Kamis, 06 Desember 2012

Budaya Ngopi : Kopi Menjangkau Semua Kalangan !



Sebagai negara penghasil kopi ketiga di dunia (setelah Brazil dan Vietnam), tentunya Indonesia memiliki berbagai tempat penghasil kopi. Di setiap daerah penghasil kopi tersebut seperti Aceh, Sidikalang (Sumatera Utara), Bengkulu, Lampung, Jember, Pontianak, Toraja, maupun Wamena (Papua), sudah pasti memiliki rasa khas yang menggugah selera bagi penikmat kopi itu sendiri, sehingga dengan sendirinya ngopi itu pun menjadi budaya yang kental dalam menjalin silaturahmi dengan kerabat.

Untuk daerah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), budaya ngopi itu sendiri berdampak positif. Wali Kota Banda Aceh, Bapak Mawardy Nurdin mengatakan bahwa acara Aceh Food and Coffee Festival 2012 merupakan wujud dari budaya orang Aceh yang suka minum kopi seperti yang dilansir oleh www.atjehpost.com. Acara tersebut dimulai dari tanggal 31 Oktober 2012 - 4 November 2012 yang sayangnya tidak dapat saya hadiri karena sekarang saya tinggal di Medan.

***

Kopi Menjangkau Semua Kalangan

Banyak orang berkata bahwa kopi adalah minuman yang identik dengan kaum adam yang biasanya dinikmati bersama rokok dan berbagai cemilan. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi saya, walaupun saya pecinta kopi namun saya tidak merokok.
Kecintaan saya terhadap kopi pun semakin meningkat dengan sendirinya hingga kini karena banyak warung kopi yang menyediakan fasilitas free wifi di tempatnya. Bagi yang baru pertama mendengar kata warung kopi (warkop), pasti berpikiran warung kopi edisi lama dimana dikunjungi oleh bapak-bapak. Namun, warung kopi yang sering saya kunjungi didekorasi semenarik mungkin sehingga tampak seperti cafe pada umumnya, sehingga menampilkan kesan sebagai tempat yang tepat untuk bersantai bersama teman.

Para pengunjung warung kopi tersebut bukan hanya bapak-bapak, tapi juga diramaikan dengan para eksekutif muda dan tak ketinggalan para mahasiwa/i. Sejauh yang saya perhatikan, kedatangan mereka ke warung kopi bukan hanya untuk ngopi atau bersenda gurau atau sekedar berhaha-hihi dengan teman, tapi juga untuk menyelesaikan berbagai tugas dari kantor maupun kampus yang harus dicari di internet.

Tentunya fasilitas free wifi ini sangat membantu mereka mengingat kartu/paket berlangganan modem sendiri sudah sangat mahal. Jadi dengan adanya free wifi di warung kopi itu, mereka dapat berhemat khususnya mahasiswa/i yang kondisi keuangannya masih cukup riskan untuk mengisi pulsa modem. Tak hanya itu, di dalam warung kopi disediakan layar besar yang digunakan untuk menonton pertandingan bola, seperti yang saya lihat di salah satu warung kopi langganan saya ketika kejuaraan Piala AFF pada tahun 2010 lalu. Lalu, kapan sholatnya?
Ya. Ini adalah pertanyaan yang sering saya jumpai ketika saya berbicara kepada teman disini maupun teman chatting. Kapan sholatnya? Pasti ‘gak ingat sholat deh kalau sudah asyik wifian.Tenang saja, warung kopi juga menyediakan mushalla sebagai tempat peribadatan bagi umat muslim. Jadi, selain nongkrong di warung kopi, kewajiban menghadap Allah Swt tidak kami lupakan.

Perempuan dan Kopi

Seperti yang telah saya sebutkan diatas dimana kopi menjangkau setiap kalangan, kopi juga banyak diminati oleh kaum hawa. Tentunya diantara kompasianer perempuan ada yang menyukai kopi, bukan? Begitu juga saya.

Sebagai putri kelahiran Aceh, tentunya si hitam manis ini bukan barang baru lagi untuk saya. Sedari saya masih SD, saya sering melihat ibu membuat kopi. Awalnya memang saya coba-coba meminumnya, namun lama kelamaan saya seakan tak bisa hidup bila tak ada kopi. Bila diberi pilihan antara kopi dan teh, sudah pasti saya memilih kopi sebagai teman penganan cemilan saya.

Ketika berkunjung ke warung kopi baik di Medan ataupun Banda Aceh, yang menjadi pilihan saya bukanlah kopi susu atau kopi campuran lainnya, melainkan si hitam manis yang khas dari Aceh yaitu kopi Aceh dan kopi Gayo, yang entah itu ditempatkan di cangkir, gelas kecil, maupun gelas besar (lebih sering yang besar). Hal tersebut saya lakukan karena kecintaan saya yang teramat besar terhadap kopi, sehingga bila kopi di gelas kecil akan cepat habis dan rasanya tak mampu memuaskan hobi ngopi saya.

1353619072646897310
segelas besar kopi bersama pisang goreng (dok. pribadi)
Aktifitas yang saya lakukan pun tidak pernah jauh dari kopi, karena bagi saya pribadi ide itu akan mudah keluar bersamaan dengan tiap tegukan kopi yang saya minum. Jadi kalau saya berkunjung ke warung kopi yang selalu ada fasilitas wifinya, saya selalu berusaha menghasilkan tulisan skripsi, tugas kampus lainnya ataupun bahan postingan di Kompasiana ini.

Kecintaan saya sebagai perempuan terhadap kopi itu sendiri semakin bertambah ketika saya mendengar ucapan dari mantan pimpinan saya (perempuan) yang setiap pagi meminum kopi. Beliau berujar bahwa, perempuan penyuka kopi biasanya sangat mandiri dimana memiliki totalitas dan loyalitas dalam melakukan suatu pekerjaan.

1353619374226897096
segelas besar kopi mampu beri saya inspirasi (dok. pribadi)
***

Nongkrong di warung kopi adalah kegiatan saya sehari-hari bila sedang tidak memiliki kegiatan lain. Kalau di Medan biasanya saya mengunjungi warung kopi bersama seorang perempuan, itu pun ia tidak bertahan lama dan untuk saya pribadi, saya lebih memilih untuk menghabiskan waktu di dalam warung kopi dari pada saya harus berputar-putar di dalam mall. Karena di dalam mall itu kan kita tak mungkin hanya berjalan-jalan, pastinya kita akan duduk-duduk ataupun sekedar window shopping. Nah, window shopping ini adalah kegiatan yang membosankan bagi saya, karena selain “lapar” mata kegiatan ini juga cukup melelahkan.

Untuk saya pribagi, saya lebih senang dan merasa nyaman bila berdiam diri seorang diri di warung kopi bersama kopi Ulee Kareng (kopi Aceh) maupun kopi Gayo sembari menikmati berselancar di dunia maya dan menyelesaikan tugas-tugas saya.

Tidak ada komentar: