Rabu, 13 Februari 2013

Sekelumit Kisah Dibalik Sebuah Persahabatan


Dalam interaksi yang kita lewati sebagai seorang pribadi yang berbeda dengan yang lainnya, kita tak akan pernah terlepas dari kebersamaan yang disebut Interaksi sosial. Interaksi sosial yang sewajarnya kita lewati adalah di dalam keluarga dimana ada kakek dan nenek, orang tua, kakak, adik maupun saudara lain yang kita kenal yang akan memberikan suatu penghargaan (reward) atau pun hukuman(punishment) atas apa yang telah kita lakukan.
Keluarga adalah mereka yang memberikan pelajaran tentang arti hidup kepada kita. Apakah itu cukup? Tentu tidak. Mengapa? Karena kita adalah makhluk sosial yang tak mungkin dapat hidup tanpa bantuan orang lain (selain keluarga). Siapa mereka? Mereka adalah teman yang biasanya akan berubah menjadi sahabat. Pertanyaan selanjutnya, dimana kita menemukan mereka?

Interaksi sosial di luar keluarga itu selalu dimulai ketika :
1. Memasuki masa sekolah dasar (SD), disinilah kita mulai berinteraksi dengan orang-orang baru selain keluarga kita dimana yang lazim disebut teman.
- Pada tahap ini, seorang anak mulai beradaptasi dengan situasi dan kondisi sekitarnya. Hubungan pertemanan di masa SD dapat kita lihat pada film si unyil dan ipin-upin. Di film tersebut diajarkan bagaimana memupuk pertemanan itu menjadi persahabatan.

2. Setelah menamatkan SD, kita masuk ke jenjang SMP dimana pada jenjang ini biasanya pikiran seorang anak sudah lebih terbuka.
- Pada tahap ini, seorang anak sudah mulai membutuhkan yang namanya teman. Banyak FTV di salah satu televisi swasta yang dapat kita lihat tentang persahabatan anak SMP itu.

3. Banyak yang berkata bahwa masa SMA adalah masa yang paling indah, termasuk yang namanya sahabat sejati pun kita temukan di SMA (walaupun ada yang menemukan di SD atau SMP).
- Di masa SMA, seiring dengan permasalahan hidup yang semakin rumit itu  biasanya seorang anak semakin tahu lewat proses pemilahan teman yang mana yang bisa dijadikan sahabat. Mereka akan semakin tahu apa dan bagaimana yang namanya sahabat.

4. Ketika kuliah pun kita akan memiliki banyak teman, sahabat pun tak jarang ditemukan disini.

5. Teman sepermainan yang tak satu sekolah juga dapat dijadikan sahabat, biasanya mereka akan ditemui di tempat les maupun sanggar yang kamu ikuti.

***

Sahabat tersebut akan kamu peroleh setelah kamu melewati proses filterisasi (penyaringan) semua teman yang ada di sekelilingmu. Yang harus kamu tanamkan di pikiranmu dalam proses filterisasi itu adalah “ aku harus mencari seseorang yang dapat berbagi suka mau pun duka, orang yang tak akan memandang rupa, harta, suku, agama, ras dan antar golongan (SARA)”. Kemudian katakan juga pada dirimu bahwa sahabat itu adalah “makanan pokok” yang harus kamu dapatkan karena sahabat itu adalah seorang pendengar yang baik sekaligus setia di dalam segala suasana.

Sahabat itu harus :

1. Mampu Mengajari
Mengajari disini bukan berarti menggurui, tapi seorang sahabat itu harus mau mengajari apa yang tidak dimengerti ataupun tidak diketahui sahabatnya.
Misalnya : saya dulu ketika SMP (2000) tidak mengerti sama sekali tentang komputer apalgi internet. Setiap hari minggu adalah jadwal saya dan sahabat saya di Banda Aceh untuk berjalan-jalan keliling kota naik angkot dan jalan kaki. Setelah lelah berpanas-panasan, kami pun masuk ke salah satu warnet. Saya sama sekali belum mengerti apa itu si kotak segi empat? Kok bisa ngomong sama orang (saat itu chat Mirc)? Pelan-pelan dia mengajari saya tentang itu sampai saya mengenal dan akrab dengan PC sampai sekarang.
Selanjutnya ketika saya sudah berdomisili di Medan dan sering jalan-jalan dengan sepeda motor sahabat saya, ia berkata, “kau kuajarin bawa kereta (motor) ya, Da. Masa’ aku aja yang boncengin kau?” lalu mulailah dia mengajari saya sampai saya bisa. Sekarang saat dia sudah bisa menyupiri mobilnya, malah dia bilang, “Kau nanti kuajarin bawa mobil ya, Da. Biar gantian nyetir kalau kita jalan”. Hmm,, Cuma untuk si mobil ini, saya bilang jangan dulu deh. Serem…

2. Saling Take and Give
Kenapa harus saling take and give? Logikanya gini, kita ini harus tahu diri jadi orang, udah diajarin, ditemeni atau pun dinasehatin apa-apa sama si sahabat, kita harus punya pikiran untuk membalas budi baiknya tadi.
Misalnya : saya sudah diajari oleh kedua teman itu bagaimana cara mengoperasikan komputer dan menjalankan sepeda motor, lalu saya diam saja tanpa membalas budi baik mereka? Tentu tidak! Saya akui saya tidak bisa dan tahu tentang apa pun, anggaplah saya masih bodoh. Berkat kuliah sekretaris dimana saya dituntut untuk bisa berdandan, saya jadi tahu tentang alat kosmetika dan cara mengaplikasikan alat kosmetik itu. Jadi saya mengajari mereka dan merekomendasikan mereka apa dan mengapa serta bagaimana khasiat si kosmetik itu kepada mereka.

3. Menjadi Bantal Curhatan
- Biasanya jika kamu memiliki masalah, kamu akan mencari si sahabat ini untuk curhat panjang lebar. Apalagi masalah cinta yang bila harus nangis, nangisnya pun sama si sahabat. Para sahabat harus bisa menjadi bantal tempat ia menyandarkan dirinya ketika perasaan dan logikanya sedang tak seimbang.
Misalnya : ketika saya patah hati karena si mantan selingkuh di depan mata saya, saya langsung menghubungi si sahabat dan tanpa segan langsung nangis ketika berbicara itu. Si sahabat mendatangi saya dan dia yang menghadapi si mantan itu, dimarahin habis-habisan si mantan itu sama sahabat saya tadi. Sampai di rumah pun saya masih nangis dan dia memeluk saya untuk menenangkan pikiran saya. Begitu juga sebaliknya, jika ia memiliki masalah, saya yang akan menenagkannya.

4. Menjadi Tempat Diskusi & Tukar Pikiran
- Selain untuk cerita tentang permasalahan, ada saatnya seseorang membutuhkan sahabatnya untuk berdiskusi & tukar pikiran.
Misalnya : ketika si sahabat bingung hendak memilih jurusan apa untuk kuliah, ia pun berdiskusi dengan saya. Dalam diskusi itu kita memang dihadapkan pada perbedaan pandangan. Namun itu tak menjadi soal selama saya mampu berargumen positif dan negatif tentang pilihan yang dipilihnya sejauh potensi yang saya lihat ada pada dirinya.

5. Harus Saling Mengerti Sifat Masing-masing
- Sahabat itu bukan untuk satu atau dua hari, namun untuk selamanya. Kita tak mungkin mau merelakan hubungan persahabatan itu hancur oleh ketidakmautahuan tentang sifat masing-masing. Ada sahabat yang emosinya turun naik bak aliran listrik, ada juga yang tenang. Nah, sebagai sahabat kamu harus bisa menyeimbangkan diri dengan sifat sahabatmu.

6. Harus Nyambung Jika Diajak Ngobrol
Setiap permasalahan (tak hanya kisah cinta) yang kita hadapi maupun saksikan, pasti akan kita ceritakan pada si sahabat, bukan? Nah… jadi sahabat itu harus mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh sahabatnya, tapi gak asal nyambung. Kalau begini akan kelihatan lucu. Kenapa harus nyambung
Misalnya : sekarang kan sedang heboh kasus PKS, Maharani dan KPK. Jadi kamu itu harus tahu ke arah mana obrolan itu akan dibawa sama sahabatmu itu. Jadi sebagai sahabat, kamu itu harus tahu perkembangan, jangan seperti katak dibawah tempurung. Hari gini gak tau apa-apa? Hello…. kemana aja kamu? Internet kan ada. Up Date dong !!!

7. Harus Tahu Menempatkan Diri
Walaupun kamu saudah tahu tentang sahabatmu itu luar dalam, tapi kamu harus tahu menempatkan diri. Maksudnya yaitu jangan sembarangan berkelakuan. Ok, rambut sama hitam, “isi dalam” sahabatmu kamu juga tahu, tapi kamu harus bisa mengerti akan situasi dan kondisi sahabatmu.
Misalnya : si sahabat jomblo dan dia ajak kamu ketemuan. Si sahabat Cuma mau menghabiskan waktu bersamamu entah itu sekedar hot-spotan bareng atau sekedar makan. Intinya sih si sahabat itu Cuma mau ada kamu dan dia di lokasi itu. Pada saat itu, JANGAN PERNAH suruh datang / mengajak PACARMU di depan sahabatmu apalagi sampai menunjukkan kemesraan kalian di depan sahabatmu itu. PAHAMI dan MENGERTI sahabatmu itu. Yang pasti JANGAN PERNAH PERLAKUKAN SAHABATMU SEBAGAI OBAT NYAMUK atau pun RADIO RUSAK.

8. Sahabatmu, Cerminmu
Terkait poin ke-7 di atas, seorang sahabat itu harus tahu menjaga perasaan sahabatnya. Jadi jangan asal berkelakuan. Jaga perasaannya. Kalau mau berbuat, lebih baik kamu berpikir ribuan kali, apakah si sahabat akan menyukainya?
Kembalikan ke dirimu sebab sahabatmu itu cermin dirimu. Apa yang akan kamu rasakan jika perlakuan tidak nyaman itu dilakukan si sahabat kepadamu? Sakit tidak? Enak tidak? Kamu bakal sedih, tidak?
Kalau kamu tidak mengerti, tanyakan kepada si sahabat, suka tidak? Boleh atau tidak? Kalau masih belum mengerti juga, belajar lagi. Jadi sahabat itu jangan bodoh, selain memakai logika, kamu juga harus menggunakan perasaan sensitifmu yang tinggi untuk menilai segala sesuatu.

9. Harus Tega
Si sahabat sudah cerita habis-habisan atau pun menangis sekeras-kerasnya di hadapanmu, sekarang ia meminta solusi darimu. Fungsinya kamu sebagai sahabatnya adalah mendengarkan dan memberi pendapat. Tak selamanya sebagai sahabat kamu harus selalu setuju dengan perbuatan sahabatmu.
Misalnya : sahabat saya pernah menangis karena masih menyayangi mantan pacarnya, padahal dia sudah memiliki pacar baru. Ketika curhatan itu berlangsung, saya sudah katakan, yang lalu biarlah berlalu, sekarang jalani sebaik-baiknya dengan yang baru. Berulang kali saya katakan sudah cukup, tapi si sahabat masih bersikeras mau menelepon mantan pacarnya dan mengajak baikan.
Benar, Dia memang menanyakan pendapat saya tapi dibalik itu dia berharap saya mendukungnya. Lalu apa yang saya lakukan?
Saya memarahi dia. Kok saya tega? Sejujurnya saya tidak tega, Cuma saya rasa itulah yang bisa saya lakukan untuk menghentikan perbuatan bodohnya. Saya katakan, “jangan bodoh jadi perempuan, jangan jadi pengemis cinta. Toh kau kan sekarang sudah punya pacar baru jadi jalani aja hubunganmu sama pacar barumu. Yang lama ya sudah, masa’ kau gak mau move on? Banyak-banyak sabarlah ya. Gak usah nangis-nangis, toh si mantan aja gak nangisin kau”.Dia bagaimana? Dia makin deras nangisnya dan memeluk saya.
Tapi jangan asal tega ya. Tega itu hanya berlaku dan boleh dijalankan ketika si sahabat gak bisa dibilangin. Sahabatnya sudah memberikan solusi terbaik bagi dirinya tapi dia masih mau mempertahankan emosinya (emosi bukan hanya marah) sendiri. Kalau masih mau egois gitu, mendingan gak usaha cerita apa-apa sama sahabatnya, kan? Selesai. Dan kamu gak usah membebani pikiran sahabatmu dengan masalahmu.

10. Penyimpan Rahasia
Kalau kamu sudah memiliki sahabat, otomatis kamu tahu segala “isi dalam” dia bukan? Nah, isi dalam ini jangan kamu bicarakan sama orang lain, cukup hanya dirimu saja yang mengetahuinya. Sejelek apapun dia, dia tetap sahabatmu toh kamu yang pertama mengenalnya. Jadi jangan buka aib sahabatmu sendiri di hadapan orang lain karena sama saja kamu menelanjangi dirimu. Mengapa? orang itu akan menilai bahwa kamu tidak dapat dipercaya karena bisa membuka aib sahabatnya sendiri. Dan hasilnya, kamu tidak akan dipercaya orang itu lagi. Bukan tidak mungkin orang itu akan menceritakan kelakuanmu pada sahabatmu. Sahabatmu pun akan marah kepadamu. Lalu kamu akan mendapatkan apa? Selain mendapatkan malu sebagai penyebar rahasia orang, kamu juga akan kehilangan sahabatmu. Mau begitu?

***

Selain menjadi cermin dirimu, sahabat itu berguna untuk menjadi tong sampahdimana kamu bisa menceritakan berbagai hal kepada sahabatmu. Bila kamu merasa sedang memiliki masalah dengan sahabatmu, katakan apa masalahmu. Jangan Cuma dipendam.
Sebagai manusia biasa, adalah suatu keuntungan bagi kita jika kita memiliki sahabat. Oleh karena itu, jagalah perasaan sahabatmu dan berpikirlah dua kali jika ingin merusak persahabatan itu. Mencari teman memang gampang, dimana saja bisa kita dapatkan, tapi mencari sahabat itu susah apalagi yang untuk selamanya. Dan yang pasti, sahabat itu sangat berarti dalam kehidupan kita yang sementara di dunia ini.

Tidak ada komentar: