Senin, 01 Juli 2013

Perempuan Pemangsa Sesama

Perempuan, kaumku yang selalu kubanggakan. Sempat terpikir olehku, untuk menjadi aktifis, pembela kaumku yang sering terjajah, oleh nistanya zaman. Tadinya dangkal pikirku mengatakan bahwa semua perempuan itu manis. Namun citra manisnya telah kau rusak, dengan munafikmu, dengan murka tanpa syaratmu.

Ah,,, kau memang perempuan luar biasa. Sikap cengengesanmu melindungimu dari hukuman. Tak lupa, didukung oleh paras ayumu yang terbilang lumayan, sanggup menutupi busukmu.

Yang aku sesalkan adalah kerudungmu kau sematkan jua, tetap untuk butakan opini mereka tentangmu. Kerudungmu seakan legalkan lakumu yang hina, hingga tak ada yang mampu rasakan celamu. Kau tahu, kerudung itu tak pantas tutupi kepalamu selama sifat culas dan dendammu masih kau pelihara. Kau memalukan agama dan Tuhanmu sendiri.

Sebab sempurnamu adalah kuasa atas mata mereka. Mereka yang tak sadar, betapa lihainya dirimu, seolah tengah terzhalimi oleh sekelilingmu. Kau menghalalkan segala cara demi mencari kepuasanmu. Ketika kau mampu membodohi mereka, dalam hatimu kau berteriak, “AKU MENANG!”

Tak habis pikirku melihat polahmu, kau tega memangsa kaummu sendiri. Demi citra perempuan sempurna, kau sengaja menikam kaummu. Demi kepuasan dan cemburumu, seolah-olah kau halalkan darah perempuan lain yang menurutmu menjadi pesaingmu. Diam-diam, kau menusuk perempuan lain dari belakang. Kau robek dadanya, dan kau telan jantungnya. Kau jadi begitu bengis, oleh dendam berkarat yang kau pendam lama. Sungguh tak kusangka, adalah kau yang kukenal lugu, tega mamakan bangkai saudaramu sendiri, sesama perempuan.

Baiklah sang srikandi lugu, lakukanlah sesukamu. Teruskan karyamu, lakoni peranmu yang seakan-akan melupakan dosa. Selamat kuucapkan padamu, atas predikat perempuan sempurna yang kau dapat dari mereka yang menyanjungmu.

Dan harus kau ingat nona, Tuhan tak pernah tidur. Dia mengetahui, apa yang orang tak ketahui. Dia akan membalasmu suatu saat nanti. Dengan atau tanpa disaksikan olehku.

Tidak ada komentar: