Senin, 27 Februari 2012

Fenomena “Bully” di Sekolah yang Dilakukan oleh Teman dan Guru

Masa-masa berseragam merah putih, biru putih, dan abu-abu putih menyimpan kenangan tersendiri bagi kita. Segala cerita itu pasti masih terekam jelas di pikiran dan benak kita masing-masing termasuk bullying sesama teman.

Bullying ini lebih didasari oleh sikap iri seseorang terhadap yang lainnyaBullying yang pernah saya lihat memiliki beberapa bentuk, misalnya Bullying terhadap Fisik yang langsung mengenai tubuh seseorang misalnya pemukulan. Kemudian ada juga bullyVerbal yang biasanya diungkapkan lewat gossip. Selanjutnya Bully yang menyebabkan ketidakseimbangan efek Psikologis, misalnya menjelek-jelekkan orang lain.

Sedari masih duduk di bangku SD, fenomena bully – membully ini pernah saya rasakan. Mungkin penyebabnya latar belakang  dan ketidaksamaan pemikiran saya dengan beberapa teman perempuan saya saat itu (tahun 1994).

Saat itu saya Cuma memiliki seorang teman perempuan yang sangat akrab, Rina namanya. Rina yang pendiam sangat jauh berbeda kepribadiannya dengan saya. 6 tahun Selalu bersama memberikan kedekatan secara personal dan emosional tersendiri bagi kami.

Bullying dan Gosip Sesama Teman
Sangking seringnya mendengar kalimat-kalimat tersebut, saya menjadi agak minder sendiri jika berteman akrab dengan mereka (jadi sekedarnya saja), Sehingga sayapun memilih untuk akrab dengan teman-teman lelaki selain Rina.

Saat SMP (tahun 2000), saya dan Rina berpisah sekolah. Tak lama saya juga bertemu Diva, teman di kelas 1 dan 3 SMP yang sepemikiran dengan saya (walaupun tak selalu) dan Alhamdulillah kami masih bersahabat sampai sekarang walaupun kami berbeda tempat tinggal.
1330253413871221146

Diva ini adalah anak dari seorang guru di sekolah saya, sehingga beberapa teman sering mengatakan “huh,, apa ‘gak nilainya dapat bagus terus, dia kan anak guru” atau perkataan sejenis yang pastinya bernada gosip tentu membuatnya sedih karena dampak dari ucapan itu saya rasa cukup menekan faktor psikologisnya. Namun syukurnya ia tak lama terpuruk dengan situasi ini. Iapun menjadi seperti saya yang amat dekat dengan teman-teman lelaki.
Diantara teman lelaki kami, ada yang bernama Riski. Bisa dikatakan Cukup tampan dengan postur tubuh tinggi, berkulit putih layaknya bule (keturunan portugis, lamno). Kebetulan teman SD yang juga teman SMP saya sangat menyukai dia, sebutlah namanya vera, bahkan si vera rela dimintai uang oleh riski. Padahal riski sendiri tidak menyukainya. Riski pernah bilang “aku ganteng gini, gak mungkin suka sama cewek kayak dia, haduhhh da.. gak lah, kayak gak ada cewek lain aja”.

Ketidaksukaan rizki terhadap vera makin menjadi-jadi, sampai suatu saat rizki merangkul saya di depan vera, otomatis si vera ini marah sama saya dan bekata saya merebut laki-laki incarannya. Kemudian vera & the gank mulai memusuhi saya.
Selanjutnya kedekatan saya dengan teman-teman lelaki menyebabkan saya menjadi bahan gossip baru dikalangan teman-teman perempuan saya saat itu. “eh eh, liatlah si auda itu, kemarin dekat sama si A, sekarang sm si B, wah… player juga ya si auda”.Padahal saya lebih memilih dekat dengan teman lelaki karena menurut saya pribadi lelaki itu gak banyak ngomong.
Kalaupun ngumpul sama mereka gak pernah ngegosipin atau certain orang. Bahkan sampai sekarang kalau saya pulang ke kampong halaman saya, saya lebih memilih mengunjungi warung kopi bersama teman-teman lelaki dan juga Diva tentunya.

Bullying yang menyebabkan kekerasan fisik
Kembali ke Riski. Ternyata ketampanan riski menimbulkan konflik social, dimana ada juga kakak kelas laki-laki yang tidak menyukainya yang menyebabkan dirinya dibullysecara fisik.
Sepulang sekolah riski ditunggu di belakang sekolah dan terjadilah perkelahian disitu. Yang menyebabkan orang tua riski pun marah.


Bullying Yang Dilakukan Oleh Guru
Ada seorang guru yang sepertinya sangat tidak suka terhadap saya, namanya bu I. Dari kelas 1 SMP, pasti saya “dapat jatah” dari bu I. Mengapa saya katakan dapat jatah? Lha.. gimana gak, asal ibu I ini masuk kelas, pasti ada aja kesalahan saya di mata Beliau, tak ayal saya langsung disuruh berdiri didepan kelas.
Menurut saya, ini merupakan bullying secara fisik dan psikologis terhadap saya sehingga saya ketakutan sendiri jika jam pelajaran ibu I. Sedapat mungkin saya menjaga sikap didepannya, namun ada saja kesalahan saya yang menyebabkan beliau marah.
Memasuki kelas 3 SMP, saya bertemu lagi dengan beliau. Beliau mengajar seperti biasa namun terkadang masih memperlihatkan ketidaksukannya terhadap saya sampai suatu ketika ada teman yang duduk dibelakang saya tertawa terbahak-bahak, pada saat yang bersamaan saya menoleh kebelakang untuk melihat si kawan, lalu bu I membentak saya dan berkata “BIADAB” untuk saya.

Setelah berkata demikian, beliaupun langsung memarahi saya dan Seisi kelaspun terdiam. Dapatkah pembaca bayangkan betapa malunya saya saat itu? Mau nangis ‘gak mungkin, mau protes lebih ‘gak bisa. Yang ada, mata saya berkaca-kaca disaksikan oleh Diva.
Pulang sekolah, saya mengurung diri dikamar. Sejujurnya saya tidak tahu arti dari BIADAB. Lalu malam hari saya duduk sendiri dan berkata apa ya arti biadab, kok ibu itu bilang saya biadab, tak sengaja ternyata didengar oleh ibu saya, lalu saya cerita kepada ibu. Jelas ibu saya tidak terima sehingga keesokan harinya ibu saya datang kesekolah ingin bertemu dengan bu I namun dicegah oleh Wakil Kepala Sekolah. Menurut bu I, beliau tak sengaja mengatakan hal tersebut, sedang ada masalah keluarga, kilahnya.

Kemudian memasuki SMA Vera dan teman-teman perempuan lain perlahan membaik kepada saya.  Dan guru seperti ibu I pun tidak pernah saya dapati lagi sampai saya menyelesaikan sekolah.

Mari ciptakan lingkungan yang baik di sekolah dan berhentilah menciptakan kesenjangan sosial sesama teman sekolah agar terciptanya kedamaian.

Dan bagi para guru, janganlah melakukan kekerasan fisik ataupun psikologis terhadap murid. Mengapa? Bayangkan saja, interaksi antara murid dan guru disekolah yang terjadi hampir 8 jam dapat mempengaruhi sikap dan sifat si murid itu sendiri.

Tidak ada komentar: