Sabtu, 06 Juli 2013

Sebab Merindumu Adalah Kepastian

*
Adalah malam berbintang di awal juli, kembalikanku menatap hari. Lebih nyata dan bebas kuhirup udara pagi, walau mesti seperti sebelumnya, sebelum juni menancapkan panahnya dan seolah  mengangkatku tinggi dan melupakan sosokmu. Benar, sang juni telah pergi. Dan di juli ini, adalah padamu mataku tertuju. Ya… Hanya kaulah yang entah mengapa selalu sukses mencuri hati. Dan kumohon, jangan pertanyakan ini, sebab aku sendiri tak mampu menjelaskannya.

Catatanku tentangnya adalah bab yang mesti kututup.  Adalah dia yang telah kulepas pergi dan semua tentangnya memang telah selesai, sebab suatu kewajaran yang sedari awal memang tak pasti. Dan jika masih ada yang meributkan kisah laluku, adalah orang yang kekurangan akal sehatnya.

13730584291290790205
http://andikaaoshi.wordpress.com/
Sebab merindumulah adalah suatu kepastian, sedari dahulu walau tak mampu kuungkap. Ya… itu pasti.

Kemarin, dia memang sempat kubiarkan bermain di hati. Kukira dengan adanya dia mampu buatku melupakanmu. Ternyata tak segampang itu. Realitanya mengatakan bahwa sosokmulah yang terus menari dalam ingatan perempuan ini. Perempuan yang begitu ingin melenyapkanmu dari ingatannya, namun batinnya tersiksa, sebab harus menggoreskan imajinasinya dengan menolak bayangmu.

Seiring berjalannya waktu, adalah kau yang kembali kudapati. Seperti judul lagu salah satu band negeri ini, bagiku, kau adalah pejantan tangguh, yang tak pernah mati meski terus di caci. Entah dari mana datangnya kesabaran yang begitu besar padamu. Faktanya kau mampu tetap tersenyum di atas nafsu hewani mereka.

Darimu, aku pun belajar menjadi karang saat deburan ombak tanpa henti memukulkan riaknya. Kau selalu mengajarkanku agar tak menjadi perempuan manja, lewat tanpa gubrisan saat ku mengadu.  Hingga pada akhirnya makna sang karang itulah yang mampu buatku berdiri tegak diatas kakiku sendiri, saat fitnah dan caci maki seolah menjelma menjadi santapan harianku dari mereka yang haus akan mengenali  sosokku.

Mereka yang tanpa ragu mengulitiku tanpa mampu merasa, bagaimana jika setan bengisku muncul dan keadaan pun berbalik seratus delapan puluh derajat, aku yang menelanjangi mereka?  Padahal tanpa mereka tahu dan turut campur dalam hidupku, aku mampu lewati terjalnya zaman.

Menapaki hariku yang mungkin tanpamu adalah perihku. Namun, menjadi bahagiaku jika dapat melihat tawa lepasmu. Ya… Hidupku adalah perjuanganku sendiri, walau salah satunya adalah berkat cerminmu. Seperti maumu, agar aku tetap terlihat tegar di hadapan pemakan sesama itu.

Sosokmu sangat ku hormati dan sepantasnyalah haturan terima kasih kusematkan padamu.Terima kasih, sebab olehmu berhasil kembalikan realitaku.

Tidak ada komentar: