Sabtu, 14 April 2012

Wanita Menikah Karena “Target” Usia, Haruskah?

Memiliki keluarga dan bisa bersikap mandiri adalah kenyataan yang pasti diinginkan oleh setiap manusia. Jalan yang ditempuh untuk mendapatkan “Hak” itu sepenuhnya adalah dengan menikah. Mengapa saya katakan Hak? Karena disinilah saatnya kita mengatur keluarga kita sendiri dan lepas dari beban orang tua. Namun bukan berarti orang tua menjadi tidak penting, lho. Orang tua tetap memiliki peranan penting sebagai penasehat.

Siapa yang tak ingin menikah? Setiap manusia yang sudah cukup dewasa pasti ingin menikah. Bagi para wanita, pikiran untuk menikah biasanya timbul diatas usia 20 tahun sehingga sang wanita memiliki target usia. Target tersebut berkisar antara usia 25 – 30 tahun. Keinginan ini menjadi semakin menggebu-gebu sekaligus menambah kecemasan tersendiri ketika melihat kenyataan bahwa diantara teman-temannya ada yang sudah menikah terlebih dahulu. Kondisi tersebut tak jarang memberi kesan seperti mendoktrin si wanita untuk terburu-buru menikah, lalu target baru pun bermunculan yaitu harus menikah sebelum berusia 25 tahun.



Terkait dengan target usia dalam menikah ini, saya memiliki pengalaman pribadi yang saya rasa cukup layak saya tuliskan disini.
Suatu hari saya diundang oleh seorang teman untuk menghadiri pesta perkawinannya. Ia berkata “bawa pacarmu ya, da”. Kemudian pada hari H, saya datang sendiri ke acara tersebut. Terlihat tamu – tamu lain yang juga mengenal saya dengan bangga membawa pasangannya (ada juga yang bawa pacar) menanyakan kepada saya, “sama siapa,da? Mana pacarmu? Kok sendiri aja datangnya?”.

Saya tahu, mereka ingin melihat saya membawa pacar. Namun, Bagi saya pribadi, kalau baru pacar saja belum pantas rasanya bila dibawa ke tengah-tengah acara sakral seperti pesta perkawinan tesebut. Syukur-syukur kalau nanti menikahnya sama sang pacar, kalau tidak?? Pastinya akan timbul lagi pertanyaan baru, semisal “lho,, ini toh suamimu, yang dulu kau bawa pesta si Nani siapa?”. Malu, kan? Tentu. Nah, pertanyaan lanjutan semacam inilah yang sangat saya hindari.

Beberapa bulan setelah pestanya tersebut, lalu sang teman menayakan kepada saya, “kapan kau mau nikah da?“. Saya menjawab, “nantilah, kuliahku pun belum siap”. “Alah.. ngapain mikir-mikir kuliah, targetmu mana? merid aja terus, malulah sama umur”, katanya.

Pernah juga teman yang lain menanyakan resolusi saya di tahun 2012 ini. Jawaban saya tetap sama yaitu menyelesaikan kuliah. Lalu ia pun mengatakan, “resolusi 2012 ku adalah menikah, ini saat yang tepat da, mengingat umurku udah mau 24 tahun, targetku yaitu sebelum umur 25 tahun aku udah harus menikah. Aku ‘gak mau sampai lewat 25 tahun. Kau nunggu apalagi da? Merid ajalah, ngapain kau kuliah tinggi-tinggi, toh istri itu tugasnya udah jelas harus mengatur rumah tangga”, paparnya.

Memang benar, bagi wanita usia ini merupakan suatu hal yang biasanya menjadi pertimbangan untuk seseorang menikah. Apalagi bila menyaksikan teman-taman sebaya yang telah menikah terlebih dahulu. Situasi ini makin jelas menstimuli pikiran seorang wanita untuk menikah sebelum menginjak usia 25 tahun. Keinginan tersebut semakin tinggi sebab adanya sebutan perawan tua jika belum juga menikah diatas usia 30 tahun.

Sebelum melaksanakan suatu pernikahan, sebaiknya seorang wanita harus benar-benar mapan. Pertanyaannya Lho, kok mapan? Mapan kan harus dari pihak suami. Suamilah yang harus memiliki penghasilan demi menghidupi keluarganya. Benar, itu memang tugas suami. Namun jika anda memiliki keahlian lebih, kenapa anda tidak membantu suami dengan mencari uang? Mengingat semakin mahalnya kebutuhan hidup zaman sekarang. Kemapanan finansial memang tidak terlalu penting bagi wanita. Banyak juga wanita yang berhasil mengatur keluarga dan mendidik anak-anaknya walaupun hanya menjadi ibu rumah tangga. 
 
Mapan bagi wanita ini lebih ditekankan kepada mapan secara emosional, dimana bila telah menikah nanti pasti banyak dihadapkan pada masalah-masalah kecil yang tak jarang bisa menjadi “momok” dalam rumah tangga. 

Usia yang terlalu muda cenderung emosinya masih meledak-ledak. Disinilah diperlukan adanya kestabilan emosi antar pasangan dan wanita dituntut untuk menjadi lebih sabar. Tak mudah mengendalikan emosi bila sudah menikah, maka dari itu dibutuhkan waktu terlebih dahulu untuk belajar mengendalikan emosi diri sendiri mengingat menikah itu pastinya menyatukan dua manusia yang jelas-jelas berbeda.

Bagi para wanita yang belum menikah tetapi berkeinginan untuk segera menikah, ada baiknya pintar-pintar mengatur emosi diri sendiri terlebih dahulu. Tak perlu rasanya mengejar target umur karena ketakutan disebut “perawan tua”, apalagi ingin cepat-cepat menikah karena melihat teman sudah menikah. Toh nantinya yang akan menjalani kehidupan pernikahan adalah kita dan pasangan kita, bukan orang lain.


Tidak ada komentar: