Rabu, 26 Maret 2014

Tahun 2014 Masih Tak Punya Email. Apa Kata Dunia

13957719541787915324
http://www.creativeeducation.co.uk/
Kemarin, seorang teman menghubungi saya. Tanpa salam – kebiasaannya – langsung bertanya, “Di mana Kau? Buatkan aku email, diminta sama orang asuransi. Malu kali aku hari gini masih ‘gak punya email.” Katanya. “Nantilah di rumah, aku gak bawa laptop sekarang.” Jawab saya.
Sebelum mengakhiri telepon, ia berkata, “tolong ya Da. Mesti besok harus udah ada.”

Sesampai di rumah, saya malah kebingungan. Kenapa mesti saya yang buatkanemailnya? Kan dia punya laptop dan juga SUDAH BEKERJA. Masa’ iya sih masih ‘gak ngerti internet?
Baiklah, saya sms saja dia dan mengatakan kalau saya sedang tidak memiliki kuota internet. Saya tak bermaksud berbohong, kok. Cuma, saya ingin mengajarkan dia supaya dia mau menolong dirinya sendiri.

Ketika saya tengah menonton tv tadi malam, tiba-tiba dia kembali menelepon saya. Lalu dia bercerita panjang lebar tentang email itu yang dibuatkan oleh teman kantornya.
“Akhirnya, Emailku tadi dibuatkan sama kawan kantor, Da. Kalau gak ada, gawatlah.” Ujarnya lega.
“Kok dibuatin orang sih? Smartphonemu mana? Kan bisa kau buat sendiri.” Kesal saya.
“Ih… macam gak tau aja kau. Dari dulu kan aku memang gak ngerti buat email, Da. Waktu kuliah, beberapa kali dibuatin teman kuliah. Habis pakai sekali, terus lupapassword. Ganti email baru, gitu saja dan selalu dibuatkan sama orang.” jawabnya lagi
“Ya Tuhan… Kau udah kerja, lho! Masa’ udah kerja masih gak ngerti internet? Mau jadi apa kau?  Kukira sekarang udah bisa.” Lirih saya.
“Emang gak ngerti aku, Da. Facebook aja dulu joinan sama mantan.” Katanya lagi
“Tapi, email itu mudah, lho! Kemarin malah kau gaya minta ajarin twitter. Kukira kau udah punya email. Kau kan kerja. HP canggih, masa’ bisa gak update gitu sih? Jadi, isi HP kerenmu itu apalah? Tanya saya lagi.
“Cuma bisa sms dan telepon, BBm lagi gak aktif, gak dikasih pacarku.” Sambungnya.
“Jual aja smartphone kau yang 3 biji itu, kau beli HP biasa aja yang bisa telepon dan sms.” Mulailah saya ngakak :D
“Jangan ketawa aja kau. Ajari aku ya! Mamaku di HPnya punya Path, Kakao Talk, We Chat. Malu kali aku, ah!”
“Sip. Ke rumah aja. aku ada di rumah, kok. Tak lama, teleponpun terputus - tanpa salam - #duh!

*

Itu tadi cerita tentang sobat saya di sini, yang sudah bekerja, tapi masih tidak mengerti penggunaan internet.
Mengapa ia sampai tak mengerti tentang ini?
Si sahabat tadi memang kurang mengerti akan sosial media dan selalu maunya TERIMA BERSIH tanpa mau berusaha mencari tahu. Yang dia tahu di internet hanyalah, mencari tugas di google, print, selesai.
Jangankan twitter dan blog yang belum ia punya, facebook saja pernah dibuat oleh mantan pacarnya untuk mereka berdua.

*

Lalu, apa yang ingin saya katakan di sini? Saya Cuma ingin mengatakan, jangan dulu melihat media sosial yang banyak semisal Path, facebook, twitter dsb, tapi lihatlah terlebih dahulu ke email. Bahwasanya sebuah email yang memang mudah dibuat di zaman kekinian ini, sangat dianjurkan untuk dimiliki oleh setiap orang. Mengapa? kalaudi sini, dikatakan memang email ini sangat bermanfaat. Selain itu, sejauh pengamatan saya, guna email juga untuk :

1. Buat anak kuliah –> dosen saya meminta tugas dikirim lewat email.

2. Buat pencari kerja –> daftar lowongan pekerjaan dapat kita ketahui dengan cepat, ketika kita telah meregistrasi email kita ke web penyedia lawongan.

3. Masih bagi pencari kerja –> Lamaran pekerjaan tersebut, - baik di dalam, maupun luar kota – tak jarang yang meminta surat lamaran kerja, CV, dll dikirim melalui email.

4. Buat yang sudah bekerja –> mempererat hubungan dengan relasi adalah suatu keharusan. Namun, terkadang dikarenakan kurangnya intensitas pertemuan, juga agak segan untuk menghubungi/menelepon langsung, fasilitas email ini sangat nyaman digunakan, lho. Jangankan untuk say Hi, untuk membicarakan sesuatu yang penting juga bisa.

5. Buat yang ngeblog seperti kita di Kompasiana ini –> Sejauh pengamatan saya,email ini mutlak diperlukan dan tentunya sangat berguna untuk melihat notifikasi/komentar di tulisan kita.
Sebentar, kalau ada yang mengatakan serta ingin menyederhanakan percakapan saya di atas, masih bisa saya maklumi, kok. Hanya berbekal kesoktahuan yang luar bisa langsung berkata semisal, “karena bisa saja orang yang kurang melek internet punya alasan sendiri, untuk tidak buang2 waktu secara percuma di dunia maya”.

Tidak ada lagi istilah buang-buang waktu secara percuma di dunia maya di tahun 2014 ini, lho! Bagi yang masih tidur, AYO BANGUN!!! ini zaman sudah super canggih, toh? Selain dampak negatif internet seperti cyberbully dan penipuan, internet ini tentunyabermanfaat bagi yang bijak menggunakannya.

Internet baik sekedar email, adalah sesuatu yang mutlak diperlukan bagi setiap orang sekarang ini. Selain kelima manfaat email yang saya sebutkan di atas, email ini juga diperlukan dan juga digunakan bagi peserta asuransi, seperti kata teman saya di atas yang mengatakan bahwa petugas dari asuransi mobilnya meminta email. Mengapa sampai diminta email? Petugas asuransi itu berkata, “nanti kalau ada informasi produk dan layanan, kami bisa menginformasikannya segera ke pelanggan lewat email.”

See? Betapa bergunanya sebuah email, kan? Bukannya bermaksud apa-apa, kok. Cuma, sangat disayangkan jika  masih tak punya sebuah email. Tahun 2014 masih tak punya email. Apa kata dunia? [AZ]

Selasa, 11 Maret 2014

Jadi Penulis, Jangan Ad Hominem!

1393968151158488055
ferdifauzan.blogspot.com
Sebagai seorang yang kerap berinteraksi dengan sesama, saling adu argumen adalah suatu hal yang terhitung biasa. Sesama teman di dunia nyata yang sudah saling mengenal saja, kita sering berselisih paham karena masalah yang bisa dikatakan sepele, semisal kita dan beberapa teman berbeda opini tentang menilai sesuatu. Kalau sudah begini, masing-masing kepala akan mempertahankan argumennya dan kalau sudah kalah (walaupun tak mau mengaku), tak jarang salah satunya malah mengatakan hal-hal yang menyangkut ranah pribadi lawan “debat”nya. Tentunya ini sangat mengganggu, bukan? Nah, itu tadi contoh kejadian di dunia nyata. Bagaimana dengan di dunia maya?

Jadi Penulis, Jangan Ad Hominem!

Dunia maya adalah dunia yang sangat dekat dengan kita di zaman kekinian ini. Bahkan, oleh sebab begitu mudahnya mengakses berbagai situs portal media dari ponsel pintar yang kita miliki, sehingga memicu kita menjadi bodoh. Tak usah jauh-jauh lihat di tempat lain, di Kompasiana ini juga banyak, kok. Malah pusing sendiri penulis lihatnya.
Bodoh yang penulis maksudkan di sini yaitu, ketika kita (komentator) telah capai hingga kehabisan kata-kata dalam beraduargumen, tiba-tiba kita mulai AdHominem. Biasanya, setelah ucapan kita tadi, otomatis si lawan debat tadi akan diam, bahkan enggan melakukan perlawanan apa-apa lagi oleh sebab ranah pribadinya telah dilanggar.
Argumentum AdHominem sendiri dapat diartikan secara bebas sebagai suatu upaya menyerang pribadi lawan debat. Sesat pikir ini terkadang dilakukan ketika kita menyepelekan orang lain, entah karena sombongnya kita hingga tak mau menjawab pertanyaan orang atau ada pemicu lain. Contohnya, “Mbak itu kan perempuan, berjilbab, dari daerah A. Jadi, jagalah kelakuannya.” Atau, ketika seseorang membela apa yang dianggapnya benar, tiba-tiba dia divonis sesat, menganut mazhab tertentu dsb. Nah, yang seperti ini juga pernah penulis dapati, kok. Tuduhan bodoh tak berdasar seperti ini, sudah penulis screen shoot, lho!

See?

Hemat penulis, komentar di atas adalah kebodohan mutlak yang dimiliki oleh seorang  penulis. Mengapa? Biasanya yang mengatakan demikian adalah seorang yang bila dikritik kemudian tak bisa membalas kritikan, malah si AdHominem ini digunakan sebagai senjatanya. Dilihat dari contoh diatas misalnya, ini adalah bentuk diskriminasi juga,lho!
Pertanyaan saya:
1. Kelakuan mana yang mesti dijaga?
2. Perempuan, berjilbab dan dari daerah A, dilarang menyampaikan kritikan, begitu?
3. Sejak kapan hal-hal demikian menjadi pemicu seseorang untuk diam dan tak boleh berpendapat?
*
Adalah kesesatan pikiran ini yang harus dijawab oleh para pengusung “Teologi Horor” AdHominem. Bahkan, Pasal 28 UUD 1945 saja mengatakan, ”Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”. Mungkin saja berdasarkan bunyi pasal di atas juga Kompasiana ini hadir, toh? #CMIIW

Jadi, bagaimana cara menghilangkan si Ad Hominem ini?
Simple, kok!

Berpikirlah dengan kepala dingin dan berusaha menempatkan diri, “gimana ya kalau saya (penulis) menjadi pembaca? Pasti kalau ada yang dirasakan sedikit mengganjal, saya juga akan menyampaikan kritik kepada orang itu.”
Jadi, dengan berpikir sehat demikian, kita juga akan termotivasi untuk menghilangkan si AdHominem tadi. Terlepas dari serius atau tidaknya kita menulis di sini, kebiasaan ini baiknya tak usah dipelihara karena sesungguhnya, menjadi seorang AdHominem tentunya bukanlah sifat dari seorang penulis.
*
Penulis percaya, bagi seseorang yang memiliki jiwa melayani apalagi yang memang menyukai hal-hal berbagi seperti menulis, sudah tentu berjiwa besar dalam menghadapi gempuran dari pembaca. Masa’ iya sih kita penulis (apalagi penulis profesional) bisa kalah dari Angel Lelga di Mata Najwa tempo hari?
Menulis ya silahkan menulis saja. Jikalau diberi kritikan hingga memicu sebuah perdebatan panjang, ya silahkan saja. Namun, alangkah lebih bijaknya kalau hal-hal (debat) semacam ini jangan sampai mendorong kita untuk melakukan perbuatan bodoh sampai mau membuang-buang waktu menyerang “sisi lemah” si lawan. Belum lagi yang menyempatkan waktunya membuat tulisan balasan. Toh bagi si pengkritik bijak, bila sudah dijawab secara bijaksana, ia juga akan diam dengan sendirinya. Jadi, kita (pembaca) tak perlu marah-marah sampai menggosip ke sana ke mari menceritakan bahwa baru saja dikritik.
Mau jadi penulis lurus dan ikhlas mentransfer ilmu bagi pembaca atau malah mau mendiskreditkan pembaca yang bersebrangan dengan kita, sih?  [AZ]

Tulisan Terkait:

Sabtu, 01 Maret 2014

Sebab Aku Bukanlah Perempuan Suci

Auda Zaschkya feat. Febby Litta
13936071761106508752
http://surgabidadari.blogspot.com
***
Ia tak menginginkanku. Menurutnya aku hanyalah perempuan hina, tak sesuci dirinya, sang pangeran tak berdosa, hingga tak sedikitpun ia mau melihatku. Padahal ketika ia tengah merangkak, si hina ini yang merangkulnya, mendengar keluh kesahnya saat tak seorangpun mempercayai ucapannya. Tak sadarkah ia? Lupakah ia pada perempuan ini?” Tanyaku pada Tuhan saat Qiyamul Lail, kemarin malam.
***
Tanpa basa basi, sepulang kerja sore kemarin, aku langsung bergegas menuju istananya, hingga  tanpa sadar, aku terlupa untuk berganti seragam sales sebuah produk kosmetik ternama yang tengah kukenakan. Aku kegirangan hingga kurasakan gemuruh di dadaku.
Bagai mendapati durian runtuh, selentingan kabar yang mengatakan bahwa ia telah kembali ke kota ini, membuat airmataku menetes. Bagaimana tidak? Lebih dua tahun ia meninggalkan kota ini, meninggalkan segala kenangan tentang kami. Ah… sebutlah rindu yang kurasakan, hingga buncahannya tak jarang membuatku menangis, apalagi ketika ia tengah bersyair di akun jejaring sosialnya. Akhirnya Ryan kembali, setelah ia menyelesaikan pendidikan masternya. “Ia akan melamarku? Semoga.” Bisikku dalam hati.
***
Sebelum ia pergi, hampir tiap hari kuhabiskan waktuku bersamanya. Saat itu, aku juga tengah menempuh pendidikan di kampus yang sama dengannya. Benar, Ryan adalah kakak kelasku. Kedekatan kami terus berlanjut sampai ia menyelesaikan dan meraih gelar sarjana. Setelah itu, ia yang begitu ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri, begitu getol mencari informasi mengenai beasiswa. Tanpa diminta olehnya, aku membantu dan menemaninya melakukan penelitian untuk membuat karya ilmiah, salah satu syarat untuk mendapatkan beasiswa magisternya. Dan ternyata ia berhasil mendapatkan beasiswa itu.Ah… senangnya hatiku. Kuanggap itu adalah keberhasilan kami.
Bagiku, Ryan adalah lelaki yang spesial. Cerdas, bertanggung jawab, dan taat beragama.Sejauh pengamatanku, dia begitu berbeda, bahkan jauh berbeda dari beberapa mantan kekasihku sebelum akhirnya kami menjadi dekat. Walaupun hingga saat ini tak ada status in relationship dalam kedekatan kami, namun segala perhatiannya kepadaku, begitu menenangkan. Dia begitu menjagaku dan tak pernah sekalipun menyentuh, bahkan jemariku. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika dia menyentuhku, mungkin aku akan meleleh seperti ice cream dibawah hangat sinar matahari. Bagaimana tidak? Tatapan matanya saja sudah mampu membuatku luluh lantak serasa tak bertulang. Inilah gambaranku tentang kesempurnan lelaki bershio Gemini ini.
***
Di depan pintu rumahnya, jantungku berdetak semakin tak beraturan. Kuketuk pintunya perlahan. Dia membuka pintu, rasanya aku ingin meloncat memeluknya. Oh, Lelakiku…
Kuulurkan tanganku untuk menjabat tangannya. Dibalasnya dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada. Saking gugupnya aku lupa kalau dia menolak berjabat tangan dengan lawan jenis. “Ah, Ryan… Kau masih saja seperti dulu. Masih sangat sopan terhadapku.” Senyumku padanya.
Dibalas dengan senyuman juga. Namun, senyumnya kali ini terasa berbeda. Dia tak menyilahkanku masuk ke rumah, melainkan hanya mempersilahkanku untuk meletakkan pantatku di kursi teras rumahnya.
Aku menanyakan kabarnya, bagaimana dia disana, apa rencananya selanjutnya. Semakin aneh karena dia hanya menjawab seadanya. Tak balik bertanya tentangku juga. Dan dia, tak sedikitpun menatapku.
Ada apa, Mas? Aku merasa ada yang berbeda sedari tadi. Adakah yang terjadi?” berondongku lagi.
Dia terdiam, lalu perlahan menaikkan dagunya lalu berkata, Aku bertemu dengan seorangperempuan yang sama-sama mengambil master di sana. Minggu depan kami akan menikah. Aku harap kau mau datang, ya Dik.” Jelasnya pelan.
Apa? Menikah? Kau jangan bercanda mas. Gak lucu!” kataku kemudian yang tanpa dosa dijawab olehnya, “Aku serius. Aku merasa dialah tulang rusukku. Dia begitu murni, belum tersentuh oleh seorang lelakipun. Terlihat jelas dimataku bagaimana dia nanti bisa jadi Ibu dari anak-anakku. Pasti hidupku akan sempurna.
Mendengar penjelasannya, aku hanya mampu terdiam sembari menangis dalam keadaan menunduk. Tanpa sengaja, akhirnya aku berkata, “kau kejam mas!”
Bukan begitu maksudku. Tak terbesit keinginan di hatiku untuk berlaku kejam padamu. Akuberani berbicara jujur sedemikian rupa sebab aku telah menganggapmu sebagai adikku. Jadi rasanya kau pasti mengerti akan perempuan jenis apa yang kucari. Kaulah yang selama ini paling mengerti, seperti apa aku dan apa mauku, bukan?” ujarnya masih tanpa dosa.
Dadaku terasa sangat sesak. Rasanya ingin menangis di depannya, namun urung kulakukan mengingat rasa malu yang dapat menghancurkan image perempuan tegar yang selama ini disukainya. Namun, tetapku bertanya dalam hati, Benarkah ini lelaki yang kucintai?
“Reni, Kau pasti mengerti keinginanku, kan?” tanyanya.
“Ya… aku mengerti. Bahkan teramat mengerti semuanya. Apalagi dari gelagatmu barusan yang tak mau lagi menatapku,kan? Sebab menatapku sebentar saja bisa mengotori kesucianmu. Begitu, kan?
“Tak begitu. Tapi kumohon, maafkan aku.” katanya lirihmasih tanpa mau berlama-lamamenatapku.
Maafkupun rasanya sudah tak lagi berguna untukmu, Mas. Aku yang bodoh, kok.” Aku menatapnya sembari berusaha tersenyum.
“Maksudmu bagaimana?” tanyanya keheranan.
“Ya. Aku yang bodoh. Aku berusaha keras menjadi seperti perempuan yang kau inginkan.Shalat tak lagi tinggal, lebih sering mengaji, juga berhijab. Selama bertahun-tahun ini berdekatan denganmu, aku sangat menghindari bersentuhan dengan lawan jenis. Juga selama kau tak di sini, aku menjaga diri dan hatiku hanya untukmu.  Sekarang aku mengerti, semua itu tak berguna. Karena bagimu, aku tetap perempuan hina hanya karena aku hampir diperkosa orang. Ah mas… itupun sebelum kita berkenalan dan sampai saat ini, aku masih tetap perawan. Hanya itu yang tak kauketahui.
Kau bukan perempuan hina.” Sergahnya kemudian setelah mendengar ucapan panjangku.
Sudahlah, jangan lagi berbasa-basi. Aku memang hina di matamu. Tak terhitung berapa lelaki yang pernah menyentuh jemariku. Tak terhitung pula, berapa kali aku pernahbertatapan dengan lelaki lain. Ditambah dengan beberapa lelaki pernah mengecup bibirku, tetap sebelum berkenalan denganmu. Perempuan hina ini tak mungkin bersanding dengan lelaki suci sepertimu.”
***
Aku tak sanggup lagi berhadapan dengannya. Sedih, marah, kecewa, malu, sakit hati, berbaur menjadi satu. Aku tak mau menangis dihadapannya. Kulangkahkan kaki dengan cepat demi berlalu dari rumahnya. Dia masih memanggilku, namun tanpa kujawab, aku berlalu secepat mungkin bersama sepeda motorku.
Di jalan, tangisku tertumpah hingga menjerit-jerit tak karuan. Demi menghindari terjadinya kecelakaan, aku yang masih dikuasai emosi, memarkirkan sang kuda besi di pelataran parkai sebuah taman. Kutuju sebuah bangku taman dan duduk di situ. Aku tengah berusaha melenyapkan emosiku di tempat ini sebelum kembali ke rumah menemui ibuku.
Setelah tangisku tertumpah sederas hujan yang tiba-tiba turun tanpa gemuruh sore ini, kuputuskan untuk kembali ke rumah.
“Gimana, Nak? Sudah bertemu dengan Ryan? Dia sudah kembali, kan? Tadi Ibunya menelepon Mama.” Senyum perempuan paruh baya itu.
Senyum perempuan inilah yang seketika melenyapkan emosiku. “Iya, Ma. Dia sudah kembali, kok. Tadi dia bilang akan menikah minggu depan.”
“Maksudmu, ia melamarmu?” Sumringah Mama.
“Bukan, Ma. Ia akan menikah dengan perempuan suci yang ia temui di kampusnya.” Berusahku menjelaskan kepada Mama sembari menahan sakitku sendiri.
“Kok?” Heran Mama.
“Ya, pastinya begitu, Ma. Ya sudah, tak usah bicarakan dia lagi. Yuk kita makan saja.” Sembari kubuka tudung saji.
***
Pukul 03.00 pagi, aku terbangun dan melaksanakan rutinitasku. Setelah melaksanakan urutan Qiyamul Lail dan berdo’a, lalu aku bertanya pada Tuhan. “Tak sadarkah ia akan perbuatan kejamnya padaku? Lupakah ia pada perempuan ini? Seperti biasa, pukul 04.00 pagi pula ia mengirimkan SMS ke ponselku untuk mengingatku agar dapat menunaikan tugasku. Menatap layar ponselku, tanpa sadar, aku menangis lagi.
Menangis dan menyesali kesalahanku adalah yang saat ini semakin sering kulakukan tanpa sepengetahuan Mama. Namun, sampai kapan aku harus begini? “Sudahlah Reni!” Bisik hatiku. Baiklah… Sudah cukup tangisku dan amarahku tertumpah karenanya. Lebih baik, kuurusi hidupku sendiri tanpa pernah berbalik mengharapkannya lagi. Mungkin baginya aku perempuan hina, tapi aku bukan perempuan lemah juga bodoh yang akan meletakkan hatiku untuk diinjak-injak lagi, tidak oleh Ryan, maupun Ryan lain yang nanti akan hadir dalam hidupku.
-TAMAT-

[Review] Vaseline Super Food Skin Serum, bukan Hand & Body Lotion Biasa

Memiliki kulit wajah dan tubuh yang terawat dan sehat, tentu impian kita. Selain itu, anugerah Tuhan yang ada di diri kita, sepatunya mema...