Rabu, 01 Januari 2014

[Monolog Sunyi] Tentang Mereka, Aku, dan Harapanku


Memiliki seorang perempuan yg luar biasa, adalah sebuah keberuntungan yg luar biasa dalam hidupku. Begitu dirindukannya kelahiranku, adalah kehormatan bagiku dati seorang laki-laki yg meninggalkanku sejak 20 tahun lalu. Lelaki yang amat kubanggakan itu, meninggalkan seorang lelaki yg kini telah dewasa, namun sejak kubesar, tak pernah lagi memelukku. 


Tuhan... Seandainya Engkau biarkan lelaki yang harusnya merayakan ulang tahun perkawinannya ke 41 dengan perempuan multi tasking itu bernapas, pasti mereka berdua akan menjadi pendamping si bocah ajaib ini. Pasti lelaki itu akan mendampingiku selalu, dan pastinya akan membunuh mereka yang menyakitu. 



Ah... Tentu saja tidak. Lelaki yang sangat layak kusebut ayah ini tak mungkin melakukan hal yg salah. Eh... Tapi, segalanya bisa saja. Demi Cinta. Demi cintanya kepada putri kecil yang telah dinantikan selama 16 tahun sejak beliau halal menjadi lelaki bagi perempuan senja yg kini tengah terlelap. Namun, Engkau berkata lain, Tuhan. Kau ambil ayahku secepat itu. Hasilnya?



Aku lelah, Tuhan. 


Lelah mencari sesosok tubuh yang juga bisa memanjakanku seperti ayah. Manusia dewasa yang tak segan mengajakku berdiskusi juga tak ringan mulut serta tangannya terhadapku. Aku butuh seseorang itu, Tuhan. 



Baiklah... Kuakui, Aku tak secantik Katrina Kaif, juga kalah manis dari Deepika Padukone, dan pastinya tak seseksi Hayva Wehbe dan Angelina Jolie. Tapi kan Tuhan, Aku baik. Oh.. ok. standard. Ya... walaupun tak sepintar Siti Zuhro, juga tak sekaya Ratu Atut, dan tak semenarik Jenifer Lopez. Tapi, tak salah kan Tuhan, jika kumohonkan seseorang itu untukku. 



Tuhan...Aku Lelah berdebat. Sebelum aku memilh sendiri bahkan sebelum kutuliskan catatan ini, ada saja makhlukMu yang tak mengerti anugerahMu lewat pikiranku yang menurut mereka aneh. Selalu, ujung-ujungnya berdebat. Belum lagi yg tak bosan-bosannya melancarkan rayuannya sehingga membuatku muak. Aku yakin, Engkau mengerti kebutuhanku, Tuhan. Bukan seperti alayer kebanyakan, juga bukan tukang gombal. Ya... seorang dewasa, mampu menyeimbangkan logika dan etikanya. Dan bisa menjadi imamku. Yang paling penting, orang itu bukan mereka yang tak tahu caranya berdiplomasi.


Aku butuh pengganti sosok ayah yg telah mendewasakanku, juga kakak laki-laki yang mengawasiku, dan perempuan enam puluh tahunan yang mengajariku menjadi perempuan mandiri. 

Tuhan... Aku tak bermaksud mempersonifikasikan sosok lelaki yang kubutuhkan dengan sosok ayah, ibu, juga kakak laki-lakiku. Aku tahu bahwa keduanya berbeda. Yang aku butuhkan adalah dia yang sifatnya seperti keluargaku, mampu menopangku

Harapku, dia yang kumau juga seperti mereka. Mampu membangunkanku saat kuterjatuh. Bukannya manja, ya Tuhan... Namun, tak dapat kunafikan, aku selalu membutuhkan keluargaku walaupun aku sudah terlatih mandiri.

Tuhan... Kusadari bahwa aku memang bukan sosok sempurna. Namun, jika Engkau tak berkeberatan, kumohonkan, Berikan seseorang itu untukku. Seseorang yang memiliki intelektualitas dan kecakapan yang juga mampu mengajariku. Dan yang pasti, dia mencintaiMu juga, Tuhan.

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...