Minggu, 27 Januari 2013

Menjadi Distancer Bukan Berarti Harus Galau !


Hai..Selamat pagi buat semua pembaca kompasiana yang baru pulang malam mingguan.
Gimana dengan aktifitas malam minggu kalian yang punya pacar dan pacarnya tinggal di satu lokasi yang sama? Semoga semuanya baik-baik saja, ya. Pastinya kamu semua tak mengalami kesulitan yang begitu berarti jika ingin bertemu dengan sang pacar. Tentunya hal ini sangat jauh berbeda dengan yang dirasakan para distancer. Distancer, apa sih?

Distancer adalah sebutan bagi para pelaku Long Distance Relationship (LDR) a.k.a Hubungan Jarak Jauh yang berbeda kota, negara, maupun benua (kalau beda alam, gak masuk ya,hehehe..). . masih aman, kan? Semoga ya!

Kadang ada juga yang gak tahan LDRan lalu memilih PHK (pemutusan hubungan kasih) sebagai jalan satu-satunya dari pada menahan rindu berhari-hari, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Kasihan sih sebenarnya bila hubungan yang aman, damai, tentram, sentosa itu harus diakhiri, sehingga banyak yang lebih memilih menjadi jomblowan/ti. Up to you, guys !!! ‘coz Cuma kamu yang tahu apa yang terbaik buat kamu dan hatimu.

1359222466698484749
image from www.nuruliyah.com

Sebagai LDR survivor, saya sangat mengerti akan kesulitan yang dialami semasa LDRan itu berjalan. Masalahnya itu biasanya seputar :
1. Wakuncar (waktu kunjung pacar)
Wakuncar yang biasanya rutin dilakukan setiap malam minggu, tak bisa terjadi. Gara-gara si malam minggu ini, para distancer dan jomblower diejekin sama si relationshiper.
2. Tak bisa sering bertemu
Seminggu itu ada 7 hari, kan? Sebelum malam minggu, dari seminggu itu tak ada hari yang bisa bertemu. Kata teman saya, “Rasanya dunia mau tamat gitu kalau sehari aja gak ketemu si pacar.”
3. Si dia tak setia
Adanya pikiran yang mengatakan dia punya pacar lagi. Lalu sedih, nangis.
4. Si dia tak bisa dihubungi
Setelah ponselnya tak bisa dihubungi, lalu curiga berlebihan. “Benar nih, kayaknya dia selingkuh.”
5. Ketika di butuhkan, dia tak ada
Uring-uringan, ketemu siapa saja bawaannya marah padahal lagi gak PMS. Saya pernah menjadi korban amarah si kawan yang sempat distancer.

Dari beberapa hal di atas, para distancer akan :
1. Sibuk menggalau
2. Punya kepikiran yang tak jelas kemana
3. Nangis, curhat sama sahabatnya.
4. Tak cukup disitu, menghubungi keluarga sang pacar bahkan teman-temannya tanpa segan pun dilakukan.
5. Lalu, ketika sang pacar bisa dihubungi, langsung marah-marah.
6. Bak polisi yang sedang mengintrogasi penjahat, mulailah ia menanyai sang pacar.
7. Menuduh sang pacar selingkuh pun tak ayal dilakukan.

“Meletakkan” seorang mata-mata pun dilakukan seperti pengalaman saya yang saya tuliskan di sini . Si mata-mata salah ngomong, asal tuduh dsb jadinya saya yang dimarahin mulai tengah malam sampai menjelang subuh. Sampai pada akhirnya, ibu marah dan menyuruh saya memutuskan hubungan dengannya karena menurut ibu, “aku aja yang melahirkanmu, gak pernah marah-marahin kamu selama itu apalagi tengah malam. SIAPA DIA BERANI MARAHIN KAMU??? PUTUSKAN !,” bentak ibu.

***

Para distancer itu sebenarnya sadar sendiri dengan pilihan LDRnya dan tahu konsekuensi.  Kalian kan ada di lokasi yang beda dengan si pacar. Nah kalau kita sakit, gimana?
1. Kan bukan si pacar yang ngurusin kita.
2. Kalau kita tinggal sama orang tua atau saudara, masih mending ada yang melihat. Jika kita tinggal sendiri (kos) gimana?
3. Apa mungkin si pacar tiba-tiba datang? Logikanya kan tidak.
4. Apa yang si pacar bisa lakuin? Cuma teleponin/smsin kita berjam-jam dengan alasan KHAWATIR. Haduh… alasan bodoh yang dilakukan dari pacar yang bodoh. Kalau dia ngakunya pacar dan cinta sama kita, dia pastinya punya pikiran untuk membiarkan kita beristirahat. Toh nanti kita akan menghubunginya jika sudah siap berbicara.

Menjadi seorang distancer itu memang mesti tahan banting. Di banting untuk setia dan di banting untuk nahan kangen. Sebenarnya kalau kita mau berfikir jernih dan mengenyampingkan pikiran negatif, yang namanya LDR itu mengasyikkan lho. Bagaimana tidak? Kita dapat :
1. Fokus
Selama kita sedang sendiri, kita dapat memfokuskan diri untuk berkarya. Misalnya belajar biar bisa naik kelas, belajar biar IP semester bagus, dan bekerja lebih rajin bagi yang telah bekerja. Tentunya jika sedang fokus, kita tak ingin di ganggu oleh siapapun, termasuk sang pacar.
2. Istirahat
Kita itu makhluk hidup yang perlu istirahat. So, selama sang pacar tidak berada di samping kita, kita bisa beristirahat semisal tidur demi memulihkan kondisi kita yang lelah dengan aktifitas.
3. Punya waktu untuk diri sendiri
Buat yang cowok, kalau punya hobi manjat gunung, bisa tuh dilakuin tanpa ada kekhawatiran berlebihan dari sang pacar. Dan buat cewek yang hobi nyalon, bisa menghabiskan waktu berjam-jam di salon tanpa harus membebani sang pacar untuk menunggui kita di salon.

Logikanya gini, hidup kita bukan untuk si pacar saja. Kita punya orang tua, kan? Fokus dulu demi membahagiakan orang tua yang sudah lelah mencari uang untuk biaya sekolah/kuliahmu. 

Namun bukan berarti tidak perhatian pada si pacar. Dan bagi pekerja yang distancer, sudah bisa memikirkan pernikahan, jadi lebih enak fokus ngumpulin biaya nikah. Secara, nikah itu mahal, belum lagi kalau ada  para petugas di KUA yang melakukan pungli (pungutan liar).

Menjalani long distancer relationship di zaman sekarang itu sebenarnya mudah. Mudah gimana? Siapa bilang susah? Di zaman secanggih ini, masing-masing kita punya :
1. Ponsel
Dari jadoel phone, medium phone sampai smart phone yang kita punyai dapat mudah menjawab kerinduan kita sama si pacar.
Cew :  “Baby, aku kangen nih” (ngeliatin foto pacar).
Cow : “sama sayang, aku juga rindu lihat wajah lugumu. Dengarin langsung suara manjamu”. (telponnya sambil sembunyi di toilet karena pacar di kotanya lagi pacaran juga sama cewek lain , hahahaaha… , gak ah, ni joke aja dari saya).
Cew : ”ih, sama banget cinta” (ciumin foto pacar yang di HP)
Cow : ntar malam kita telponan lagi ya sayang, jam 12an gitu (pacar irit nih nelponnya tengah malam, hehee..).

2. Komputer + cam, laptop, netbook
Bullshit kalau kamu semua gak punya salah satu dari benda ajaib ini, secara nilai dan uang yang bakal kamu terima keluar dari alat-alat ini. Ya iyalah,, tugas sekolah/kuliah kan bakalan di nilai kalau dari ketikan (jarang2 hari gini tugas masih suruh nulis tangan). Belum lagi uang akan mengalir lancar bila tugas kerjaanmu terselesaikan dengan rapi dari sini.

Bullshit lagi kalau kamu bilang kamu gak punya akses internet di ketiga benda petingmu itu. Modem termurah ada yang harganya Cuma seratus ribuan, kan? Belum lagi provider telepon sekarang banyak sekali. Mereka kasih harga pulsa modem bervariasi dari yang murah samapi yang mahal. Ada juga yang unlimited di kartu tertentu.

Dengan modem dan ketiga benda ajaib itu, kamu juga punya Facebook, twitter, G+ dsb. Anak muda mana sih yang gak punya? Jangankan anak muda, para orang tua aja, punya toh? Dengan akses internet yang begitu mudah, kalian juga bisa ketemu di chat YM, chat FB maupun Skype. Apa pun yang kalian lakuin kan bisa terlihat langsung sama si pacar.

3. Bus, Kereta Api, Kapal Laut dan Pesawat.
Keempat transportasi itu bisa dipakai untuk mengunjungi sang pujaan hati bila kangen itu sudah setinggi gunung Everest dan gunung Kilimanjaro. Ya, sebenarnya memang tergantung uang juga sih. Kalau ‘gak punya uang ya ‘gak perlu maksain diri. Misalnya, sampailah kamu ke kota si pacar terus mau nginap dimana, makan apa? Masa’ mau jadi gelandangan sih?

4. Rumah/kos teman dan rumah saudara.
Nah, kamu sudah tiba di kota sang pacar, lalu apa yang harus kamu pikirkan? Jangan samapai kalian jadi gelandangan di kota sang pacar. Terus, pikirin juga gimana pun sebagai manusia biasa, kalian kan harus berhemat. Jadi Kalau ‘gak punya uang ya ‘gak perlu maksain diri nginap di hotel, apalagi sampai berhari-hari. Pilihan kamu ya nginap di rumah/kos teman atau rumah saudara. Kalau di kos, minimal numpang tidur dan mandi lah ya.. walaupun makan mesti tanggung sendiri. Kalau di rumah teman/saudara kan malah enak, gak perlu pusing mikirin makan, minimal sarapan kan di rumah.

Nah,, alasan apa lagi yang mau diketengahkan para distancer untuk membantah riset saya ini? Gimana gak riset, toh di awal saya udah bilang, sebelum jomblowati seperti sekarang ini, saya kan distancer survivor dan di kunjungi para mantan ke kota domisili saya. Long distance relationship bukan akhir dunia lho. Selama masih long distance, fokuskan saja ke dirimu tapi gak lupa juga untuk tetap memperhatikan sang pacar.

Selain persiapan materi, kalau mau LDR-an mesti benar-benar siap mental ya, buktinya banyak juga yang berhasil dalam melalui LDR, contohnya beberapa kompasianer dan orang-orang yang menuangkan kisahnya di buku yang sedang saya baca ini.

Jadi, tak ada alasan buat galau, sedih apalagi sampai nangis karena long distance.Kemudahan distancer sudah saya bahas melalui riset saya. Zaman sekarang ini udah jauh lebih canggih dari zaman surat-suratan dulu yang mesti nungguin pak pos di depan pintu. So,  Stop Galau And Be A Smart Distancer.


Tidak ada komentar: