Senin, 18 Agustus 2014

69 Tahun Kemerdekaan, Hanya Sebatas Seremonial!

Seperti biasa, setiap tahunnya di hari ke tujuh belas di bulan delapan, seluruh anak bangsa dari republik ini, akan bersuka cita. Seperti biasa pula, mereka merayakan hari kemerdekaan negara ini. Negara kesatuan yang dahulu kala terpecah belah, negara yang direbut dengan peluh, air mata, juga darah oleh para pahlawan dari tangan penjajah. Dan, memang seperti biasa setelah tahun empat lima, lantang kita teriakkan kata Merdeka.

Merdeka?

Di berbagai jejaring sosial, media massa, juga sepanjang jalan yang kulewati hari ini, kulihat jelas gambar sang saka merah putih. Dan seperti setiap tahunnya, angkanya terus berubah. Mereka berkata, kita telah merdeka.

Merdeka? Benarkah kita telah merdeka?

Kurasa, kita belum merdeka. Jika aku mau memakai sang pesimis, mungkinpun kita tak akan pernah merdeka.

“Bicara apa kau?”

Sebentar. Sebelum kalian menamparku. Aku harus menjelaskan terlebih dahulu, apa yang kumaksud. Walaupun tak banyak, tapi inilah yang selalu mengganggu pikiranku.
14083049641523768665
ninafarida.blogspot.com

Baiklah, bila kau anggap kemerdekaan itu adalah ketika kau dapat bebas pergi ke mana saja tanpa batas dan cemas, itu adalah kemerdekaan pribadi. Tentunya, asalkan kau miliki uang, dunia pun serta merta berada dalam genggamanmu.

Namun, tidak bagi mereka. Mereka yang belum mendapatkan kemerdekaannya hingga tahun dua ribu empat belas ini. Mereka yang masih mengais rezeki dari si kaya. Itu menandakan bahwa kehidupan mereka yang tak pernah sejahtera. Situasi serta kondisi ini begitu sulit. Mungkinpun mereka harus sering-sering berpuasa.

Setelah soal perut, permasalahan barupun menggelayuti mereka. Akibat keterbatasan pundi-pundi rupiah, menyebabkan anak-anak mereka, tak mampu menikmati pendidikan. Memang benar, di kampungnya ada sekolah gratis. Tapi, mengingat rupiah yang tak tercukupi, anak-anak mereka terpaksa bekerja dan merelakan tubuhnya terpapar sinar matahari, tak jarang hujan secara langsung, demi meringankan beban orang tuanya. Anak-anak yang masih kecil, tak pernah makan bangku sekolah. Mereka tak tahu baca-tulis. Mereka Cuma mengerti nominal uang yang mereka hasilkan.

Jikapun ada tetangga lain yang bersekolah, jembatan gantung yang kadang nyaris rusak, pasti menjadi momok yang menakutkan bagi mereka. Mereka ada juga yang membantu orang tuanya, harus rela berjalan jauh, berangkat ke sekolah sehabis shalat subuh dan pulang kadang menjelang petang. Terkadang, dari pada berjalan jauh, mereka juga ada yang rela menyebrangi sungai hanya untuk mendapatkan pendidikan.

Lalu, apa yang dilakukan anggota parlemen dan mereka yang mengaku sebagai pelayan masyarakat, kemarin? Pelesiran ke luar negeri dengan alasan studi banding.
1408305039811842635
www.visimuslim.com
Ok, aku tak akan mebahas soal itu terus. Bukankah kalian sudah cukup hebat dan pintar untuk memakai nalar kalian? Silahkan dicerna kalimat per kalimat semua yang telah kuproklamirkan, pelan-pelan saja memaknainya, biar kalian mengoptimalkan penggunaan otak kalian. Sembari kalian memakai logika dan perasaan kalian, mari kusuguhkan fakta baru.

*

Benar, setiap tahunnya, bermacam cara dilakukan anak bangsa ini untuk menghormati dan menghargai jasa pendahulunya. Yang paling membuat aku terharu adalah ketika melihat mereka, mengibarkan sang saka merah putih dari bawah laut, juga dari atas puncak gunung.
Rasanya, aku ditampar beramai-ramai oleh mereka. Biar kata tak banyak, tapi mereka telah berkontribusi untuk negara, berbuat sesuatu demi mengenang jasa para pahlawan, entah yang gugur ataupun yang masih berkehidupan biasa saja.

Sementara yang lain, masih saja meributkan hal yang sama dari tahun ke tahun. Ada yang mengatakan tak boleh menghormati pancasila dan bendera merah putih. Ada pula yang melakukan kekerasan kepada sesamanya, tanpa segan terkadang meneriaki nama Tuhan. Padahal, sepemahamanku, tak ada dalam kitab suci kepercayaan manapun yang merestui perbuatan bar-bar mereka.

Tuhan…
Aku tak berani mengucapkan kata merdeka kepada sesamamku. Sebab, sepenglihatanku, masih banyak makhluk-Mu yang tak benar-benar memperoleh kemerdekaan dalam hal memilih keyakinannya sendiri. Mereka yang sedikit dan hampir sering disebut minoritas, mendapat jajahan dari sesama bangsanya sendiri.

Sungguh, aku belum berani menuliskan kata merdeka di akun jejaring sosialku. Sebab, aku terlanjur bersedih melihat fakta yang tersaji di depanku.

Ilahi…

Bagaimana bisa dikatakan merdeka jika masih ada anak bangsa ini yang diusir dan tak bisa berlebaran di kampung halamannya sendiri?
1408305230839256154
www.islamtimes.org
Bagaimana mungkin sanggup dan lantang mereka teriakkan kata merdeka, jika hak-hak saudaranya masih bisa dijarah sang penguasa?

*

Lain lagi dengan pemilihan umum negeri tercinta kita kali ini. Begitu alot hingga tanpa lelah, salah satunya melayangkan gugatan hingga ke Mahkamah Konstitusi. Seingatku, sebelumnya ada yang pernah berkata legowo. Namun, pada kenyataannya? Semuanya adalah palsu. Sebab kalah, tak percaya Quick Count. Menunggu Real Count. Kalah lagi, dan menggugat ke Mahkamah Konstitusi. Setelah itu, mungkin benar, mereka akan menggugat Yang Maha Kuasa, sesuai saran oratornya yang berkata ingin mendesak Allah. Belum lagi, pendukungnya, ramai sekali yang tumpah ruah ke Mahkamah Konstitusi.

14083055022019310219
www.harianjogja.com

Sementara orator lainnya, menyarankan memilih calonnya karena calonnya itu titisan Allah. Apa? Titisan Allah? Ah… katanya sih memang, saat itu sang orator katanya keseleo lidah. Baiklah, mungkin memang disebabkan oleh lidah tak bertulang, jadi ketika tengah berapi-api begitu, kalimat dalam orasinya jadi tanpa kontrol yang baik.

*

Sungguh lucu fakta-fakta terkait mengenai negeriku yang katanya sudah merdeka. Padahal, masih banyak anak-anak yang putus sekolah, tak sekolah karena tak ada biaya. Tak ketinggalan, mereka yang harus rela menempuh jarak yang cukup jauh untuk sampai ke sekolah. Sementara para wakil rakyat, sampai hati memakan rupiah, korupsi sana dan sini. Belum lagi, para kaum intoleran yang tak jarang menggunakan kekerasan demi memuaskan hasratnya, menindas sesamanya atas nama berbeda keyakinan, menggunakan tameng nama Tuhan yang Maha suci. Yang lebih memiriskan hati adalah pemilihan presiden yang sudah sampai ke tahap Mahkamah Konstitusi. Entah sampai mana tahapannya nanti. Sebagai penyimak yang baik, saya hanya akan mengernyitkan dahi, atau tertawa terpingkal-pingkal jika melihat saksi lucu yang mengaku orang udik yang ternyata pengusaha.

*

Sejauh ini, setiap tanggal tujuh belas, bulan Agustus yang dirayakan setiap tahunnya, bagiku hanya sebatas upacara demi mengenang perjuangan pahlawan yang telah mendahului kita. Toh, tak usah menunggu tanggal itu, setiap seninpun kita yang masih sekolah atau para pegawai yang masih melaksanakan upacara, pasti mengheningkan cipta.

Tanpa kenangan pahlawan itu, enam puluh sembilan tahun kemerdekaan ini atau bahkan selamanya, hanyalah sebatas seremonial bila anak-anak tak bisa sekolah dan korupsi yang memiskinkan rakyat terjadi di setiap lini pemerintahan.

Akan tetap sebatas seremonial, jika intoleransi masih terus mendapat nafas segar di bumi pertiwi yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 ini. Tak lupa, hanya sebatas seremonial jika calon pemimpin, entah itu di tingkat daerah maupun pusat, tak mampu legowo.
1408305639388651410
attarmasifm.wordpress.com
Dirgahayu Negeriku. Semoga di umurmu yang ke tujuh puluh nanti, kemerdekaan ini tak lagi sebatas seremonial.

Tidak ada komentar: