Jumat, 14 Februari 2014

Asap Rokok di Ruangan Ber-AC Meningkatkan Resiko Kematian!

Apa yang kita pikirkan jika masuk ke sebuah tempat yang dipenuhi oleh asap rokok? Jangankan hal lain, pastinya kita yang bukan perokok akan reflek langsung menutup hidung. Kalau di kendaraan umum biasa didapati perokok yang begini, mungkin menutup hidung adalah sebuah alternatif yang dapat kita lakukan, mengingat jarak tempuh yang mungkin dekat dan kendaraan yang tidak memiliki AC. Lain lagi kalau perjalanan darat ke luar kota yang jaraknya terbilang jauh.  Nah, itu yang di dalam kendaraan. Bagaimana yang di dalam ruangan?

Hari ini (06/02/14), penulis mengunjungi sebuah public service yang pastinya banyak orang. Tadinya penulis pikir, tempat ber-AC ini sudah bebas dari asap rokok. Memang benar, tempat ini memang bukan pertama kali penulis kunjungi, apalagi di sebelahnya terdapat sebuah toko buku. Namun tetap saja, tak ada perubahan dari tempat ini selain harga makanan dan minumannya yang semakin mahal. Semakin sering penulis kunjungi, tempat ini bukannya bebas asap rokok, malah perokok aktifnya semakin banyak. Padahal, di sebelah tempat yang penulis duduki sekarang ini, juga ada tempatFree Smoking, di mana tempat itu tak ada AC. Nyatanya, banyak orang yang berminat untuk bercengkrama bersama teman-temannya di ruangan No Smoking ini.

13916828061300383707
mereka sedang merokok di ruangan ber-AC. dok. pribadi
1391684075905656779
mereka juga tengah merokok di ruangan ber-AC. dok. pribadi
Penulis kurang berani (baca: segan) menegur langsung mereka para perokok. Penulis hanya menanyakan kepada pelayanannya.  “Bang, ini ruangan ber-AC bukan?” Iya, kak. Jawabnya. “Terus, kenapa ruangan ini banyak perokoknya? Sejak kapan ruangan ber-AC ini boleh diduduki perokok?” tanya penulis lagi. “Memang ruangan ini FreeRokok, kak. Lagian, mati lampu, pintupun ada beberapa yang dibuka.” Jawabnya.

Baik, penulis diam. Atas saran seorang kakak via facebook, temui Managernya. Namun, sangat disayangkan, sejauh yang penulis amati, managernya sedang tak ada di tempat. Kemudian, penulis tanyakan lagi hal yang sama kepada pelayanan lainnya.”Kak, ruangan ini, Acnya hidup, kan? Soalnya saya ngerasa dingin nih.” “Iya, kak. AC-nya memang HIDUP tapi kecil.” Jawabnya.

See, AC-nya memang hidup tapi kecil. Memangnya AC yang bervolume kecil tak berpengaruh gitu di ruangan ber-AC? Padahal sepengetahuan penulis, mau sebesar apapun volume AC-nya, atas nama rokok, DILARANG di ruangan itu.

Merokok itu jelas membahayakan kesehatan di mana banyak zat yang sesungguhnya bukan zat yang dibutuhkan oleh tubuh. Ditambah lagi dengan merokok di ruangan ber-AC. Sudah barang tentu, keaktifan si rokok ini menjadi semakin bertambah bagi si perokok sendiri, konon lagi perokok pasif di sekelilingnya, bukan?   Pasalnya, perokok itu sendiri akan mengeluarkan zat CO2 yang akan dihirup lagi oleh si perokok tadi akibat ruangan ber-AC tadi tak berventilasi, kalaupun ada, hemat penulis bahwa usaha  itu pun tak berpengaruh apa-apa. Untuk dicermati lagi adalah bahwa AC ini mengandung Clorodioroflumethane atau yang lebih akrab disebut Zat Freon. Nah, zat ini ada di dalam Ac supaya proses pendinginan ruangan akan lebih sempurna. Katakanlah zat ini aman bagi manusia, tapi tetap saja penggunaan AC yang bercampur dengan asap rokok pun dapat menyebabkan resiko kematian, lho! Tahu sendirilah ya, zat apa saja yang terdapat di dalam rokok.

Sejauh pengamatan penulis dan seorang teman, mungkin ada benarnya juga yang pelayannya katakan tadi, “Free Smoking”. Karena sejauh pengamatan penulis, dari hari sebelumnya sampai saat ini, tak ada satupun peringatan DILARANG MEROKOKseperti ini terpajang di ruangan ber-AC tersebut,

13916831781088605409
http://ummuyusufabdurrahman.wordpress.com/2011/06/08/dilarang-merokok/
yang ada malah peringatan ini:
13916834111366939699
dok. pribadi
Seandainya pengelola public service ber-AC ini tak hanya mementingkan tempatnya ramai dikunjungi demi penjualannya yang meningkat, tentunya mereka tak hanya akan menempelkan peringatan tersebut. Alangkah lebih baiknya jikalau mereka lebih peka perasaannya terhadap pelanggan. Toh, pelanggan yang datang ke tempat itu selain membutuhkan barang yang dijual, karenabutuh kenyamanan juga, kan? Bukannya malah kenyamanannya itu ditutupi dengan uang pelanggan.

Tak kalah pentingnya bagi pelanggan, jangan hanya mementingkan kesenangan diri sendiri dengan menikmati rokok dan mengesampingkan hak kehidupan orang banyak. Adalah kebodohan dan kesalahan mutlak bila kita yang sebenarnya makhluk sosial ini selalu mengedepankan keegoisan kita sendiri. []

Tidak ada komentar: