Rabu, 29 Agustus 2012

[CFBD] Boneka dari Almarhum Ayah


Saya terlahir ke dunia pada tahun 1988 dari kedua orang tua yang sederhana. Dahulu, almarhum ayah adalah seorang Pegawai biasa dan ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang kini telah semakin tua.
***
Saya mempunyai seorang kakak laki-laki yang berselisih usia 15 tahun dengan saya. Ketika saya dilahirkan, kakak laki-laki saya itu sekitar kelas 1 SMA. Tentunya kehadiran saya begitu diharapkan oleh orang tua saya. Mereka amat senang terlebih telah mendapatkan sepasang anak.
Namun, mereka harus menelan kesedihan sebab saya mengalami kelainan ketika lahir. Dari kecil, saya sudah akrab dengan jarum suntik, infus bahkan operasi kolostomi dan laparatomi telah saya lalui sampai saya dapat pulih normal seperti anak lainnya. Semua itu berkat do’a dari kedua orang tua saya.
Semasa kecil, saya sangat dekat dengan ayah. Jika beliau akan keluar rumah atau ke mesjid, saya selalu mengingatkan beliau untuk membaca do’a. Pernah suatu hari ayah membawakan saya tas boneka beruang. Sebagai bocah perempuan saya amat menyukainya. Namun sayang, boneka beruang itu harus dilahap si jago merah ketika kami mengalami musibah di tahun 1994.
Setelah musibah itu, beberapa bulan kami menumpang di rumah kerabat sebelum mendapatkan rumah baru, Saya pun masuk sekolah (SD) saat itu.
Setiba di rumah baru, ayah pun jatuh sakit, mungkin akibat kepikiran terhadap kejadian kebakaran itu. Beberapa minggu setelah di rumah baru, ada seorang nenek penjual boneka yang menawarkan boneka kepada ibu saya.
Ibu saya telah menolaknya, namun ayah saya menyuruh ibu untuk membelinya, “kasihan kalau tidak dibeli, ibu itu sudah datang dari jauh untuk berjualan kemari”, begitu kata ayah. Boneka itu pun dibeli untuk saya.
Jadilah saat itu saya memiliki 3 boneka, yaitu Kucing, Singa dan Anjing. Ketiga boneka itu diletakkan ibu di ruang tamu. Tak lama setelah ayah membeli boneka itu, ayah pun jatuh sakit dan harus segera dilarikan ke rumah sakit. Beberapa hari dirumah sakit, akhirnya ayah meninggal dunia pada tanggal 7 September 1994 ketika saya masih kelas 1 SD. Boneka itu menjadi hadiah terakhir dari ayah untuk saya.
Boneka itu tidak pernah berpindah dari tempatnya seperti ketika ayah masih hidup. Saya mengambil boneka-boneka itu untuk berfoto saja. Namun sejak musibah tsunami 2004, boneka-boneka itu sudah tak ada lagi.
1345640586468800367
ini foto kesukaan ibu saya,hihihihi
13456402431027602954
ini saya waktu SD. item ya? hahaha emang :D
1345640355117376975
ini juga saya,,
Sedari kecil sampai sekarang, saya memang tidak pernah bermain dengan boneka. Namun, saya masih teringat akan boneka itu sampai sekarang sebab mereka adalah hadiah terakhir dari ayah sebelum beliau pergi untuk selama-lamanya. 7 September 2012 nanti, tepat 18 tahun ayah meninggalkan saya. Saya amat merindukan sosok ayah yang tak mungkin saya dapatkan dari kakak laki-laki saya mengingat ia pun telah berkeluarga.
Ayah,
Ketika engkau menghadapNya dulu
Aku belum tahu
Bahkan saat itu, tak sebutir air mata menetes di pipiku
-
Seiring waktu berjalan
Aku pun mengerti
Bahwa kepergianmu tak kan pernah kembali
-
Tak terasa,
kini sudah 18 tahun kita tak bersama
Hanya untaian do’a yang dapat kukirimkan
Sebagai pelita untukmu
-
Ya Rabb…
Ampunilah dosa ayahku
Maafkanlah segala khilafnya
Amin

Selalu Utamakan Mudik Untuk Orang Tua


Bagi yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, pastinya berbahagia dalam menyambut datangnya hari raya Idul Fitri tanggal 1 Syawal setiap tahunnya setelah sebulan penuh melawan hawa nafsu di bulan yang penuh berkah.

Biasanya, demi menyambut lebaran ini banyak hal yang telah dipersiapkan dari membeli baju baru, membuat kue kering (cookies), mengganti gorden rumah sampai menyapu sarang laba-laba yang dengan manisnya bergelantungan di dinding rumah.

Aktivitas itu selalu saya lakukan sewaktu saya tinggal di Banda Aceh ketika saya masih tinggal bersama ibu. Saat itu saya tak pernah ikut mudik sebab bagi saya, esensi dari mudik itu sendiri adalah untuk bertemu dengan orang tua dan memohon maaf kepada beliau, kalau bisa juga sekalian bertemu sanak saudara. Pun kebetulan, banyak dari saudara saya yang tinggal di Banda Aceh.

Namun setelah bencana tsunami 26 Desember 2004 yang lalu, mau tidak mau saya pun harus merasakan mudik karena setelah tsunami saya tinggal bersama kakak laki-laki saya yang telah berkeluarga di Medan. Sementara ibu tinggal bersama kakaknya di Bireun, Aceh Jeumpa.

Setiap tahunnya (2005-2008, minus 2006), saya rutin pulang kampung untuk berlebaran Idul Fitri bersama ibu. Terkadang sebelum saya mudik, ibu menitipkan berbagai macam bahan kue yang dapat dengan mudah di dapat di Medan daripada di Bireun.

Kebetulan, hobi ibu saya yang satu ini sudah menjadi keharusan tersendiri bagi beliau. Pun setelah tinggal di Medan selama tiga tahun terakhir, hobi beliau itu tidak berkurang. Malah, hari raya Idul Adha yang jarang ada yang buat kue disini, tapi bagi ibu saya, membuat kue setiap lebaran idul fitri dan idul adha merupakan suatu keharusan. Sudah tradisi kata ibu.

Diatas, saya sempat menyinggung minus tahun 2006 bukan? Saat lebaran idul fitri di tahun 2006 itu, saya memutuskan tidak mudik karena ada kesibukan di kampus pasca libur lebaran. Jadinya saya tinggal sendirian di rumah abang dan berlebaran bersama keluarga sahabat saya yang ada di Medan.

Selebihnya, saya selalu mudik ke Bireun. Pulang kampung itu biasanya saya lakukan sendiri ketika seminggu sebelum lebaran tiba dengan menumpang travel. Sesampai disana saya membantu ibu membuat kue lebaran dan berbagai penganan khas lebaran semisal lontong yang lengkap dengan lauk dan sayurnya.

Lebaran pun tiba, waktunya bersilaturahmi bersama ibu dan keluarga lain yang tinggal di Bireun. Biasanya, Hari ketiga lebaran, saya sendiri ke Banda Aceh untuk bersilaturahmi dengan teman-teman seperjuangan saya semasa SD,SMP dan SMA. Dan yang paling penting, saya juga bersilaturahmi dengan saudara-saudara lain yang ada di Banda Aceh. Di Banda Aceh, saya nginapnya di rumah saudara, tentunya tidak enak berlama-lama (baca : canggung) apalagi tidak bersama ibu.

Sekitar 3-4 hari di Banda Aceh, saya kembali ke Bireun dan bertemu kembali dengan ibunda. Disini saya benar-benar memanfaatkan waktu yang tersisa untuk lebih erat bercengkrama bersama beliau sebelum saya kembali ke Medan, terkadang sendiri atau bersama abang dan keluarganya. Kegiatan mudik itu terus saya lakukan dan teman-teman disini pun selalu menitipkan oleh-oleh, semisal pisang sale.

Namun, pada lebaran Idul Fitri pada tahun 2009, saya tidak mudik lagi karena ibu saya telah memutuskan untuk tinggal bersama saya. Kami tinggal secara terpisah dari abang dan menyewa rumah berdua. Karena mau lebaran, Kebiasaan ibu membuat kue dan penganan khusus lebaran pastinya tak ketinggalan. Setiap tahun, kegiatan ini pasti rutin kami lakukan dan untuk di tahun 2012 ini, kue kering lebaran sudah selesai 6 macam dan tersedia rapi di toples.
1345197703681975127
3 dari 6 jenis kue yang sudah siap kami buat. dok. pribadi
Karena saya berasal dari Aceh, banyak teman-teman di Medan dan beberapa Kompasianer yang menanyakan, “kampungmu kan di Aceh, udah mudik, da?” atau “gak pulang kampung,da?”

Saya katakan, saya tidak kemana-mana karena ibu saya yang paling saya hormati sudah tinggal bersama saya di Medan. Kadang, saya merindukan juga tradisi mudik ini. ingin merasakan lagi yang namanya mudik supaya sekalian dapat bertemu dengan keluarga lainnya.

Pernah saya mengatakan kepada ibu, “ma, tinggal di Aceh ajalah, biar ami bisa mudik lagi”. Lalu ibu saya mengatakan, “mama mau tinggal di Medan supaya dekat sama anak-anak mama (saya dan abang)”. Terus terang, saat saya mendengar ini saya sedih.

Kemudian saya berfikir ulang, saya tak boleh egois dengan meninggalkan ibu cuma untuk mudik, karena ibu saya adalah satu-satunya lagi orang tua yang saya miliki berada dekat dengan saya. Kalau untuk pulang kampung, dapat dilakukan kapan saja jika ada kesempatan.
Memang benar, mudik adalah waktunya untuk saling bersilaturahmi bersama saudara di kampung halaman, namun alangkah baiknya jika momen mudik ini dipergunakan sebaik-baiknya, yang diawali dengan bertemu dan meminta maaf kepada orang tua kita, mengingat kita yang mengikuti kegiatan mudik ini tidak tinggal bersama orang tua. Selanjutnya bersama orang tua, kita dapat mengunjungi saudara lainnya.

Akhir kata,selamat mudik dan selamat hari raya idul fitri bagi seluruh kompasianer yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin. Teriring salam dari saya untuk anda sekeluarga. Salam sayang juga untuk orang tua anda.

Senin, 13 Agustus 2012

Nikmatnya Berbuka Puasa ditengah Lokasi yang Berbeda Agama


Seperti yang telah kita ketahui bersama, di televisi terdapat sebuah jingle iklan sebuah produk yang berbunyi “Berbukalah dengan yang manis”. Namun, hari Jum’at, 10 Agustus 2012 yang lalu, saya justru berbuka puasa dengan yang khas. Mengapa saya sebutkan khas? Karena makanan tersebut berasal dari kampung halaman saya, Nanggroe Aceh Darussalam.
Mie Aceh? Bukan, ini sudah biasa. Tentunya sudah dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Kali ini saya berbuka puasa dengan sesuatu yang beda. Masyarakat Aceh memberinya nama Kanji Rumbi.
Pembaca pernah mendengar tentang Kanji Rumbi? Kanji Rumbi adalah bubur “hangat” yang dipercaya orang dapat mengobati masuk angin. Bubur ini terdiri dari campuran beras dan daging yang ditambahi bumbu-bumbu lainnya. Dan untuk di kota Medan, bubur ini saya dapatkan di Mesjid Raya Aceh Sepakat, sekaligus tempat berbuka puasa saya kali ini.

Sekilas Tentang Mesjid Raya Aceh Sepakat



Mesjid Raya dan Balai Raya Aceh Sepakat ini diresmikan sejak  tahun 2001 oleh Bapak Drs. H. Abdillah Ak. MBA selaku walikota Medan saat itu.  Mengapa saya sebutkan balai raya? Memang disitulah terdapat sebuah gedung yang biasanya digunakan untuk acara resepsi perkawinan atau hajatan besar lainnya.


Di sebelah kiri mesjid berbatasan langsung dengan pemakaman kristen. Di samping pemakaman itu terdapat sebuah sekolah multi etnis (kebanyakan India) dan diseberang sekolah terdapat sebuah wihara yang kebetulan pernah saya masuki ketika imlek januari lalu. Sepengetahuan saya, tidak pernah terjadi masalah yang berkenaan dengan agama tertentu. Disitu sudah jelas bahwa terdapat  kerukunan dan menghargai sesama umat beragama.
***
Untuk semakin melihat keragaman itu, tahun 2011 yang lalu saya membawa ibu untuk berbuka puasa disini supaya ibu dapat melihat indahnya keberagaman ini dan saya menceritakan hal ini pada seorang teman.
Sejak hari kamis, saya mengajak seorang teman untuk berbuka puasa di Mesjid Raya Aceh Sepakat. Kebetulan teman saya ingin tahu lokasi mesjid ini. Setelah kami sepakati, Pada hari Jum’at 10 Agustus 2012 kami memutuskan untuk berbuka puasa di mesjid ini.
Bagi saya pribadi, mengunjungi mesjid ini mengingatkan saya akan Mesjid Megah di kota kelahiran saya yaitu Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Semakin terasa khasnya, karena bubur kanji rumbi itu saya dapatkan disini, terlebih untuk saya yang rindu kampung halaman tapi belum bisa pulang kesana.
Pukul 18.30 Wib pengunjung yang berkumpul di halaman samping mesjid ini cukup ramai. Di tiap meja, sudah tersedia semangkuk bubur kanji rumbi dan segelas teh hangat, tak lupa juga dengan beberapa potong kue basah.



Sesudah berbuka puasa, piring dan gelas yang kami gunakan tadi kami bawa ke tempat cuci piring dan kami pun mengambil air wudhu untuk shalat magrib berjama’ah. Usai berdo’a setelah sholat magrib, kami kembali ke tenda di halaman samping mesjid untuk menikmati makan malam yang juga telah disediakan. Menunya yaitu nasi putih, gulai daging masak kari (masakan khas aceh) dan telur rebus serta segelas air putih.


Sepiring nasi pun selesai kami santap dan kami membawanya ke tempat cuci piring lagi. Setelah mengantarkan piring, kami segera berwudhu dan kembali ke dalam mesjid untuk menunaikan shalat Isya dan Tarawih.


Menurut pekerja disana yang sempat saya wawancarai, buka puasa bersama ini ada sejak 8 tahun yang lalu dari hari kedua puasa sampai dua hari menjelang hari raya Idul Fitri. Bubur kanji rumbi sangat diminati oleh masyarakat Aceh disini. Terbukti dengan ramainya pengunjung, baik tua, muda atau bahkan anak-anak. Tak ketinggalan, banyak warga kota medan (bukan suku Aceh) yang ikut menikmati penganan khas ini. Tingginya minat pengunjung membuat Badan Kenaziran Mesjid menyediakan sekitar 600 mangkuk bubur kanji rumbi dan juga nasi ini setiap harinya. Tak lupa juga, semua makanan yang kami santap tadi adalah gratis. Biaya untuk menyiapkan penganan khas ini didapatkan dari sumbangan para donatur muslim melalui Dewan Pimpian Cabang (DPC) Aceh Sepakat.
Berbuka puasa di mesjid ini terbuka untuk seluruh kalangan, tanpa ada perbedaan. Seperti yang dilansir oleh http://www.analisadaily.com, Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah telah menyempatkan hadir untuk berbuka puasa di mesjid ini, selasa (7/8) yang lalu. Sementara wakil gubernur, Teungku Muzakir Manaf sudah terlebih dahulu hadir di mesjid ini pada selasa (24/7). Beliau menyatakan kekagumannya melihat begitu ramai jamaah berbuka puasa bersama di halaman Masjid Raya Aceh Sepakat.
***
Bagi saya pribadi yang berasal dari Aceh, untuk tinggal di kota terbesar ketiga di Indonesia ini bukanlah suatu hal yang mudah. Sebagaimana yang kita tahu, banyak perbedaan yang tersaji disini. Sebagai pendatang, saya dituntut untuk tetap tegar berdiri ditengah perbedaan agama maupun suku. Dari teman-teman yang berbeda dengan saya, saya belajar bagaimana caranya mereka menghargai saya sebagai muslim dan begitu juga sebaliknya.
Termasuk untuk berbuka puasa di mesjid ini. Seorang teman yang berbeda agama dengan saya yang menyebutkan tempat ini, kalau tidak mungkin sampai sekarang saya tidak tahu tempat ini.
Untuk kami yang masih anak-anak saja, kami mengetahui bagaimana menghargai perbedaan tanpa pernah ada yang mencampuri agama temannya.  Bagi kami, lebih baik mempelajari dan benar-benar mengimani agama masing-masing sebaik-baiknya, dari pada ikut campur membahas terlalu dalam terhadap suatu agama yang tidak diketahui.

Jumat, 10 Agustus 2012

Menyoal Tentang Slogan “Kawasan Bebas Calo” di Kantor Polisi


Sebagai makhluk sosial, seorang manusia tidak dapat dipisahkan dari manusia lain. Begitu pula dengan hubungan manusia dengan calo. Pembaca pernah mendengar istilah calo, bukan? Tak dapat dipungkiri bahwa, Semua orang akan mengatakan bahwa calo dapat membantu meringankan keperluan mereka, tentunya dengan biaya yang lebih mahal, entah itu calo tiket kereta api atau pun calo tiket konser.
Bagaimana dengan para calo yang terdapat di kantor polisi?  Apakah pembaca sekalian pernah berhubungan dengan mereka? Sebagai pribadi yang tak mengerti akan peran calo, saya pernah hampir berurusan dengan si calo ini.

***

13444314251475139295
image from http://blog.alle.web.id

Tanggal 6 september 2009, untuk pertama kalinya saya bertemu calo ketika saya akan membayar pajak kendaraan bermotor yang sudah jatuh tempo. Sebenarnya saya bisa langsung membayarkannya pada Pelayanan SIM keliling. Hanya saja ketika itu, petugas meminta KTP saya, karena KTP dan STNK yang saya miliki berbeda nama dan alamat (Saya pembeli sepeda motor itu dari tangan kedua), maka saya di haruskan untuk mengurus STNKnya terlebih dahulu di kantor SAMSAT Jl. Puteri Hijau, Medan.

Setelah hari sebelumnya hampir berhubungan dengan calo, maka ketika saya kembali ke kantor SAMSAT pada  tanggal 7  September  2009, tentu saja kali ini saya menolak jasa sang calo. Namun STNK, Surat Ketetapan Pajak Daerah PKB/BBN-KB dan SWDKLLJ beserta plat kendaraan yang baru, baru dapat saya ambil seusai lebaran. Dan betapa terkejutnya saya, ketika setelah saya hitung-hitung ternyata nominal uang yang habis ketika saya mengurus sendiri jauh lebih sedikit dari pada perincian si calo.

3 tahun kemudian, tepatnya di tanggal 12 Juli 2012 yang lalu, saya kembali ke kantor polisi tepatnya di Poltabes Jl. Adi Sucipto, Medan. Kali ini guna kepengurusan SIM. Atas instruksi polisi disana, saya diharuskan untuk mengambil surat kesehatan di klinik yang terdapat di depan kantor polisi itu. Setelah mengeluarkan biaya Rp 20.000 surat pun saya dapatkan.
Di klinik tersebut ada yang menawarkan jasa kepengurusan SIM kepada saya dengan biaya Rp 350.000,00 dengan janji saya terima beres. “Wah.. ketemu calo lagi ini”, pikir saya. Belajar dari pengalaman di tahun 2009, saya pun tak memperdulikannya dan saya bergegas kembali ke Poltabes.

Sesampai disana, saya di haruskan membayar biaya Rp 100.000,00 dan sang kasir mengatakan bahwa mereka tak akan meminta sepeser pun uang lagi kepada saya. Lebih murah tentunya dari harga si calo tadi. Saya diberikan badge bernomor giliran yang dibawah nomor itu dituliskan larangan mengurus SIM dengan menggunakan jasa calo. Saya pun mengikuti tes teori dan dinyatakan gagal sehingga harus kembali minggu depan.

Tanggal 19 Juli 2012, saya kembali mengikuti tes dan tetap dinyatakan gagal. Kemudian saya disuruh kembali pada tanggal 2 Agustus 2012, tapi bukan ke poltabes itu lagi melainkan ke SPN (Sekolah Polisi Negara) Sampali, Medan.

Tanggal 2 Agustus 2012 kemarin, saya mendatangi SPN Sampali. Sesampai disana sudah cukup sesak para pengantri. Setelah memberikan bukti bahwa saya disuruh kembali hari itu, saya pun mengantri. Hampir dua jam saya mengantri, nama saya belum dipanggil juga. Tak lama dipanggil juga, saya pun kembali mengikuti ujian teori.

Mengantri lagi diluar kantor lebih dari satu jam sembari menahan dahaga. Sempat saya emosi kepada polisi, saya bilang, “kalo saya memang harus ngulang lagi, ya udah sini buktinya biar saya pulang aja. ini puasa, pak”. Namun polisi tersebut hanya menyuruh saya bersabar.
Di sekeliling tempat yang saya duduki, banyak orang yang kelihatan tenang-tenang saja menunggu hasil ujian teori tersebut. Dengan memberanikan diri saya bertanya kepada salah satu dari mereka, sebutlah namanya Eni. “kak, kok santai aja ya? Emang gak takut ya kalo gak lulus tes?”.

Dengan santai ia menjawab, gak dong, kan saya udah bayar calo”. Nih rata-rata kami disini bayar calo. Kalo gak bayar calo, tesnya aja saya mesti berulang-ulang, gak sempatlah, malas kali harus balik-balik kesini, kami bayar untuk sekali aja datangnya Rp 500.000,00 per orang. Kamu gimana?”. “ini sudah kali ketiga saya datang kak, saya memang gak pake calo Cuma bayar Rp 100.000,00 aja waktu di kasir”, jawab saya.

Saat itu saya memang dinyatakan lulus ujian (setelah dua kali dinyatakan gagal), kemudian saya diharuskan untuk foto SIM, dan tak ketinggalan kakak itu juga. Saya sudah bisa mendapatkan SIM tanggal 3 Agustus 2012 yang lalu. Cuma karena saya sakit sepulang mengantri di kantor polisi dari pukul 10.00 wib sampai pukul 18.00 wib, jadinya tanggal 6 Agustus 2012 saya baru dapat mengambil SIM saya.

***

Sejumlah uang yang cukup mahal yang dibayarkan ke calo, apa murni semua untuk  si calo? Menurut perkataan orang-orang pengguna jasa calo, uang itu tidak sepenuhnya kepada calo. Ada beberapa rupiah yang masuk ke kantong sang polisi. Mereka berkata, “kalo’ gak, ya ‘gak mungkinlah cepat urusannya, gak apa-apalah bayar mahal, yang penting urusannya gak ribet abisnya malas sih berurusan sama polisi”
Menurut pengamatan saya, ini bukanlah suatu hal yang bijak bila terus diterapkan. Ini sungguh tak adil. Mengapa begitu? Karena bagi yang menggunakan jasa calo dengan mudahnya menyelesaikan urusannya dalam satu hari saja. Dengan kata lain, ia tidak perlu kembali beberapa kali lagi.

Ini sungguh terbalik dengan ketentuan yang sudah diterapkan disana dimana Untuk dapat menuju ke tahap ujian lainnya, diharuskan lulus tahap ujian teori. Bagi yang tak menggunakan jasa calo, ujian tersebut harus diikuti terus sampai empat kali  jika tak lulus.

Jika saya tanyakan, perlukah Jasa calo dalam kepengurusan SIM dan STNK di kantor polisi? semua pembaca pasti akan menjawab perlu. Lebih kurang jawabannya hampir sama dengan jawaban kak Eni di atas. Namun yang membingungkan, terutama untuk saya pribadi adalah apa gunanya KAWASAN BEBAS CALO yang terdapat di Kantor Polisi jika praktek percaloan masih marak?

Padahal menurut Kepala Seksi SIM Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komisaris Gatot Subroto, optimistis Kantor Samsat SIM di Daan Mogot bebas calo. Dia bahkan menantang warga dengan sebuah sayembara. “Kalau memang masih ada, bawa calo itu ke saya, akan saya beri uang Rp 100 juta bagi warga atau pemohom SIM yang menyerahkannya,” katanya kepada wartawan, Senin, 2 November 2009 seperti dilansir http://metro.news.viva.co.id

Memang benar itu pernyataan beliau pada tahun 2009 di Jakarta, sedangkan sekarang tahun 2012 dan kepengurusan SIM in saya lakukan di Medan. Apakah pernyataan tersebut tidak berlaku lagi? sungguh tidak mungkin tentunya, sebab itu pastinya berlaku untuk seluruh Indonesia.

Masyarakat memilih menggunakan jasa calo karena mereka mengeluhkan waktu yang lama atau katakanlah “dipersulit” dalam mengurus SIM dan STNK bila langsung berhubungan dengan polisi.

Ada baiknya pihak kepolisian kembali menunjukkan kredibilitasnya sebagai pengayom masyarakat agar dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada institusi kepolisian, minimal untuk kepengurusan SIM dan STNK saja.

Dan bagi pemerintah, tolong buka lapangan pekerjaan baru yang layak untuk para calo itu agar tak kita dapati lagi praktek calo yang merugikan masyarakat.

Rabu, 08 Agustus 2012

Perlukah Mengerjai Orang yang Berulang Tahun?



Ulang tahun adalah suatu proses alami dalam kehidupan, dimana bertambahnya usia dan berkurangnya jatah hidup setiap manusia di bumi. Walaupun demikian, biasanya setiap manusia pasti berbahagia dengan bertambahnya usia tersebut. Tentunya sebagai manusia, ulang tahun memiliki makna tersendiri dalam hidup.


Kebahagiaan itu pasti mendapat do’a yang baik dari para teman yang mengetahui tanggal ulang tahun temannya. Namun sayangnya, ada juga teman-teman yang sengaja berbuat usil kepada orang yang berulang tahun itu. Dan sepertinya kegiatan ngerjain yang ulang tahun itu telah menjadi “budaya” di masyarakat kita.

Terkait dengan “budaya” ini, banyak teman saya yang jadi korban. Dikerjainya itu disekolah seusai jam pelajaran. Mulailah ia disiram tepung (kadanag bercampur air), telur (kadang telur busuk), dan campuran beberapa bahan seperti blau bersama air serta bahan lainnya.

Pernah juga kejadian serupa terjadi di sekolah kakak angkat saya dulu. Temannya kakak sedang berulang tahun, kemudian ketika jam pelajaran usai, ia tak diizinkan pulang oleh temannya. Mulailah ia disirami dengan tepung, telur dll. Walhasil ia pulang ke rumah dengan baju kotor dan bau. Sesampai di rumah, ibunya marah-marah dan keesokan harinya ibunya datang ke sekolah tersebut. Masih dengan marah-marah, ibunya meminta sekolah untuk mengeluarkan anaknya dari sekolah tersebut, sebab menurut  ibunya sekolah tersebut telah gagal dalam mendidik siswa/i yang diharapkan memiliki intelektualitas. Akhirnya anak tersebut pun dimasukkan ke sekolah lain oleh ibunya.

Kejadian lain misalnya. Di kampus saya dulu, ada yang tinggal disitu, kebetulan salah satunya ada yang berulang tahun. Malamnya ia disiram tepung dan telur oleh teman-temannya di lantai 1. Alhasil, kampus yang memang tidak luas (ruko 3 lantai) itu menjadi kebauan oleh telur tersebut.

Selain itu, ada juga curhatan seorang blogger yang berjudul “Ulang Tahun Haruskah Dikerjain?”. Pada curhatannya itu, ia marah-marah ketika melihat seorang pria yang berulang tahun di hari yang sama dengan dia sedang dikerjai dengan diikat di tiang bendera salah satu mall. Tak ketinggalan, pria itu juga disiram dengan tepung dan bahan-bahan lainnya. lihat disini

Dan yang paling fatal adalah sebuah berita yang bersumber dari Batam Pos yang saya temukan  juga  di salah satu blog. Judul beritanya adalah“Meninggal setelah dikerjain teman-temannya saat ulang tahun”. Sungguh kasihan anak itu. Ia shock karena dikerjai teman-temannya saat berulang tahun. Celakanya, sang wali kelaspun pun ikut terlibat. lihat disini

Saya sendiri memang tidak pernah dikerjai ketika berulang tahun. Ibu saya selalu mengingatkan “kalau kamu disiram waktu ulang tahun, besok mama yang akan datang ke sekolah”. Maka jauh-jauh hari sebelum tanggal saya berulang tahun, saya sudah memperingatkan teman-teman. Mengapa? Sebab hal tersebut “rutin” dilakukan.

***

Anda pernah mengalaminya? Atau anda menjadi pelaku?
Mungkin diantara pembaca sekalian, ada yang menganggap topik yang saya angkat ini adalah suatu  hal yang remeh, sudah biasa dan membudaya di masyarakat sehingga menurut anda tak perlu dibahas.

Sebelumnya, Izinkan saya bertanya kepada pembaca sekalian.
1. Untuk apa anda melakukan itu?
2. Pernahkah anda berfikir kerugian yang ditimbulkan?

Menurut pengamatan saya sehari-hari, hal tersebut dilakukan karena mengingat hari ulang tahun teman untuk menunjukkan setia kawan dan hiburan. Alih-alih mendapat julukan teman yang setia kawan dan mendapat hiburan gratis dari melihat perbuatan tersebut, tanpa sadar pelaku merugikan dirinya sendiri. Hal ini jelas terlihat dari harga-harga bahan yang digunakan.

Misalnya :
tepung @ Rp 7.000,00/kg
telur @ Rp 1.000,00/butir
blau @ Rp 500,00/bks (kecil)
pewarna lain @ Rp 500,00/bks (kecil)

Harga-harga diatas baru harga “bahan” pokok untuk “operasi” ini. Belum lagi harga air. Ok, Katakanlah air itu diambil di keran rumah, sekolah atau kantor, apa tak terpikirkan kerugian yang ikut ditanggung oleh orang lain karena ulah kita yang berlabel setia kawan tersebut?

Bagaimana lagi kerugian yang dialami oleh yang berulang tahun?

Perlakuan tersebut sangat jelas merugikan bila pelaku cermat melihat dari berbagai sisi:

1. Tubuh

Orang yang disiram itu sudah pasti tubuhnya menjadi bau dan kotor. Belum lagi harus menanggung malu selama dijalan sampai ke rumah. Atau menjadi tontonan orang yang lewat seperti contoh diatas (diikat di parkiran mall).

Masih seperti contoh diatas, sang ibu memindahkan anaknya ke sekolah lain. Siapa yang rugi?? Pemasukan sekolah awal, bukan??

Belum lagi untuk kasus kematian diatas. Jangan katakan anak tersebut terlalu berlebihan. Anak itu shock karena dituduh mencuri ponsel dan uang temannya. Ia malu dan pingsan ditempat. Sepulangnya ke rumah ia menjadi pemurung dan akhirnya dirawat di Rumah Sakit karena kondisi kesehatan dan kejiwaannya terganggu. Setelah 14 hari dirawat, ia pun meninggal. Yang sangat saya sayangkan adalah, mengapa sang wali kelaspun ikut andil dalam kegiatan itu. Sepantasnya guru adalah contoh teladan bagi murid, bukan?

2. Pakaian.

Pakaiannya, bagaimana? Perlu berapa kali cuci untuk menghilangkan noda dan bau itu? Jika noda tak juga kunjung hilang, sempatkah berpikir pakaian itu akan diapakan? Mungkin pun pakaian itu akan dibuang. Tak kasihan?

3. Lokasi

Lokasinya berada di sekolah atau seputaran kantor. “Gak kebauan tuh?”. Sekolah tempat mencari ilmu dan kantor tempat mencari uang. Maka, sepatutnya fasilitas ini dipergunakan sebaik-baiknya.

***

Banyak do’a dan harapan yang ingin diraih oleh seorang pribadi untuk setahun kedepan. Sepantasnya sebagai teman, anda dapat mengucapkan selamat ulang tahun seraya mendo’akan orang tersebut. Fasilitas semacam facebook, tweeter, BBM, SMS atau telepon selalu dapat anda gunakan tentunya. interaksi yang kita lakukan pun tak terhambat, bukan? Jika tak berkeberatan, anda dapat memberikannya hadiah, bukan malah menghadiahinya dengan lemparan tepung, telur dan sejenisnya.

Sungguh sangat disayangkan jika pelaku tak mampu melihat sisi-sisi negatif yang dialaminya sendiri maupun yang dialami orang yang berulang tahun. Mereka pun adalah orang-orang pintar yang sedang ataupun sempat mengenyam bangku pendidikan. Terlebih lagi, pelaku adalah manusia yang diberi akal dan pikiran oleh Tuhan YME untuk dapat memilah dan memilih antara yang baik dan yang buruk. Semoga anda menjadi lebih bijak. Amin.

Rabu, 01 Agustus 2012

Ucapan Selamat Ulang Tahun dari Avet BatangParana




*
*
*

UNTUK SAHABATKU (AUDA ZASCHKYA)


Untuk Sahabatku….
Daun gugur satu persatu
Tinta tergores dalam lembaran-lembaran baru
Ada decak dan ada ragu
Akan hari-hari yang berlalu
Perlahan melewati kepastian sisa-sisa waktu dan umurmu
Untuk Sahabatku….
Lihatlah kembali ke belakang layar masa
Dimana tegur sapa menjadi salah dan dosa
Hingga drama kama berbaur dendam melukai tawa
Untuk Sahabatku….
Basuhlah wajahmu dengan air kesejukan cinta
Di kala bulan mulai melentera kirana
Di kala bintang mulai berkelap-kelip di atas langit malam sepertiga
Dan tumpahkanlah segala resah khilafmu di hadapan-Nya
Sebelum kaki mendaki satu puncak anak tangga
Untuk Sahabatku….
Di antara layang do’a dan harapan mendayu biru
Aku tak ingin hatimu layu meradang wajah haru
Karena aku ada di tiap jengkal harimu
Dan karena aku ada sebagai pelengkap duniamu
Untuk Sahabatku….
Selamat ulang tahun, untukmu  

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...