Jumat, 26 Juli 2013

Kesejahteraan Masyarakat Aceh Lebih Penting ketimbang Bendera!

13747632071007910890
Ilustrasi/ Admin (Kompas.com)
Silahkan baca tulisan saya sebelumnya, terkait tulisan ini

*

Beberapa hari yang lalu, kak Ilyani menuliskan artikel di mana Provinsi Aceh berprestasi dalam kasus Korupsi di negeri ini. Sejujurnya, berita tersebut sudah saya ketahui sebelumnya dari berbagai media elektronik walaupun saya belum sanggup menuliskannya, karena satu dan lain hal.

Walau tak layak dibanggakan, ini merupakan prestasi “gemilang” selama kepemimpinan pasangan Gubernur Dr. Zaini Abdullah bersama Wakilnya, Muzakkir Manaf yang notabenenya, mereka adalah mantan gerakan separatis GAM yang terpilih dari Partai Aceh (PA) pada 9 April 2012 lalu. Mereka telah dikukuhkan oleh Komisi Independen Aceh (KIP)  untuk menjadi orang nomor 1 dan 2 di Provinsi yang terkenal dengan sebutan Serambi Mekkah itu pada Selasa, 17 April 2012 yang lalu untuk masa jabatan 2012-2017. Ada 21 janji manis yang pasangan ini dendangkan pada masa kampanye sebelum terpilih menduduki kursi hangat sebagai pemimpin Provinsi Aceh.

Setelah setahun masa pemerintahan mereka, adakah janji itu yang mereka realisasikan? Tidak ada. Makanya, tak salah bila ribuan masyarakat Provinsi Aceh menuntut mereka. Pendemo yang datang dari seluruh penjuru Aceh, telah beraksi pada Senin, 20 Mei 2013 di Kantor Gubernur Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) guna menuntut haknya atas janji manis tersebut. Aksi ini digerakkan oleh massa yang tergabung dalam Forum Aneuk Nanggroe Aceh Peduli Damai.

Diantara 21 janji muluk-muluk yang sempat didendangkan lebih kurang setahun yang lalu, janji meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh yang paling menggelitik saya untuk menuliskan artikel singkat ini. Namun, ada baiknya bila saya merunut hal tersebut dari awal dulu.

*

Masih teringat jelas dalam ingatan saya situasi dan kondisi Aceh dahulu :
1. Bagaimana mencekamnya kota Banda Aceh bahkan seluruh Provinsi Aceh sebelum Tsunami?
2. Seberapa sering terdengar suara peluru bahkan ledakan bom yang dilakukan oleh GAM maupun TNI?
3. Berapa banyak nyawa dan darah tertumpah di Tanah Rencong tahun 1976-2005 (tsunami)?
4. Sanggupkah dihitung bahwa adanya puluhan ribu nyawa yang habis ketika masa konflik-tsunami dulu.
5. Adakah mereka tersentuh tangan oleh pemerintah daerah yang sekarang?
6. Berapa banyak masyarakat Aceh yang belum sejahtera?

*

Setelah adanya bencana Tsunami yang diteruskan dengan perjanjian MOU Helsinki antara Pemerintah Indonesia-GAM pada 15 Agustus 2005, praktis segala ketakutan tersebut hilang dari bumi Aceh. Ketakutan akibat kawasan yang mencekam memang telah hilang, namun tetap saja, mereka tetap dihantui ketakutan dalam menghidupi diri mereka. Bagaimana tidak? Bahwa sampai saat ini, tak ada perubahan bagi sisi perekonomian rakyat Aceh.

Setelah berhari-hari saya cermati, jika boleh saya katakan, apa yang dilakukan oleh pemerintah Aceh sekarang adalah sangat jauh panggang dari api. Mereka para pejabat lebih mementingkan egoisitas diri mereka secara pribadi yang mana Gubernur-Wakil Gubernur adalah Eks. Kombatan GAM. Mereka lebih berkonsentrasi dalam kepengurusan dan perizinan utk mengibarkan Bendera Ex. GAM di Tanah Rencong yang mana bendera tersebut akan di-Launching tanggal 15 Agustus 2013.

Ini benar-benar mencengangkan bagi saya, di saat banyaknya tuntutan masyarakat atas realisasi janji Gubernur-Wakil Gubernur untuk mensejahterakan masyarakat, tapi mereka (Pemda Aceh) masih saja mempertahankan Bendera GAM itu.

Perundingan antara Pemerintah Indonesia-Pemerintah Aceh pasca dikeluarkan Qanun tentang bendera Aceh (Maret 2013), sudah dilakukan dari bulan April lalu hingga kini. Perundingan yang cukup banyak menghabiskan dana ini, belum juga mendapati satu kata sepakat, akibat Pemerintah Daerah Aceh masih teguh pada pendiriannya untuk tetap menggunakan Bendera itu. Terang saja, Pemerintah Indonesia tak menyetujuinya karena ada unsur GAM. Demi mempertahankan Aceh, pemerintah pusat telah melunak dengan mengatakan, boleh ada bendera namun corak benderanya diganti, jangan ada unsur yang mengandung GAM.

Jika mau dirunut ke belakang sejak adanya Qanun itu, banyak rakyat Aceh yang menolaknya. Hingga kini, tak hanya masyarakat Aceh di Aceh saja yang melakukan protes, tapi protes juga dilakukan oleh Gerakan Masyarakat Negara Kesatuan Republik Indonesia (Gema-NKRI) yang melakukan aksi damai di depan Kementerian Dalam Negeri, di Jakarta pada 23 Juli 2013, kemarin. Dalam aksinya, mereka menuntut agar pemeritah mencabut  diberlakukannya Qanun No 13 tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh. Koordinator Gerakan Itu juga mengatakan bahwa diberlakukannya Qanun No 3 tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh ini, merupakan contoh nyata bahwa upaya untuk lepas dari NKRI atau paling tidak berupaya secara perlahan tapi pasti untuk menghegemoni pemikiran melalui simbol-simbol telah terjadi. Dan ini merupakan tahapan untuk mewujudkan cita-cita lama sebagaimana di sini.

Mengapa mereka mau capai-capai melakukan itu? Karena mereka tak mau kehilangan Provinsi Aceh. Mereka mengkhawatirkan, jika Aceh diberi keistimewaan Bendera dan Lambang, maka beberapa waktu yang akan datang, Aceh pun akan melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jelas kiranya, bahwa bukanlah suatu hal yang mudah jika mereka (Pemda Aceh) mau mengingat perjuangan yang sama-sama bangsa ini lakukan dahulu. Perbuatan yang dilakukan Pemda Aceh, sejatinya adalah suatu kesalahan fatal.

Apalagi terlihat jelas bahwa egoisitas pemerintah daerah dalam menghabiskan dana juga ada ketika pembangunan Istana Wali Nanggroe seperti di sini yang menuliskan bahwa, Salah satu agenda yang menjadi prioritas Anggaran Pendapatan Belanja ACEH 2013 adalah pembangunan Meuligo Wali Nanggroe yang menelan biaya APBA sebesar Rp. 35.456.807.000,- (tiga puluh lima milyar empat ratus lima puluh enam juta delapan ratus tujuh ribu rupiah).

Uang yang cukup banyak, bukan? Kenapa uang ini tak digunakan untuk mensejahterakan rakyat Aceh saja, Pak?

*

Jauh panggang dari Api, ketika mereka memperjuangkan egoisitas mereka sendiri, tapi rakyatnya, makin kesulitan? Padahal, kalau mereka mau membuka mata lebar-lebar dan memiliki rasa malu terhadap rakyatnya yang mana Amnesty Internationaltelah mencatatkan, masih banyak masyarakat Aceh yang belum mendapatkan keadilan, entah dari korban konflik 1976-2005 maupun korban Tsunami.

Seharusnya pemerintah daerah, dibawah kepemimpinan Gubernur Zaini Abdullah dan Wagubnya, Muzakkir Manaf tak perlu banyak-banyak berjanji jika satu janji tentang meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh saja belum maksimal.

Ini benar-benar kewenangan yang dialih fungsikan. Bagaimana tidak? Alih-alih terpilih untuk mensejahterakan keseluruhan rakyat Aceh, yang ada untuk mensejahterakan dan melegalkan keinginan mereka sendiri. Sungguh miris jika kita saksikan, dibalik kesenangan mereka, masih banyak jeritan masyarakat yang belum sejahtera. Sadarkah mereka yang duduk di parlemen Aceh telah menggerogoti rakyatnya sendiri?

Selasa, 23 Juli 2013

Berteman dengan Mantan Pacar, Kenapa Tidak?

Sebagai manusia normal, ketertarikan terhadap lawan jenis adalah suatu hal yang wajar. Rasa tertarik ini, biasanya diawali dengan hubungan pertemanan. Seandainya ada progress positif, maka bukan tak mungkin akan berlanjut ke dalam hubungan pacaran (sebelum pernikahan).

Masa penjajakan dalam pacaran ini bukan tak mungkin akan mengalami pasang surut, kan? Adakalanya, kita bisa mengatakan hal-hal yang tidak kita sukai dan ini kadang memicu pertengkaran. Namun dari pada bertengkar, kebanyakan masing-masing pasangan Cuma bisa mengalah. Lalu yang paling sering bahkan selalu adalah kita melihat sisi baiknya saja, apapun bahkan hal terburuk sekalipun yang dilakukan pasangan kita. Namanya cinta, ya terima sajalah, dan semuanya akan terasa indah. Ya, namanya yang bermain di sini adalah perasaan dan sejujurnya, perasaan ini menutup logika. Sebagaimana lagu yang dinyanyikan oleh Agnes Monica - cinta tanpa logika. Atas nama cinta, yang kelihatan semuanya pasti sisi si indah.

Namun, sampai kapan yang namanya si indah ini akan bertahan? Sebulan, tiga bulan, setahun, atau malah bertahun-tahun? Kalau tak sanggup bertahan, perpisahan atau yang biasa disebut putus, adalah sebuah jalan terbaik yang sebenarnya teramat sulit untuk diambil. Lalu, proses ini menjadi kamu mendapat sebutan, mantan pacar si R, misalnya. Kebayang dong, gimana rasa sakit akibat  yang namanya patah hati atau putus cinta? Dari mulai tindakan bodoh semisal menyakiti diri sendiri, mengemis cinta pada sang mantan, dan meneror sang pacar supaya mau kembali ke kamu. Ih,,, gak banget deh kalau sampai harus neror,,ckckckc.. OBSESI sih.

*

Atau malah tak mau mengenal apalagi berteman sama si mantan? Beberapa hal yang telah saya sebutkan tadi pernah masing-masing kita alami, kan? Saya jadi heran, kenapa tak mau berteman dengan sang mantan? Ok, katakanlah kalau untuk menjadi sahabat, itu sulit, tapi jadi teman, apa salahnya? Kalau kita mau membuka pikiran kita, sebenarnya enak lho kalau mantan pacar jadi teman. Kok bisa?

1. Tak Perlu Repot
Si mantan adalah orang yang sebelumnya sangat mengenal kita.  Biasanya, tiap sisi yang ada pada diri kita, si mantan sudah pasti mengerti. Jadi kita tak perlu repot lagi harus menata ini itu, bahkan lebih enak kalau kita mengobrol.

2. Teman Curhat
Adakalanya sahabat yang kita miliki, terkadang tak bisa atau kadang kurang mengerti akan suatu hal yang kita hadapi. Dan tak ada salahnya kalau kita berbicara hal-hal yang sedikit mengarah ke curhat sama si mantan. Dan tak menutup kemungkinan juga, si matan ini lebih mengerti dari pada sahabat kita sekalipun, lho!

3. Saling Menjaga
Dia bisa menjaga kita. Menjaga ini bukan dalam artian berhak mendoktrin kita, tapi lebih ke menjaga kita dari “radikal” bebas dari orang lain. Dan kita pun bisa melakukan hal yang sama terhadapnya. Yang namanya menjaga ini, bukan berarti harus CLBK lho! Tapi kalau mau CLBK, tak menutup kemungkinan juga, toh?

4. CLBK (Cinta Lama Beremi Kembali)
Atau banyak juga yang memplesetkan CLBK ini menjadi cinta lama belum kelar. Hm… tak ada masalah sih sebenarnya kalau mau CLBK sama sang mantan, tapi tetap hati-hati. Usahakan jangan sampai salah langkah.
Bukan berarti mentang-mentang mantan pacar, kita bisa suka-sukanya aja berbuat ke si dia. Ingat juga, kenapa kita putus sebelumnya. So, kalau masih cinta dan masih mau mengajaknya kembali, jangan sekali-sekali melakukan kesalahan yang sama yang menyebabkan kalian putus dulu.

5. Melupakan Hal Buruk
Saya juga tahu, yang namanya putus cinta/patah hati itu sakit dan bukanlah hal yang gampang untuk melupakan perbuatannya yang terang-terangan sudah menyakiti kita. Ada yang butuh waktu cepat, bahkan tak sedikit pula yang mampu melupakan sakit hati ini setelah bertahun-tahun. Namun, coba pikirkan beberapa hal yang sudah saya uraikan diatas, adakah manfaatnya?

6. Membersihkan Hati
Lupakanlah dia dan berhentilah stalking facebook, twitter, dan akun media sosial milik sang mantan karena tak mentup kemungkinan buat kita yang masih mencintai si mantan, akan nangis sendiri jikalau kita melihat pacar baru si matan yang ternyata lebih muda, walaupun tak lebih cantik dari kita. Dengan sendirinya, kita bisa membersihkan hati kita sendiri dan lebih mudah move on dan cari pacar baru. Kalau tak mau terburu-buru cari pengganti dan memilih untuk JOMBLO dulu, ya silahkan juga, tak ada masalah juga toh.

*

Sesungguhnya, jodoh, rezeki, dan maut itu hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa, so sebagai manusia yang kita lakukan adalah, membersihkan hati. Lalu serahkan padaNya karena hanya Dialah yang maha membolak-balikkan hati seseorang.

Rasa sedih adalah hal yang sangat wajar kita alami dalam situasi ini. Terlebih air mata pun tak segan-segan pasti tertumpah. Seperti lagu Dewa-Lagu Cinta, “Perpisahan kita mengundang Air mata, akan ada secuil penyesalan“. Lalu lanjutkan juga dengan lagu dari Dewa-Air Mata, “menangislah… bila harus menangis”. Tapi mentang-mentang menangis ini memang disarankan dan tak dilarang dalam hal patah hati ini, tapi jangan pula malah nangis bertahun-tahun Cuma karena seorang lelaki/perampuan yang tak bisa menjadi milik kita. Kalau dia bukan jodohmu, jangan sia-siakan waktumu hanya untuk mengejarnya apalagi mengemis-ngemis minta balikan kalau dia ‘gak mau. Harga diri dan Logika kita mesti digunakan di sini ya Bro/Sist.

Kalau tidak, alangkah bodoh dan picik sekali pikiranmu, anak muda!  Proses memaafkan dan melupakan kesalahan si mantan ini memang tak bisa langsung. Jadi pelan-pelan saja, hapus luka hati kita dan berusahalah ikhlas bila melihatnya dengan kekasih barunya. Dengan sendirinya, kita pun bisa menjalani hubungan pertemenan dengan sang mantan. Mudah, kan?

Akhir kata, saya Cuma mampu mengatakan, maafkanlah mantan pacar kita itu dan do’akan saja yang terbaik untuknya, walaupun yang terbaik untuknya adalah dengan pasangan barunya. Toh segalanya sudah ada yang mengaturnya, kan?[Auda]

Aktivitas “Gila” Femen dan Kesesatan Jalan Pikirannya!

Dalam interaksi antar sesamanya, adalah hal yang wajar jika seseorang ingin melakukan suatu perubahan ke arah yang menurutnya lebih baik terhadap diri dan lingkungannya. Bahkan tak jarang demi memenuhi kebutuhan itu, mereka juga melakukan demonstrasi yang lebih kurang telah kita saksikan sewaktu pemerintah akan menaikkan harga BBM beberapa waktu yang lalu, sebelum bulan Ramadhan. Sekarang sudah bulan Ramadhan, adakah yang merusak kesuciannya?

Untuk di dalam negeri, kita semua telah mengetahui aksi “manis” FPI pada Kamis (18/7) di Kendal, Jawa Tengah akibat melakukan protes dan sweeping terhadap tempat hiburan yang beroperasi di bulan ramadhan. Hampir seluruh media mainstream telah menerbitkan beragam artikel mengenai itu, bahkan juga di Kompasiana ini. Hemat saya, terlepas dari tujuannya, tindakan FPI ini merugikan orang lain dan mereka sendiri. Kalau mereka mau berterus terang tanpa tersogok doktrin, mereka akan mengatakan bahwa tindakan ini  mengurangi kekhusyukan diri mereka sendiri dalam menjalankan ibadahnya. Nah, kalau itu yang di dalam negeri, bagaimana dengan yang di luar negeri?

Di luar negeri pun ada yang mengganggu umat muslim dalam melaksanakan ibadah puasa. Seperti artikel yang sempat trending di Kompasiana.

Selain mereka berdua, ada lagi yang mengganggu kita dalam beribadah di bulan ramadhan ini, dialah Inna Shevchenko seorang aktivis Femen atheis yang dalam akun twitternya terang-terangan berkicau, “Apa yang lebih bodoh dari Ramadhan? Apa yang lebih buruk dari agama ini (Islam).” Selengkapnya di sini.

Sebagai seorang muslimah, pernyataan ”gila” Inna tersebut amat “menggelitik”. Oleh karenanya, saya Cuma “tersenyum” saya saat membaca kabar tersebut, namun saya memilih untuk diam dahulu dari pada “senyum” saya mengakibatkan hal yang tidak menyenangkan, sembari mencari tahu dengan jelas tentang Inna dan  Femen.

Femen itu apa?

Mungkin sebagian pembaca sudah tahu, namun tak ada salahnya jika saya tuliskan lagi, ya? Femen adalah sekelompok aktivis atheis perempuan yang membela hak atas kaumnya. Femen ini berbeda dengan feminisme Amerika, apalagi Muslim. Mereka ini adalah feminis ekstrim yang lahir pada tanggal 10 April 2008 di Ukraina, yang kini memiliki sekitar 150.000 pengikut yang tersebat di 17 negara.

Nah, katanya kan membela, otomatis setiap ada perempuan yang terenggut haknya, mereka akan melakukan protes. Namun protesnya itu dilakukan selalu dengan bertelanjang dada (topless) dan menuliskan berbagai bentuk kata/perlawanan di tubuhnya.

*

Dalam laman situs resminya, FEMEN menjelaskan jati dirinya sebagai “…the scandal famous organization of topless women activists, who defend with their breast sexual and social equality in  the world. (…  organisasi yang terkenal karena skandal aktivis-aktivis perempuan yang bertelanjang dada yang dengan payudaranya mempertahankan kesetaraan seksual dan sosial di dunia).” Selengkapnya di sini

Sebelum Inna Shevchenko berkicau di akun twitternya tentang bulan suci Ramadhan (18/7) kemarin, aksi mereka yang tergolong gila ini juga pernah meresahkan muslimah dari seluruh dunia.

Pada 3 April 2013, mereka membakar bendera bertuliskan “Laa ilaaha illallaah, Muhammadan Rasulullaah” di depan sebuah Masjid di Prancis sebagai bentuk protes. Pada 4  April 2013,   aksi digelar di  depan Masjid di Kiev dan Berlin. Aksi serupa juga digelar pada hari yang sama di Brussels dan Kedubes Tunisia di Paris.

Kemudian, Pada 4 April 2013, mereka menyelenggarakan protes yang menurut mereka, islam melakukan penindasan terhadap kaum perempuan. Aksi ini sudah pasti dilakukan dengan bertelanjang dada dan mencoret-coret bagian yang seharusnya ditutupi oleh setiap kaum perempuan, apapun agamanya.

Aksi yang berjudul International Jihad Topless Day ini, tentunya mendapat tanggapan dari para muslimah. Salah satu yang muslimah yang bersuara adalah Ilana Allezah yang merupakan aktivis muslim di Washington. Ia juga menentang keras “kegiatan” femen tersebut. Sebagaimana sebutnya dalam sebuah wawancara dengan Huffingtonpost, acara ini adalah rasis dan merupakan penghinaan bagi muslimah. Selanjutnya, feminis yang keturunan Pakistan-Amerika bernama Farah Rishi mengatakan bahwa kebebasan bagi seorang muslimah tidaklah harus dilawan dengan hal-hal yang bersifat fisik. Kebebasan yang hakiki dan diinginkan oleh para Muslimah di seluruh dunia adalah ketika mereka bisa bebas mengenakan pakaian Muslimah dan menjalankan nilai-nilai Islam, di tengah peradaban Barat yang memiliki standar ganda.

Setelah banyaknya penghinaan terhadap muslimah yang dilakukan oleh Femen, adalah Sofia Ahmed melakukan perlawanan terhadap Femen dengan mengkampanyekan keindahan seorang muslimah dalam balutan jilbab melalui media online. Ia mengatakan, salah satu kebanggaan tersendiri bagi seorang muslimah bila bisa menunjukkan jati dirinya. Foto-foto muslimah berjilbab yang Sofia unggah di media sosial, langsung mendapat tanggapan dari Noor Firdosi yang mengatakan, “saya sangat bangga dan bahagia memakai jilbab.”

*

Tentunya komentar tersebut semakin menguatkan sekaligus menggembirakan muslimah pengguna jilbab lainnya, bukan? Terutama bagi saya pribadi, membacakomentar dari Melody Church yang dari namanya saja non-muslim, mengatakan “Sebagai warga AS, saya malu dengan apa yang dilakukan FEMEN. Saya berharap, ini membuat kita peduli dengan apa yang dikenakan muslimah.”

Ketika menghina bulan suci ramadhan kemarin, Inna Shevchenko mengatakan kepada salah satu media Prancis bahwa, “perlawanan” yang mereka lakukan bukan hanya terhadap agama Islam, tetapi terhadap semua agama yang ada di dunia ini, terlebih yang mengekang kebebasan kaum perempuan.

*

“Kegiatan” ini benar terbukti, memang bukan hanya dengan agama islam protes mereka lancarkan, namun terhadap seorang Uskup Katolik bernama Andre Leonard dari Belgia yang memang anti dengan isu-isu gay yang kerap beredar. Seperti dalam sebuah pernyataan, yang mana Gereja mengecam siapapun yang menentang keputusannya dalam menolak pernikahan sejenis. Nah, aktivis femen ini tak terima dengan pernyataan gereja/uskup itu, jadi merekapun melancarkan protes-tetap dengan bertelanjang dada- dan menyemprotkan air ke wajah sang uskup.

Tak hanya aksi protes melawan kebijakan uskup/gereja tersebut “berhasil” mereka lakukan, mereka juga menyambut gembira atas mundurnya paus Benediktus XVI pada 12/2/2013 di Katedral Notre Dame, Paris. “Tidak Ada Lagi untuk Paus!” teriak mereka. “Tidak ada lagi homofobia” dan “Bye bye Benediktus!” sambil memamerkan dada mereka yang tidak memakai sehelai benangpun dan punggung bertuliskan “Pope No More,” dan “Bye Bye Benedictus.” Lagi-lagi aksi “gila” mereka tersebut medapat protes dari jemaat gereja dan pihak keamananpun dengan sigap menyeret mereka keluar.

*

“Kegiatan” para aktivis femen atheis itu sudah sangat salah kaprah dalam mengartikan kebebasan. Kebebasan bagi mereka adalah bila dapat menentang kebijakan agama dan pemerintah, bahkan industri seks komersial dengan bertelanjang dada.

Kebebasan yang salah kaprah itu menjadikan mereka (femen) terjebak dalam pemikirannya sendiri. Menurut mereka, aksi gilanya itu telah membela kaum perempuan, padahal sejatinya ini tidak benar. Justru hal bodoh ini semakin menghina kaum perempuan.

Hemat saya mengatakan bahwa, kebebasan itu mutlak perlu bagi setiap perempuan, namun hendaklah mendahulukan norma sosial, kepatutan, dan kesopanan. Terlebih bagi kita yang memiliki agama  (tidak atheis maupun agnostik) dan berdomisili di Indonesia, tentunya dalam beragama pun kita memiliki norma. Jangan malah melegalkan tindakan bodoh kaum femen Ukraina yang mana merupakan suatu kesesatan dalam berpikir.

Yang sangat saya sayangkan adalah kebebasan ini malah diartikan semena-mena oleh sebagian kaum perempuan. Walaupun tidak seekstrim femen Ukraina, lihat saja di televisi, di mana semakin banyaknya iklan yang kita saksikan menggunakan model seorang perempuan yang bangga dalam mengeksplorasi tubuhnya dengan alasan “ini seni”, semisal iklan cat, pewangi pakaian, bahkan rokok pun menggunakan model perempuan. Atau banyak juga aktris yang terkenal karena aksi gilanya dalam mempertunjukkan kemolekan tubuhnya.

Padahal, kalau mereka (aktris) maupun aktivis femen ini mau membuka pikirannya, perlakuan mereka tersebut telah merendahkan diri mereka sendiri dengan membiarkan banyak orang terutama kaum adam yang (walaupun mengagumi tubuh mereka), namun kaum adam ini juga tak suka melihat itu.

Setiap orang, apapun masalah yang dihadapi baik lisan maupun tulisan (terlebih kaum perempuan), hendaklah selalu menyandingkan antara Logika dan etika sehingga menghasilkan sebuah nilai seni yang merupakan suatu tatanan yang menyelarskan antara norma kepatutan, kesopanan, kesusilaan, maupun norma agama.

Terakhir, izinkanlah saya mengatakan kepada kaum saya di Indonesia, tolong, jangan ikuti langkah femen ukraina yang atheis itu. Terlepas dari agama manapun kita, protes itu memang perlu tapi lakukanlah protes dengan beradab. Membaca aktivitas femen ini, sejujurnya sebagai kaum hawa, saya sendiri amat malu sekaligus sedih, juga marah ketika mereka menghina muslimah dan ibadah puasa ramadhan yang sedang saya jalani.

Bagi saya pribadi, rumus yang selalu saya gunakan dalam hidup saya sebagai seorang perempuan adalah Logika + Etika = Estetika sebagaimana yang telah saya uraikan di atas. Dengan demikian, Insya Allah saya mampu menilai baik dan buruknya suatu perlakuan demi membentengi diri saya. Bagaimana menurut Anda? [AZ]

Kamis, 18 Juli 2013

“Kesetiaan” Para Kader kepada Partai Politiknya di Hadapan Media

1374032566728251459
Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)
Kesetiaan terhadap seseorang  yang memberikannya kenyamanan adalah hal yang wajar untuk dilakukan. Konon lagi terhadap instansi atau partai yang mewadahinya untuk menyampaikan aspirasinya terhadap suatu hal yang dianggapnya benar. Bila orang lain menjelek-jelekkan partai tempatnya bernaung, maka orang tersebut pasti akan membela partai tersebut.

Fahri Hamzah misalnya, yang begitu getol dalam pembela partainya ketika kasus suap impor daging sapi menimpa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di mana mantan presiden partai tersebut yang bernama Luthfi Hasan Ishaaq, akhirnya menjadi terdakwa bersama Ahmad Fathanah. Saat itu, Fahri Hamzah sangat vokal menyuarakan opininya dalam menghadapi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Johan Budinya. Itu untuk di PKS. Bagaimana dengan partai lain? Pasti ada, bukan?

*

Citra Partai Demokrat terus “meroket” kiprahnya dengan adanya kasus korupsi yang melibatkan sejumlah elit partai tersebut. Partai penguasa sejak 2004-2014 ini sempat mengusung slogan anti korupsi di awal kepemimpinannya. Ternyata, slogan tinggalah slogan dan korupsi pun dilakukan juga.

Seperti yang kita ketahui, dari kasus korupsi wisma atlet yang dilakoni oleh Angelina Sondakh bersama Muhammad Nazaruddin yang telah dipenjara, hingga Andi Malaranggeng dan Anas Urbaningrum yang telah meletakkan jabatan “manisnya” di Partai Demokrat, hingga adanya dana yang mengalir ke Edhie Baskoro Yudhoyono menurut pengakuan Yulianis.

Jangankan PKS, PD pun memiliki “pahlawan”, bukan? Sebut saja pengacara kondang Ruhut Sitompul dan Sutan Bhatoegana Siregar yang merupakan politisi dari Partai Demokrat.
Mereka terkenal di berbagai media akibat pembelaan yang begitu ksatria atas  setiap tuduhan/sangkaan miring terhadap Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan Partai Demokrat.

Ternyata bukan mereka saja yang memberi kesan sebagai ujung tombak Partai berlogo bintang Mercy tersebut. Tentunya adalagi, dan kali ini yang ingin saya soroti adalah seorang perempuan.

*

Bagi penikmat dunia perpolitikan tanah air, nama Andi Nurpati bukanlah sosok yang asing lagi. Perempuan kelahiran Macero Wajo, Sulawesi Selatan 47 tahun silam ini sekarang menjabat sebagai wakil sekjen Partai Demokrat yang juga ikut merasa gerah terhadap sejumlah pemberitaan yang terus menyudutkan partainya.

Pada wawancaranya, Andi Nurpati mengatakan bahwa partainya sering menjadi bulan-bulanan media, dimulai dengan adanya cemoohan untuk Pak SBY. Selanjutnya, bila ada kader dari Partai Demokrat yang korupsi, pemberitaannya berbeda dengan partai lain, padahal porsinya sama namun pemberitaannya lebih banyak menyerang partainya. Masih diwawancara tersebut, Andi mengatakan bahwa ada kepentingan politik pihak pemilik TV, misalnya Pak Karni Ilyas pernah ditantang, ILC tvOne mau gak nyiarin dengan tema Lapindo? Selengkapnya di sini

*

Pertanyaan sekaligus pernyataan Andi Nurpati ini sebenarnya agak membingungkan bagi saya pribadi yang awam dengan dunia politk tanah air. Analisa dangkal saya pribadi menimbulkan pertanyaan, akankah acara ILC (Indonesia Lawyer Club) menayangkan tentang kasus Lapindo?

Mungkinkah?

Tentu masih segar dalam ingatan, adanya seorang bapak bernama Hari Suwandi bersama Istri dan cucunya yang berjalan kaki dari Sidoarjo ke Jakarta guna bertemu dan meminta ganti rugi. Seperti yang tertulis di www.dalangpolitik.com, dia melakukan aksi dan orasi di depan Wisma  Bakrie. Kepada wartawan yang mengerumuni, Harimenyatakan bahwa dia melakukan aksi jalan kaki Sidoarjo-Jakarta sebagai protes tidak tuntasnya ganti rugi kepada warga korban lumpur Lapindo sesuai dengan Peta Area Terdampak, sesuai dengan Perpres 14 Tahun 2007. Tentunya ini menyedihkan.

Kemudian secara mengejutkan, tiba-tiba Hari Suwandi ada di salah satu acara tvOne mengatakan bahwa ia menyesali perbuatannya karena dia merasa dianggap sebagai tameng/alat oleh beberapa orang. Akhirnya Beliau meminta maaf kepada Aburizal Bakrie dan keluarga dengan tampang sedih. Ada apa itu?

Jika sudah demikian, mungkinkah kasus itu diangkat lagi di ILC?  Kalau logika saya mengatakan :
1. Acara ILC itu kan berada didalam stasiun TvOne.
2. Bersama http://www.viva.co.id/, TvOne ini dimiliki oleh Aburizal Bakrie.
3. Aburizal Bakrie adalah capres dari Partai Golkar yang mana berperan besar terhadap kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo tersebut.

Atas ketiga hal dan video di atas, maka saya simpulkan bahwa permintaan tersebut adalah hal yang keliru. Bagaimana mungkin acara ILC tvOne bisa mengusung tema Lapindo sementara Aburizal Bakrie adalah sang pemilik stasiun TV tersebut serta memiliki peran besar terhadap kasus Lapindo?

Jika acara ILC itu tak ada lagi di tvOne, mungkin baru akan ada tema tentang lumpur lapindo, secara kasus ini makin berkembang seiring dengan iklan politik Aburizal Bakrie di tvOne.

*

Kesetiaan Fahri Hamzah, Ruhut Sitompul, dan Sutan Bhatoegana kepada partainya adalah sebuah kewajaran yang sangat mungkin terjadi, apalagi untuk ibu Andi Nurpati. Beliau adalah seorang perempuan di mana biasanya seorang perempuan lebih mampu menunjukkan solidaritasnya terhadap sesuatu yang telah dipilihnya. Sosok Andi Nurpati yang setia ini juga mengingatkan saya akan sosok Rustriningsih yang tak dicalonkan oleh PDIP pada pilgub jawa tengah beberapa bulan yang lalu. [AZ]

Sabtu, 13 Juli 2013

Antara Aku, Kau, dan Pluralisme Negeri Ini (2)


Oleh : Auda Zaschkya


Hey kamu yang selalu bersemayam di hati, kapan kamu kembali? Aku ingin bercerita padamu akan kemuakanku pada seseorang yang terus menggangguku, tepatnya mantan kekasih sang don juan, Riko. Mungkin benar, sebelumnya memang salahku biarkan Riko menemaniku hariku. Namun sejak adanya perempuan itu, aku tak ingin mengenal Riko lagi. Dan itu memang telah ku lakukan. Jangankah sepatah kalimat, sepotong kata pun tak pernah lagi ku dengar darinya, segala akses Riko untuk menghubungiku telah ku tutup, karena aku menghormatimu. Dan aku percaya, bahwa maafmu pun akan selalu tercurah padaku jika hal ini langsung kau ketahui dariku.

***

Aku sangat mengenalmu, tentunya kamu tak tertarik akan ceritaku tentang Riko dan perempuan itu, bukan? Ya... Aku tahu, kamu lebih tertarik kepada status regional negeri ini yang masih sering muncul akibat perang saudara yang sepantasnya tak perlu mereka lakukan. Jangankan kamu, aku pun heran, mengapa mereka seolah-olah menghalalkan darah orang lain yang berbeda opini dengan mereka? Di mana jiwa kemanusiaan mereka, bila meminum darah orang lain bagaikan minuman segar yang diteguk setelah seharian menjalani ibadah puasa Ramadhan? Entah apa yang mendoktrin mereka sehingga mereka merasa dirinya sebagai makhluk tersuci di dunia. Jika diingatkan, bukannya berterima kasih malah hujaman caci maki akan langsung terlontar dari mulut ringan mereka.

Adalah hal terpuji bagi mereka, bilamana dapat menebar caci maki bagi sekelompok orang yang menurut mereka telah salah. Menurut mereka yang berdiskusi denganku, pikiranku dangkal. Piciknya mereka sehingga membuatku diam dan terus meringis dalam hati. Pada mereka, aku hanya mampu berkata bahwa alangkah lebih bermoral sekaligus berpahala bila orang-orang yang mereka anggap melakukan kesalahan, disadarkan lewat berbagai diplomasi saja, bukannya malah menempuh jalan konfrontasi yang notabenenya merugikan orang lain Padahal sejauh ingatanku, kita sebagai sesama manusia yang diutus Tuhan Yang Maha Kuasa di muka bumi ini, harus saling mengingatkan. Setahuku juga, Tuhan tak pernah menyuruh kita untuk menyakiti orang lain baik melalui lisan maupun tulisan, bukan? Apalagi menghalalkan darah mereka.

Mengapa harus melegalkan main hakim sendiri jika aparat masih mengayomi masyarakatnya? Atau mengayomi itu hanya sebuah status? Dari yang aku lihat dari sebuah video, adalah benar bahwa seorang yang mengaku pengayom itu berada dibalik mereka yang membubarkan paksa diskusi yang tengah berlangsung saat itu.

Ah... Sesungguhnya, hal seperti ini sangat memprihatikankan bagiku. Bagaimana anak bangsa ini bisa bersatu, jika egoisitas masing-masing kelompok masih terus dipertahankan? Kemudian, dangkalku juga berpikir, bagaimana kita mau dikatakan bangsa yang maju, jika doktrinisasi itu masih memenuhi pikiran mereka? Katakanlah mereka lupa atau bahkan tak mau peduli akan pancasila dan UUD 1945, namun apakah mereka dengan mudah melupakan sang pencipta? Sang pencipta tak pernah menghalalkan darah orang lain untuk diteguk, bukan? Memangnya darah orang itu boleh dicoba-coba?

Mungkin bagi pikiran mereka yang telah diracuni oleh kebencian terhadap suatu kelompok,  menganggap caci maki itu benar dan harus dilakukan sebab perintah agama. Setahuku, agama mana pun tak pernah mengajarkan kebencian, bukan? Agama itu mengajarkan kita untuk berpikir dan memperkaya diri lewat keanekaragaman budaya yang ada, bukan hanya memikirkan bagaimana memberangus kelompok minoritas dengan tanpa rasa bersalah.

Sadarkah kita bahwa kemiskinan pikir ini yang membuat bangsa ini makin tertinggal jauh, bahkan dari negara tetangga yang notabenenya negara kecil bahkan miskin kebudayaan dan sering mengakui produk kita. Alangkah lucunya anak bangsa ini, jika produknya telah diakui negara lain, baru disitulah tiba-tiba rasa nasionalisme itu terpanggil, lalu kelompok mayoritas pun seakan melupakan masalah internnya dengan si minoritas dan berseru, “produk dalam negeri dicuri pihak luar, mari kita rebut kembali.” Apatah artinya jika memperlihatkan pada bangsa luar bahwa kita bersatu? Padahal di dalam negeri, kebobrokan moral masih terus terjadi!

***

Mungkin bagi kebanyakan orang, pikiranku “nyeleneh” bahkan cenderung gila. Selama tak ada kamu di sini, ibuku yang menjadi “korban”ku. Beliau dengan sabarnya mendengarkan retorikaku. Beliaupun tak menyangka bahwa anak perempuannya masih sempat memikirkan nasib negeri ini di saat kondisi anaknya ini tengah sakit.

“Sudahlah nak, pikirkan dirimu. Jangan bebani dirimu dengan status pekerja sosialmu terus. Ibu tahu, kamu itu memang lebih banyak memikirkan orang lain dari pada sakitmu sendiri, padahal kamu itu sedang tak bisa berpikir yang berat seperti itu, bukan?” ujar ibuku. Jika ibuku telah berkata demikian, aku pun tak bisa berkat-kata lagi. Padahal dari sorot mata ibu pun, beliau mengecam aksi brutal anak negeri ini. Namun, beliau tak bisa berbuat apa-apa selain tetap diam di atas tangisan hatinya.

Aku tak sanggup membebani ibu dengan bicaraku yang mungkin akan panjang. Maka dari itu aku membutuhkanmu di sini, sebagai lawan retorikaku tentang negeri ini. Diskusi seperti biasa mampu kita lakukan, tanpa koma, tanda tanya dan tanpa tanda seru, atau bahkan yang sengit sekalipun. Besar harapku, semoga retorikaku ini segera menjadi wacana bagi mereka di parlemen sehingga stabilitas regional negeri ini akan lebih baik kualitasnya. Demikian juga, pikiranmu akan menyalak. Mungkin kamu benar-benar sudah muak dengan situasi di sini, makanya kamu mengambil pekerjaan di negeri orang.

***

Dan hal itu, juga memuakkanku, apalagi bila harus menantimu. Namun memang tak ada yang mampu ku lakukan demi permintaan hatiku ini. Hatiku bersikras menunggumu.

Menunggu kembalimu adalah kesepianku, namun tak mengapa sebab bagi hatiku, adamu berbanding terbalik dengan Riko. Pikiranmu yang cukup luas, mampu mengendorfin langkahku untuk tetap tegar jalani hariku sendiri di sini sebagai pekerja sosial di negeri ini, walau aku harus berjuang juga dengan sakitku.

Bukankah aku sudah pernah mengatakan, “Adalah kau yang tetap bersemayam di hati, dan menunggumu di sini adalah keinginan kita. Saling menghargai adalah falsafah dalam hubungan kita, suatu perpaduan yang dilandasi oleh kebutuhan akan jiwa sosialku dan pemikiran filsafatmu.”

*
Sebelum sahur,  12/07/2013


gambar dari sini 


Rabu, 10 Juli 2013

Antara Aku, Kau, dan Pluralisme Negeri Ini

Oleh : Auda & Anindya

Laki-laki itu tersenyum lembut menyambut langkahku yang tengah gontai. Dibukakan kedua tangannya seolah hendak memeluk tubuhku yang memang tengah rapuh saat itu, saat pertemuan kami di cafe biasa yang menyajikan Freezing Chocolate Coffee kegemaranku.Sosoknya memang kekar dan itulah kebanggaannya. Gaya metroseksualnya sungguh berbeda denganku, perempuan desa berkulit sawo matang. “Ah tidak, aku lebih menyukai bila disebut hitam manis.” Ujarku dalam hati. Dia adalah  sempurnanya lelaki bagi kaum hawa lainnya, namun bukan aku. Aku tak memujanya meski rayuannya cukup maut dan mampu bakar gairah perempuan lajang sepertiku.

Namanya Riko, lelaki yang awalnya kutemukakan di pemakaman, saat kami tengah berada di salah satu pemakaman pesohor negeri ini. Lelaki yang kini nyaman bertemu denganku, terlebih akibat angin surga yang sering kutautkan dalam dirinya, mungkin aku sedikit merayunya, ya hanya sedikit ciuman di bibirnya. Bukan french kiss, hanya kecupan biasa dan tanpa rasa. Tanpa kusangka, ciuman bodoh itu dimanfaatkannya. Dan kemarin, ia menyesaki otakku dengan kalimat-kalimat manis, bak don juan, ia terus merayuku. Kau tahu Riko, Sesungguhnya ini memuakkan!

*****

Sekelebat jiwa keangkuhanku menyeruak, “Aku tak peduli akan sifat don juannya dan tak boleh ada istilah kata terenyuh, apalagi di hadapan laki-laki”. Sebagai seorang perempuan, aku tak boleh menunjukkan kelemahanku, seperti yang ia harapakan. Dia dan hanya dia, seseorang yang masih teramat ku inginkan. Seseorang yang paling mengerti akan keinginanku, teman di segala suasana. Setidaknya bagiku, ia mampu mengendorfinku dalam bertukar pikiran. “Adalah kau yang mampu membuka mataku,” ucapku dalam hati

Ikatan yang terjalin di antara kita berawal dari sebuah diskusi, diskusi tak penting bagi mereka yang tak peduli pada stabilitas regional negari ini. Namun itu menjadi tantangan buat perempuan pemikir sepertiku dan hanya kaulah yang mampu memberi opini sekaligus menahan laju langkahku yang mungkin akan membahayakan nyawaku sendiri.

Kau selalu ada, di saat adrenalinku memuncak akan kelakuan preman berjubah yang kembali berulah, atau saat mereka yang seolah ingin menjadikan negara ini sebuah negara seperti negara kaya yang mereka agungkan. Mereka lupa, atau mungkin tak sadar akan besarnya pluralitas bangsa ini. Padahal jika mereka mau membuka mata mereka lebar-lebar, realita terbentuknya bangsa ini adalah karena perjuangan semua anak bangsa ini, dahulu. Ya…, dahulu sebelum mereka seakan menghalalkan darah di atas segala perbedaan yang membentang.
Aku tak suka ini, karena kasus ini sungguh memuakkan bagiku. Sama seperti muakku pada Riko, sang Don Juan yang mungkin akan memanfaatkan kelemahanku saat ini. Namun kau tenang saja, Riko tak akan berhasil mengajakku untuk memuaskan nafsu binatangnya. Kau masih di sini, tepatnya bayangmu masih bersemayam di hatiku.

Harus kuakui, aku membutuhkanmu, saat ini. Saat semuanya harus mampu kulakukan sendiri, seperti didikanmu. Seandainya lawan bicaraku saat ini adalah kamu, akan sangat tepat. Kita akan terlibat diskusi panjang yang seakan tak pernah ada titik. Semuanya akan dipenuhi koma, tanda tanya, dan mungkin tanda seru. Ya… itulah kita saat itu, sesaat sebelum kau pergi menunaikan tugasmu di negeri orang, setahun yang lalu. Dan kini aku hampir kehilangan arah tanpamu,  katakanlah aku hampir putus asa.

Seperti ada sebuah momok, aku ketakutan akan nasib bangsa ini. Bangsa ini lama kelamaan akan kehilangan kedamaiannya, saat masing-masing aliran mengatakan bahwa merekalah yang paling benar. Ah… mereka seperti tak berTuhan saja. Agama hanya sebagai simbol bagi mereka untuk melegalkan memakan jantung sesamanya.

*****

Keputus-asaan telah memenangkan segalanyaImpianku sekedar menjadi harapan di dalam sebuah wacana panjang dan berbelit. Pikiranku kini tak ubahnya sebuah umpan yang tengah menjelma. Kedamaian sebentar lagi akan sirna. Seluruh manusia akan terjebak di dalam peperangan. Sadarkah mereka akan perbuatan bodoh mereka?

Mereka yang menghendaki perang, mungkin adalah mereka yang terlalu dangkal memahami hirarki kebutuhan Maslow. Benar, Abraham Maslow menempatkan aktualisasi diri sebagai usaha pemuas kebutuhan setiap individu, namun kurasa Maslow pun tak menyukai peperangan, bukan? Mereka telah keliru bila menganggap Maslow paling mengerti akan mereka. Padahal aktualisasi diri yang dimaksudkan Maslow tak demikian. Jangankan seorang Maslow, Tuhan Yang Maha Esa pun tak menyukai bila ada hambanya yang terus larut dalam kemelaratan moral.

Aku ingin sekali bertanya kepada mereka, “Bukankah indah ketika dunia ini mampu menjamu banyaknya perbedaan dengan kedamaian? Bukankah nyaman ketika semuanya berjalan seperti dahulu? Dahulu tak ada intrik dan taktik sehingga memicu adanya sebuahkonflik. Seperti itulah kedamaian yang benar-benar kurindukan  sebelum beberapa waktu lalu sekelompok manusia berjubah memporak-porandakan desa di mana ada ibu angkatku yang amat ku sayangi bermukim di sana. Mereka menyerang dengan membabi buta, hingga hancur lebur seluruh bangunan yang ada. Dengan beringas mereka menyebut nama Tuhan dalam aksinya. Mereka salah menempatkan hirarki kebutuhan Maslow di sini. Mereka lupa, Tuhan tak pernah menghalalkan sebuah keberingasan.

Sesungguhnya, kasus itu cukup menyesakkan dadaku. Entah kapan nusantara ini dapat disebut damai yang sebenar-benarnya, dan sampai kapan air mataku akan mengering melihat ketidakmampuan pemimpin negara ini menghadiai perdamaian tanpa cekcok lagi, padahal beliau yang amat ku hormati  itu baru saja menerima penghargaan tentang perdamaian.

Kalaulah boleh aku memilih, aku memilih untuk diam. Namun rasa kemanusiaan ini masih cukup tinggi bila harus melihat ada saudara-saudaraku yang tersakiti. Ini beban tersendiri bagi pekerja sosial sepertiku, beban kemanusiaan antara menyaksikan fakta yang sangat jauh panggang dari api. Sebagai insan yang mungkin tak di dengar, aku Cuma bisa berharap dan terus memanjatkan do’a dalam Ramadhan kali ini, semoga negari ini akan memperoleh kedamaian dan dapat menjunjung tinggi Pancasila sebagai dasar negara, juga pasal 29 UUD 1945 seraya memikirkan untuk kembali menjalin persatuan dan kesatuan di NKRI. Bukankah akan tercipta kedamaian yang sesungguhnya, tuan?

*****

Dan mungkin benar, hanya kamu yang mengerti akan kegundahanku. Juga kamu yang mampu menyeka air mataku dengan hangatmu. Hangatnya seorang yang selalu mengerti akan inginku, seseorang yang tak mau menjamahku sebelum ikrar suci itu kau lafalkan dengan lantangnya lelaki di hadapan penghulu.

Sosokmu begitu berbeda dengan sang don juan, Riko yang sempat membungkamku. “Ah… aku tak tergoda padanya.” Pikirku cepat. Dia tak sepertimu,Bagiku, kau yang pertama dan terakhir, dan damaiku adalah saat-saat dahulu, saat-saat kita masih bisa berdiskusi walaupun itu sengit sekalipun.

Adalah kau yang tetap bersemayam di hati, dan menunggumu di sini adalah keinginan kita. Saling menghargai adalah falsafah dalam hubungan kita, suatu perpaduan yang dilandasi oleh kebutuhan akan jiwa sosialku dan pemikiran filsafatmu.



Rabu, 10/07/2013

Minggu, 07 Juli 2013

Waspadai Don Juan, Playboy, dan Perayu Maya di Sekitar Anda!


Tentu tak asing lagi bagi kita istilah Don Juan/Cassanova ini, bukan? Lalu adakah kesamaan antara mereka dengan para playboy? Tidak. Mereka tak sama dengan playboy, apalagi perayu maya.

Don Juan

Don Juan adalah seorang tokoh fiksi yang karakternya sama dengan Cassanova, lengkapnya Giacomo Girolamo Casanova de Seingalt (1725-1798). Lelaki kelahiran Venezia ini berprofesi sebagai pedagang, petualang, juga pengarang  buku. Berkat kepiawaiannya memikat hati banyak perempuan, julukan sang pecinta sejati pun diperoleh oleh lelaki yang kurang tampan ini.

Nah,,, kok bisa ya? Ini juga yang saya bingungkan, bagaimana bisa seorang yang dikatakan kurang tampan malah meniduri puluhan wanita? Pembaca, khususnya pria yang masih jomblo pasti bertanya-tanya, kok bisa sih dia gitu? Lha saya, pacar aja ‘gak punya? Hehehe…

Bicara tentang Don Juan, di Indonesia juga ada. Kasus suap impor daging sapi yang menyeret seorang petinggi PKS dan makelar bernama Luthfi Hasan Ishaq dan Ahmad Fathanah masih segar dalam ingatan para jomblo lelaki. Atau yang lebih sensasional adalah Eyang Subur yang sempat mengumpulkan ke-delapan istrinya dalam satu rumah. Wah… tambah meringis nih hati kalian ya jomblower laki-laki? Hehehe… Bisa dibayangkan dong ya sepak terjang mereka yang telah sukses menjadi Don Juan.

Don Juan sendiri, tingkat kelakuannya lebih tinggi dari pada playboy dan perayu maya. Sebutan itu sangat akrab bagi mereka para lelaki penjaja cinta yang menghalalkan segala cara untuk menaklukkan hati perempuan yang menarik di matanya yang diakhiri dengan ajakan untuk berhubungan seksual. Cara awal yang mereka lakukan tentunya tak jauh berbeda dengan kebanyakan laki-laki, yakni merayu dengan :

1. Memberi Bunga
Ini bunga benaran ya, bukan bunga Bank, dan bunga yang paling sering diberikan sebagai penghantar cinta adalah mawar merah. Perempuan mana yang tak sumringah senyum dan hatinya bila diberikan bunga oleh seorang laki-laki yang juga disukainya? Seorang tomboy seperti saya pun mungkin akan menyukai bila diberi bunga, bahkan bila saya tak menyukai orangnya.

2. Kalimat Manis
Puisi dan teman-temannya adalah bagian dalam melancarkan aksi mereka. Mereka akan berusaha menaklukkan sang perempuan dengan kalimat manis, entah dari mulutnya langsung atau dari untaian kalimat yang mereka tuliskan.

3. Tak Kenal Putus Asa dan Culas
Ya, kata putus asa tak pernah ada dalam kamus hidup mereka. Bila belum diterima, mereka akan terus berusaha dan bila mereka menemukan lelaki lain yang notabenenya juga menyukai sang perempuan, sifat culasnya pun semakin terasah. Seperti yang telah saya katakan di atas, mereka akan menghalalkan berbagai cara untuk menaklukkan perempuan incarannya. Selengkapnya di sini
.
Playboy
Bicarain playboy, saya jadi teringat sama salah satu lagu dari girl band yang liriknya “Gak, gak, gak kuat, aku gak kuat sm playboy. Gak, gak, gak level sama cowok gampangan”. Siapa playboy ini? Sejauh pengalaman saya bertemu mereka, playboy adalah laki-laki yang suka berganti pacar/pasangan. Mereka selalu merasa, ah.. pacarku gak OK, cari baru dong. Tampangku kan OK. Lalu mulailah dia berpetualang, mempermainkan hati banyak perempuan. Ya, hanya sebatas bermain hati tanpa melakukan penetrasi seksual.

Misalnya seorang teman, sebut saja R. R ini berasal dari keluarga broken home. Saya mengenalnya sejak duduk dibangku SMP. R  ini berperawakan cukup tampan dengan senyum manis, juga hidung mancung. Dalam hal pendidikan, ia pun cukup pintar. Sebagai anak kedua, keluarganya pun ia yang mengurus terlebih setelah sepeninggal ayahnya. Waktu sekolah dulu, cukup sering ia berganti-ganti pacar. Alasannya ya gitu, pacar pertama gak Oklah, lalu putus dan cari pacar kedua. Selanjutnya, ada juga playboy yang buat perempuan itu seperti barang koleksi. Jadi dia punya lebih dari satu pacar.

Menurut saya pribadi, dari pada di pacari sama playboy, mending gak usah deh. Atau bagi sudah yang terlanjur “jadian”, putus saja. Dan yang paling OK adalah lebih baik Jomblo dari pada makan hati sama si playboy ini. Ngapain juga kan berharap sama playboy, toh mereka Cuma bs PHP (Pemberi Harapan Palsu). #saveJomblo #okesip hehehe…
Terus, playboy ini kapan tobatnya ya? Hm… Pasti ada dong ya, toh tiap manusia memiliki rasa jenuh sama sifatnya sendiri. Seperti R yang sudah kapok jadi playboy dan sekarang lebih berkonsentrasi sama pekerjaan dan adiknya.

Perayu Maya
Sebelumnya saya telah menuliskan napak tilas sang penakluk hati perempuan di dunia nyata. Bagaimana dengan dunia maya? Cekidot ya bro/sist…

Perayu maya adalah seorang laki-laki yang melancarkan serangan rayuannya kepada perempuan melalui media internet. Rayuannya itu tak Cuma sekali atau dua kali, kalau dia udah suka sama seseorang, pasti akan mengejar terus. Yang namanya perempuan normal, kalau sudah dirayu terus-terusan sekalipun melalui media internet, siapa sih yang ‘gak luluh? Kata-kata cinta pun diumbar hingga sang perempuan incaran takluk padanya. Dan jika si perempuan sudah jatuh cinta pada si perayu maya ini, dia tak peduli bagaimana bentuk si lelaki. Cinta? Ya… dari sinilah cinta itu dimulai.

Yang namanya cinta, pasti diikuti sama rindu, kan? Biar dibilang Cuma cinta maya, kalau udah cinta, tetap saja cinta. Perasaan yang bermain di sini. Perasaan saling membutuhkan itu pasti ada. Cinta maya ini sungguh merepotkan. Kalaulah masing-masing bertukar nomor telepon, mungkin bisa terobati kerinduan itu, ditambah dengan adanya fasilitas Yahoo Massanger (YM) dan Skype yang bisa menampilkan gambar masing-masing. Cintanya memang maya, tapi kalau interaksinya intens begini, tentunya tak ada masalah. Cintanya Maya, Sakitnya Nyata jika kedua insan ini belum pernah bertemu tapi sudah saling cinta.

Yang disayangkan adalah masing-masing pasangan memanfaatkan teknologi ini bukan hanya untuk saling melihat ekspresi wajah, tapi juga mempertunjukkan bagian-bagian tubuh tertentu. Owalah… ini dia yang menjadi masalah. Bukan hanya yang muda saja, bahkan yang dewasa pun masih melakukan chat sambil men-share gambar daerah pribadinya. Oia, jika pembaca mendapati komentar begitu tentang saya, sekalian saya konfirmasi di sini, bahwa itu adalah FITNAH. Saya tak pernah melakukan hal tersebut dengan siapa pun. #skiptentangini.

Ada juga perayu maya yang menjadi Scrammer, tak jarang mereka memanfaatkan perempuan itu untuk meminta sejumlah uang, tentunya menggunakan alasan cinta. Selengkapnya silahkan lihat tulisan bunda Fey tentang Scrammer.

Sang perayu maya di Kompasiana juga ada. Terlepas dari hanya candaan/keseriusannya, dia hobi sekali menebar paku dalam setiap komentar. Jangankan yang muda, yang tua aja diembat. Hehehe.. ini yang lucu. Mau merayu, kok gak lihat-lihat dulu siapa yang dirayu? Kadang rayuannya itu sok nginggris. Maksud hati mau bilang, hai sweety… eh malah tertulis hai sweaty. Hehehe… saya sarankan, kalau mau merayu pakai bahasa inggris, baik-baik belajar bahasa inggrisnya. Karena, niat merayunya itu langsung kelihatan dari penulisan kata rayuan yang salah itu, walhasil rayuannya itu ‘gak bakal digubris deh sama si perempuan. Kalau mau mendapatkan hati perempuan incaran, gunakan cara-cara yang manis dan sopan dan jangan kasar. Bukannya mendekat, yang ada si perempuan langsung kabur.

Kalau saya bilang sih, tak ada enaknya menjadi Don Juan, Playboy, dan Perayu Maya terutama bagi kami kaum perempuan. Yang namanya perempuan normal itu, paling cepat deh jatuh cinta sama seseorang kalau sudah termakan rayuan, apalagi rayuannya itu intens. Dan ketiganya berpotensi merugikan fisik sekaligus menyakiti hati kami, para perempuan yang sempat menggunakan cintanya untuk Anda.

Kembalikan kepada diri Anda masing-masing, Anda juga memiliki saudara perempuan. Nah,, bagaimana jadinya kalau saudara Anda yang disakiti oleh lelaki berperangai sama seperti Anda? Sakit, tidak? Selamat berpikir! [Auda]

[Review] Natu Savon Kose Cosmeport, Refresh Your Day with Apple & Jasmine

Hai Beauties. Kembali lagi ke blog saya yang kali ini masih akan membahas skin care. Namun, sedikit berbeda dari biasanya. Kalau...