Sabtu, 13 Juli 2013

Antara Aku, Kau, dan Pluralisme Negeri Ini (2)


Oleh : Auda Zaschkya


Hey kamu yang selalu bersemayam di hati, kapan kamu kembali? Aku ingin bercerita padamu akan kemuakanku pada seseorang yang terus menggangguku, tepatnya mantan kekasih sang don juan, Riko. Mungkin benar, sebelumnya memang salahku biarkan Riko menemaniku hariku. Namun sejak adanya perempuan itu, aku tak ingin mengenal Riko lagi. Dan itu memang telah ku lakukan. Jangankah sepatah kalimat, sepotong kata pun tak pernah lagi ku dengar darinya, segala akses Riko untuk menghubungiku telah ku tutup, karena aku menghormatimu. Dan aku percaya, bahwa maafmu pun akan selalu tercurah padaku jika hal ini langsung kau ketahui dariku.

***

Aku sangat mengenalmu, tentunya kamu tak tertarik akan ceritaku tentang Riko dan perempuan itu, bukan? Ya... Aku tahu, kamu lebih tertarik kepada status regional negeri ini yang masih sering muncul akibat perang saudara yang sepantasnya tak perlu mereka lakukan. Jangankan kamu, aku pun heran, mengapa mereka seolah-olah menghalalkan darah orang lain yang berbeda opini dengan mereka? Di mana jiwa kemanusiaan mereka, bila meminum darah orang lain bagaikan minuman segar yang diteguk setelah seharian menjalani ibadah puasa Ramadhan? Entah apa yang mendoktrin mereka sehingga mereka merasa dirinya sebagai makhluk tersuci di dunia. Jika diingatkan, bukannya berterima kasih malah hujaman caci maki akan langsung terlontar dari mulut ringan mereka.

Adalah hal terpuji bagi mereka, bilamana dapat menebar caci maki bagi sekelompok orang yang menurut mereka telah salah. Menurut mereka yang berdiskusi denganku, pikiranku dangkal. Piciknya mereka sehingga membuatku diam dan terus meringis dalam hati. Pada mereka, aku hanya mampu berkata bahwa alangkah lebih bermoral sekaligus berpahala bila orang-orang yang mereka anggap melakukan kesalahan, disadarkan lewat berbagai diplomasi saja, bukannya malah menempuh jalan konfrontasi yang notabenenya merugikan orang lain Padahal sejauh ingatanku, kita sebagai sesama manusia yang diutus Tuhan Yang Maha Kuasa di muka bumi ini, harus saling mengingatkan. Setahuku juga, Tuhan tak pernah menyuruh kita untuk menyakiti orang lain baik melalui lisan maupun tulisan, bukan? Apalagi menghalalkan darah mereka.

Mengapa harus melegalkan main hakim sendiri jika aparat masih mengayomi masyarakatnya? Atau mengayomi itu hanya sebuah status? Dari yang aku lihat dari sebuah video, adalah benar bahwa seorang yang mengaku pengayom itu berada dibalik mereka yang membubarkan paksa diskusi yang tengah berlangsung saat itu.

Ah... Sesungguhnya, hal seperti ini sangat memprihatikankan bagiku. Bagaimana anak bangsa ini bisa bersatu, jika egoisitas masing-masing kelompok masih terus dipertahankan? Kemudian, dangkalku juga berpikir, bagaimana kita mau dikatakan bangsa yang maju, jika doktrinisasi itu masih memenuhi pikiran mereka? Katakanlah mereka lupa atau bahkan tak mau peduli akan pancasila dan UUD 1945, namun apakah mereka dengan mudah melupakan sang pencipta? Sang pencipta tak pernah menghalalkan darah orang lain untuk diteguk, bukan? Memangnya darah orang itu boleh dicoba-coba?

Mungkin bagi pikiran mereka yang telah diracuni oleh kebencian terhadap suatu kelompok,  menganggap caci maki itu benar dan harus dilakukan sebab perintah agama. Setahuku, agama mana pun tak pernah mengajarkan kebencian, bukan? Agama itu mengajarkan kita untuk berpikir dan memperkaya diri lewat keanekaragaman budaya yang ada, bukan hanya memikirkan bagaimana memberangus kelompok minoritas dengan tanpa rasa bersalah.

Sadarkah kita bahwa kemiskinan pikir ini yang membuat bangsa ini makin tertinggal jauh, bahkan dari negara tetangga yang notabenenya negara kecil bahkan miskin kebudayaan dan sering mengakui produk kita. Alangkah lucunya anak bangsa ini, jika produknya telah diakui negara lain, baru disitulah tiba-tiba rasa nasionalisme itu terpanggil, lalu kelompok mayoritas pun seakan melupakan masalah internnya dengan si minoritas dan berseru, “produk dalam negeri dicuri pihak luar, mari kita rebut kembali.” Apatah artinya jika memperlihatkan pada bangsa luar bahwa kita bersatu? Padahal di dalam negeri, kebobrokan moral masih terus terjadi!

***

Mungkin bagi kebanyakan orang, pikiranku “nyeleneh” bahkan cenderung gila. Selama tak ada kamu di sini, ibuku yang menjadi “korban”ku. Beliau dengan sabarnya mendengarkan retorikaku. Beliaupun tak menyangka bahwa anak perempuannya masih sempat memikirkan nasib negeri ini di saat kondisi anaknya ini tengah sakit.

“Sudahlah nak, pikirkan dirimu. Jangan bebani dirimu dengan status pekerja sosialmu terus. Ibu tahu, kamu itu memang lebih banyak memikirkan orang lain dari pada sakitmu sendiri, padahal kamu itu sedang tak bisa berpikir yang berat seperti itu, bukan?” ujar ibuku. Jika ibuku telah berkata demikian, aku pun tak bisa berkat-kata lagi. Padahal dari sorot mata ibu pun, beliau mengecam aksi brutal anak negeri ini. Namun, beliau tak bisa berbuat apa-apa selain tetap diam di atas tangisan hatinya.

Aku tak sanggup membebani ibu dengan bicaraku yang mungkin akan panjang. Maka dari itu aku membutuhkanmu di sini, sebagai lawan retorikaku tentang negeri ini. Diskusi seperti biasa mampu kita lakukan, tanpa koma, tanda tanya dan tanpa tanda seru, atau bahkan yang sengit sekalipun. Besar harapku, semoga retorikaku ini segera menjadi wacana bagi mereka di parlemen sehingga stabilitas regional negeri ini akan lebih baik kualitasnya. Demikian juga, pikiranmu akan menyalak. Mungkin kamu benar-benar sudah muak dengan situasi di sini, makanya kamu mengambil pekerjaan di negeri orang.

***

Dan hal itu, juga memuakkanku, apalagi bila harus menantimu. Namun memang tak ada yang mampu ku lakukan demi permintaan hatiku ini. Hatiku bersikras menunggumu.

Menunggu kembalimu adalah kesepianku, namun tak mengapa sebab bagi hatiku, adamu berbanding terbalik dengan Riko. Pikiranmu yang cukup luas, mampu mengendorfin langkahku untuk tetap tegar jalani hariku sendiri di sini sebagai pekerja sosial di negeri ini, walau aku harus berjuang juga dengan sakitku.

Bukankah aku sudah pernah mengatakan, “Adalah kau yang tetap bersemayam di hati, dan menunggumu di sini adalah keinginan kita. Saling menghargai adalah falsafah dalam hubungan kita, suatu perpaduan yang dilandasi oleh kebutuhan akan jiwa sosialku dan pemikiran filsafatmu.”

*
Sebelum sahur,  12/07/2013


gambar dari sini 


Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...