Jumat, 18 Oktober 2013

Berkata Tegakkan Konstitusi, Nyatanya Legalkan Korupsi


***
Jutaan clausal sesaki perut ibu pertiwi
akibat perbuatan seksi dari para anak negeri
Mereka adalah sang pemangku jabatan tinggi
Kerap berdandan cantik bak peragawati

Firman Tuhan tak lupa mereka jual beli
demi melenggang mulus menuju uang kami
Lewat pencitraan mereka yang tadinya suci
akhirnya kami terbuai mimpi
***

Tadinya, kami berpikir lurus, tak apalah pencitraannya, yang penting infrastruktur daerah kami menjadi lebih rapi. Amanah kamipun tergadai kepada mereka, makhluk Tuhan yang nyatanya sok suci. Mereka selalu bernyanyi, stop korupsi. Duh… sungguh manis. Kamipun jadi berharap kepada mereka, demi tegaknya konstitusi dan kesejahteraan kami. Namun, tanpa kami sadari, padahal mereka menggerogoti kami. Tanpa membenci kami, mereka mengambil jatah kami.

Jutaan tanya juga, kadang menelusup dalam pikiranku, walau mereka yang menganggapku bodoh karena melontarkan pertanyaan ini. Ya… ini semata-mata hanyalah pertanyaan dariku, si bodoh yang selalu diremehkan oleh sekelilingku yang kelewat pintar itu. Mereka tak mau bertanya lagi pada kalian. Namun, daripada kebodohan kami memuncak dan membunuh kalian, maka izinkanlah sedikit kuberetorika akibat seringnya kulihat masih banyak diantara kami yang tak pernah bolak-balik ke luar negeri, mengencangkan bokong, menaikkan alis, apalagi suntik botox!

- Ke mana logika dan etika kalian hingga tega memiskinkan kami dan memperkaya diri dan keluarga kalian sendiri?
- Ketika Tuhan menganugerahkan otak kepada kalian, apa pembagiannya tak merata hingga perbuatan nista itu bisa kalian lakukan?
- Di mana rimbanya hati kalian hingga sanggup melihat kami, kepayahan hanya untuk ke sekolah saja? Padahal, kami dan anak-anak kami, tengah menuntut ilmu, demi melanjutkan amana konstitusi yang sekarang kalian pikul.

Toh, beberapa tahun lagi, kalian para tetua akan kami antarkan dengan do’a yang sempurna lagi baik ke pemakaman terakhir kalian, jika perlakuan hina itu tak kalian legalkan!
Kalian tak sadar, harta yang kalian permainkan itu adalah hak kami, anak yatim-piatu dan para jompo, juga pengemis jalanan yang tak pernah tahu akan kinerja hina kalian. Kalian memang hina, teramat hina hingga tak sadar, perbuatan bodoh kalian adalah cerminan bagi kami, sang penerus bangsa yang benci dengan korupsi.

- Apa tak cukup gaji kalian dari pemerintah, sehingga kalian mengemis , ah… bukan. Kalian merampok uang kami?
Terakhir, izinkan kubertanya, kapan runtuhnya dinasti kalian itu? Tak suka kusebut dinasti? Tapi memang itulah realitanya. Warisan orde baru masih saja berlangsung di negeri ini, hingga republik ini sekarat akibat ulah nista kalian.

***

Aku heran, kalian itu katanya pernah makan bangku sekolah. Bahkan sekolah tinggi hingga tinggal di luar negeri, namun mengapa masih saja tak bisa menjalankan amanah konstitusi?  Kalian itu sudah tua, bau tanah, tapi masih saja berulah seolah orang pintar.
Kalau kalian memang orang pintar, pernah hidup di Eropa yang pendidikannya maju pesat, tak akan kalian biarkan arsitektur bangunan bergaya yahudi di daerah yang katanya sangat islami.

***

Permainan kalian cantik, kalian tak menyakiti fisik kami. Berpura tunduk pada hukum negara dan berpura mendanai ini dan itu di tiap daerah. Mana buktinya??? Ah… Tak terlihat. Jikalau pun ada, yang terlihat hanyalah sedikit. Sisanya mana??? Bukankah APBD dari pusat itu sangat banyak. Ke mana uangnya??? Kemana?

Retorika yang kalian legalkan, nyatanya hanya gertak sambal. Kalian yang selalu mendendangkan Anti korupsi, nyatanya hanya mengemis uang dari kami, yang tadinya percaya pada kalian. Ketika melihat spanduk berwajah rupawan kalian, tampuk kepemimpinanpun kami berikan lewat pemilihan. Namun, kalian? Apa yang dapat  kalian lakukan selain menggerogoti republik ini, demi memperkaya dinasti kalian sendiri?

Kalian tahu para penguasa, secara perlahan, kalian memperkosa ibu pertiwi hingga ibu pertiwi ini telanjang. Tak mampu tutupi hutangnya di IMF sana. Memalukan! Perekonomian negara yang telah merdeka dan berdaulat ini, masih saja melarat, seiring penduduk miskin yang terus bertambah.
Sungguh kejam perlakuan kalian pada ibu pertiwi hingga konstitusipun mampu kalian kelabui, dan kami yang telah terlanjur memilih kalian. Seharusnya, mereka yang di atas itu menyeimbangkan penggunaan logika dan etikanya dalam memangku jabatan tinggi.

Sungguh miris menatap nasib anak negeri ini ke depan, bila kalian dan kroninya tak tertangkap oleh KPK. Apresiasi kami demi tegaknya konstitusi telah kami sampaikan lewat do’a kami pada Om Abraham, om Johan Budi dan lainnya, kami do’akan agar Anda sekalian tetap dilindungi Tuhan, agar sanggup menanggulangi “warisan orde” baru ini.

Warung Kopi - 09/10/13

Tidak ada komentar: