Kamis, 18 Juli 2013

“Kesetiaan” Para Kader kepada Partai Politiknya di Hadapan Media

1374032566728251459
Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)
Kesetiaan terhadap seseorang  yang memberikannya kenyamanan adalah hal yang wajar untuk dilakukan. Konon lagi terhadap instansi atau partai yang mewadahinya untuk menyampaikan aspirasinya terhadap suatu hal yang dianggapnya benar. Bila orang lain menjelek-jelekkan partai tempatnya bernaung, maka orang tersebut pasti akan membela partai tersebut.

Fahri Hamzah misalnya, yang begitu getol dalam pembela partainya ketika kasus suap impor daging sapi menimpa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di mana mantan presiden partai tersebut yang bernama Luthfi Hasan Ishaaq, akhirnya menjadi terdakwa bersama Ahmad Fathanah. Saat itu, Fahri Hamzah sangat vokal menyuarakan opininya dalam menghadapi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Johan Budinya. Itu untuk di PKS. Bagaimana dengan partai lain? Pasti ada, bukan?

*

Citra Partai Demokrat terus “meroket” kiprahnya dengan adanya kasus korupsi yang melibatkan sejumlah elit partai tersebut. Partai penguasa sejak 2004-2014 ini sempat mengusung slogan anti korupsi di awal kepemimpinannya. Ternyata, slogan tinggalah slogan dan korupsi pun dilakukan juga.

Seperti yang kita ketahui, dari kasus korupsi wisma atlet yang dilakoni oleh Angelina Sondakh bersama Muhammad Nazaruddin yang telah dipenjara, hingga Andi Malaranggeng dan Anas Urbaningrum yang telah meletakkan jabatan “manisnya” di Partai Demokrat, hingga adanya dana yang mengalir ke Edhie Baskoro Yudhoyono menurut pengakuan Yulianis.

Jangankan PKS, PD pun memiliki “pahlawan”, bukan? Sebut saja pengacara kondang Ruhut Sitompul dan Sutan Bhatoegana Siregar yang merupakan politisi dari Partai Demokrat.
Mereka terkenal di berbagai media akibat pembelaan yang begitu ksatria atas  setiap tuduhan/sangkaan miring terhadap Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan Partai Demokrat.

Ternyata bukan mereka saja yang memberi kesan sebagai ujung tombak Partai berlogo bintang Mercy tersebut. Tentunya adalagi, dan kali ini yang ingin saya soroti adalah seorang perempuan.

*

Bagi penikmat dunia perpolitikan tanah air, nama Andi Nurpati bukanlah sosok yang asing lagi. Perempuan kelahiran Macero Wajo, Sulawesi Selatan 47 tahun silam ini sekarang menjabat sebagai wakil sekjen Partai Demokrat yang juga ikut merasa gerah terhadap sejumlah pemberitaan yang terus menyudutkan partainya.

Pada wawancaranya, Andi Nurpati mengatakan bahwa partainya sering menjadi bulan-bulanan media, dimulai dengan adanya cemoohan untuk Pak SBY. Selanjutnya, bila ada kader dari Partai Demokrat yang korupsi, pemberitaannya berbeda dengan partai lain, padahal porsinya sama namun pemberitaannya lebih banyak menyerang partainya. Masih diwawancara tersebut, Andi mengatakan bahwa ada kepentingan politik pihak pemilik TV, misalnya Pak Karni Ilyas pernah ditantang, ILC tvOne mau gak nyiarin dengan tema Lapindo? Selengkapnya di sini

*

Pertanyaan sekaligus pernyataan Andi Nurpati ini sebenarnya agak membingungkan bagi saya pribadi yang awam dengan dunia politk tanah air. Analisa dangkal saya pribadi menimbulkan pertanyaan, akankah acara ILC (Indonesia Lawyer Club) menayangkan tentang kasus Lapindo?

Mungkinkah?

Tentu masih segar dalam ingatan, adanya seorang bapak bernama Hari Suwandi bersama Istri dan cucunya yang berjalan kaki dari Sidoarjo ke Jakarta guna bertemu dan meminta ganti rugi. Seperti yang tertulis di www.dalangpolitik.com, dia melakukan aksi dan orasi di depan Wisma  Bakrie. Kepada wartawan yang mengerumuni, Harimenyatakan bahwa dia melakukan aksi jalan kaki Sidoarjo-Jakarta sebagai protes tidak tuntasnya ganti rugi kepada warga korban lumpur Lapindo sesuai dengan Peta Area Terdampak, sesuai dengan Perpres 14 Tahun 2007. Tentunya ini menyedihkan.

Kemudian secara mengejutkan, tiba-tiba Hari Suwandi ada di salah satu acara tvOne mengatakan bahwa ia menyesali perbuatannya karena dia merasa dianggap sebagai tameng/alat oleh beberapa orang. Akhirnya Beliau meminta maaf kepada Aburizal Bakrie dan keluarga dengan tampang sedih. Ada apa itu?

Jika sudah demikian, mungkinkah kasus itu diangkat lagi di ILC?  Kalau logika saya mengatakan :
1. Acara ILC itu kan berada didalam stasiun TvOne.
2. Bersama http://www.viva.co.id/, TvOne ini dimiliki oleh Aburizal Bakrie.
3. Aburizal Bakrie adalah capres dari Partai Golkar yang mana berperan besar terhadap kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo tersebut.

Atas ketiga hal dan video di atas, maka saya simpulkan bahwa permintaan tersebut adalah hal yang keliru. Bagaimana mungkin acara ILC tvOne bisa mengusung tema Lapindo sementara Aburizal Bakrie adalah sang pemilik stasiun TV tersebut serta memiliki peran besar terhadap kasus Lapindo?

Jika acara ILC itu tak ada lagi di tvOne, mungkin baru akan ada tema tentang lumpur lapindo, secara kasus ini makin berkembang seiring dengan iklan politik Aburizal Bakrie di tvOne.

*

Kesetiaan Fahri Hamzah, Ruhut Sitompul, dan Sutan Bhatoegana kepada partainya adalah sebuah kewajaran yang sangat mungkin terjadi, apalagi untuk ibu Andi Nurpati. Beliau adalah seorang perempuan di mana biasanya seorang perempuan lebih mampu menunjukkan solidaritasnya terhadap sesuatu yang telah dipilihnya. Sosok Andi Nurpati yang setia ini juga mengingatkan saya akan sosok Rustriningsih yang tak dicalonkan oleh PDIP pada pilgub jawa tengah beberapa bulan yang lalu. [AZ]

Tidak ada komentar:

Review Pure Papaya Ointment: Salap dengan Jutaan Manfaat

Kulit kering bagi kita, terutama perempuan, merupakan sebuah masalah. Pastinya, ini akan membuat kita malu, karena kulit kering terseb...