Kamis, 03 Desember 2015

Kunci Sukses JFlow: Konsisten dengan Genre Musik Pilihannya

Joshua Matulessy a.k.a JFlow  ketika ditemui usai diskusi Peta Kaum Muda Indonesia di Aula Fakultas Teknik USU, Senin (30/11) sore.


Sebagai musisi, semakin bertambahnya tahun, pasang surut dalam industri hiburan tanah air, sudah menjadi hal lumrah, terlebih semakin banyaknya genre musik baru yang bermunculan. Namun bagi Joshua Matulessy atau yang lebih dikenal dengan nama panggung JFlow, alangkah lebih baiknya jika seorang musisi itu konsisten dengan musik yang dipilihnya. Itu pula yang diterapkannya sejak bermusik dari tahun 2003 lalu, hingga kini dia telah menelurkan tiga buah album seperti Facing Your Giant (2008), Dream Brave (2011), dan #Refill (2014) yang masing-masing berada di jalur musik hiphop, hingga dia menjadi salah satu pelantun lagu-musik hiphop (rapper) yang diperhitungkan di Indonesia.

“Dari awal karir saya di dunia hiburan tanah air, saya masih konsisten sampai sekarang dengan musik hiphop. Alhasil, orang mengenal saya dengan musik itu sampai suatu hari saya diminta untuk mengisi soundtrack untuk klub Machester United bersama Band Kotak,” ujar pria 35 tahun tersebut usai diskusi Peta Kaum Muda Indonesia di Aula Fakultas Teknik USU, Senin (30/11) sore.

Para rapper Medan sendiri, selain Yogyakarta dan Surabaya, Kota Medan termasuk kota yang karya para rappernya tergolong maju, seperti Ucok Munthe yang pernah dilihatnya ketika dia diundang oleh komunitas rap di Medan beberapa waktu lalu. Potensi-potensi mereka di komunitasnya masing-masing kata JFlow sudah cukup bagus. Namun akan lebih baik jika semakin dikembangkan, dan diperdengarkan dengan khalayak yang sama sekali belum mengenal ataupun tidak menyukai musik rap. Dari situ katanya, musisi rap bisa melihat dan mengkoreksi kekurangannya.

“Kita harus memperdengarkan musik kita diluar komunitas. Itu juga yang saya terapkan ketika saya membuat lagu. Dari situ, saya mengetahui kekurangan saya,” ungkapnya yang baru-baru ini tampil di Frankfurt Jerman dalam membawakan kesenian tradisional Indonesia.

Selanjutnya jika ada sebutan Jakarta dan label mayor lebih menjanjikan untuk bermusik kata JFlow memang benar untuk kisaran 20-30 tahun lalu karena semua ilmu dan produser ada di pusat. Namun kini di zaman yang sudah semakin canggih,  tak bisa dikatakan lagi semua Jakarta atau label mayor. Musisi ataupun para rapper Medan dapat memanfaatkan teknologi internet kekinian dengan memproduksi musik di Medan. Optimisnya, berbekal internet, dunia sudah menjadi satu. Konon lagi kesempatannya. Kesempatan anak Medan dengan teknologi murah meriah (tanpa harus ke Jakarta dan label mayor) untuk dilirik dunia ujarnya, semakin besar. Malah kalau musisi Medan mampu menelurkan album dengan kualitas kekinian yang layak, bisa saja dilirik label nasional.

“Kuncinya adalah mengembangkan potensi yang sudah dimiliki, rajin-rajinlah melihat perkembangan dunia musik dan internet. Yan penting, jangan pernah berhenti belajar untuk apa yang menjadi cita-citanya. Dengan demikian, kesempatan musisi Medan untuk dikenal jagad hiburan, baik dalam maupun luar negeri semakin besar,” ujarnya yang kemarin melakukan promo untuk single terbarunya berjudul Kekinian di sejumlah radio di Medan.


Tidak ada komentar: