Senin, 23 Desember 2013

Elektabilitas ARB Tak Meningkat Pasca-Rapimnas V, Golkar Usung Capres Baru?

1385241295542289732
http://www.tempo.co/read/beritafoto/11553/Aburizal-Bakrie-Buka-Rapimnas-Partai-Golkar-V
Tanggal 22-23 November 2013 kemarin adalah hari bersejarah bagi partai Golkar menjelang pemilu 9 April 2014. Pasalnya, bertempat di Hotel JS Luwansa Kuningan, Jakarta Selatan, Rapimnas V Partai Golkar telah berlangsung.

Namun, amat disayangkan bahwa saat itu Jusuf Kalla yang sangat loyal kepada partai ini, lebih memilihmenghadiri acara di PMI. Menurut Ketua Penyelenggara Rapimnas, “Pak JK diundang, tapi dia tidak bisa hadir karena ada tugas di luar sebagai ketua PMI.” Memang bukan masalah jika JK tidak hadir, toh acara ini tetap terlaksana dengan mengagendakan berbagai pembahasan demi kesuksesan Pileg dan Pilpres di 2014 mendatang, tentunya dengan mengusung Aburizal “Ical” Bakrie sebagai calon presiden.

*

Elektabilitas Ical Tak Meningkat
Di tengah carut marutnya dunia perpolitikan tanah air, tentunya membuat ARB tak tinggal diam hingga mencalonkan diri menjadi Capres. Namun, mungkin beliau lupa bahwa elektabilitasnya masih terbilang rendah.
Sebagaimana yang kita ketahui, elektabilitas Ical sendiri masih jalan ditempat, berbeda dengan Jokowi. Menurut Ical, sang Gubernur DKI Jakarta ini adalah salah satu saingan tangguh dari keenam yang disebutkannya.  Menurut Ical, “Mereka bukan hanya pesaing tangguh tetapi juga menginginkan kemajuan bangsa Indonesia yang lebih membanggakan lagi.”

Bukan hanya ketangguhan masing-masing lawan politiknya yang menyebabkan elektabilitas Ical tak meningkat. Faktor lainnya disebabkan oleh lumpur Lapindo di Sidoarjo. Ical diwajibkan melunasi ganti rugi kepada para korban sebelum menjadi capres. Pasalnya, janji-janji yang dilontarkan pasca menyemburnya lumpur ini di tahun 2007 lalu masih belum terealisasi.

Dikatakan oleh Sudarto, korban Lapindo, “Kalau memang mau jadi pemimpin negara, selesaikan dulu tanggung jawabnya. Kami cuma minta Ical menepati janjinya untuk melunasi ganti rugi sebelum sebelum maju menjadi calon presiden April tahun depan.”

Penuturan Sudarto tampaknya bukan hal yang main-main, bukan? Tentu dapat kita bayangkan, bagaimana kehidupan mereka selama 6 tahun ini. Tampaknya dengan beberapa alasan di atas, Aburizal Bakrie yang terpilih menjadi Ketua Umum dan telah mendeklarasikan diri sebagai calon presiden dari Partai Golkar Pasca Rapimnas tahun 2009, akan kesulitan mendulang suara pada pilpres ataupun pileg bagi partainya.

Ketika penulis menonton televisi, walaupunElektabilitas Ical memang belum meningkat, mencari cawaprespun tidak di agendakan pada Rapimnas V kemarin, sebagaimana yang dikatakan Ical disela-sela Rapimnas V kepada TVOne Jum’at 22/11/2013.

Evaluasi Pencapresan Ical
Terkait dengan elektabilitas itu, Akbar Tandjung selaku Dewan Pembina Partai Golkar memang telah mengatakan bahwa tak ada evaluasi dalam pencapresan Ical, tetapi tak menutup kemungkina bahwa akan diadakanya evaluasi kinerjanya. MenurutAkbar,  “Evaluasi pencapresan tidak ada, tapi evaluasi kinerja kenapa enggak? Tapi kita tetap perlu mencermati elektabilitas capres kita. Bukan untuk mengevaluasi, mana yang akan kita jadikan pedoman. Pedomannya adalah hasil lembaga survei, LSI, LIPI, CSIS.”

Kenapa Tak Konvensi saja?
Untuk itu, pada tulisan lalu, penulis telah menyebutkan alternatif Konvensi bagi partai berlambang pohon beringin ini agar tetap eksis di panggung perpolitikan tanah air di 2014 mendatang. Bagaimana pun, partai ini sudah lama berada di Republik ini, bukan? Rasanya sayang jika tak mendapat kesempatan di Pileg dan Pilpres, kan?
Jalan konvensi ini tentunya dapat menjaring beberapa nama calon presiden (capres) yang akan maju pada pilpres dari partai ini. Mengapa konvensi? Berkaca saja pada partai Demokrat. Ditambah lagi, alasan elektabilitas Ical yang masih dibawah standar.

Adakan Capres lain dari Internal Golkar
Seandainya pun tak ada konvensi dengan partai lain, petinggi partai ini pun tampaknya memungkinkan untuk mendulang suara, Akbar Tanjung misalnya. Walaupun Ical sempat mengatakan bahwa, masih terdapat alternatif-alternatif skenario politik yang mengakibatkan mesin politik partai tidak bekerja optimal di masa kepemimpinan Akbar Tanjung. Namun, jika mengingat loyalitasnya kepada partai, apa salahnya jika ia dicalonkan sebagai pengganti Ical? Lalu, selain Akbar, masih ada Jusuf Kalla, toh?

Jusuf Kalla ini juga sangat loyal kepada Golkar di mana beliau menolak ikut Konvensi Partai Demokrat beberapa waktu yang lalu. Mengingat kesibukannya, mungkin JK tak sanggup jika menjadi capres, tapi bagaiman jika cawapres saja?

Nah,,, jika sudah begini, bukan tidak mungkin, jika nantinya Jokowi sudah mantap diusung oleh  PDIP pada pilpres 2014 mendatang, duet Jokowi dan JK ini akan mendulang banyak suara. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, citra Jokowi dan JK sangat diperhitungkan oleh rakyat republik ini, walaupun petinggi Partai NasDem berupaya melobi Megawati Soekarno Putri beberapa waktu yang lalu.

Jika peluang adanya JK ini tak dimanfaatkan dengan baik oleh Partai Golkar sendiri, JK akan “dipinang” oleh PKB, lho! Namun sepertinya, Ical tetap legowo dengan adanya kabar ini. Menurut Ical, banyaknya kader Partai Golkar di partai lain membuktikan bahwa, partai berlambang pohon beringin tersebut berhasil menyumbang kadernya untuk kepentingan bangsa.

Ya… walaupun ada kemungkinan JK tetap tidak mau, kan sudah terbukti, Pak JK setianya sama Golkar.

*

Ada selentingan kabar yang sempat penulis baca maupun lihat di beberapa media, bahwa  di internal Partai Golkar sendiri sedang ada konflik. Ya, walaupun tak besar, riak-riak kecil seperti ini yang biasanya dapat merenggangkan sebuah hubungan baik. Ini yang seharusnya diwaspadai dengan baik oleh partai ini demi berhasilnya mereka di Pileg atau bahkan Pilpres 2014 mendatang.

Rapimnas V memang telah berhasil. Silahkan lakukan konvensi atau mendulang suara lewat capres lain dari internal Golkar, mengingat elektabilitas Aburizal Bakrie yang masih dibawah Jokowi. []

Tidak ada komentar: