Jumat, 02 November 2018

My Great Passion is a Journalist!

https://www.keepcalm-o-matic.co.uk/p/keep-calm-and-become-a-journalist/

Menjadi seorang wartawati, masih merupakan hasrat terbesar dalam hidupku hingga saat ini. Kadang, aku juga tak tahu mengapa aku begitu mencintai pekerjaan ini. Saat di kampus, aku juga biasa saja dengan IPK 3,2 untuk lulus. Namun keaktifan menulisku, mengarahkanku untuk terjun ke dunia jurnalis, dosenku juga mengatakan bahwa aku cocok untuk menjadi wartawan. Entah mengapa, keinginanku untuk menjadi wartawan begitu besar. Padahal, kalau dilihat dari silsilah keluarga, belum ada dari keluargaku yang menjadi wartawan. Beragam stigma dari mulai gaji yang tak banyak sampai resiko pekerjaan yang tak mengenal waktu, sering terdengar. Rata-rata, mereka semua menjadi guru atau pegawai kantoran. Sedangkan aku?


Baca juga : Investasi Kaum Milenial lewat PRUlink Generasi Baru

Aku tak tahu mengapa, aku tak bisa berlama-lama berada di satu tempat, kecuali berdiam diri di sebuah Kafe sendirian bersama notebook. Tanpa makan, Cuma kopi berkali-kali, cudah cukup untuk menemaniku menjelajahi dunia ini dengan WiFi. Atau berada di toko buku, sembunyi-sembunyi membaca sepintas buku sambil bersandar di rak buku.Itu saja kegiatan yang bisa mendiamkanku. Selebihnya, aku lebih suka bepergian ke mana saja dengan sepeda motorku, melihat sesuatu yang belum pernah kuketahui. Bahkan suatu hari di tahun 2011, entah mengapa, aku ingin sekali pergi ke Berastagi yang cukup ditempuh sekira hanya 2 jam saja jika dengan mobil dari Kota Medan. Padahal siku kiriku saat itu, baru sembuh dari patah dan masih terpasang pen.

Kali ini, aku memutuskan untuk tetap berangkat, walau kupikir akan memakan waktu lebih lama karena dengan sepeda motor. Dua jam perjalanan, aku begitu menikmati pemandangan serta udara yang sejuk, bersama jalanan aspal yang berkelok dan merupakan tanjakan. Sungguh perjalanan itu  luar biasa dahsyatnya bagi seorang perempuan dengan sepeda motor. Sendiri kulewati semuanya hingga sampailah aku di Bundaran Kota Berastagi, yang jika berbelok ke kanan, ke arah Gundaling. Di sekitar itu, aku melihat banyak pedagang buah tangan, terang saja karena Berastagi merupakan salah satu destinasi wisata di Sumatera Utara. Di sana, aku tak membeli apa-apa, hanya beberapa bungkus strawberry. 15 menit di sana, aku pun berbalik pulang, tak lupa mengisi Bahan Bakar untuk sepeda motorku yang tampaknya lelah.

Ketika berbalik arah ke Medan, jalanan yang harus ditempuh, tentu saja turunan. Dan hari pun mulai mendung. Kupikir, ini akan hujan. Pun kalau aku berteduh, aku takut kemalaman. Tanpa mau menunggu, aku pun jalan untuk kembali ke Medan. Sial, tak ada yang mendorong, tiba-tiba aku terjatuh dengan situasi jalanan yang sedang macet. Syukurnya ada yang menolong dan aku pun tak terluka, hanya jaket dan celanaku yang kotor. Kulanjutkan perjalanan, yang tiba-tiba hujannya deras. Tak menunggu lama, aku segera memakai mantel dan terus mengendarai sepeda motorku dengan hati-hati di tengah hujan. Ajaibnya, lebih kurang 1 jam kemudian, aku sampai di Medan. Ini mungkin karena, ketika pulang, aku tak singgah-singgah lagi untuk memotret beberapa tempat. Setelah Berastagi itu, setiap hari, aku berpikir akan ke mana lagi aku hari ini, tapi tidak ke luar kota seperti ke Berastagi, kapok juga jalan jauh sendiri dengan sepeda motor. Kawanku yang orang Berastagi saja marah mengetahui aksi gilaku. Dia bertanya, “nyawamu ada berapa pergi ke kampungku sendirian naik kereta?” (Kereta: sebutan kami di Sumatera Utara/Medan untuk Sepeda Motor).

Baca juga: Xpander Tons of Real Happiness, Hiburan Variatif di tengah Kota Medan

Semakin hari semakin kusadari, menjadi wartawati adalah pilihan hidupku. Tak semata pekerjaan, menjadi seorang wartawati adalah mediaku berlatih agar tak melulu takut dan ragu untuk bertemu dan berbicara di hadapan khalayak ramai. Menjadi seorang wartawati, memuaskan keingintahuanku akan sesuatu yang tak diketahui orang banyak. Dan menjadi wartawati adalah mediaku untuk berinteraksi dengan orang-orang yang bahkan jarang tersentuh media, untuk berbagi kepada khalayak tentang mereka. Setiap hari, banyak tempat baru yang kukunjungi selama menjadi wartawati.

*

Jalanku menjadi seorang wartawan, bukanlah suatu hal yang mudah. Setelah lulus dari D3 jurusan Sekretaris pada tahun 2009 lalu, aku sempat melamar beberapa pekerjaan ke sana ke sini hingga akhirnya di Desember 2009, aku diterima menjadi telemarketing. Sedihnya, dua bulan bekerja, malah tak mendapatkan gaji dengan alasan masih masa percobaan. Jerih payahku sungguh tak ada hasilnya. Kalau boleh jujur, aku sempat down. Februari 2010, aku keluar dari kantor itu.

Beberapa bulan saat masih dalam rangka mencari pekerjaan, aku mengalami kecelakaan yang menyebabkan syarafku mengalami masalah. Beberapa bulan berobat rutin, aku sembuh. Setelah sembuh, aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Kali ini aku mengambil jurusan Komunikasi di salah satu universitas swasta di Medan.

Saat kuliah, aku sempat beberapa kali diterima bekerja sebagai marketing dan telemarketing. Setelah Berbulan-bulan gonta ganti pekerjaan yang bergaji rendah, aku memutuskan untuk berhenti kerja. Aku merasa tak memiliki kompetensi apa-apa di bidang marketing. Akhirnya, aku berniat serius kuliah sekaligus menjadi blogger di blog keroyokan. Tujuanku hanya satu, yaitu berlatih menulis karena aku memang lebih suka menyampaikan maksudku lewat tulisan. Berbekal keterampilan menulis itu ditambah kesukaanku membaca, selesai kuliah, aku melamar pekerjaan sebagai wartawan di salah satu surat kabar lokal di daerahku. Syukur kepada Tuhan, aku diterima setelah dilakukan seleksi.
Awal mula menjadi wartawan, tidaklah mudah. Aku harus terjun ke lapangan sendirian, tanpa didampingi oleh siapapun. Aku diharuskan untuk mencari bahan untuk tulisanku, baik di pasar, loket bus, kafe, dan tempat-tempat ramai lainnya seperti konser atau pagelaran seni lokal. Karena masih baru, aku bertanya seadanya. Melihatku, ada narasumber yang malah kasihan, ada juga yang tak mau diwawancarai. Setelah mendapatkan bahan dan menuliskannya, aku harus menghadapi lagi kritikan dari para redaktur. Saran mereka selalu kuterima meski masih banyak kesalahan dalam tulisanku. Aku mencoba terus bertahan dan terus berusaha memperbaiki tulisanku hingga enak dibaca dan layak ditayangkan di koran. Ini semua karena aku mencintai pekerjaan ini.

9 bulan lamanya masa percobaan dengan upah yang cukup layak, setelah dirasakan cukup, akhirnya aku diangkat menjadi karyawan tetap dengan kenaikan upah. Setelah itu, aku makin semangat menjalani rutinitasku. Aku makin suka menghadiri seminar usaha kecil mengah (UKM) dan pemiliknya. Buatku, sekaligus memberikanku pelajaran tentang  usaha yang melingkupi strategi penjualan hingga cara-cara terbaik untuk mendapatkan omset yang terbilang besar. Aku juga sering bertemu dengan para pelaku seni di kotaku. Ini juga pembelajaran buatku agar semakin mencintai seni. Selain itu, sensitifitasku menjadi semakin terasah melihat beberapa kondisi sosial yang kurang baik. Tak peduli siang atau malam, selama masih bisa bertemu narasumber, semua wawancara, aku selesaikan. Buatku, selama masih bisa, kenapa harus ditunda?
Selain itu, saat perayaan ibadah agama lain, aku menghadirinya semata untuk liputan, melaporkan situasi dan kondisi, serta melihat tata cara mereka beribadah.  Tak sampai di situ, aku mewawancarai para pastor, pendeta, maupun bhiksu. Aku berusaha untuk selalu membina hubungan baik dengan mereka, agar mereka nyaman dan memudahkanku dalam menjalani pekerjaanku. Semuanya kujalani karena cintaku pada pekerjaan ini.
Namun memang, anugerah Tuhan tak dapat ditolak. Jelang dua tahun menjadi  seorang wartawan, aku mengalami kecelakaan yang kali ini tergolong dahsyat hingga patah kaki. Para teman dan narasumber yang mengetahui, semua tak percaya. “Tak mungkin seorang kamu yang begitu energik, ada di sana di sini, liputan ini liputan itu, bisa sakit.”

Sebagai perempuan normal, aku sempat merasakan keterpurukan yang begitu menghancurkan hatiku. Ketakutan merajai pikiranku setahun pertama setelah kejadian itu. Namun hari demi hari, aku berusaha bangkit. Aku terus memotivasi diriku sendiri, “Aku harus sembuh. Aku mencintai menjadi wartawati. Jadi aku harus menempuh segala pengobatan supaya aku dapat memulainya lagi.”

Buat sebagian orang mungkin, setelah mengalami kecelakaan, akan mundur dari pekerjaan ini. Namun tidak bagiku. Aku masih mau melakukan pekerjaan itu karena aku sangat mencintainya. Wartawati mengubahku dari yang tadinya pemalu dan pengecut, menjadi pemberani. Ya, namanya sudah terlanjur cinta, tentu aku tak akan menyerah. Ini pilihan hidupku.


Salam,
Auda Zaschkya

17 komentar:

Retno Kusumawardani mengatakan...

Tetap semangat yaaaa... peluk dari jauh....

Sakinah Annisa Mariz mengatakan...

Kaaak.. D3 Sekertarisnya dimana? Kalau di USU berarti Juniornya suami aku lah..hahaha.
Aku tahu tulisan ini adalah obat penguat. Maka hapuskan kata sedih dan terharu. Mari ganti dengan kata bisa dan kuat. Ayo semangat. Kak auda Hebaat

Auda Zaschkya mengatakan...

Kakak Retno 😘😘😘

Auda Zaschkya mengatakan...

Bukan di USU hehe..
Amin
Makasih, Kina 😘

Rani Sansan mengatakan...

semangat kak .. Allah selalu menjagamu ...

Auda Zaschkya mengatakan...

Amin. Makasih, Dinda..

Unknown mengatakan...

Senang bacanya. Inspiratif. Sehat ya

Yonie Ashari mengatakan...

Ad aj materi yg d tulis. Mesti belajar dari kaka👍

Rima Angel mengatakan...

Keren, aku suka penulisannya dan aku suka perjuangan hidup kamu. Terbaik. :×

Jessica Liani Suwitro mengatakan...

So inspiring!! Love your story. Never gives up hope and one day you’ achieve it

Novi mengatakan...

Waaah semangat beb ya! Aku sempet jadi jurnalis di media tv tapi cuma beberapa bulan aja abis itu pindah karena ga kuat ��

Desy Zulfiani mengatakan...

Semoga kesehatan selalu menyertaimu auda, rezeki jodoh dan maut sudah ditentukan Allah,, sabar dan sukssukses selalu

Positive Mom mengatakan...

Dulu sempat bercita-cita jadi wartawati, tapi saya enggak bernyali,hehe. Saya enggak bisa meyakinkan orangtua saya kalau bekerja sebagai jurnalis dapat menjanjikan. Akhirnya putar setir, tapi sekarang tetap melampiaskan hobi menulis dengan ngeblog. Tetap semangat ya mbak mengejar cita-citanya! :)

Auda Zaschkya mengatakan...

Amin. Terima kasih sudah singgah 😊

Auda Zaschkya mengatakan...

Sama2 belajar yuk, Kak...

Auda Zaschkya mengatakan...

Terima kasih sudah membaca 😊

Ruth Vania Christine mengatakan...

As an ex journalist, It's really touching to see you with all the passion and motivation, just to pursue a career that doesn't work for me. Saya justru nggak pernah bermimpi utk jadi jurnalis, sesimpel krn saya nggak pernah melihat diri saya yg pemalu dan rather introvert bisa mengemban tugas seorg jurnalis. But life happens dan saya direkrut mjd jurnalis salah satu perusahaan media tertua dan terbesar Indonesia.

What I love about the work is, seperti yg Mbak bilang, saya bisa menyampaikan sesuatu kepada khalayak lewat tulisan. Saya memang suka menulis, that's why saat ditawari pekerjaan itu saya akhirnya menyanggupinya. Dan saya merasakan banyak hal seperti yang Mbak rasakan. Senang bisa belajar dan mengenal banyak hal baru, mulai dari berbagai masalah dan isu sosial, juga keberagaman.

Saya juga mengalami, tuh, yg namanya mengunjungi masjid dan pemuka agama saat perayaan ibadah agama yg berbeda dg yg saya anut. Seru, krn kalau nggak jd jurnalis, blm tentu saya akan pernah mengunjungi dan masuk masjid, hehe. Begitu juga tempat ibadah lain. Trus inget saat-saat dikirim utk pergi liputan malam-malam, atau menggarap peliputan yg lokasinya jauh di waktu yg mendadak. Dan deg-degan saat wawancara eksklusif dg tokoh penting, atau adrenalin terkuras saat liputan bencana atau serangan teror. Ah, those unforgettable three years.

Benar kata Mbak, pekerjaan jurnalis itu pun mengubah diri saya yang tertutup, pemalu, dan pengecut menjadi seorang yang lebih berani dan mau mencoba untuk keluar dari zona nyaman. Pekerjaan itu lebih dari sekadar menulis. Semangat terus ya Mbak untuk berbagi cerita dan kebenaran fakta lewat tulisan jurnalistik Mbak! Semoga kebaikan selalu menghampiri Mbak. Salam kenal and thank you for sharing :)

Review Pure Papaya Ointment: Salap dengan Jutaan Manfaat

Kulit kering bagi kita, terutama perempuan, merupakan sebuah masalah. Pastinya, ini akan membuat kita malu, karena kulit kering terseb...