Langsung ke konten utama

Elektabilitas ARB Tak Meningkat Pasca-Rapimnas, Golkar Akan Konvensi?

1380618978542088624
Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)
Sekitar enam bulan lagi, pesta demokrasi terbesar di republik ini akan kita jelang. Masing-masing partai calon pemenang pemilu, telah mempersiapkan calon yang akan menduduki  jabatan RI-1.
Partai Golkar misalnya. Nama Abu Rizal Bakrie (ARB) disebut-sebut sebagai kandidat kuat sebagai calon presiden menggantikan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang hampir sepuluh tahun berkuasa. Tak ketinggalan, konvensi yang dilakukan oleh Partai Demokrat yang dirasakan penulis merupakan suatu kesia-siaan, mengingat banyaknya cacat partai ini sendiri, Konvensi ini memang harus dilakukan guna ikut maju di pilpres 2014 mendatang. Episode konvensi itupun telah menjaring beberapa nama, walaupun tak sedikit yang menolaknya dengan alasan setia pada partai sebelumnya. Sebut saja, Rustriningsih yang merupakan kader PDIP dan Jusuf Kalla dari Partai Golkar.
Seiring dengan semakin dekatnya pilpres, bulan lalu juga diadakan Rakernas PDIP yang berlangsung pada tanggal 6-8 September 2013. Dalam rakernas tersebut, nama Jokowi sebagai kandidat Capres dari PDIP pun menyeruak seiring tingkat elektabilitasnya yang semakin meroket. Namun, Jokowi masih harus menunggu persetujuan Megawati Soekarno Putri jika ingin melenggang mulus menjadi capres dari PDIP, padahal hampir seluruh rakyat Indonesia menginginkan mantan walikota Solo itu untuk menjadi Presiden RI periode 2014-2019.

Rapimnas Golkar Bicara Tentang Elektabilitas ARB

Setelah rakernas PDIP, Partai Golkarpun akan mengadakan Rapimnas yang mana akan membicarakan langkah selanjutnya untuk mampu menembus pemilu. Bukan rahasia lagi, ARB yang diusung dari partai Golkar, semakin gencar saja memproklamirkan dirinya sebagai calon penguasa RI. Tentunya lewat iklan politik di salah satu televisi yang beliau miliki. Salahkah? Tentu tidak. Jelas ini adalah haknya dalam memperlihatkan kebaikannya (baca: pencitraan) kepada masyarakat. Boleh saja melakukan pencitraan, toh dalam komunikasi politik, hal ini juga lumrah dilakukan dalam menarik simpati para calon pemilih.
Namun demikian, Partai Golkar yang mengusung ARB ini tampaknya kewalahan dalam menyikapi banyaknya lembaga survey yang menyebutkan bahwa rendahnya elektabilitas dari ARB sendiri. Hal ini juga dibenarkan oleh wakil DPP Partai Golkar, Agung Laksono yang mengakui bahwa elektabilitas Ical sendiri jauh berada dibawah Jokowi, sang gubernur DKI Jakarta yang populer dengan aksi blusukannya dan Prabowo Subianto dari Partai Gerindra. Hal ini sudah disadari betul oleh Ical seperti yang dikatakan Agung laksono, “Ini kan sudah diputuskan Pak ARB (Ical). Meskipunelektabilitasnya belum setinggi Pak Prabowo maupun Jokowi.”
Rapimnas Partai Golkar sendiri akan terlaksana pada bulan Oktober 2013 ini, dimana tentang elektabilitas Ical ini akan menjadi agenda acara,  disamping pembahasan mengenai Pileg 2014. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Akbar Tanjung, selaku Ketua Dewan Pertimbangan Agung Partai Golkar, “Sejauh mana capres kita juga punya peluang cukup menjadi pemenang. Elektabilitasnya, apa yang harus kita lakukan untuk mendongkrak itu. Saya melihat elektabilitas capres kita harus diperhatikan, kalau tak ada kenaikan, cari evaluasi, penyebabnya, dan evaluasi tim kita.”
Meskipun elektabilitas Ical sendiri masih jalan ditempat sampai saat ini, bukan berarti akan ada penggantian capres. Ical tetap menjadi capres, tetapi segala hal termasuk adanya usaha penggoyangan di dalam tubuh partai Golkar sendiri, harus dievaluasi. Ketidaksolidan  tersebut yang seharusnya diperbaiki oleh partai yang berlogo pohon beringin ini, guna memperoleh  20 persen kursi di pemilu yang dikatakan Agung Laksono secara opitmis, “Partai Golkar sudah memasang target meraih suara minimal 20 persen dalam Pemilu 2014. “Kita harap di atas 20 persen. Kita di tiga besar, bahkan kita ada di antara satu dan dua.”

Elektabilitas ARB Masih Rendah dibawah Jokowi dan Prabowo

Seperti yang telah penulis singgung di atas, elektabilitas Jokowi yang semakin meroket ini akan memberikan dampak yang cukup signifikan dalam pencapresan Abu Rizal Bakrie. Semakin terkenalnya Jokowi, tentunya mempengaruhi elektabilitas Ical. Jokowi bak primadona di negeri ini, semua begitu menginginkannya. Tentunya ini menguntungkan PDIP, bukan?
Terang saja, elektabilitas PDIP juga akan naik jika mau mengusung Jokowi sebagai capres, tentunya seizin Megawati Soekarno Putri terlebih dahulu. Jokowi juga masih ingin mengurus Jakarta dulu, mengingat kemacetan dan banjir di Jakarta yang belum teratasi.
Tak hanya di Indonesia, masyarakat duniapun mengenalnya. Pencapresan Jokowi pun diulas oleh media luar negeri seperti News.com.au yang mewawancarai beliau saat menonton konser Metallica di area festival. Disebutkan oleh media tersebut, sosok Jokowi yang gemar blusukan itu tak menampakkan kekuasaannya.
Tak ketinggalan, News.com.au juga menyebutkan ARB sebagai pengusaha dengan banyak kontroversi dan Prabowo Subianto yang terlibat pelanggaran HAM diberbagai daerah sewaktu masih menjabat sebagai Komandan Jendral Kopassus.
Katakanlah Prabowo sudah bertaubat dan sudah menjadi nasionalis dan karena alasan nasionalis ini pulalah, Prabowo sendiri telah melakukan diplomasi dengan pihak Malaysia atas hukuman yang menimpa Wilfrida, padahal sebenarnya ini lebih layak dilakukan oleh Mentri Tenaga Kerja.
*
Kembali lagi ke elektabilitas ARB yang jauh di bawah Jokowi dan Prabowo, diharapkan tak ada perpecahan di dalam kubu Partai Golkar sendiri, agar 20 persen kursi nanti diperoleh partai ini. Seiring dengan itu, elektabilitas ARB pun akan naik. Jika tidak naik juga, sepertinya nasib Partai Golkar tak jauh berbeda juga dengan Partai Demokrat, dimana harus melakukan konvensi juga guna meraih suara pada pilpres mendatang. []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Review Produk] Wardah Hydrating Aloe Vera Gel: Panas dan Perih di Wajah?

[Review] Make Over Intense Matte Lip Cream, se-Matte Apa sih?

Make Over Intense Matte Lip Cream ini, tentu saja bukan produk baru dari sister brand-nya Wardah dan Emina yang notabenenya produk lokal asli Indonesia. Saya juga baru tahu. Tapi ya inilah saya. Karena baru tahu, langsung pengen tahu dan senang sekali dengan produk lokal. Apalagi setelah nengok banyak review dari beauty influencer yang bilang betapa bagusnya produk ini. And finally, saya putuskan untuk meminta lip cream ini kepada salah satu teman laki-laki (Thanks bro!). Dia kasih yang nomor 08 Liberty. Karena masih penasaran sama warna lainnya which is warna kesukaan saya adalah warna ungu, saya beli sendiri juga yang nomor 20 Style. And now, it’s time to review ^_^
Kemasan
Dilihat dari luar, lip cream ini dikemas di dalam kotak berwarna hitam yang cukup mewah buat penyuka warna hitam seperti saya. Tentu saja, seperti lip cream kebanyakan, pada kotaknya bertuliskan nama produk. komposisi, tanggal kadaluarsa, dll. Tepat di salah satu sisi produknya, tak tertutup kotak lias terbuka. Men…

[Review] Mizzu Perfect Wear Eyeliner Pen, Wearable untuk Pemula

Minggu lalu, saya mendapatkan hadiah yang sangat menarik dari Try and Review (Thank you so much #TryandReviewID) yaitu sebuah Mizzu Perfect Wear Eyeliner Pen. Saya memang sudah penasaran sekali dengan eyeliner berbentuk pulpen/spidol ini, apalagi merk Mizzu yang banyak disukai para beauty vlogger. Setelah setiap hari dipakai, dan ya... sekarang waktunya untuk di-review.
Packaging:
Kotaknya ini, Mizzu sekali, di mana didominasi warna putih yang ada garis-garis hitam seperti zebra. Di bagian atas kotak berwarna hitam yang bertuliskan MIZZU yang diikuti nama produk (dalam hal ini Mizzu Perfect Wear Eyeliner Pen) dengan warna putih. Sedikit warna merah jambu (pink) di bagian bawah kotak sebagai petunjuk ukuran eyeliner pen ini yang seberat 2 mg, menjadikan kotaknya terlihat lebih manis meskipun minimalis. 
Di sampingnya (di bagian putih), terdapat kode produksi, tanggal kadaluarsa, perusahaan yang memproduksinya, dan isi kandungan si eyeliner pen ini. Menurut saya, ini sudah sangat baik kare…