Selasa, 31 Januari 2012

Ganja dan Rokok, Sama-sama Mengancam Jiwa

Pasti pembaca sekalian sudah sangat mengenal akan tanaman yang bernama ganja? Ya.. tak dapat dipungkiri bahwa ganja tumbuh subur di Indonesia tepatnya di daerah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).  Ganja (Cannabis Sativa) a.k.a marijuana ini sudah jelas masuk ke dalam lingkup narkoba yang efeknya bisa buat badan jadi lebih ringan, juga bisa buat kita ‘gak ngerasain sakit.

Lalu, bagaimana dengan ungkapan ini : Kalo’ gak ngerokok, ‘gak gentle!!! Pasti ungkapan tersebut sudah tak asing di telinga para pembaca sekalian. Begitu juga terhadap saya, Ungkapan serupa juga sering saya dengar dari orang-orang (laki-laki) disekeliling saya. Mereka berkata “rokok harus ada apalagi sehabis makan, asam mulut klo ‘gak ada rokok”. Dan tak tertutup kemungkinan banyak diantara wanita juga merokok. Seperti yang telah kita ketahui bersama, banyak sekali kerugian yang ditimbulkan.

Lantas apa hubungannya antara ganja dan rokok? Berikut dapat disimak perlahan-lahan yang mana akan saya bahas mengenai kedua barang tersebut.
1327988319298107941
images from http://sandaljepitz.wordpress.com
Saya mempunyai beberapa mantan teman dekat, sebutlah namanya Hendra. Jika sedang bersama saya, ia tak pernah lepas dari rokoknya. Habis satu bungkus, pasti dia langsung membeli lagi. Batuk-batuk pasti ia alami dan jujur saya risih. Setelah saya tanyakan berapa bungkus rokok yang dikonsumsinya? Dengan jujur ia berkata Kira-kira 3 bungkus perhari. Whattt???? Banyak sekali. Coba bayangkan, sampoerna AMild seharga 12 ribu x 3 = 36 ribu. 36 ribu perhari jumlah uang yang rela ia keluarkan Cuma untuk membeli rokok. Kalau sedang tak memiliki uang, ia pasti minta rokok pada temannya.

Kemudian ada seorang lagi, sebutlah namanya Heri. Ia pun sama seperti hendra, Cuma rokok yang ia konsumsi sekitar 2-3 bungkus perhari. Apalagi jika selesai makan, tidak putus-putus ia menghisap rokoknya.

Lalu yang paling saya ingat bernama feri. Ini yang saya tidak habis pikir, ia rela menghabiskan uang hanya untuk membeli rokok sekitar 4-5 bungkus perhari. Asal kita teleponan, pasti dia batuk-batuk juga. Jika saya bertanya, apakah kamu sakit? Pasti jawabannya tidak. Dia selalu menjawab habis merokok dan dengan jujur ia mengakui ‘abes duet udah gara-gara beli rokok”. Jika saya suruh berhenti pasti ia berkata tak bisa.

Nah,,, yang jadi pertanyaan sekarang, mengapa mereka begitu kecanduan akan rokok? Setelah saya minta jujur, mereka mengaku : dulu pernah make’ ganja. Sangat candu sekali malah mereka dengan ganja. Jadi menurut pengakuan mereka, tak berganja lagi, tetapi menghisap rokok saja. ini yang saya tidak habis pikir, bukankah sama saja penggunaan dan efek negatifnya?

Dari hasil penjaringan opini yang saya lakukan melalui facebook, berbagai jawaban dari responden saya dapati. Bang ogek berpendapat, kalau demikian halnya bukan candu lagi namanya, lebih tepatnya niat bunuh diri. Karena menurut bang ogek, jika sudah addict begitu, sama saja ia menjual masa depan dan keselamatan jiwanya pada rokok.

Pendapat lain dari kakak Sheila, beliau mengatakan kenyataannya yang pernah ia temukan adalah memang seperti kasus yang pernah saya alami. Namun sedikit berbeda. Dimana kakak Sheila menemukan, selain pecandu narkoba (mis. Ganja), ia juga perokok berat. Badannya sungguh teramat kurus. Saat ia berusaha untuk menghilangkan candu terhadap ganja, tingkat aktivitas merokoknya justru semakin meningkat, karena tubuh yang sudah terbiasa menggunakan ganja dan rokok pasti membutuhkan “Sesuatu” untuk “Menggantikan” posisi ganja yang selama ini dikonsumsinya. dengan rokok?

Pendapat lain saya dapatkan dari Rivai, dimana rivai mengatakan mengganti kecanduan ganja ke kecanduan rokok itu salah banget. Karena menurut penelitian, rokok itu lebih adiktif dibandingin ganja. Berarti, kalau dia mengganti kecanduan ganja ke rokok, dia bakal lebih sulit untuk menghilangkan kecanduannya itu, karena lebih sulit untuk berhenti merokok daripada berhenti nyimeng a.k.a nge-ganja.Sebenarnya jika ditanyakan mana yang lebih bahaya, ya saya dapat mengatakan sama saja bahayanya seperti disini www.blomada.com.
1327989630818090913
from google image
Pantas saja mereka lebih sering batuk dan tak pernah lepas dari ketergantungan rokoknya, atau mungkin walaupun kata mereka sudah bisa mengganti ganja dengan rokok, namun sekali-sekali mereka masih menggunakan ganja.

Yang pasti Rokok tidak lebih baik dari ganja, bahkan bisa jadi rokok lebih berbahaya bagi tubuh dibandingkan ganja. Cuma bedanya memang ganja menimbulkan perubahan kesadaran (mabok) dan mungkin juga halusinasi, sementara rokok ya … racun.

Solusinya, kembali kepada “Si pemilik jiwa” itu sendiri. sanggupkah dia “Berjuang” melawan “Hasrat” ingin mengkonsumsi lagi atau tidak. karna kenyataannya adalah, “Tidak mudah menghilangkan dua kebiasaan yang cukup berbahaya”  itu. Akhir kata, saya cuma berharap semoga para pembaca sekalian tidak seperti mereka bertiga karena ganja dan rokok ini sama-sama berbahaya dan mengancam jiwa.

Rabu, 25 Januari 2012

Kebahagiaan Imlek Sang Akong Jompo

Kemarin pagi, saya ingin sekali melihat keramaian serta kemeriahan imlek yang terdapat di kota Medan. Sangking penasarannya, Kemudian saya menghubungi seorang teman yang berprofesi sebagai fotografer freelance, sebutlah namanya Eko. Menurut informasi yang saya terima dari pacarnya, bahwa Eko baru saja mengambil foto tentang perayaan imlek. Eko mengatakan bahwa terdapat acara perayaan imlek di Vihara Gunung Timur. Silahkan datang kesana, banyak juga orang yang datang kesana sekedar untuk mengambil gambar. Atas intruksi eko tersebut, berangkatlah saya ke tempat yang dimaksud.
13274016861809396330
Vihara Gunung Timur , Image dari www.deliheritageclub.wordpress.com
Sesampainya saya disana, tempat itu ramai sekali bahkan tampak banyak polisi yang sedang berjaga-jaga juga ada beberapa satpam dan penjaga vihara tersebut.
13274018882107218745
salah satu tempat sembahyang dok. pribadi
Pada tulisan saya kali ini, saya tidak ingin menuliskan tentang kemeriahan acara imlek layaknya biasa yang sering kita lihat. Namun, saya ingin menceritakan kebahagiaan imlek bagi seorang kakek.
Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, Imlek ini memang merupakan puncak kebahagiaan setiap masyarakat tionghoa, tak terkecuali bagi seorang kakek (Akong) yang menyanyikan lagu dengan alat musik kreasinya sendiri yang terbuat dari bambu dan kaleng. Menyanyi ini merupakan hobi sekaligus mata pencahariaannya kini.
13274020792025109047
akong ak kao yang sedang menyanyi - dok. ppribadi
Beliau duduk di sebuah kursi, tepat pada sisi kiri pintu masuk Vihara Gunung Timur yang terletak di jalan Hang Tuah yang bisa dimasuki lewat jalan T. Cik Ditiro.
Beliau menyebut namanya Ak Kao yang telah berumur 82 tahun. Pembicaraan yang kami lakukanpun tidak begitu jelas kedengarannya sebab keterbatasan suara sang kakek yang sudah lanjut usia tersebut. Beliau berkata : gigi akong hilang jadi susah bicara. Hilang maksudnya copot semua dimakan usia. Namun, dari penuturannya, beliau bertempat tinggal dipanti jampo karya kasih jalan mongosidi (dekat bandara polonia) Medan.

Sejak lahir, beliau memang sudah berdomisili di kota Medan. Dahulu pekerjaan beliau adalah tukang becak. Sekarang di usianya yang sudah 82 tahun ini, beliau hanya menyanyi di Vihara ini sejak pagi hari hingga malam hari. Beliau datang ke vihara ini setiap hari menggunakan becak yang di sewa perharinya dengan biaya sekitar Rp 12.000,00.

Kalau untuk menanyakan, mengapa beliau tinggal dipannti jompo dan mengapa tidak tinggal bersama anaknya, jujur saya tidak sanggup atau dapat dikatakan saya tidak berani. Saya takut membuka tentang keluarga beliau apalagi jika terdapat aibnya, saya takut beliau tiba-tiba menangis. Bayangkan saja usia beliau yang sudah 82 tahun yang renta akan sedih bila mengingat masalah yang dimilikinya. Sungguh saya tak sampai hati. Kemudian saya mengamati tindakan beliau selanjutnya saja.

Ketika saya sedang berbicara dengan beliau, tampak beliau sedang menghitung uang. Cukup banyak memang. . Banyak kali orang kasih angpao untuk akong. Akong senang kali. Rame kali yang datang kesini. Barusan aja ada yang kasih uang untuk akong dua ratus ribu.
Beliau berkata bahwa banyak orang yang mengetuk pintu kamar beliau sehingga beliau tak bisa tidur sampai sekitar pukul 10 malam, apalagi sedari 2 malam kemarin, mereka berkata : akong akong, ambil angpao untuk akong nih. Rame kali bolak-balik mereka datang.

Imlek kemarin merupakan kebahagiaan tersendiri bagi sang akong. Dengan adanya imlek ini beliau dapat meneruskan hobi beliau menyanyi sekaligus menambah penghasilan. Semoga perayaan imlek kali ini merupakan perayaan imlek yang paling berkesan bagi akong di usianya yang telah 82 tahun tersebut.

Bau harum dupa turut serta menjadi kebahagiaan tersendiri dalam perayaan tersebut. Sedari beberapa hari sebelumnya sampai pagi hari kemarin, Masyarakat tionghoa berbondong-bondong mendatangi berbagai vihara yang terdapat di kota Medan. Tahun baru cina atau yang lebih akrab dikenal dengan Imlek merupakan hari besar yang diperingati oleh masyarakat tionghoa diseluruh dunia. Pada hari imlek yang jatuh pada tanggal 23 januari 2012 kemarin, tentunya memberikan berjuta harapan baru bagi mereka, terutama bagi akong Ak Kao.

Senin, 23 Januari 2012

punya mas PSH : Deskripsi Dalam Narasi Fiksi



Pernahkan, Anda memaparkan atau menggambarkan dengan kata-kata suatu benda, tempat, suasana atau keadaan? Kegiatan yang Anda lakukan itu disebut deskripsi.
Seorang penulis deskripsi mengharapkan pembaca, melalui tulisannya, dapat melihat apa yang dilihatnya, dapat mendengar apa yang didengarnya, mencium bau yang diciumnya, mencicipi apa yang dimakannya, merasakan apa yang dirasakannya. Deskripsi merupakan hasil observasi melalui panca indera, yang disampaikan dengan kata-kata.


Berikut contoh itu:
“Bagimu, cinta adalah aroma dupa dan puja para dewa-dewa di langit. Mantra-mantra doa yang terucap dari bibir tipismu tak kumengerti, terdengar seperti dengungan ribuan suara lebah. Matamu terlihat menerawang. Kau ada disitu, berdiri mematung. Bajumu ungu, berpilin gambar naga warna emas melingkarinya. Sebentar kelopakmu memejam. Pada beranda altar dewamu, kau seperti berbisik.”
“Aku seperti tenggelam dalam khusyuk pujamu…” Bisikku lagi, dan kupercaya dia takkan mendengar karena dia di dalam kelenteng, sedang aku dipelatarannya, sembunyi dan mengintipnya seperti biasanya. Kulanjutkan kembali bisikku, “…kadang ada saja yang iseng menanyaiku kenapa aku berhenti disitu, sejenak untuk melihatmu. Tapi, selalu saja jawaban aku simpan rapat dalam dada. Aku cuma tersenyum, dan orang itu kemudian berlalu meninggalkanku.

“Terusterang, aku suka sekali aroma puja tempatmu ini. Aroma basah rincik hujan di awal musim semi, berpadu harum aroma paraffin dan wangi aroma dupa, sangat segar seperti lembab aroma telaga. Dan anganku seakan melambung mental ke negeri kahyangan, negeri pujamu. Juga selalu saja ada waktu untukku menikmatinya tiap malam saat aku pulang kerja. Dan selalu saja kutemui kau ada disitu.
“Kutakkan bosan, tak akan bosan menunggumu keluar sehabis berdoa dalam kepulan asap dupa. Entah apa yang kurasakan, seperti ada garis takdir yang menyeretku untuk kembali, lagi, dan lagi. Entah sampai kapan hal ini aku hentikan. Aku tak tahu…”(PSH).

Jika penulisnya mempunyai pengamatan yang tajam dengan semua alat-alat inderanya, kemudian menuliskannya dengan kata-kata yang tepat atau dengan menggunakan perbandingan yang tepat, deskripsi ini dapat merupakan tulang punggung yang hidup dan menawan.
Untuk menuliskan sebuah deskripsi perlu kita mengamati dengan tajam, dengan memanfaatkan semua alat indera kita. Bukan hanya pengelihatan saja, seperti yang banyak dilakukan oleh sebagian penulis pemula.

Walaupun ada bermacam-macam bentuk deskripsi yang dapat dituliskan, secara garis besar kita hanya membedakan atas dua macam saja, yakni deskripsi ekspositori dan deskripsi impresionisme.

A. Deskripsi Ekspositori
Deskripsi ekspositori adalah deskripsi yang berisi daftar rincian, semua hal, atau yang menurut penulisnya, hal yang penting-penting saja, yang disusun menurut sistem dan urut-urutan logis objek yang diamati.
Semisal contoh: jika kita mengamati dan ingin mendeskripsikan kereta api, maka urut-urutan logisnya agaknya pastilah dari depan, lokomotifnya, ke belakang, gerbong-gerbong yang mengekorinya lokomotif.
Kalau kita cukup tajam mengamati, hampir segala sesuatu mempunyai logikanya sendiri dan deskripsi ekspositori mematuhi logika ini.

B. Deskripsi Impresionistis
Deskripsi impresionistis kadang-kadang dinamakan juga deskripsi stimulatif, untuk menggambarkan impresi penulisnya, atau untuk menstimulir pembacanya. Berbeda dari deskripsi ekspositori yang biasanya agak lebih ketat terikat pada objek dan atau proses yang dideskripsikan.
Dan deskripsi ekspresionistis ini lebih menekankan impresi, atau kesan penulisnya ketika melakukan observasi, atau ketika menuliskan impresi tersebut. Agak ribet ya? Ya sudahlah, lupakan. Kembali kepenjelasan berikutnya.

C. Deskripsi dalam Narasi Fiksi
Biasanya deskripsi tidak berdiri sendiri sebagai sebuah wacana yang bebas, melainkan terikat pada wacana lain seperti narasi. Dalam wacana narasi fiksi seperti cerpen, novel, dan roman, deskrisi sangat berperan dalam mengekspresikan latar: tempat, waktu, dan suasana.
Deskripsi menjadi bagian kekuatan sastrawan yang mencipta eksotisme, estetika, dan nilai rasa.
Penulis cerpen atau novel seringkali memanfaatkan deskripsi sebagai bagian yang memikat dalam mencitrakan imaji pembaca untuk memahami latar.

Deskripsi itu menjadi salah satu daya pikat, selain unsur-unsur intrinsik yang membangun cerita. Deskripsi seringkali menjadi satu daya pikat yang menyebabkan narasi dalam roman, novel dan cerpen menjadi sangat populer, dahsyat boy.

Minggu, 22 Januari 2012

Puisi Kahlil Gibran Tentang Cinta



CINTA (I)
Lalu berkatalah Almitra, Bicaralah pada kami perihal Cinta. Dan dia mengangkatkan kepalanya dan memandang ke arah kumpulan manusia itu, dan keheningan menguasai mereka. Dan dengan suara lantang dia berkata:

Pabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia, Walau jalannya sukar dan curam. Dan pabilasayapnya memelukmu menyerahlah kepadanya. Walau pedang tersembunyi di antara hujung-hujung sayapnya bisa melukaimu. Dan kalau dia berbicara padamu percayalah padanya. Walau suaranya bisa menggetar mimpi-mimpimu bagai angin utara membinasakan taman. Kerana sebagaimana cinta memahkotai engkau, demikian pula dia akan menghukummu.

Sebagaimana dia ada untuk menyuburkanmu, demikian pula dia ada untuk mencantasmu. Sebagaimana dia mendaki ke puncakmu dan membelai mesra ranting-ranting lembutmu yang bergetar dalam cahaya matahari. Demikian pula dia akan menghunjam ke akarmu dan menggegarkannya di dalam pautanmu pada bumi. Laksana selonggok jagung dia menghimpun engkau pada dirinya. Dia menghempuk engkau hingga kau telanjang Dia mengasing-asingkan kau demi membebaskan engkau dari kulitmu. Dia menggosok-gosok engkau sampai putih bersih. Dia meramas engkau hingga kau menjadi lembut; Dan kemudian dia mengangkat engkau ke api sucinya sehingga engkau bisa menjadi hidangan suci untuk pesta kudus Tuhan. Semua ini akan ditunaikan padamu oleh Sang Cinta, supaya bisa kau fahami rahsia hatimu, dan di dalam pemahaman dia menjadi sekeping hati Kehidupan. Namun pabila dalam ketakutanmu kau hanya akan mencari kedamaian dan kenikmatan cinta. Maka lebih baiklah bagimu untuk menutupi tubuhmu dan melangkah keluar dari lantai-penebah cinta. Memasuki dunia tanpa musim tempat kau dapat tertawa, tapi tak seluruh gelak tawamu, dan menangis, tapi tak sehabis semua airmatamu.

Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tiada mengambil apa-apa pun kecuali dari dirinya sendiri. Cinta tiada memiliki, pun tiada ingin dimiliki; Kerana cinta telah cukup bagi cinta. Pabila kau mencintai kau takkan berkata, “Tuhan ada di dalam hatiku,” tapi sebaliknya, “Aku berada di dalam hati Tuhan.” Dan jangan mengira kaudapat mengarahkan jalannya Cinta, sebab cinta, pabila dia menilaimu memang pantas, mengarahkan jalanmu.



Cinta tak menginginkan yang lain kecuali memenuhi dirinya. Namun pabila kau mencintai dan memerlukan keghairahan, biarlah ini menjadi keghairahanmu: Luluhkan dirimu dan mengalirlah bagaikan anak sungai, yang menyanyikan alunannnya bagai sang malam. Kenalilah penderitaan dari kelembutan yang begitu jauh. Rasa dilukai akibat pemahamanmu sendiri tentang cinta; Dan menitiskan darah dengan ikhlas dan gembira. Terjaga di kala fajar dengan hati berawangan dan mensyukuri hari baru penuh cahaya kasih; Istirah di kala siang dan merenungkan kegembiraan cinta yang meluap-luap; Kembali ke rumah di kala senja dengan rasa syukur; Dan kemudian tidur bersama doa bagi kekasih di dalam hatimu dan sekuntum nyanyian puji-pujian pada bibirmu. (Khalil Gibran)

Sabtu, 21 Januari 2012

Aktualisasi Diri “Tercela” Dari Sang Jobless

Seperti yang kita ketahui bersama, Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan bantuan serta apresiasi dari orang lain lewat aktualisasi dirinya, entah orang itu jobless atau tidak.  Jobless sendiri menurut saya sih tidak memiliki pekerjaan, baik pekerjaan tetap ataupun sebagai pekerja lepas harian.

Wajar kiranya hal ini terjadi mengingat kita selalu berhubungan dengan orang banyak baik secara langsung maupun tidak. Secara langsung bisa terjadi ketika kita berhadapan langsung dengan orang, tidak langsung bisa terjadi seperti kita dikompasiana ini, “sharring, Connecting”. Tentu sesuai motto Kompasiana. Kali ini Saya tidak menuliskan tentang kehidupan kita di kompasiana ini, tetapi saya ingin menceritakan kejadian yang saya alami sendiri.
1327155215505428572
para pencari kerja image-google
Suatu ketika di malam minggu, bersama ibu saya pergi ke tempat penjualan durian. Seperti biasa, ketika kita hendak membeli barang di pasar atau kaki lima, pasti sebagai pembeli kita menawar harga dan terjadilah proses tawar menawar harga antara ibu saya dengan sang penjual durian. Ketika sedang sibuk menawar harga, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki berusia sekitar 50tahunan. Beliau sibuk mempromosikan durian yang sedang ditawar oleh ibu saya, “ini manis loh bu, jamin lah harganya. Bla..bla…”. terus terang saya risih akibat kehadiran beliau. Toh ini durian bukan punya beliau kok, kok malah beliau yang sibuk promosi?? Hmmm… mungkin jiwanya terpanggil untuk membantu sesama. Baik, kalau untuk alasan ini saya terima tapi kalaupun ia penjual durian juga, yang jadi pertanyaan saya mengapa harus mengurusi dagangan orang lain? Kenapa ‘gak mengurusi dagangannya sendiri??

Saya kesal melihat tingkahnya tersebut, sehingga saya cuma diam saja sembari memikirkan, “bagian mana dari orang ini yang bisa saya cela supaya orang ini tidak ikut campur lagi”. Tiba – tiba, saya melihat bahwa resleting celana jeansnya terbuka, untungnya kemejanya dimasukkan kedalam celana.

Dengan spontanitas saya berkata sambil tertawa, “ jangan sibuk kali urus urusan orang lain pak, resleting celananya itu dinaikin dulu, ‘gak malu apa ya udah banyak ngomong promosiin ini durian tapi resleting celananya aja belum naik”, celetukan saya tersebut berhasil membuat orang – orang dipinggir jalan tersebut tertawa terbahak-bahak dan dengan malunya sang bapak “yang katanya baik” ini pergi ke balik pohon dan tak kembali sampai kami selesai membeli durian.

Ada lagi cerita selanjutnya. Saat itu ibu saya ingin memasang canopy diatas teras rumah. Ibu kan masih sakit dan sayapun belum sempat mencari tukang pembuat canopy tersebut dikarenakan sedang sibuk kuliah. Ada tetangga (jobless) yang katanya “berbaik hati” dengan menawarkan bantuan. Ingin ditolak eh dia tiba-tiba meminjam sepeda motor saya dan bergegas mencari tukang yang dimaksud tersebut. Ibu dan saya pun kebingungan tapi ya sudahlah, toh mungkin dia ingin menolong. Seketika ia kembali dengan membawa sang tukang canopy tersebut, setelah transaksi tersebut usai, tiba-tiba si lelaki yang katanya “berbaik hati” tadi meminta upah kepada ibu saya.

Walau agak heran, tetapi ibu sayapun berjanji akan memberinya jika canopy selesai dipasang. 2 hari kemudian canopy selesai dan si lelaki tadi sedang keluar kota sehingga belum sempat kami berikan upahnya. Kemudian saya memberikan uang tersebut kepada ibu mertuanya dan tiba-tiba sang adik ipar yang notabenenya sesama jobless mungkin merasa terpanggil jiwanya untuk membela sang abang ipar (sesame jobless) dan tiba-tiba mengirim SMS bernada kasar ke ponsel saya. Kalau sekiranya uang yang saya berikan kurang dan minta tambahan kan tinggal bilang, tak perlu kiranya harus dengan SMS kasar. Ibu sayapun berang dan saya mencegah ibu pergi kerumah orang tersebut, pun ibu sakit. Tak lama, ibu tetangga tadi yang meminta maaf kepada ibu dan saya.
1327154509236524170
lebih baik diam daripada ngurusin orang - google image
Dari kedua contoh yang telah saya paparkan diatas, mungkin memang benar adanya jika dikatakan mereka tidak memiliki kesempatan untuk bekerja. Dan Sesama makhluk sosial memang sepantasnya kita mendapatkan apresiasi dari orang lain baik jobless ataupun tidak yang tentunya ini dapat disalurkan melalui aktualisasi diri yang kita lakukan. Memang saling tolong-menolong merupakan perbuatan terpuji, tetapi alangkah baiknya jika kita tahu menempatkan diri dan jangan suka asal memposisikan diri. intinya sih jangan asal bicara dan jangan sampai membuat orang lain tersinggung. Lebih baik anda Diam daripada menambah list musuh toh?? Bijaksana ya kalau mau ngomong …

Konfesi si abang : Ia memang Bintang Timurku.


Penunjuk jalan:
di saat Samudera bergolak,
di malam yang terlampau pekat,
kelamnya yang padat 
membuatku hampir tersesat. 

"Cobalah jadi perasa, Bang.."
gemilang bintang hati perempuanku menyuluh.



Seketika segalanya jelas terang,
jalan benar telah terbentang,
mengubur gusarku, tenang ku berlayar pulang,
lurus, lancar menuju ke labuhan nurani,
kembali pada mengenal diri.

Perempuan itu mataku dengan kejernihan,
lembut menuntun pada kebenaran,
melampaui kepalaku beku membatu.

"Tuan abang, Da sayang kali pun sama dirimu.
Makanya senang abang pulang,
jadi diri yang penyayang."

Aku kelu.
Malu bergema bertalu-talu!
Teringat dulu ─
betapa dingin pengabaian
terasa getir pahit ia paksa telan
sekali, dua, tiga, empat kali waktu.

Perempuan Bintang Timurku,
dengan apa agar terbalas budi baikmu?

"Sayang, aku beruntung bisa mencintaimu." 





Abang semakin sayang juga denganmu, Auda cintaku. Ini puisi pengakuan abang.

Jumat, 20 Januari 2012

[Imlek} Jeruk Ponkam Untuk Mama

Auda Zaschkya - 64

Bundaku sakit.

Sejak bulan lalu, ibuku mengeluhkan sakit pada seluruh tubuhnya, sehingga rutinitas tiap subuh dan magrib untuk menunaikan shalat berjama’ah di Mesjid komplek, tidak dapat ia lakukan. Kini beliau shalat dirumah sembari duduk.
Mendengar keluhan tentang sakit yg beliau derita tersebut, lalu aku membawanya ke rumah sakit. Setelah berobat rutin ke dokter, saran dari dokterpun harus kami ikuti. Selain rajin minum obat, Beliau juga disarankan untuk sesering mungkin difisioterapi.

Kemanapun dirimu hendak melangkah, penting bagiku ikut serta.

Fisioterapipun engkau ikuti dan aku pasti turut menungguimu. Bosan memang, jenuh bukan kepalang, namun ku coba untuk bersabar, demimu ibu.. ketika engkau mulai jenuh, amarahpun tak dapat engkau tahan dan engkau berucap “kenapa ‘gak sembuh-sembuh sih? Udah capek bolek-balik ke rumah sakit.

Jeruk Ponkam Untuk Ibuku

13270668641273324383
google image

Suatu ketika, ibu bertanya “imlek kapan, da?  Kita ke supermarket itu ya. Kita beli jeruk yang murah itu ya.. mama suka jeruk itu, mama ikut juga ya, mau pilih-pilih sama orang ramai disana”.

Dan aku berkata, “biar ami beli aja, ma dirumah aja, ‘gak boleh jalan-jalan apalagi masuk mall yang padat. Sabar dulu, nanti kalau ami udah libur minggu tenang sebelum ujian, ami yang beli”.

Beberapa minggu yang lalu, di televisi sudah disiarkan bahwa jeruk itu ada dan harganya sangat murah ditengah suasana menjelang imlek dan lagi-lagi ibu berkata, “ayoklah kita beli jeruk itu, ma mau”.
“Sabar ma, nanti ami beli” terangku. Setelah mendengar jawabanku, beliaupun tenang.

13270683861898548196
google image
Tanpa sepengetahuan ibu dan tentu tanpa uang darinya, aku pergi ke supermarket tersebut dan tampak ramai oleh orang yang berburu jeruk tersebut. Mau tak mau Akupun harus terjun dalam kerumunan pemburu jeruk ponkam ini.

Setelah membayar jeruk tersebut, akupun segera pulang dan memberikan jeruk kegemaran beliau. “ini ma, jeruknya yang ami janjiin”, beliau kaget dan tanpa mengucap satu patah katapun, aku mengupasi jeruk tersebut untuk ibu.

Nih ma jeruknya.. cepat sembuh ya.. jangan sakit-sakit lagi. Apa saja yang mama mau, pasti ami turutin, ami lakuin, asal mama gak boleh capai-capai, gak boleh keluar rumah tanpa ami. Ami tahu sakit yang mama rasakan, ami selalu berdo’a untuk mama. Ami sayang mama.

Kamis, 19 Januari 2012

Emot FB

Here it is, the tiny list of emoticons. Let's hope they eventually add more! 
smile:
:-) :) :] =)
frown:
:-( :( :[ =(
tongue:
:-P :P :-p :p =P
grin:
:-D :D =D
gasp:
:-O :O :-o :o
wink:
;-) ;)
glasses:
8-) 8) B-) B)
sunglasses:
8-| 8| B-| B|
grumpy:
>:( >:-(
unsure:
:/ :-/ :\ :-\
cry:
:'(
devil:
3:) 3:-)
angel:
O:) O:-)
kiss:
:-* :*
heart:
< 3
kiki:
^_^
squint:
-_-
confused:
o.O O.o
upset:
>:O >:-O >:o >:-o
pacman:
:v
curly lips:
:3
robot:
:|]
penguin (facebook isn't letting me type it out correctly; typical stupidity. here's a "spaced out" version)
< ( " )
Chris Putnam:
:putnam:
shark:
(^^^)
red Forty-Two:
:42:
thumbs up:
(y)

Andaikan Kau Ada Disini



***
Di hari kemarin
kembali, sang khalik menohokku
Membangunkanku dari nikmat cintaku
Dia sembunyikan Lelakiku
Dia membuatku bingung
hingga aku terus mencari lelakiku
Lewat twitter, blog, bahkan facebook
(*)
Mengertikah Engkau Sang Maha Tahu
“Tanpa kabar darinya, aku tersiksa rindu”
(*)
Bersama sang kuda merah kesayanganku,
kami menuju warung kopi langgananku
Melepas penat sembari memandang potretmu,
wahai lelaki dambaan hatiku
(*)
Tanpa terasa, bulir air mata menjalari pipi
Ketika aku mengingatmu, wahai lelaki pujaan hati
(*)
Hatiku redup tanpa hadirmu kini
Kembali si merah membawaku melintasi jalan kota
Aku berusaha menghibur diri
Berpura-pura menyuguhkan pelita
Pada hati yang teriris sepi
Ya… lagi-lagi tanpamu disisiku
(*)
Langit kota mendung cenderung gelap
Pertanda hujan deras akan menderaku
Seketika hujanpun turun membasahi tubuhku
Dan membawaku ke warung mie ayam favoritku
(*)
Andaikan kau ada didekatku saat ini
Kita pasti menikmati sungguhan sang khalik
Atas cinta yang tengah kita rajuti
Sembari berdo’a agar direstui oleh - Nya
***

Lesehan Sastra Tiga Kota


Auda Zaschkya
FISIP – Komunikasi
Universitas Medan Area, Medan

Selasa, 17 Januari 2012

Dimanakah Kau Berada

13267750411007749600
Detakkan jarum jam memacu
mematuk paksa atas sang waktu
Begitu pula detak jantungku
perlahan mengukir aksara rindu
(*)
Sang waktu melemahkan imaginasiku
ketika sang malam berlaku
mencuri inspirasiku
memaksa menghilangkan motivatorku
(*)
Terseduku pada sang ranjang
menanti kabar baik, bahkan buruk darinya
Tubuhku lelah hingga menggelinjang
ingin memaki sang waktu agar memulangkannya
(*)
Amarahku tuangkan dalam tangis
sembari melafalkan do’a walau hati teriris
Aku hanya dapat menanti sang waktu
mengembalikan utuhmu padaku, wahai lelakiku…
(*)
Tahajjudpun selesai kulaksanakan
Aku ingin tidur!!! teriakku pada sang waktu
Namun, mataku masih enggan menutup
Air matapun kembali mengencingi murung wajahku
Menunggu hadirmu dimalamku
(*)
Dimanakah lelakiku???
Hanya kau yang tahu, sang waktu
(*)
Tulusku memohon padamukembalikan dia pujaanku
Sebab, aku masih menunggu atas cita dan cintanya padaku

[Review] Natu Savon Kose Cosmeport, Refresh Your Day with Apple & Jasmine

Hai Beauties. Kembali lagi ke blog saya yang kali ini masih akan membahas skin care. Namun, sedikit berbeda dari biasanya. Kalau...