Minggu, 19 Januari 2014

Dilema Jomblowati: Menikah Karena Dikejar Target Usia-Harus Mau Dipoligami

Entah mengapa, semua masalah yg berkaitan dengan perempuan, tak jarang bahkan hampir menjadi trending tropic di mana-mana. Dimulai dari soal perselingkuhan, janda, poligami, hingga perempuan jomblo pun tak luput dari cibiran orang banyak. Padahal, itu semua adalah urusan masing-masing individu dengan lawan jenis dan Tuhannya. Pada ada tulisan singkat ini, saya tak akan membahas tentang yang lainnya, fokus saya hanya perempuan jomblo a.k.a Jomblowati.
*
Kemarin pagi, ketika sedang iseng membuka beranda facebook, tak sengaja, saya membaca status facebook dari seorang teman sebaya yg sudah menikah. Ketika membacanya, saya malah jadi ketawa sendiri. Pasalnya dia mengaitkan antara waktu yang terus bergulir, umur yg tak lagi muda, dengan pilihan seorang perempuan yg masih hidup sendiri. Pertanyaannya, Kok ketawa, tidakkah saya merasa sedih akibat tamparannya yang mengena langsung ke saya?
Saya sudah cukup maklum akan hal ini. Toh, mau marah-marah juga Cuma membuang energi. Lagi pula, saya juga bukan anak kecil lagi yang belum bisa mengatur emosinya, kan? Bahkan, saya juga sering ditanyai langsung oleh beberapa teman sebaya atau adik kelas yang lainnya ketika chatting di facebook atau datang ke pesta pernikahan.
Pertanyaannya itu selalu sama, seperti: “kapan nyusul?” atau “kapan nih anakku punya teman main?” dsb.  Lalu, mengapa banyak orang yang seakan tak punnya perasaan, menanyakan hal-hal demikian pada si jomblowati tadi.
Inilah konsep sesat pikir kebanyakan orang yg mengatakan bahwa menikah karena hanya dikejar target usia lebih tepatnya.
*
Sering kita dengar bahwa, kebanyakan orang, baik laki-laki maupun perempuan yang pikirannya masih awam, selalu menanyakan hal-hal sbb;
- Siapa saja deh, yang penting laki-laki dan kau punya suami. Nyaman hidupmu, kan?
- Memangnya kamu tidak mau memiliki pendamping?
- Apalagi sih yang dikejar dalam hidup seorang perempuan kalau bukan menikah?
- Umur sudah mencukupi, malah sudah lewat dan rawan memiliki keturunan (<30), kenapa belum menikah?
- Sudah, sekolah tak perlu tinggi-tinggi. Toh, akhirnya kasur, sumur, dan dapur juga, kan?
- Bila telat menikah, rela dipoligami? Atau, mau menikah sama duda, ya?
*
Rentetan pertanyaan demikian, sudah menjadi makanan wajib bagi para Jomblowati dari beberapa teman yang belum bisa menyatukan logika dan etikanya, selain dua pertanyaan wajib di atas. Di sini, saya akan mencoba menjawab “tamparan” yang cukup menyesakkan dada ini.

- Pernyataan, “Siapa saja deh, yang penting laki-laki dan kau punya suami.” Eit… tunggu dulu. Walaupun belum menikah dan sering menjadi bahan ejekan dari para teman usil, tapi perempuan yang berpikir ini mau “asal comot”. Sama seperti yang lain, mereka juga mencari kenyamanan dari pasangannya.

- Hemat saya, tak ada seorangpun dari perempuan normal (bukan lesbian dan biseks) yang tak ingin memiliki pendamping. Tentu fungsinya bukan hanya untuk teman tidur. Namun juga untuk teman di segala suasana. Yang namanya menikah itu, bukan untuk satu atau dua hari saja lho! Perlu persiapan matang untuk menyatukan visi dan misi antara dua orang yang berbeda kelamin dan kepribadian. Untuk itu, diperlukan komunikasi semaksimal mungkin diantara keduanya, apalagi bila dibandingkan dengan kaum adam, tingkat sensitifitas dari kaum hawa ini sangat tinggi.

Makanya, kebanyakan perempuan, masih ingin mencari sesosok manusia yang walau tak sempurna, tapi memiliki kecakapan yang baik. Nah,,, makanya, dalam mencari ini, dibutuhkan jalinan pertemanan (bukan pacaran, kan ceritanya jomblo). Jika memang keduanya saling cocok, bila ingin dilanjutkan ke ranah pernikahan, perempuan mana yang sanggup menolak?

- Bagi seorang perempuan yang sudah mampu berpikir akan realita hidup ke depan yang sulit, walaupun dia tetap ingin menikah, itu belum menjadi prioritas utama. Tak hanya perempuan yg tinggal di kota, mereka yang hijrah ke kota juga ingin sekolah dan mendapatkan pekerjaan yang layak, sesuai dengan minat dan bakatnya. Bukan berarti mereka tak mencari,lho! Tentunya kita mengetahui maksud dari peribahasa sambil menyelam minum air, kan?

Makanya, mereka belum memikirkan itu. Ada kepentingan/tanggung jawab lain yang harus dipikirkannya, semisal membahagiakan diri dan kedua orang tuanya dulu, sebelum ia melanjutkan hidupnya.

- Masalah umur memang kerap memberikan stimulasi negatif bagi kaum hawa. Dari rasa malu kepada teman sebaya dan adik kelas yang sudah lebih dahulu menikah, sampai batas normal reproduksi perempuan yang banyak didoktrin bahwa umur <30 sudah susah memperoleh keturunan. Padahal, masih ada yang bisa punya anak, kok. Saudara saya juga demikian dan alhamdulillah mereka adem ayem saja.

Adanya doktrinisas ultimatum demikian, rasanya sudah memudarkan semangat para perempuan untuk mencari. Sejujurnya, kasihan mereka. Sudah belum menemukan jodohnya, tapi masih saja dicekoki hal demikian. Yang gini ini, jangan diganggu deh. Bagi yang sedikit tak bisa menerima kenyataan, bisa saja membuatnya depresi hingga cenderung gila. Bahkan kemungkinan terburuknya, dia bisa saja bunuh diri. Mau begitu? Tentunya kemungkinan ini tak diharapkan, bukan? Makanya, dari sekarang, stop bertanya, kapan kawin!

- Tak ketinggalan, ultimatum kasur+sumur+dapur ini jadi pernyataan sekaligus pernyataan pamungkas yang seakan-akan menghalangi pendidikan (berpikir kritis) dan kreatifitas seorang perempuan. Padahal, bilapun tidak bekerja, dalam mendidik anak juga, diperlukan pendidikan dari seorang ibu.

Ambil contoh, mama saya. Mama adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang kesehariannya memasak. Mama yang juga mengerti bagaimana mengarahkan saya. Bukan bermaksud mau membangga-banggakan Mama, tapi sampai diusia senjanya, Mamalah yang menemani saya menonton berita yang berkaitan dengan ketertarikan saya dengan Sos-pol sampai saat ini. Tak jarang, kami saling adu argumen juga menyamakan opini. Selain untuk curhat, tentunya berkat pendidikan dan hobi membacanya, Mama yang mengetahui bagaimana cara merawat bayi kolostomi ini hingga sebesar sekarang. Tak lupa, pemahaman agama juga diajarkan mama.

Makanya saya bilang, dalam mendidik anak, juga dibutuhkan intelektualitas dari seorang perempuan. Jadi, jangan ada lagi yang menyebut stereotype kasur+sumur+dapur.

- Last but not least, poligami menjadi bahan ejekan juga bagi jomblowati tadi. Saya pribadi, tak menolak poligami, karena dalam agama yang saya yakini, poligami tidak dilarang, namun dibatasi sampai 4 orang istri. Poligami ini sendiri tidak gampang,lho! Selain ada istri pertama yang tersakiti, juga cibiran orang terhadap istri kedua ini.

Agama saya, memang tak mengharamkan poligami. Tapi, bukan berarti para laki-laki bisa sembarangan menikah lagi. Jikalau memang merasa tak mampu menghidupi istri, bahkan anak yang lain, seorang istri dan anak-anak saja sudah cukup. Jangan memaksakan kehendak. Toh, kalau disinggung dengan adil, tak ada seorangpun yang mampu bersikap adil. Bilapun dapat izin dari istri pertama terkait keinginan berpoligami, jika hanya berniat menolong, silahkan nikahi janda-janda yang lebih butuh dilindungi daripada kami yang masih gadis.

- Selanjutnya, menikah dengan duda juga tak menutup kemungkinan akan hidupnya bahagia. Teman sebaya dan tetangga saya juga menikah dengan duda. Tak ada masalah, tuh! Namanya juga sudah saling cocok, lalu kita yang hanya menyaksikan, kenapa mau tahu sekali tentang hubungan mereka?

*

Buat para jomblowati, Percaya padaNya saja bahwa Hidup, mati, rezeki (jodoh dan finansial) ada ditanganNya. Dia sudah mempersiapkan yang terbak untuk kita. Jadi jangan berhenti meminta kepadaNya. Dan buat para teman atau siapapun yang menjadikan status jomblo ini menjadi bahan ejekan, semoga klarifikasi saya ini dapat membutakan mata kita semua agar tak sembarangan berkata-kata. 

Tak pun dituntun Estetika, tapi tolong, satukan logika dan etika kita dalam mengomentari status jomblo ini. Jangan Cuma bisa menambah beban mereka dengan ejekan tak berguna itu, bantu teman itu untuk mengenalkannya dengan teman kita yang lain. Atau minimal, kita do’akan saja si jomblo menyusul yang telah menikah segera. Jadi, berhentilah memberikan stereotype negatif bagi para jomblowan/jomblowati.

Tidak ada komentar: