Selasa, 18 Desember 2012

Para Lelakiku

Memasuki hidupku adalah suatu kemudahan bila kau mau mengerti akan duniaku. Namun, ini akan menjadi sebaliknya. Sebaliknya dimana akan mudah pula menjadi sulit bila kau tak menyukai dan menghargai seorang aku. mungkin kau melupakan bahwa aku perempuan biasa yang memiliki andil untuk hidupku.
Katakanlah aku liar. Hm.. atau jika kau mau lebih lembut maka cukup kau katakan bahwa seorang aku sangat keras kepala. Ah,, kurasa di situ pun kau keliru.
Aku memang keras kepala, namun bagaimana dengan hatiku. Kau tak tahu, bukan? Kau hanya melihat penampilan luarku. Kau hanya mengetahui kecintaanku dengan si hitam pekat bernama kopi. Dan kau pun sempat menyangka bahwa pasangan kopiku adalah rokok.
Tidak !!! Aku tak mau membuang uang ibuku dengan melakukan kebodohan yang dapat mengganggu kandunganku nanti. Bibir merahku tak pernah ingin bersentuhan dengan rokok dan hidung bangirku tak mau menghirup kepulan asapnya.
Terserah apa katamu. Namun, jangan pernah berharap jabatanmu di hatiku akan naik lebih dari seorang teman jika kau hanya bisa melarang-larang aku dan inginku. Dan jika kau sanggup berkata aku egois, maka perkataanmu kucampakkan lagi ke mukamu. Kau tahu, betapa egoisnya kau. Kau egois!!!
Kau hanya menginginkan aku sebagai budak yang menggarap lahanmu. Kau beralasan agar aku tak lelah jika harus memandang dunia luar. Ah, alasanmu sudah basi. Cukup memuakkan.
Kau tahu, aku bukan anak kecil yang harus mencium aroma ketiakmu. Aku adalah wanita dewasa yang telah mampu berpikir akan kebaikan, setidaknya untuk diriku sendiri. Aku tak sanggup menurutimu sebab kau tak hargai arti hadirku di dunia ini.
Jika kau menginginkanku, maka terimalah aku sepaket dengan duniaku. Jika tidak, silahkan pergi. Temukanlah bunga baru yang bisa kau hisap madunya sepuasmu siang dan malam.
Memang benar, aku membutuhkanmu. Bahkan aku ingin mengecap lagi manisnya madu cinta bersamamu. Namun aku lebih merelakan kepergianmu daripada adamu hanya mampu melemahkan akal dan pikirku.
Menyesalkah aku? Ya.. mungkin dapat dikatakan begitu. Mencintaimu adalah hal terberat yang pernah kulalui di hidupku. Literan air mataku pun tak sanggup ubah keputusanmu agar kau tak mengekangku. Dan ini sudah klimaks, sebaiknya aku pergi darimu.
***
Di saat seperti ini, aku merindukan sosok dia. Dia yang pernah ada di hidupku. Dia yang tak pernah mengekangku. Dia yang tak pernah mengguruiku. Dia yang selalu mendukung lakuku. Dia tak mengkhawatirkanku secara berlebihan sepertimu, karena ia tahu, karena ia percaya bahwa aku tahu mana yang terbaik untuk kulakukan.
Mengapa aku begitu menghargainya bahkan cenderung menghormatinya? kau tahu, aku belajar darinya. Karena dia yang memberikan kebebasan mutlak atas aku dan duniaku. Ya.. namun ia telah pergi dariku. Kau memang benar. Jauh sebelum aku mengenalmu memang aku telah berpisah dengannya.
Saat itu, aku benar-benar hancur. Bagai dilanda tsunami, hatiku porak poranda. Bahkan tangisanku pun tak pernah digubris olehnya. Aku marah. Sangat marah !!! dan dalam hatiku tertanam kata JAHAT. Ya,, aku menganggapnya penjahat. Pencuri yang telah merampok separuh hatiku.
Dia tak sepertimu, ia menyukaiku dan duniaku. Dia benar-benar memberiku kenyamanan hingga aku lupa ia pun punya hati dan pikiran yang mampu berseteru karena tingkah kekanak-kanakanku.
Di saat itu pula, aku yang mutlak mengagungkan logika seketika menjadi perempuan bodoh yang tak dapat berpikir akan suatu kenyataan. Logika kebanggaanku runtuh dihantam kesedihan sebab perihnya batinku sebab ulahnya. Dia telah menghancurkan hatiku. Namun di hatiku masih tersimpan semua kenangan tentangnya.
Namun lama-kelamaan, aku pun menyadari. Dan kini aku mengerti alasannya meninggalkanku. Dia pergi demi kebaikanku, demi terciptanya seorang wanita tegar yang mandiri dan dewasa yang selalu ia dambakan.
Dan yang kau kenal ini adalah aku, aku yang mampu melakukan apapun semampu dan sewajarnya menurut norma agama, kesusilaan, dan kodratku sebagai perempuan serta keinginanku, ya wajar saja menurutku.
Padanya ingin kuucapkan jutaan terima kasih sebab perlakuannya yang hampir membunuhku telah mampu mendewasakan akal dan pikirku. Terima kasih telah menempaku menjadi perempuan dewasa yang tidak selalu melegalkan air mata untuk urusan hati.
Darinya aku belajar bersabar, tak terburu-buru dan lebih santai dalam menyikapi hidup serta berjalan pada porosku sendiri tanpa membebani siapapun di sekelilingku. Terima kasih untukmu karena telah ajarkanku menjadi wanita dewasa yang tak hanya mengandalkan air mata untuk menyelesaikan masalah yang tengah kuhadapi. Kini, Ingin ku katakan padanya, “Kau tahu, walaupun aku telah mampu lepaskanmu namun hati kecilku masih merinduimu.”
Cintanya padaku memang masih ada, masih sebesar dahulu. Semakin menyadarkanku ketika beberapa malam ini aku dihantui olehnya. Namun di mimpi itu, setelah ia berjalan mendekatiku, seketika ia pergi. Pergi entah kemana dan aku pun menangis.
Hey… itu hanya mimpi !!! Mimpi itu bunga tidur, bukan?
Baiklah, sebaiknya aku tak usah berharap padamu atau pun padanya lagi, sebab mengharapkan kalian hanya menyakitiku. Ah, sudahlah.. mungkin ia pun telah melupakanku namun ketulusannya tak dapat kulupakan begitu saja. Karenanya, aku masih bertahan hingga hari ini.

Tidak ada komentar: