Sabtu, 21 Januari 2012

Aktualisasi Diri “Tercela” Dari Sang Jobless

Seperti yang kita ketahui bersama, Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan bantuan serta apresiasi dari orang lain lewat aktualisasi dirinya, entah orang itu jobless atau tidak.  Jobless sendiri menurut saya sih tidak memiliki pekerjaan, baik pekerjaan tetap ataupun sebagai pekerja lepas harian.

Wajar kiranya hal ini terjadi mengingat kita selalu berhubungan dengan orang banyak baik secara langsung maupun tidak. Secara langsung bisa terjadi ketika kita berhadapan langsung dengan orang, tidak langsung bisa terjadi seperti kita dikompasiana ini, “sharring, Connecting”. Tentu sesuai motto Kompasiana. Kali ini Saya tidak menuliskan tentang kehidupan kita di kompasiana ini, tetapi saya ingin menceritakan kejadian yang saya alami sendiri.
1327155215505428572
para pencari kerja image-google
Suatu ketika di malam minggu, bersama ibu saya pergi ke tempat penjualan durian. Seperti biasa, ketika kita hendak membeli barang di pasar atau kaki lima, pasti sebagai pembeli kita menawar harga dan terjadilah proses tawar menawar harga antara ibu saya dengan sang penjual durian. Ketika sedang sibuk menawar harga, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki berusia sekitar 50tahunan. Beliau sibuk mempromosikan durian yang sedang ditawar oleh ibu saya, “ini manis loh bu, jamin lah harganya. Bla..bla…”. terus terang saya risih akibat kehadiran beliau. Toh ini durian bukan punya beliau kok, kok malah beliau yang sibuk promosi?? Hmmm… mungkin jiwanya terpanggil untuk membantu sesama. Baik, kalau untuk alasan ini saya terima tapi kalaupun ia penjual durian juga, yang jadi pertanyaan saya mengapa harus mengurusi dagangan orang lain? Kenapa ‘gak mengurusi dagangannya sendiri??

Saya kesal melihat tingkahnya tersebut, sehingga saya cuma diam saja sembari memikirkan, “bagian mana dari orang ini yang bisa saya cela supaya orang ini tidak ikut campur lagi”. Tiba – tiba, saya melihat bahwa resleting celana jeansnya terbuka, untungnya kemejanya dimasukkan kedalam celana.

Dengan spontanitas saya berkata sambil tertawa, “ jangan sibuk kali urus urusan orang lain pak, resleting celananya itu dinaikin dulu, ‘gak malu apa ya udah banyak ngomong promosiin ini durian tapi resleting celananya aja belum naik”, celetukan saya tersebut berhasil membuat orang – orang dipinggir jalan tersebut tertawa terbahak-bahak dan dengan malunya sang bapak “yang katanya baik” ini pergi ke balik pohon dan tak kembali sampai kami selesai membeli durian.

Ada lagi cerita selanjutnya. Saat itu ibu saya ingin memasang canopy diatas teras rumah. Ibu kan masih sakit dan sayapun belum sempat mencari tukang pembuat canopy tersebut dikarenakan sedang sibuk kuliah. Ada tetangga (jobless) yang katanya “berbaik hati” dengan menawarkan bantuan. Ingin ditolak eh dia tiba-tiba meminjam sepeda motor saya dan bergegas mencari tukang yang dimaksud tersebut. Ibu dan saya pun kebingungan tapi ya sudahlah, toh mungkin dia ingin menolong. Seketika ia kembali dengan membawa sang tukang canopy tersebut, setelah transaksi tersebut usai, tiba-tiba si lelaki yang katanya “berbaik hati” tadi meminta upah kepada ibu saya.

Walau agak heran, tetapi ibu sayapun berjanji akan memberinya jika canopy selesai dipasang. 2 hari kemudian canopy selesai dan si lelaki tadi sedang keluar kota sehingga belum sempat kami berikan upahnya. Kemudian saya memberikan uang tersebut kepada ibu mertuanya dan tiba-tiba sang adik ipar yang notabenenya sesama jobless mungkin merasa terpanggil jiwanya untuk membela sang abang ipar (sesame jobless) dan tiba-tiba mengirim SMS bernada kasar ke ponsel saya. Kalau sekiranya uang yang saya berikan kurang dan minta tambahan kan tinggal bilang, tak perlu kiranya harus dengan SMS kasar. Ibu sayapun berang dan saya mencegah ibu pergi kerumah orang tersebut, pun ibu sakit. Tak lama, ibu tetangga tadi yang meminta maaf kepada ibu dan saya.
1327154509236524170
lebih baik diam daripada ngurusin orang - google image
Dari kedua contoh yang telah saya paparkan diatas, mungkin memang benar adanya jika dikatakan mereka tidak memiliki kesempatan untuk bekerja. Dan Sesama makhluk sosial memang sepantasnya kita mendapatkan apresiasi dari orang lain baik jobless ataupun tidak yang tentunya ini dapat disalurkan melalui aktualisasi diri yang kita lakukan. Memang saling tolong-menolong merupakan perbuatan terpuji, tetapi alangkah baiknya jika kita tahu menempatkan diri dan jangan suka asal memposisikan diri. intinya sih jangan asal bicara dan jangan sampai membuat orang lain tersinggung. Lebih baik anda Diam daripada menambah list musuh toh?? Bijaksana ya kalau mau ngomong …

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...