Rabu, 13 Maret 2013

Aku Memang Orang Kampung, Tapi Aku Punya Harga Diri


Menurutnya diriku kampungan hanya karena sikapku yang ingin dekat dengan setiap orang. Kini, mantan kekasihku masih terpuruk sebab kesalahan yang ia perbuat padaku, dan ia masih memohon untuk dapat kembali menikmati cinta bersamaku seperti dulu.

***

“Hei, kau cuma perempuan kampung yang bisa kuliah di kampus ini, itu pun hanya karena beasiswa. Jika tidak, kau hanya menjadi buruh tani di kampungmu atau sedang mengembala sapi,” cercanya diiringi tawa lantang yang menggema di ruang kelasku
“Aku memang orang kampung. Memang kenapa, masalah buatmu?” tanyaku padanya sambil menantang tatapannya yang seolah ingin memangsaku. Mimik wajahnya terlihat puas setelah mempermalukanku di hadapan teman-teman. Sambil mencoba untuk tetap tegar, kulanjutkan kalimatku, “Jadi, kau mau apalagi? Kalau tak ada yang mau kau katakan lagi, sebaiknya kau pergi saja.”
Mendengar ucapanku, seketika ia pun marah dan ingin melayangkan tamparannya ke pipiku. “Tampar aku jika itu mampu puaskan hatimu.” Tantangku padanya. Mukanya merah padam, seketika melayanglah kelima jari Ari di tempat dimana dia sering mencubitku gemas sejak setahun lalu, ketika ia masih amat menyayangiku.

***

Ari namanya. Ketika itu, ia sedang melayang-layang akibat terkena virus cinta Fani, sang perayu maya yang hanya memanfaatkannya. Bagaikan pungguk merindukan bulan, ia terus menanti kabar dari Fani. Ketika itu, ia telah benar-benar jatuh cinta pada Fani dan memutuskan pertunangan dengan anak relasi papanya, Vira. Mungkin sebab rasa penasaran dan sifatnya yang terlalu buru-buru, sehingga membuat Fani seperti di teror. Tak pelak, Fani benar-benar menghilangkan jejak di setiap akun pribadinya.
Ketika ia sedang terpuruk dan membutuhkan pendengar, aku menyimak setiap gundahnya, aku memberikan waktuku hampir setiap malam lewat chatting di YM, hingga suatu hari ia pun mengajakku untuk bertemu.

“Ni, selama ini kita hanya saling bertegur sapa di YM, kepikiran ‘gak sih kamu tuh ketemu sama aku?” tanyanya suatu malam di telepon.
“Kepikiran sih mungkin ada ya, tapi gak mungkinlah aku yang ngajakin kamu. Aku Cuma orang kampung yang beruntung bisa kuliah di Kota ini.” Jawabku sembari harap-harap cemas menunggu tanggapannya.
Mungkin ia masih berpikir, adakah manfaatnya jika kami bertemu? Atau mungkin ia sedang... Ah, aku tak ingin memikirkan jika tiba-tiba ia menarik kembali ucapannya. Namun pikiran buruk itu pun terjawab.
“Ok, kita ketemuan besok ya. Kamu tahu sendiri bahwa aku sangat penasaran, so what are you waiting for?”
“Baiklah, temui aku di Cafe Pelangi jam 4 sore.” Ucapku mengakhiri percakapan telepon itu.
Setelah telepon itu berakhir, aku belum mampu memejamkan mata, masih setia mendengarkan  lagu favoritku yang liriknya hampir mirip seperti yang kurasa saat ini.

Aku berhayal di malam ini, aku bertemu dengan kekasihku. Dia menyapa, ooo sayangku... seolah nyata adanya. Inginku memelukmu dengan sejuta rasa. Cinta kasihku yang dulu hilang (Power Slave – Impian)

***

Memang aku pernah merasakan kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku, seseorang yang hanya menjadikanku sebagai perempuan keduanya. Saat itu aku harus merelakannya kembali kepada kekasihnya akibat perempuan itu mengidap penyakit jantung. Kuakui memang saat itu aku telah membuat kesalahan sebab telah menyakiti kaumku sendiri, apalagi perempuan itu tak bisa menerima kejutan yang serius. Sungguh aku sangat menyesal jika kematian itu terjadi, sebab cinta terlarangku dahulu hampir membunuhnya.

Tak lama setelah mengingat masa lalu itu, aku menagis dan tanpa tahu pukul berapa aku tertidur. Seperti biasa, aku pergi ke kampus di pagi – siang hari. Pukul 2 siang, aku pun menerima SMS dari Ari yang mengingatkan janji kami semalam. Sms itu segera kubalas dengan hanya mengatakan  OK.
Pukul 16.00 wib aku telah sampai di Cafe itu dan melihat ke seluruh ruangan, mencari sesosok tubuh yang sejujurnya juga membuatku penasaran. Tak lama aku mendengar suaranya, “Afni.. aku di belakangmu.” Sesaat aku menoleh ke belakang, memperhatikannya yang tampak rapi walaupun tak serapi pria metroseksual di kota ini.

***

Tak lepas pandangannya dari menatapku hingga membuatku salah tingkah. Selang beberapa waktu setelah obrolan hangat itu, tiba-tiba ia mengatakan, “kamu cantik”.
“Ah, gak kok. Aku Cuma orang kampung biasa.” Jawabku. Kami terus bercerita hingga ia mengatakan bahwa ia kakak kelasku di kampus tetapi beda jurusan. Sungguh aku tak menyangka pertemuan ini begitu banyak memberikanku kejutan. Ia begitu menghargaiku dan tak memandangku rendah. Aku merasakan kenyamanan yang telah lama kuimpikan ketika berbicara dengannya hingga terbesit dalam pikiranku, “diakah yang kucari?”
Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul 20.00 wib, aku pun harus segera pulang sebab pagar kostku ditutup pukul 21.00 wib.
Setelah pertemuan itu, intensitas pertemuanku dengannya pun menjadi semakin intim. Kami sering menghabiskan waktu di Kampus, Cafe, dan Toko Buku.
Interaksi kami yang semakin hari semakin hangat ini sejujurnya memberikan kenyamanan tersendiri bagiku, mampu membuatku melupakan kesedihanku akibat lelaki lalu. Harapku, semoga Ari pun merasakan rasaku. Sembari menghayal tentangnya, tiba-tiba ponselku berdering. Di layar ponsel, tertera nama Ari, namun aku tak segera mengangkatnya. Aku masih sibuk menetralkan rasaku dan masih bingung harus berkata apa. “Hei, dia menghubungi. Bukankah ini yang kau harapkan?” ronta hatiku.
Aku mengangkat ponselku dengan gugup pada hitungan ketiga deringnya, “Assalamu’alaikum Ri. Ada apa?”
“Ah, pertanyaanku salah. Masa’ aku bertanya ada apa. Oh Tuhan... Ada apa denganku? Aku gugup. Semoga Ari memaklumi setelah mendengar suaraku yang terbata-bata tadi.” Pikirku lagi.
“gak ada apa-apa kok, cu.. cu Cuma pengen ngobrol-ngobrol aja sama kamu.” Jawabnya tak kalah gugup. “kamu kenapa Ri, kok suaranya gitu?”
“Eh, kayaknya kita lanjutin ngobrol di chatting aja ya. Assalamu’alaikum cantik.” Dan teleponpun berakhir setelah aku menjawab Wa’alaikumsalam.
Malam itu kami melanjutkan obrolan di chatting hingga tiba-tiba ia bertanya, “mau gak kamu jadi pacarku?”
“waduh... nembaknya masa’ sekarang sih? Di chatting pula itu. Gak romantis amat.” Tanyaku dalam hati.
“emang mesti dijawab ya? Sekarang gitu?” tanyaku padanya. “eh, hehehe. Besok aja deh jawabnya di kampus. Ya udah, kamu tidur gih. Udah malam.” Lanjutnya dan chatting pun berakhir.

***

Setahun lalu, aku menerimanya menjadi kekasihku. Perlakuannya begitu lembut, jangankan memukul atau menamparku, membentakku saja ia tak pernah. Ia begitu menjaga perasaanku, begitu memahami seluruh keluh kesahku, dan yang pasti ia tak pernah menyebutkan aku sebagai orang kampung yang beruntung dapat menempuh pendidikan di kota.
Bahkan ia telah mengenalkanku kepada kedua orang tuanya saat di rumahnya tengah berlangsung acara ulang tahun perkawinan perak kedua orang tuanya. Sesungguhnya aku sangat minder saat itu, aku merasa sangat rendah, apalagi aku harus mendampinginya diantara kerumunan keluarga besarnya. Oh Tuhan... Aku sangat gugup. Untunglah Ari sangat mengerti akan ketidaknyamananku, ia pun mengajakku pergi.
“Kamu kenapa? Kok mukamu ditekuk terus?” tanyanya sesampainya kami di kostku.
“Aku gugup, malu, dan merasa tak pantas berada di tengah keluargamu. Mereka orang kaya, sementara aku hanya orang biasa.” Jelasku.
“Ah, jangan merasa begitu. Orang tuaku sangat welcome lho sama kamu. Ayo.. buang pikiran itu. Kami menerimamu” Jawabnya sembari tersenyum.
Senyuman itu. Senyuman termanis. Senyuman yang telah mampu luluhkan hati kerasku hingga mampu membuatku mau melupakan hal buruk dan mau mengenal laki-laki lagi. Ya... Senyuman itu milik Ari kekasihku, saat ini. Kebaikan Ari yang begitu tulus telah mampu luluhkan kerasnya hatiku  akibat sakit hati yang teramat dalam, dahulu.
Ari sangat tahu dengan siapa aku bergaul. Seluruh temanku telah kukenalkan padanya agar ia tak curiga sehingga aku tak merasa khawatir lagi. Apalagi aku telah berjanji bahwa aku hanya mencintainya.
Namun, kedekatanku dengan Rio membuatnya cemburu. Berkali-kali telah kukatakan bahwa Rio hanyalah sahabatku dari kampung yang juga menempuh pendidikan di sini, tetap tak dipercayainya. Sejak kedatangan Rio bulan lalu, ia mulai sering memarahi dan berkata kasar padaku. Perlakuannya yang semakin hari semakin kasar, sesungguhnya telah membuatku tak nyaman hingga aku berpikir bahwa mungkin aku harus merelakan diri bila patah hati lagi.

***

“Kamu gak usah berteman lagi sama si Rio itu, aku gak suka!” bentaknya suatu hari di kostku. Suaranya yang keras itu tentunya mengejutkan para temanku hingga mereka semua keluar dari kamarnya masing-masing.
“Maaf sayang, Rio itu sahabatku sejak kecil. Kami selalu bersama, dan sejujurnya aku senang dengan kepindahannya ke sini. Aku punya teman senasib sepenanggungan. Gak mungkinlah kalau aku gak berteman lagi sama dia. Tolong, jangan batasi hubungan persahabatanku sama Rio, ya.” Jawabku.
“gak ada cerita, aku gak suka kamu berteman sama dia. Kedekatan kalian itu buatku cemburu, tau!” lanjutnya.
“Cintaku itu sama kamu, bukan sama Rio.” Jawabku.
“Sudahlah, sekarang kamu pilih aja. Dia atau aku?” tantangnya lagi.
“Aku gak bisa memilih sayang, kalian itu orang-orang terdekatku.” Jawabku sembari tersenyum.
“Ya sudah, lupakan tentang kita. Kita putus” Ari pun berlalu dan meninggalkanku dalam tangis.
Semudah itu ia bisa memutuskanku, membuang cerita cinta kami setahun ini hanya karena ia tak bisa menerima sahabatku. Aku patah hati lagi. Ya... sakit yang kurasakan kali ini lebih sakit ketimbang dulu.

***

Beberapa minggu kemudian, aku melihatnya tengah berjalan dengan perempuan lain. perempuan itu cantik, tampak dari dandananya yang glamour, sepertinya ia memang orang kaya. “Semudah itu kau melupakanku, Ri” tanyaku dalam hati.
Ya... dia memang telah melupakanku. Itu terbukti saat ia dengan bangganya memperkenalkan perempuan barunya itu padaku ketika kami tak sengaja bertemu. Sheila namanya. “Sheila ini lebih baik darimu dan ia akan bertunangan denganku bulan depan.” Saat itu Sheila pun tersenyum. “Selamat ya. Semoga bahagia.” Ucapku singkat dan mereka pun pergi dari hadapanku.
Bagai disambar petir di siang bolong, seketika tubuhku terhuyung hingga hampir jatuh ke belakang. Sakit sekali rasanya, setelah ia memberi cinta padaku, melambungkan harapku, sekarang ia membuangku, mencabik-cabik hatiku seperti seekor singa tengah mencabik mangsanya.

***

Dunia serasa hancur. Semakin hancur saat di kampus kemarin, ia mempermalukanku. Ia boleh mengatakan apa saja, tapi tak perlu meneriakiku perempuan kampung. Bagiku, ucapannya itu telah menjatuhkan harga diriku. Ia telah menjadi mantan kekasihku. Sesosok sopan yang sebelumnya hanya bersahabat denganku di dunia maya. Namun entah setan apa yang merasuki tubuh kekar yang dahulu sering memelukku hingga menjadikannya begitu buas.
Aku benar-benar marah karena penghinaannya. Saat ini juga, telah kucampakkan rasa cintaku padanya ke got yang paling jorok sekalipun. Yang tertinggal saat ini hanya rasa benci dan aku berjanji pada diriku, suatu hari nanti ia yang akan memohon-mohon untuk kembali padaku. Kini yang harus kulakukan adalah membuatnya menyesal.

***

Suatu malam ia menghubungiku, mencurahkan lagi masalah yang tengah ia hadapi. “Aku baru putus dari Sheila, kamu memang yang terbaik Ni.” Ucapan sesalnya di telepon yang membuatku menyunggingkan senyum. “Akhirnya!” batinku. Namun aku tetap menempatkan diri sebagai tong sampahnya.
Ia berkata bahwa menyesal mengakhiri kisah kami 6 bulan lalu. Ia kembali menyanjungku, membuaiku dengan kalimat-kalimat manisnya, seperti saat kami masih bersama.
Setelah hampir 2 jam menghabiskan waktu mengobrol yang kurasa tak penting itu, ia pun kembali memintaku menjadi pacarnya.
“Ni, aku minta maaf sama kamu, aku masih sayang sama kamu. Aku sadar, kamu yang terbaik buatku. Makasih banyak udah tetap mau peduli sama aku. Ni, Aku mau balikan sama kamu.” Lagi-lagi kalimatnya tak pernah romantis.
Aku terdiam. Benar, di sudut hatiku masih terpatri namanya, Ari. Namun aku tak mau kembali padanya. Ah... paling tidak, bukan untuk saat ini.
“gimana Ni? Kamu maukan CLBK sama aku? Kamu masih sayang, kan sama aku? Tanyanya tak sabar.
“Hmmm.. ya, maafmu kuterima. Aku memang masih sayang sama kamu. Tapi maaf, aku tak bisa kembali padamu.” Jelasku.
Malam itu, aku telah mengecewakannya sekaligus menyakiti dan membohongi perasaanku.

***

Aku tahu, aku telah bodoh menolak tawarannya yang mungkin tak akan diulanginya lagi. Namun bagiku, harga diri yang telah diinjak-injaknya 6 bulan lalu masih begitu membekas dalam ingatanku. Bagi orang kampung sepertiku yang tak punya harta melimpah seperti mereka, aku masih punya harga diri. Harga diri itu harus kupertahankan. Harga diri itu harus kujunjung setinggi-tingginya.  Biar mereka tahu, jangan pernah meremehkan orang kampung apalagi menghinanya. Harga diri adalah harga mati bagiku.

- TAMAT -





















Sedikit Permohona di Pemilukado Sumatera Utara


Pesta demokrasi untuk seluruh Provinsi Sumatera Utara akan digelar beberapa jam lagi, tepat di tanggal 7 Maret 2013. Pemilukada ini diikuti oleh 5 pasang calon yang sudah pasti memiliki visi dan misi tertentu yang bermanfaat untuk kemajuan Sumatera Utara dalam segala bidang yang mana janji-janji tersebut telah tersampaikan melalui kampenye maupun spanduk yang tersebar di seluruh provinsi Sumatera Utara, sehingga sedikit banyak mampu mengajak masyarakat untuk memilih salah satu dari mereka, tak terkecuali saya.
Pemilukada yang akan saya ikuti adalah pemilu pertama yang saya ikuti selama berusia hampir seperempat abad ini, padahal pada pemilihan presiden tahun 2009 lalu, saya sudah dapat memberikan hak suara saya. Mengapa saya tak memilih saat itu? Dikarenakan KTP (Kartu Tanda Penduduk) yang saya miliki adalah KTP tempat domisili awal saya sebelum pindah ke Kota ini. Lalu, kenapa saya tak memilih di Kota asal saya? karena faktor tak bisa meninggalkan pendidikan, maka saya tak bisa memilih saat itu.

Golput Atau Tidak?

Suatu hari dosen saya pernah bercerita bahwa ada beberapa tukang becak yang terlibat obrolan dengannya yang mengatakan akan golput di Pemilukada. Alasannya sederhana, Apakah setelah dipilih nanti, mereka mau memperhatikan kami para tukang becak? Selanjutnya, melihat banyaknya kasus korupsi yang berlarut – larut yang menyeret beberapa nama elite politik ke kursi pesakitan hingga hotel prodeo, juga merupakan alasan tersendiri bagi beberapa orang memilih untuk tak memakai haknya (Golput). Sesungguhnya ini sangat disayangkan, namun atas nama kekecewaan mereka kepada pemerintah pusat dan daerah, saya pun tak berhak menghakimi mereka, jelas adalah hak mereka mau golput atau tidak.

***

Seperti yang telah kita ketahui  bersama, sejak Sepetember 2012 hingga saat ini adalah musim penghujan dengan intensitas ringan hingga berat yang mengakibatkan peristiwa banjir di beberapa daerah di seluruh Indonesia, tak terkecuali Jakarta dan beberapa daerah di  Pulau Jawa. Banjir juga melanda Manado di Pulau Sulawesi hingga ke Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Lalu provinsi Sumatera Utara sendiri bagaimana? Banjir juga melanda Provinsi Sumatera Utara.

Yang telah saya sebutkan, memang jauh dari jangkauan saya. Namun silahkan diperhatikan gambar-gambar berikut:
1362604845704318722
Puskesmas terletak di depan jalanan yang banjir itu (dok. pribadi)
13626052131541001348
Badan jalan yang SAMA tingginya dengan parit
Pada gambar jelas telihat banjir yang menggenangi jalan di luar komplek perumahan saya. Gambar itu saya ambil ketika saya ingin pergi ke suatu tempat pada Februari lalu. Pertanyaannya, mengapa gambar tersebut saya unggah padahal itu telah lewat hampir sebulan?

Gambar tersebut saya tampilkan disini karena terus terang saya jengah pada kondisi jalan yang keseringan kebanjiran. Kejadian itu terus berulang saat hujan dengan intensitas lumayan tinggi mengguyur Medan. Lalu masalahnya apa?

Masalahnya adalah dimana ada PUSKESMAS di lokasi itu. Banjir itu menutup akses jalan menuju PUSKESMAS sehingga jika jalanan banjir, PUSKESMAS pun tutup. Sangat disayangkan jika warga sekitar yang mau berobat harus mengurungkan niatnya ke PUSKESMAS.

Kenapa saya tuliskan ini? Ini adalah sedikit bentuk keprihatinan saya sebagai warga kota Medan. Lalu yang bisa menghilangkan keresehan saya ini siapa? Tentunya Dinas Pekerjaan Umum yang diharapkan dapat bekerja maksimal setelah mendapatkan instruksi dari Walikota Medan, hingga Gubernur terpilih nantinya.
Ini hanya sebagian kecil dari permasalahan Sumatera Utara lainnya. Namun, kembali lagi ke para pejabat, bukankah mereka dipilih untuk melayani masyarakat? Tolong jangan lupakan janji-janji ini kalau sudah tepilih nanti.

***

Selanjutnya, para pegawai di kantor lurah yang kerap saya datangi. Mereka baru hadir di kantor itu pukul 10.00 pagi padahal kita sudah datang dari pukul 08.00 dengan harapan cepat selesai. Terkadang kalau mengurus surat-surat, mereka tak segan meminta uang untuk hasil pekerjaan mereka.

Saya pernah mengurus surat untuk keperluan kampus di kantor lurah, setelah surat selesai, saya mengucapkan terima kasih, lalu sang pegawai berkata “uang biaya ngetik, kertas, dan ngeprintnya mana?”. Saya cukup terkejut mendengarnya. Lalu saya memberikan uang Rp 5000,00 tampak air mukanya berubah 180 derajat dari yang tadinya manis. Untuk selanjutnya sebelum diminta, saya langsung menyerahkan uang Rp 10.000,00 namun belakangan ini saya pura-pura bodoh saja. Maksudnya setelah mengucapakan terima kasih dan sebelum diminta uang, sayanya langsung pergi.

Saya jadi bertanya-tanya sendiri, mengapa hal itu bisa terjadi, apa kurang gaji bulanan mereka dari pemerintah daerah/pusat sehingga masih membebani masyarakat? Untuk walikota Medan maupun Gubernur terpilih nantinya, tolong para oknum nakal tadi dinasehati agar tak lalai dalam melayani masyarakat.

***

Mungkin ada yang berkata, bahwa kehilangan satu suara saja tak ada pengaruhnya bagi mereka yang sedang bertarung, namun sejujurnya tak memilih siapapun adalah suatu kerugian tersendiri bagi Anda maupun saya pribadi dimana pemilu ini adalah satu-satunya jalan dimana kita bisa menggunakan hak kita sebagai warga negara.

Bagi para pasangan terpilih yang nantinya akan memimpin Sumatera Utara, diharapakan cukup mampu mengemban tugasnya dengan sebaik-baiknya dimana dalam usaha membangun sarana dan prasarana, memperbaiki fasilitas umum, dan mensejahterakan rakyat. Lakukan, kemudian berikanlah yang terbaik bagi Sumatera Utara.

Akhir kata, selamat berpesta warga Sumatera Utara sekalian. Salam damai dari saya.

Jangan Jadi Pengengemis Cinta !


Sebagai manusia biasa yang memiliki intensitas tinggi dalam berinteraksi dengan lawan jenis, berbicara tentang cinta memang tak akan pernah ada habisnya. Lawan jenis yang selanjutnya disebut sebagai pacar itu bisa ditemuikan dimana saja dan kapan saja, tentunya setelah proses pertemanan yang dilanjutkan dengan pendekatan sehingga melekatlah status pacar.

Hubungan yang sedang dijalin oleh keduanya adalah suatu hal yang biasa di zaman yang serba mudah dan canggih yang didukung oleh alat komunikasi seperti perangkat telepon seluler dan komputer seperti sekarang, sehingga tak menutup harapan bagi para distancer yang cintanya sudah melekat itu tetap ingin menjalani pacaran jarak jauh (LDR).

Seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya, dalam suatu cerita cinta yang dijalani oleh masing-masing pribadi yang memiliki ego dan emosi, dimana jika tidak pandai-pandai diatur dan dikondisikan dengan keadaan pasangan, akan menemui berbagai masalah oleh karena ketidaksamaan visi dan misi maupun hal-hal yang paling prinsipil sehingga mau tak mau, hubungan percintaan itu pun harus berakhir. Selanjutnya akan ada yang disebut mantan pacar.
Hubungan itu memang telah berakhir, namun adakalanya masih adanya sebuah keinginan dimana ingin memperbaiki lagi hubungan tersebut dengan si mantan pacar yang mana lazim disebut CLBK (cinta lama bersemi kembali atau cinta lama belum kelar).

1362258138489466619
image from http://mobavatar.com

Benar kiranya jika CLBK ini dikatakan sebagai suatu perbuatan yang sangat manusiawi yang dapat timbul karena berbagai alasan, sbb :

1. Masih ingat kepada sang mantan pacar
Alasan ini yang paling mendasar yang mana menjadi penyebab para remaja sering galau, sedih, murung, dsb. dimana mereka masih mengingat akan kenangan indah bersama sang mantan.
Bahkan terkadang, ada yang masih menganggap mantan pacarnya itulah yang terbaik, walaupun ia sering mendapat siksaan fisik dan psikis (dimarahi, diperlakukan kasar, dll).
-> masih ingat sih boleh saja, namun jangan terus mengingatnya. Mengapa? sebab diputusin padahal masih cinta itu sakit dan mungkin dia telah melupakan kita dengan mencari gebetan baru. Rugi dong, kan???
-> Apalagi kalau mengedepankan mengingat kenangan indah namun mengenyampingkan keadaan fisik dan psikis kita yang telah disakiti. Apa tidak merasa rugi kalau sudah begitu?

2. Masih sering memantau mantan lewat Media Sosial
Saya amat menyadari, cinta lama itu masih mendominasi hari-harimu sehingga kamu berkeinginan untuk kembali padanya. Adakalanya kamu masih sering melihat Facebook, twitter, G+, Blog ataupun media sosial lainnya milik si mantan. Setelah kamu melihat sesuatu di sana, biasanya kamu langsung murung, bukan?
-> Kenapa harus murung? Alasannya yaitu karena kamu cemburu.
Cemburu Karena kamu melihat PDKTan si mantan? Postingan si mantan tentang kekegumannya terhadap seseorang? Katakanlah kamu cemburu, terus mau sampai kapan? Dan kapan mau MOVE ON nya? cemburu sih wajar ya, namun ada baiknya kamu mampu mengelola bahkan mengubah rasa cemburumu itu menjadi suatu hal yang baik, mungkin kamu bisa termotivasi untuk mencari pacar baru.

3. Merasa diri lebih baik dari orang lain
Putus cinta memang sangat menyakitkan, maka dari itu ada istilah sang mantan, bukan? Lalu si mantan ini masih memusatkan pikiran dengan memikirkan si mantan pacarnya tadi. Nah,, sembari memikirkan apakah ia diam saja? Tentu tidak. Mengapa? si mantan akan mencari tahu bahwa mantan pacarnya sedang dekat atau menjalin hubungan dengan siapa. Ini dia tempatnya membanding-bandingkan diri sendiri dengan pacar si mantan sekarang. Misalnya :
“ah, aku lebih baik dari dia. Aku lebih inilah.. lebih itulah, dsb. Terus kenapa dia lebih memilih dia daripada aku?”.
-> Pemikiran tersebut baiknya dibawa ke positif saja. Misalnya, “dia lebih milih perempuan itu karena ada satu hal yang lebih baik di dirinya”.
Dengan pikiran positif tersebut, kamu akan termotivasi untuk meningkatkan kualitas diri sehingga menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.

4. Masih menyimpan barang pemberian mantan pacar
-> Setelah putus, ada baiknya kalau kamu menyimpan barang-barang tersebut di suatu kotak khusus dan jangan dibuka-buka lagi. OK, benar cara tersebut sulit dilakukan. Kamu bisa menghibahkan barang-barang tersebut kepada temanmu.
-> Atau kamu bisa menjual barang pemberian semisal cincin. Uang hasil penjualan itu bisa kamu tabung, menguntungkan sekali, bukan? Atau kalau kamu tak ingin ada yang membekas lagi, foya-foyakan saja.
-> Sebenarnya hal-hal begitu tidak perlu kamu lakukan seandainya kamu menanamkan pikiran positif pada dirimu, semisal “barang ini telah dia berikan kepadaku, adalah hakku untuk menjaganya walaupun kami tak mungkin kembali bersama”.Susah, kah? Ok.. kalau susah, belajarlah agar kamu mampu menatap masa depanmu.

***

Mungkin ketiga hal yang telah saya paparkan diatas tengah kamu rasakan. Pada setiap hal juga telah saya tuliskan bagaimana caranya supaya mencegah CLBK itu. Namun bagi yang memang masih sangat ingin CLBK dengan mantan pacarnya, sulit untuk melakukan hal di atas, bukan?

Nah, jika kamu masih mau melakukan CLBK, kamu harus mematuhi persayaratan berikut :

1. Meminta Maaf
Entah siapa yang mutusin, yang pasti hal pertama yang harus kamu lakukan adalah meminta maaf. Mengapa? mungkin pada hubungan sebelumnya ada beberapa kesalahan yang belum melewati tahap saling memaafkan. Nah.. ini saatnya.

2. Melupakan Hal Lalu
Benar, masalah lau yang menyebabkan hubungan kalian berakhir amatlah menyakitkan. Namun, jika rasa cinta itu masih tinggi getarannya, maka kamu harus melupkan masa lalu yang menyakitkan tersebut dan bersiap membuka lembaran baru.

3. Berbicara dengan sopan
Seperti biasanya saat kamu ingin melakukan sesuatu, kamu pasti berbicara dengan nada yang lembut, bukan? Begitu juga jika berbicara dengan si mantan. Sampaikan saja maksudmu.

4. Jangan Jadi Pengemis Cinta
Setelah melewati tahap meminta maaf, dalam berbicara tersebut memang kamu mengutarakan bahwa kamu ingin merajut kembali kisah cinta kalian, tapi jangan jadi pengemis cinta apalagi sambil memohon-mohon.
Ini khusus berlaku buat pemulai yang perempuan, dimana kalau sudah berhubungan dengan masalah hati, perempuan ini paling sensitif dan rela melakukan apa saja demi orang yang ia cintai, walaupun sudah mengalami siksaan fisik dan psikis.
Saya tekankan di sini, dengan mengutarakan perasaanmu(PR) saja, kamu sudah menjatuhkan harga dirimu. Mengapa saya katakan demikian? Adat kita (PR) sebagai orang timur adalah diminta BUKAN meminta. Jadi tolong, jangan anggap remeh dengan hal ini. Jika ada yang mengatakan emansipasi, saya katakan, emansipasi tak layak disangkutpautkan dengan masalah hati.
Dan ini untuk semua (LK & PR), mengapa saya katakan jangan jadi pengemis cinta? Karena, bisa saja si calon CLBK kamu akan dengan mudahnya melakukan hal yang sama seperti sebelumnya (mutusin kamu).

***

Kisah cinta lama yang masih sering kamu ingat memang menjadi pemicu adanya CLBK tadi. Dan saya atau siapapun tak berhak menghakimimu untuk berhenti mencintaimu mantan pacarmu. Hal itu mutlak menjadi urusanmu.

Yang paling penting, tetaplah berpikiran positif dan janga jadi pengemis cinta. Jika si mantan tak mau lagi kembali kepadamu, ya sudah. Mungkin jodoh kalian terhenti sekarang dan tak menutup kemungkinan nanti kalian akan dipertemukan kembali.

Yang pasti jangan berharap dan memaksakan kehendak kepada suatu hal yang  belum kamu ketahui hasilnya. So,Please Be A Smart Lover !

Jumat, 01 Maret 2013

Mantan Kekasih dan Barang Pemberiannya


Setiap makhluk hidup melakukan interaksi dengan yang lain, begitu juga dengan Manusia. Manusia yang notabenenya terlahir sebagai makhluk sosial, sudah pasti berinteraksi dengan sesamanya sedari kecil. Memasuki usia sekolah, akan banyak teman yang akan dikenalnya. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh, semakin tinggi pula peluangnya dalam mengenali lawan jenis. Selanjutnya, adalah wajar jika seorang anak pada usia sekolah memiliki hubungan spesial dengan lawan jenis yang lazim disebut pacaran. Pacaran sendiri merupakan kelanjutan dari pertemanan tadi yang mana kita lebih mengenal kepribadian seorang lawan jenis yang tentunya telah dibumbui cinta di dalamnya. Dalam berpacaran, biasanya akan selalu tampak manis dan tak jarang kamu sering memberikan beberapa barang untuk sang pacar. Tujuannya supaya sang pacarpun selalu mengingat kamu.
*
Sebagaimana yang kita ketahui, menjalin hubungan dengan lawan jenis bukanlah suatu hal yang mudah dimana selain saling mencintai, juga ada keegoisan dan emosi masing-masing disana. Sebutlah cinta bisa meredakan emosi amarah maupun egoisnya masing-masing pihak, namun adakalanya perbedaan visi dan misi dan perbedaan prinsip  yang paling mendasar dari tiap pasangan tak saling dimengerti. Jika sudah begini, mungkin perpisahan (putus) menjadi alasan untuk mengakhiri hubungan tadi, dan status mantan pacar si A telah tersemat di kamu.
Lagi-lagi putus ini fase yang biasa, bukan? Kemudian, Setelah putus barang pemberian si pacar tadi seakan “mengolok-olok” kamu, dan kamu akan “bersiap” menggalau, sedih berkepanjangan, dan bahkan berharap bisa CLBK lagi dengan si mantan. Kalau tak ada kemungkinan untuk CLBK, tak jarang ada yang ingin langsung memusnahkan  pemberian si mantan tadi.

Di sini saya ingin bertanya, gunanya apa? Jawaban kamu pasti seputar :
1. supaya gak ingat lagi sama si mantan
2. supaya mudah melupakan si mantan
3. supaya menghapus partikel cinta yang masih ada untuk si mantan
4. supaya bisa Move On

Jika masih itu alasanmu, izinkan saya katakan bahwa alasanmu itu sudah BASI. Mengapa? itu alasan klise yang sudah lazim digunakan. Asli.. itu seperti di sinetronkebanyakan, dimana setelah putus cincin dari mantan pacar dibuang ke lautlah, atau kotak musik bahkan bunga dibuang ke tong sampah. Biasa, bukan? Kamu kebanyakan nonton sinetron. Saya ingin bertanya, sadarkah kamu bahwa yang kamu lakukan adalah hal yang bodoh? Mengapa saya katakan demikian?

Ok, katakanlah pada saat melakukan hal itu kamu masih dilanda emosi (marah dan sedih). Namun kalau kamu bisa berpikir lebih jernih, pemberian mantan itu ada gunanya, lho!

Caranya :
1. Jual
2. Gunakan
3. Berikan pada orang lain

Misalnya, cincin. Cincin itu kan bernilai walaupun hanya dari besi putih (Rp 5000,00), kenapa harus dibuang? Apalagi kalau ada nama kamu. Kan bisa kamu pakai seterusnya. Nah, kalau kamu gak mau memakainya lagi dan jika cincin itu dari mas putih atau mas 99 karat, bisa dijual toh? Belum lagi kalau yang dikasih itu ponsel. Kalau ‘gak mau dilihat lagi, JUAL saja. Uangnya bisa kamu foya-foyain deh.

Lalu bagaimana kalau yang dikasih itu baju atau sepatu. Dibuang juga? JANGAN. Ini benar-benar sayang kalau dibuang. Baju atau sepatu itu kan bisa kamu manfaatkan untuk dirimu sendiri. Jadi kamu bisa sekalian nambah-nambahin KOLEKSI di lemari pakaianmu. Nah, kalau gak mau dilihat lagi, juga bisa dijual atau bisa juga dikasih ke temanmu atau orang-orang yang membutuhkan. Berpahala, bukan?

Barang-barang pemberian mantan pacar saya masih saya gunakan sampai sekarang. Misalnya kalung besi putih yang sering saya gunakan. Saya memakai itu bukan untuk mengingat si mantan, tetapi karena saya menyukai kalung itu. Mantan yang lain pernah memberikan saya jaket, bahkan jaketnya itu dipakai sama mama saya kalau beliau dalam perjalanan ke luar kota. Atau, pernah juga kotak eskrim yang diberikan oleh yang lain, digunakan sebagai tempat ikan oleh kakak ipar saya. Atau sendal lukis buatan mantan saya,. Mengapa harus saya buang? toh saya sendiri tak bisa membuatnya, bukan? Intinya barang dari mantan itu bermanfaat.
*
Barang pemberian mantan pacar itu memang sudah menjadi hak kamu, sudah menjadi tanggung jawabmu untuk memeliharanya dengan baik.

Sebenarnya para mantan yang baik tak akan meminta kamu untuk mengembalikan pemberiannya karena ketika pacaran itu berlangsung, pemberian itu kan dasarnya keikhlasan memberi karena CINTA. Tapi tak menutup kemungkinan juga ada mantan yang meminta kembali barang pemberiannya itu.
Misalnya, dulu. Ada seorang mantan yang meminta kembali jaket pemberiannya sama saya. Kalau boleh jujur, sebenarnya saya gak mau kembalikan. Jaketnya bagus sih, ketebalan dan warnanya sangat saya sukai. Namun saya tahu, bahwa ia pun sangat menyukai jaket tersebut. Mau tidak mau ya saya harus mengembalikan. Selanjutnya yang lebih ekstrim lagi cerita seorang teman. Mantan pacarnya malah mengancam akan membakar balai-balai di halamana rumah teman saya jika ia tak mau mengembalikan pemberian si mantan. Dari pada begitu, dengan berat hati si kawan ini langsung mengembalikannya.

Dari kedua contoh itu, saya jadi berpikir, kenapa harus demikian? Katakanlah cinta itu telah habis, tapi tak baik juga memperlihatkan pelitnya kamu ke si mantan.
*
Sebenarnya kalau kamu mau membuka pikiranmu, pemberian dari mantan pacar itu berguna bagi keseharianmu jadi jangan langsung dibuang, dirusak atau bahkan dibakar. Ok, kata putus itu memang meninggalkan rasa sakit hati dan cinta tadi memang telah habis, namun bukan berarti kamu tak bisa berpikir jernih, bukan? Pikirkanlah dari segi sosial dimana bisa kamu berikan untuk orang lain, atau segi ekonomi dimana selain menghemat pengeluaran kamu, barang-barang tersebut bisa kamu JUAL. Kemudian jika telah memberikan barang untuk si mantan yang dulunya kamu cintai, barang itu JANGAN diminta kembali dong!!! Jangan perlihatkan segi ekonomis (baca : pelit)mu kepada si mantan.

Cinta memang boleh hilang, tapi jangan hilangkan juga sisi sosial dan ekonominya dong!!! Dan yang paling penting, galau patah hati itu jangan kelamaan, dikhawatirkan kamu malah bunuh diri gara-gara patah hati. So, think smart !!!

[Review] Vaseline Super Food Skin Serum, bukan Hand & Body Lotion Biasa

Memiliki kulit wajah dan tubuh yang terawat dan sehat, tentu impian kita. Selain itu, anugerah Tuhan yang ada di diri kita, sepatunya mema...