Minggu, 21 Mei 2017

Aku Rindu

Sekira seribu lima ratus hari yang lalu, adalah proses pendewasaan diri bagiku, di mana jejak-jejak rindu kembali mulai coba gerogoti hari. Kutepis memang dan hatiku bergejolak, "Hore... aku menang." Sejak saat itu, semakin kuat hasratku membentengi hati agar tak kembali dibodohi cinta, termasuk saat kita berkenalan, semuanya biasa pula.


Hari-hari awal terlewati dengan keangkuhanmu, menjawabku sekenanya. "Sial. Sombong sekali lelaki ini," bisikku dalam hati. Tak ada yang berani menolak bicara denganku sebelumnya. Walau tampang dan tubuhku tak secantik model perempuan pada umumnya, namun aku perempuan ceria. Laki-laki mana yang tak takluk dengan keceriaan yang kuberikan? Tak ada. Mereka sangat menikmatinya.

Gambar dari: https://langitrimba.wordpress.com/

*


Sebulan, dua bulan, akhirnya gelak tawa, tak lupa canda bahagia adalah rutinitas kami. Melihatnya hadir adalah bagian penting di hidupku sehari-hari. Aku tak peduli akan perempuannya, toh awalnya kami hanya sahabat. Tak segan semua tentangku, kudendangkan di telinganya lewat desah malam. Dia mendengarku. Demikian pula sebaliknya. Kami saling berbagi cerita. Apapun itu.


Suatu hari, rasa itu menggelegak. Tak mampu kubendung lagi hingga di tujuh ratus lima puluh hari setelahnya, tanpa pikir-pikir, kukatakan aku membutuhkannya, aku mencintainya. Aku tak berharap dia memilihku. Buatku, kenyamanan antara kami, adalah yang terpenting.


Dia terkejut. Kurasa saat itu, banyak tanya di kepalanya. Sembari terisak, kukatakan, pernah kucicipi posisi ini dan aku tahu rasanya. Namun aku berusaha tegar, sesungguhnya perkataanku selanjutnya, merobek-robek hatiku. "Tak kan kurusak hubunganmu dengan dia. Aku memang tergila padamu tapi aku bukan psikopat cinta. Tapi tolong, jaga hatiku. Buat aku merasakan cinta lagi. Setidaknya, hidupku berwarna."


Setelah disanggupinya, hari-hari kami hampir semuanya indah. Setiap ada kesempatan, pesan-pesan rindu selalu terucap. Ini bertahan beberapa bulan hingga akhirnya kami sadar, kami saling mencintai namun sulit untuk bersama. Walau tak langsung terucap, dari mata dan suaranya, dia juga merindukanku. Ya, aku kekasihnya walau tak dipublikasi. Tak masalah bagiku.  "Cinta yang dewasa, tak butuh publikasi," bisikku.

  
Saat kuutarakan rindu, dia pernah berkata, "Rindu yang ditahan, pertanda cinta yang dalam." Kalimatnya benar. Ya, sedalam rasaku padanya, sekuat itu pula kutahan rindu. Rindu itu masih kami pupuk. Hampir setiap malam, kami menyiramnya hingga tumbuh subur. 


Hampir? Ya, hampir. Sebab tak jarang aku menangis ketika tiba-tiba, dikatakannya ingin merawat hubungan yang telah dibinanya tiga tahun lalu sebelum mengenalku. Dia merasa berdosa pada perempuan pertamanya. Aku lesu, tak bergairah juga benci pada diriku yang kerap merindukannya, terlebih sejak dia mulai menjaga jarak kami. 

Apalagi sejak memasuki dini hari hingga terbitnya matahari, aku sakau sebab cintanya terlanjur memasuki aliran darahku. 'Benar sayang, aku mencintaimu, segenap jiwaku hingga saat ini, aku masih merindukanmu." 

Tiga puluh hari terakhir, dia sangat sibuk. Intensitas kami semakin berkurang. Namun tak demikian yang terjadi pada hatiku. Aku harus menjaga namanya di depan khalayak, agar dia tak menanggung malu.  "Bisa kau bayangkan, citra yang kau bangun sedemikian rupa, bisa langsung rusak jika kuutarakan cinta kita ini, Kekasih." 


Seperti yang kerap kuutarakan padamu, "Aku mencintaimu. Biarkan kumenjagamu dari segala masalah. Aku akan diam di depan semua orang. Aku tak akan menjatuhkan citramu. Biarkan aku yang merasakan perihnya, Sayang." Aku tak tahu akhir cerita kami. Semuanya terlalu manis, terpatri indah di tiap sudut hatiku. Aku rindu, itu saja.


Tidak ada komentar: