dan valentinnya bersamaku.
13292392871098330464
google image

14 Febuari pukul 00.00 (  Hari Valentine )
“Selamat ulang tahun, Sayang!” Rieke berteriak senang dia mencium pipi Valentino mesra.
“Seamat hari valentine juga, yah” Katanya lagi. Valentino tersenyum dan memeluk Rieke dalam hati dia membayangkan Lala yang dia peluk. Dia tahu Lala marah dan mungkin membencinya. Apa mau dikata dia tak bisa melewatkan valentine dan hari ulang tahunnya bersama Lala. Rieke istrinya tiba-tiba muncul dari tugas luar kota. Rieke seharusnya pulang besok siang. Tetapi perempuan itu rela datang lebih awal demi menghabiskan valentin dan ulang tahun bersama Valentino. Padahal dia sudah senang setengah mati Rieke tidak bisa melewatkan malam valentin bersamanya. Sungguh dia ingin bersama Lala.
“Aku sudah pesan tumis udang saos tiram kesukaanmu dan kau juga suda beli lingeria baru.” Kata Rieke. Dan Valentino sungguh ingin bersama Lala.
Sementara berpuluh-puluh meter dari tempat itu, Lala masih menangis pilu terisak. Dia benci mendapati kenyataan bahwa kekasihnya adalah suami orang. Tetapi mau bagaimana lagi, dia sangat mencintai Valentino dan tak bisa hidup tanpa pria itu. dia masih terus menagis menyesali cintanya untuk valentino. Hpnya tergeletak tak jauh darinya SMS terkahir valentino masih tertera di sana
“Maaf Lala aku tak bisa menghabiskan malam bersamamu. Rieke tiba-tiba pulang dari dinas luar kota! Dia ingin menghabiskan malam bersamaku”
Lala terus menangis. Tangisan sedih di hari Valentine untuk cintanya yang begitu dalam pada Valentino.

[KVC] Aku Ingin Bersamamu

Kolaborasi By : Amy Terra Verdiana + Auda Zaschkya (205)
13291126061032647683
google image


Pertama bertemu dengannya tak ada rasa tertarik dariku, bahkan bermimpi menjadi kekasihnya sangat jauh dari khayalku. Namun, aku sempat mengecap manis madu cintanya walaupun Cuma menjadi wanita kedua dihidupnya. Sedikitpun aku tak menyesal menjadi selingkuhannya. Bersamanya ku temukan bahagiaku walaupun tak bertahan lama sebab ia lebih memilih kembali dengan kekasihnya yang terdahulu.
***
Namaku Davana. Aku bekerja di sebuah perusahaan swasta di kotaku. 2 bulan yang lalu aku baru mengakhiri hubunganku dengan mantan kekasihku karena orang tuaku tak menyukainya. Kemudian aku melihat sesosok tampan, seolah hati ini ingin meloncat keluar tubuhku. Hmm… tampan sekali makhluk yang satu ini, suaraku dalam hati.
Namanya Mario. Aku mengenalnya pada pesta perkawinan sepupuku Reza setahun yang lalu. Dengan sikapnya yang cukup ramah dan supel, ia mampu berbicara dengan orang yang baru dikenalnya di pesta itu, termasuk aku. Bersamaku ia sangat ramah bahakan nyaris berbicara terus tanpa mau berhenti jika tak ku ajak mencicipi hidangan.
“kamu gak capek ya ngomong terus?”, makan dulu yuk ntar kita cerita lagi”, ajakku.
“Ok manis, tapi aku maunya makan sama kamu, kalau perlu sepiring berdua, biar kayak orang pacaran gitu”,jawabnya merayu.
Mungkin itu adalah rayuan yang cuma berupa candaan, aku tak peduli dan Cuma mengatakan, “Yuk ah makan dulu”.
Candaan demi candaan terus dilontarkannya padaku hingga kamipun bertukar nomor ponsel, dan ia kembali ke hotel tempatnya menginap.
***
Ya.. ia tinggal di kota lain. Pekerjaanya cukup mapan. Ia adalah kepala cabang di suatu Bank Pemerintah hingga kini makanya ia masih bisa berlibur di kota ini. Saat itu, seusai pesta Ia tak langsung kembali ke kotanya namun ia bertahan berada di kota ini demi bertemu denganku. Aku tak tahu apa yang ia rasakan.
Terus terang aku menyukainya saat itu, ketika mata kami saling menatap. Dan dalam beberapa jam kebersamaan kami, rasa suka itu telah berubah menjadi cinta. Eehmmm…. Mungkin inilah yang dikatakan cinta pada pandangan pertama. ia kelihatan berbeda di mataku. Gayanya yang bak Pria metroseksual memancingku untuk mengenal lebih jauh tentangnya.
Seringnya kami bertemu selama liburannya hingga dia terbiasa denganku. Dan Tanpa rasa canggung ia menceritakan tentang dirinya, keluarganya, pekerjaannya, bahkan ia mengakui bahwa di kotanya ia sudah memiliki seorang kekasih, mahasiswi jurusan kedokteran yang sering sakit-sakitan. Sontak aku terkejut, pupus sudah harapanku untuk dapat memiliki hatinya.

1329036638596255750
selingkuh, namun aku nikmati. google image
Ternyata ia pun memiliki rasa yang sama terhadapku, ia telah menyatakan cintanya padaku dan aku menerimanya. Hmmm.. kenapa tidak? Aku single lagipula baru putus. Ya sudah aku menerimanya, walau ku tahu mungkin aku tak bisa selamanya  bersamanya. Aku ingin merasa bahagia walau hanya untuk saat ini.
***
Di suatu pagi ia menghubungiku, mengajak bertemu di hotel tempatnya menginap, katanya ia sedang tak enak badan. Lalu aku bersiap-siap dan membelikan obat serta makanan.Satu jam kemudian, aku tiba di hotel. Kemudian dia membukakan pintu untukku, setelah menutup pintu ia langsung memelukku dan aku merasakan tubuhnya yang panas. Ya… dia demam. Lalu aku menyuapinya makan dan memberikannya obat. Tak lama iapun tertidur dipangkuanku. Sembari membelai wajahnya, aku berucap :
Salahkah aku mencintaimu walau kutahu sangat sulit untuk kita bersatu. Statusku hanya sebagai selingkuhanmu saat ini dan mungkin kita tak bertemu lagi seusai liburanmu ini.
Iapun terbangun dari tidurnya dan langsung mengecup bibirku, kemudian ia berkata, “Jika aku boleh memilih, aku lebih memilihmu, Dav. Aku menemukan harapanku di cintamu, namun apa dayaku? Aku tak bisa memutuskan Riska karena dia sakit-sakitan dan orang tua nya telah memberi pesan padaku untuk menjaganya. Aku takut penyakitnya kambuh dan seketika ia meninggal”.
Sedih memang saat aku mendengar perkataannya, namun apa yang bisa aku lakukan.“nikmati dan habiskan waktumu disini bersamamku, rio. Aku inginkan kamu”, paparku parau. Tak lama ia menciumku lagi dan aku membalas pangutan liar bibirnya. Kami menikmati ini semua. Rasanya aku tak ingin berpisah darinya, sehingga aku memutuskan menginap bersamanya di hotel itu. Namun, dia tak pernah menyentuh bagian-bagian terlarang ditubuhku selain bibirku. Dia berkata, “aku mencintaimu, namun aku tak ingin merusakmu dav”.
***
Minggu ini ia harus kembali melanjutkan pekerjaan di kotanya dan gadis kecilnya telah menunggu dengan tak sabar. Gadis kecil itu bolak balik menghubunginya ketika saat itu aku sedang dipeluknya. Aku tak perduli, yang aku tahu saat itu aku sedang dipelukannya. Dia berkata, “datanglah ke rumahku minggu depan, aku ingin memelukmu lagi, merasakan hangatnya cintamu, namun kita harus hati-hati terhadap Riska”. Aku mengangguk lalu aku mengantarnya ke bandara dengan taksi yang sudah kami pesan. Didalam taksi iapun tak henti mendekapku.
***
Setelah ia tiba di kotanya, ia menghubungiku dan memintaku menyusulnya. Seminggu kemudian aku berangkat ke kotanya. Aku tiba dan tanpa canggung ia merangkulku di bandara kotanya dan mengajakku kerumahnya yang memang kosong. Aku menginap disitu, tetap dia tak merusakku. Namun, pelukan dan ciummannya terus mendarat di pipi serta bibirku. Layakanya seorang istri, aku menungguinya setiap hari sepulang kerja. Menyiapkan makan malam serta sarapannya.
Sampai suatu hari di minggu siang, kekasihnya Riska tiba-tiba datang kerumahnya dan menyaksikan kami tengah berpangutan di ruang tengah rumahnya. Seolah tak mengingat penyakitnya, Riska yang terkejut langsung marah-marah saat itu. Ia memaki-makiku dengan ucapan kotor dan tak lama ia pun pingsan.
Mario mengangkatnya ke sofa. “maafkan Riska ya Dav, karenaku kamu jadi korban makiannya, namun apa dayaku? Aku tak mampu memilih dia atau kamu”, ujarnya. “sudahlah rio, biarkan aku kembali ke kotaku dan silahkan kamu melanjutkan hubunganmu dengan Riska, aku tak mau dia meninggal gara-gara hubungan kita”. sambungku. “Aku berjanji, walaupun kita mungkin tak mungkin bersama, namun percayalah aku akan tetap mencintaimu. Ya walaupun Riska ada diantara kita”, Lanjutnya. Satu jam kemudian aku kembali kekotaku dan mencoba membuka lembaran baru. Sakit memang, namun cinta itu begitu nikmat dan aku tak menyesali hubungan itu.
***
Sampai saat ini, Mario masih sering menghubungiku walaupun statusku tetap menjadi wanita kedua dihidupnya. Mungkinpun suatu saat nanti ketika kami masing-masing telah menikah, namun cinta itu masih kami bawa, selamanya.
= TAMAT =