![]() |
| https://www.viva.co.id/ |
Berbicara tentang kesehatan reproduksi,
memang tiada habisnya. Apalagi di negeri ini, segala sesuatu yang berhubungan
dengan seksualitas dan reproduksi, masih tabu untuk diperbincangkan di hadapan
khalayak luas. Padahal kalau didiamkan terus, ini semakin berbahaya,
khususnya bagi anak usia sekolah dan remaja, yang belum terlalu paham artinya
seksualitas dan kesehatan reproduksi. Belum lagi mereka yang tak mengerti soal
seks ini. Berbekal penasaran dan video porno, melakukan seks bebas, apalagi berganti-ganti
pasangan. Bisa menyebabkan penyakit berbahaya, misalnya Infeksi Menular Seksual
(IMS) seperti gonore, sifilis dan klamidia, ataupun virus HIV/AIDS.
Selain itu, tentu kita pernah mendengar
dan membaca tentang seorang perempuan yang masih dibawah 20 tahun, sudah punya
anak lebih dari 2, bukan? Jangankan sudah melahirkan 2 anak, perempuan yang
hamil di bawah usia 20 tahun, masih sangat beresiko. Misalnya, bisa terjadi
kematian ibu dan bayi atau bayi yang lahir adalah prematur. Tentu masalah tak
hanya sampai di sini. Kesiapan mentalnya juga patut diperhatikan. Kita pernah
mendengar juga bahwa banyak ibu yang punya anak di usia bawah 20 tahun,
mengalami masalah depresi hingga ingin bunuh diri.
Hal-hal yang disebutkan di atas, tentu
juga menjadi perhatian Mariana Yunita Hendriyani Opat, yang gigih melakukan
edukasi tentang kesehatan reproduksi (Kespro), setelah melihat anak dan remaja
di Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang belum tahu tentang hal ini, apalagi di
antara mereka, belum mengerti tentang pubertas, menjadi korban kekerasan
seksual dan masalah reproduksi lainnya. Di tahun 2016 itu, dia tergerak untuk
mendirikan Tenggara Youth Community, sebuah komunitas independent.
Sejak saat itu, bersama komunitas ini,
Mariana aktif membersamai para remaja yang berasal dari kelompok miskin,
marginal, social excluded, dan underserved. Jadi terhitung 8 -- 9 tahun ini,
dia pergi ke banyak tempat seperti sekolah-sekolah, pasar, hingga geraja, baik
di kota, maupun sampai ke pedalaman Pulau Timor, mengingat di pedalaman, susah
mendapat akses pendidikan tentang kesehatan reproduksi ini. Tak sekedar misi
edukasi yang dibawanya, tetapi juga misi advokasi kepada anak dan remaja ini, agar
mereka dapat waspada dalam melindungi tubuhnya sendiri.
Perempuan yang biasa dipanggil Tata ini,
mengajak masyarakat adat dan para tetua di sebuah kampung misalnya, untuk
memberi hukuman kepada pelaku kekerasan seksual. Sayangnya, di kampung, hukuman
tak bisa dijalankan, karena sering adanya kesepakatan damai. Miris sekali ini.
Seharusnya kekerasan seksual tersebut, tidak dimaklumi dan para pelaku
kekerasan seksual ini dihukum, demi mengedukasi masyarakat juga agar dapat
menghilangkan patriarki yang selama ini tanpa sengaja terbangun dan tidak
melindungi perempuan. Dampak patriarki ini sangat merugikan perempuan.
Tak sampai di situ, bersama komunitas
pemuda Tenggara di kampung Neke, Kabupaten Timor Tengah Selatan yang juga
peduli dengan masalah kesehatan reproduksi, dia mendirikan Bacarita Kespro,
yang merupakan ruang diskusi tanpa tabu tentang seksualitas. Mereka juga
mengikutsertakan para tokoh agama setempat, juga menyentuh kearifan lokal dalam
upaya memberikan edukasi, sehingga pendekatan ini, dirasakan akan lebih
berhasil, karena dekat dengan anak dan remaja di lokasi tersebut.
Perlahan, semakin banyak anak dan remaja
yang mengerti tentang kesehatan reproduksi tubuh mereka sendiri. Dengan
demikian, hingga kini, program ini telah mengajak ribuan remaja dari puluhan
komunitas di seluruh Nusa Tenggara Timur. Komunitas ini juga berkolaborasi
dengan BKKBN, Komisi Penanggulangan AIDS dan Woman for Indonesia.
Kegiatan dan program yang dimulai
Mariana di Nusa Tenggara Timur dengan gigih ini, menjadikannya layak
menjadi penerima penghargaan dari Satu Indonesia Awards pada tahun 2020, di
mana sebaiknya juga diikuti oleh daerah-daerah lain, apalagi yang
kekurangan akses pendidikan dan informasi, agar semakin banyak anak dan remaja
yang lebih waspada dan mengetahui tentang kesehatan reproduksi.
Daerah lain juga harus semangat
bergerak, agar semakin banyak masyarakatnya yang tertolong, agar ketidaktahuan
para remaja yang sudah ada, tak kembali berulang. Sedih sekali rasanya
mendengar anak atau remaja yang hamil di luar nikah, dikeluarkan dari sekolah.
Padahal mereka masih harus mengenyam pendidikan.
Semangat mengedukasi ini tak hanya bisa
dilakukan oleh orang muda saja, tetapi para orangtua juga harus turut aktif
dalam mensukseskan program kesehatan reproduksi, guna meningkatkan kesadaran
awam agar para anak dan remaja perempuan khususnya, tak menjadi korban
kekerasan seksual.

0 Komentar