Langsung ke konten utama

Fenomena “Pembunuhan” di Kompasiana, Membudaya?


13485239101735029204
gambar dari http://klikunic.net
Tanggal 18 Agustus 2011 adalah awal saya memulai “karir” saya di blog keroyokan ini. Saat itu saya tertarik pada salah satu tulisan dari salah seorang kompasianer yang juga berteman dengan saya di facebook.

Jujur saja, tulisan saya saat itu masih berisi curhatan pribadi yang mungkin menurut pembaca tak ada manfaatnya. Sebagai new comer yang tulisannya aneh-aneh, maka saya rajin nongkrongin kompasiana ini. Gunanya apa? Gunanya tak lain dan tak bukan adalah untuk belajar bagaimana cara menulis hingga pada akhirnya saya menemukan “jiwa” saya disini.

Ketika saya mulai menemukan jiwa saya, ada kompasianer yang berkomentar yang selalu menyudutkan tulisan saya dengan kata-kata kasar, tak ketinggalan juga ada yang menghina saya secara fisik (pribadi), bahkan komentar saya selalu diikuti kemanapun, isi komentarnya juga kadang untuk menghina saya, padahal jelas pada TOC kompasiana terdapat kalimat Kompasianer dilarang menyerang, menghina, dan atau menjatuhkan karakter atau pribadi Kompasainer lain dengan cara dan tujuan apapun.

Entah apa tujuan komentarnya saat itu, yang jelas saat itu keinginan untuk menulis saya sempat hilang. Dan terima kasih untuk kompasianer yang telah memberikan dukungan moril kepada saya hingga saya tetap ada di lingkaran kompasiana ini.

Ibarat bangku sekolah, Kompasiana yang selalu mengusung slogan Sharing & Connecting ini memberikan manfaat tersendiri bagi setiap kompasianer. Manfaatnya yaitu belajar berinteraksi dengan orang-orang baru di sekolah maya ini.

Jenis tulisan dari masing-masing kompasianer tentunya berbeda-beda. Ada kompasianer yang berkonsentrasi dengan tulisan bernada politik, fiksi, muda, budaya bahkan sampai tulisan berbau humor (humor bernada miring sangat tidak saya sukai). Melalui berbagai kanal, tiap tulisan dari seorang kompasianer pasti diapresiasikan oleh kompasianer lain entah itu melalui vote yang disertai komentar maupun vote saja. Kalau anda tidak suka dengan tulisannya, segera tinggalkan. Jangan dilihat-lihat lagi.
Apresiasi dalam berkomentar itu sendiri memang tidak selalu berkaitan dengan isi tulisan, namun ada juga yang cuma saling bertegur sapa, bahkan katanya komentar cenderung OOT (out of topic).

Walaupun ada yang mengatakan bahwa komentar OOT itu tidak ada manfaatnya buat si penulis namun menurut anak kecil ini, apresiasi itu sangat berguna bagi psikologis si penulis itu sendiri. Mengapa? Karena Dia akan merasa dihargai diantara sesama kompasianer, bahkan dalam satu tulisan yang tak jarang juga terjadi perdebatan, ia mampu berinteraksi. Dengan kata lain, berikan kesempatan untuknya berada ditengah di tengah kita.

1. Bukankah itu juga perbuatan baik?
2. Bukankah setiap perbuatan baik akan mendapat pahala?

Namun sangat disayangkan, pada pagi hari ini ada seorang kompasianer yang mengatakan terpukul akibat satu tulisan yang dipublish kemarin. Melalui chat di facebook tadi, ia mengatakan bahwa ia mundur dari kompasiana. Baginya kompasiana bukan tempatnya lagi.

Pasti ada yang berkata dan menyepelekannya dengan berkata, “ah.. baru segitu aja udah kabur, lemahlah”.

Ia menyerah??  atau ia sedang galau?? Tidak. Jangan katakan ia tak mampu berdiri disini. Kemarin  memang Ia masih berdiri dan ia mampu menahan apapun yang ia rasakan sendiri. Sudah sering ia melihat bahwa banyak tulisan sejenis yang bertujuan sebagai pembunuhan karakter semacam itu berseliweran di kompasiana ini hingga ia sampai ke titik  jengahnya dan menyatakan untuk stop menulis.

Sadarkah anda kompasianer yang terhormat bahwa melalui tulisan dan komentar anda yang nyelekit dan nyakitin itu telah menghunuskan pedang kepada seorang kompasianer dan membunuh kreatifitasnya? Sungguh amat disayangkan sekali jikapembunuhan karakter ini dijadikan budaya di kompasiana ini. Ini forum sharing and connecting, bukannya tempat saling jatuh menjatuhkan !

Harapan terbesar saya setelah ini, tolonglah.. jangan ada lagi yang menyinggung perasaan orang lain melalui tulisan (apalagi menyebutkan nama) karena biasanya dampak dari menyinggung dan menghina orang lain melalui tulisan lebih menyakitkan dari pada perang mulut ataupun menusuknya dengan pisau. Dan semoga pembaca dapat mencerna tulisan dari anak kecil ini dengan baik.

Komentar

Anonim mengatakan…
salam kompasianer hehehe,tapi jangan jadi pembunuh disini :grin:
Auda Zaschkya mengatakan…
salam kompasianer juga mas :D
da anak baek kok,, gak bakal bunuh orang, apalgi orang yg jomblo,hihihhihihi

Postingan populer dari blog ini

[Review Produk] Wardah Hydrating Aloe Vera Gel: Panas dan Perih di Wajah?

[Review] Make Over Intense Matte Lip Cream, se-Matte Apa sih?

Make Over Intense Matte Lip Cream ini, tentu saja bukan produk baru dari sister brand-nya Wardah dan Emina yang notabenenya produk lokal asli Indonesia. Saya juga baru tahu. Tapi ya inilah saya. Karena baru tahu, langsung pengen tahu dan senang sekali dengan produk lokal. Apalagi setelah nengok banyak review dari beauty influencer yang bilang betapa bagusnya produk ini. And finally, saya putuskan untuk meminta lip cream ini kepada salah satu teman laki-laki (Thanks bro!). Dia kasih yang nomor 08 Liberty. Karena masih penasaran sama warna lainnya which is warna kesukaan saya adalah warna ungu, saya beli sendiri juga yang nomor 20 Style. And now, it’s time to review ^_^
Kemasan
Dilihat dari luar, lip cream ini dikemas di dalam kotak berwarna hitam yang cukup mewah buat penyuka warna hitam seperti saya. Tentu saja, seperti lip cream kebanyakan, pada kotaknya bertuliskan nama produk. komposisi, tanggal kadaluarsa, dll. Tepat di salah satu sisi produknya, tak tertutup kotak lias terbuka. Men…

[Review] Mizzu Perfect Wear Eyeliner Pen, Wearable untuk Pemula

Minggu lalu, saya mendapatkan hadiah yang sangat menarik dari Try and Review (Thank you so much #TryandReviewID) yaitu sebuah Mizzu Perfect Wear Eyeliner Pen. Saya memang sudah penasaran sekali dengan eyeliner berbentuk pulpen/spidol ini, apalagi merk Mizzu yang banyak disukai para beauty vlogger. Setelah setiap hari dipakai, dan ya... sekarang waktunya untuk di-review.
Packaging:
Kotaknya ini, Mizzu sekali, di mana didominasi warna putih yang ada garis-garis hitam seperti zebra. Di bagian atas kotak berwarna hitam yang bertuliskan MIZZU yang diikuti nama produk (dalam hal ini Mizzu Perfect Wear Eyeliner Pen) dengan warna putih. Sedikit warna merah jambu (pink) di bagian bawah kotak sebagai petunjuk ukuran eyeliner pen ini yang seberat 2 mg, menjadikan kotaknya terlihat lebih manis meskipun minimalis. 
Di sampingnya (di bagian putih), terdapat kode produksi, tanggal kadaluarsa, perusahaan yang memproduksinya, dan isi kandungan si eyeliner pen ini. Menurut saya, ini sudah sangat baik kare…