Minggu, 22 Februari 2015

Demi Identitas Bangsa, Tenun Ulos Penting Direvitalisasi



Agar tak semakin tergerus dinamisasi zaman, Ulos Batak yang merupakan warisan asli budaya Indonesia ini adalah mutlak harus dikembangkan. Usaha ini sangat penting dilakukan, mengingat demi identitas suku bangsa dan menjaga budaya leluhur. Jangan sampai, ketika adanya klaim dari negara lain, seketika rakyat Indonesia, khususnya masyarakat suku batak, mengutuk tindakan yang memang dinilai tak sepantasnya. Seperti yang sudah pernah terjadi beberapa waktu yang lalu. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat Indonesia, khususnya suku batak

Tindakan melestarikan kejayaan ulos ini yang sangat giat dilakukan Sandra Niessen, seorang Antropolog dari Belanda. Sebagai seorang yang bukan pribumi, dia sangat sedih melihat budaya ulos ini semakin terpinggirkan. Demikian yang dikatakan Ritaonhy Hutajulu, Moderator  acara diskusi bertema Revitalisasi Tenun Batak, Kamis (29/1).

“Narasumber kita adalah Eda Sandra, seeorang Belanda-Kanada. Dia sangat senang dipanggil Eda karena sangat mencintai budaya Batak. Namun, dia juga yang mungkin bisa dikatakan sangat sedih jika melihat kenyataan dimana ulos ini tak seperti dulu lagi. Seharusnya kepada Sandra yang orang luar, mau meneliti dan ingin menjaga kelestarian kebudayaan kita, kita patut malu,” ujar Ritha di Rumah Musik Suarasama Kawasan Selayang, Medan.

Sandra mengatakan, apa yang dilakukannya disebabkan kecintaannya kepada Indonesia, khususnya tenun ulos Batak yang membuatnya ingin selalu kembali ke sini sehingga menganggap datang ke Sumatera Utara (Sumut) ini sebagai pulang kampung.

“Ya, Sumatera Utara ini bagaikan kampung halaman sendiri bagi saya. Saya sangat mencintai kebudayaan di sini, apalagi terkait Ulos ini sendiri. Ulos inilah yang sangat mendesak untuk dilestariakan agar tak punah,” tutur Sandra.



Dijelaskannya, kebanyakan daerah Batak, sangat disayangkan tak memiliki banyak penenun lagi.  Kalaupun ada, penghargaan untuk mereka, terbilang kecil. Kenyataan seperti ini yang membuat para pengrajin tenun ulos batak semakin ke sini semakin tak terlihat. Apalagi, modernisasi zaman seakan sudah tak memberikan jalan bagi mereka untuk terus hidup. Itu terlihat dari banyaknya pemakai ulos sekarang bukanlah ulos asli tenun lagi, melainkan teknologi mesin yang bekerja.

Namun demikian, dia sangat senang jika Indonesia sudah semakin maju. Namun diharapkannya, adanya keseimbangan dengan tenun asli. Ini menurutnya, demi anak cucu orang batak sendiri yang sampai kapanpun harus mengenal kebudayaannya sendiri. Maka dari itu diharapkannya agar semua pihak di Sumatera Utara, terlebih pemerintah daerah mau mensosialisasikan gerakan mencintai produk lokal Sumut sendiri.

“Banyak kenyataan sekarang yang membuat saya merasa miris sekali terkait ulos Batak sendiri. Apalagi, dengan kemajuan dan modernisasi zaman yang semuanya sudah diolah dengan mesin. Pengrajin tenun ini seakan sudah tak ada. Padahal di kampung-kampung, masih ada yang setia dengan budayanya. Namun, di sisi lain, saya juga senang jika Indonesia menuju kebangkitan Ekonomi,” tutur Sandra lagi dengan Bahasa Indonesia yang lancar.

Pada diskusi informal tersebut, Sandra menceritakan tentang observasi dan perjalanannya ke berbagai tempat pengrajin ulos dari tahun 1979, hingga membuat film dokumenter bertemakan ulos batak tersebut bersama Mja Nashir pada tahun 2010, yang juga menjadi narasumber pada acara tersebut. Diceritakannya pula , berkat banyaknya perjalanannya ke beberapa daerah di Sumatera Utara, khususnya Toba Samosir, akhirnya dia menerbitkan beberapa buku berbahasa Inggris diantaranya Legacy in Cloth: Batak Textiles of Indonesia pada tahun 2009.

“Setelah saya menyelesaikan buku yang juga hasil disertasi saya di Belanda, saya kembali ke Indonesia, dan saya serahkan buku itu kepada beberapa pengrajin ulos di beberapa kampung di daerah batak ini. Walaupun mungkin mereka tak mengerti bahasanya, namun setidaknya mereka mengerti betapa saya sangat mencintai seni ulos batak yang merupakan buatan tenun asli, bukan buatan mesin. Itu dapat dilihat dari foto-foto di buka tersebut,” pungkas Sandra yang juga bisa berbahasa Batak.

Acara bertema revitalisasi tenun batak tersebut terselenggara berkat kerja sama antara rumah musik Suarasama dan Jendela Toba. Pada acara tersebut, hadir beberapa mahasiswa dari Fakultas Etnomusikologi, FISIP, Fakultas Psikologi, dan FIB USU, serta perwakilan dari Gedegap (tauko medan) dan Jendela Toba.



***

foto dari : www.tobatabo.com dan www.medanbisnisdaily.com

Tidak ada komentar: