Jumat, 28 Juli 2017

Aku Rindu (6)

Jika diizinkan membulatkan koma, selama tiga tahun, kami serupa sepasang burung dara. Bermain bersama di taman-taman kota. Berkeluh kesah bersama, menyuapi dengan bahagia, bahkan menegur jika masing-masing berbuat nista.

*

Sudah sebulan, kami tak saling bicara. Telepon dan pesannya, tak pernah kubalas. Sejurus juga dengan tatapannya yang tak lagi ingin kutengok, walau rasanya ingin sekali melihat matanya. Mata yang selalu rindu untuk kukecup saat dia tengah lelah. Aku sengaja menghindari matanya, mata yang mampu membuatku kembali luluh.

Tak ada yang mengetahui kehampaan kami. Kami memiliki cinta, namu begitu sulit untuk didefinisikan di hadapan khalayak. Kisah kami dimulai, serupa burung Dara di taman. Aku yang tadinya skeptis akan lelaki, menemui cinta secara tak diduga. Ryan memberi kenyamanan yang luar biasa kepadaku. Membuatku kembali merasakan cinta setelah beberapa kali mengalami patah hati. Ya... Aku tahu, sebelum mengenalku, hatinya lebih dahulu diserahkan menjadi milik perempuan lain, Nona. Lalu, adakah kusalah jika masih mendambanya? 

*

Tiga tahun kemarin, secercah harapan menyelimuti bilik hati kami. Virus merah jambu mengurai benang kusut di hati. Aku yang tengah sendiri, berpadu dengan dia yang tengah jengah dengan perempuannya. Meski dituturkannya ingin kembali memijak tanah berkali-kali, kuangkat dia lagi, menari bersama. Mencoba memahat arca baru. Saat itu, aku tak peduli. Aku hanya ingin menikmatinya, untukku sendiri, meski aku tahu posisi.

Namun kini, masa hampir 1095 hari itu, harus dengan mudah kulepas. Mungkin benar, mungkin pun haku harus kuat, meski patah hati siap menjadi momok terbesar dalam hidup perempuan kota sepertiku. Perlahan, mungkin, aku harus sanggup jika dia akan pergi  dan mulai menghilangkan pedulinya terhadapku. Mungkin dia akan kembali berbuat norak, mengikuti permainan Nona.

Lalu aku, sayapku patah, tak mampu menyatu lagi hingga sakitnya semakin terasa saat kabarnya tak lagi menggema.

Tidak ada komentar: