Selasa, 21 Februari 2012

Wow, Pengemis Juga Pasang Tarif Lho !

Siapa yang tidak kenal dengan pengemis? Saya yakin kita semua sering melihat para pengemis di simpang-simpang jalan yang ada traffic lightnya. Apalagi disaat lampu merah. Beberapa pengemispun menghampiri kendaraan kita, mulai dari anak-anak hingga orang tua.


Pengemis juga kita temui di warung makan (bukan di daam mall, hanya warung biasa), terminal, pasar tradisional dan banyak tempat lainnya.

Bagaimana perasaan anda melihat mereka? Terenyuh bukan?Pasti. Saya yakin anda segera mengambil uang untuk diberikan kepada pengemis tersebut.

Termasuk saya. Jika saya hendak bepergian, saya selalu menyiapkan banyak uang koin pecahan Rp 500,- untuk saya berikan kepada mereka yang pasti akan banyak saya temui di jalan nanti. Terlepas dari mereka masih sehat ataupun tidak, saya yakin berapapun yang akan saya berikan kepadanya, sang pengemis pasti mau menerimanya, sebab yang saya saksikan memang kebiasaannya begitu. Malah mereka mengucap syukur jika telah diberi uang oleh pengguna jalan lain. Alhamdulillah, bukan? Itulah sebabnya, saya meyakini bahwa para pengemis dimana saja sama saja.

Namun suatu ketika, analisa saya tersebut malah salah. Saya jadi bingung sendiri, kok ada ya pengemis yang ‘gak mau dikasih uang walaupun terbilang kecil?

Beberapa waktu yang lalu sehabis mengantar kue di tempat langganan, bersama ibu saya ingin meluangkan waktu untuk makan siang diluar rumah. Lalu saya mengusulkan untuk menuju warung bakso dan mie ayam yang lokasinya berada di belakang Medan Plaza Jl. Iskandar Muda.
Setelah memesan bakso, kami dihampiri oleh seorang pengemis perempuan. Penampilannya lusuh seperti pengemis kebanyakan. Lalu dia menengadah tangan ke arah saya, lalu saya berikan uang receh yang selalu saya bawa dari rumah.

Pembaca tahu apa yang terjadi? Tanpa berucap sepatah katapun ia membiarkan uang tersebut jatuh dari tengadahan tangannya dan pergi meninggalkan tempat duduk saya. Sambil berjalan ke arah pelanggan warung bakso lainnya, ia melirik ke arah saya dengan tatapan sinis.

Kemudian ibu saya berujar, beliau pernah dibentak oleh pengemis yang berulang kali bertemu di pasar peunayong (Banda Aceh). Ya namanya orang sedang di pasar pasti sibuk dengan belanjaannya. Lalu ibu saya dihampiri dan dimintai uang oleh pengemis, lalu ibu saya berucap : maaf pak ya. Tak lama merekapun bertemu lagi, jawaban ibu sayapun sama, lalu si pengemispun membentak ibu saya. Pengalaman ibu saya ini menggelitik saya untuk bertanya kepada teman-teman saya yang lain.

Lalu saya mengumpulkan opini lewat SMS kepada teman-teman saya, jawaban mereka hampir sama dengan yang pernah ibu dan saya alami.

Sebutlah namanya Riko. Suatu ketika Riko sedang makan buah-buahan di warung buah. Kemudian ia dihampiri oleh pengemis yang tentunya berpakaian lusuh. Dan rikopun mengucap : maaf pak ya (secara halus tentunya). Pembaca pasti terkejut dengan jawaban si pengemis. Ia mendo’akan si Riko ini terkena bala (musibah). Lalu zaki juga berujar : aku pernah jumpa pengemis laki-laki yang sudah tua, waktu gak dikasih uang, dia malah marah-marah, menggerutu gak jelas gitu.
Masih menurut penuturan zaki, ada juga pengemis yang cukup terkenal di seputaran rex peunayong (tempat makan yang ramai di Banda Aceh). Pengemis tersebut tidak mau menerima uang kurang dari Rp 1000,-

Lalu saya bertanya lagi kepada Puput. Puput ini tinggal tak jauh dari rumah saya di Medan. Ia malah pernah bertemu pengemis. pengalaman puput : sudah dikasih Rp 1000,- dan tanpa segan sang pengemispun minta tambah lagi.

Sebagai makhluk social, wajib kiranya kita berinteraksi dengan siapa saja tanpa pandang bulu. Termasuk kepada pengemis yang menetapkan tarif seperti yang telah saya utarakan di atas. Bagaimana menurut pembaca jika mendapati kenyataan seperti itu? boleh jadi pembacapun akan kontra menghadapi mereka. Mau memberi ataupun tidak, jelas itu kembali kepada kita. Tak menutup kemungkinan juga banyak orang yang akan memilih-milih dalam beramal, tapi  bukan karena kikir namun lebih kepada faktor efektifitas dalam beramal yang tepat sasaran.

Harapan saya, jangan sampai terpancing emosi dengan tindakan mereka. Tetap diam, kalau perlu senyum saja. Tak ada salahnya jika kita saling berbagi dengan mereka. bersikaplah sewajarnya dan mari beranggapan bahwa mereka tidak seberuntung pembaca sekalian

Tidak ada komentar: