Menonton Jawan Menangkap Realita Politik Negeri Sendiri
6/recent/ticker-posts

Menonton Jawan Menangkap Realita Politik Negeri Sendiri


https://www.newsbytesapp.com

Entah ini film Shah Rukh Khan yang keberapa yang saya tonton, tetapi Jawan, film Bollywood yang diperankan oleh Shah Rukh Khan sebagai aktor utama dalam peran ganda, adalah film yang paling membekas dalam ingatan saya. Pasalnya, setelah menontonnya di bioskop, ketika filmnya tersedia di platform streaming, saya tonton lagi dan lagi. Jelas ini dikarenakan, selain sebagai penggemar SRK (panggilan akrab untuk Shah Rukh Khan), film ini tidak hanya menempatkan saya sebagai penonton atau penggemar, tetapi juga sebagai seseorang yang ikut larut dalam perjalanan emosional karakter yang diperankannya.

Saya mengagumi karakter awal SRK sebagai Azad, seorang sipir penjara perempuan. Azad adalah sosok yang terlihat tenang, cerdas, dan penuh kendali. Namun perlahan, film ini membuka lapisan demi lapisan luka masa lalu yang membentuk dirinya. Bersama para gadis yang masuk penjara karena kebijakan dari para koruptor, ternyata, menyusun rencana untuk membongkar kebusukan-kebusukan penguasa, yang juga ternyata menyebabkan ayah Azad hilang, awalanya dikira sudah meninggal dunia. Ayahnya adalah seorang tentara yang difitnah oleh penguasa pada masanya. Ibunya dipenjara, lalu mati digantung---bukan karena kejahatan, melainkan karena fitnah yang dibiarkan menjadi kebenaran oleh kekuasaan.

Di titik inilah, Jawan berhenti menjadi sekadar film aksi bagi saya. Kisah tentang keluarga dan orang-orang pintar dan baik, yang hancur oleh kebohongan politik terasa terlalu nyata. Terlalu dekat dengan realitas yang sering kita dengar,m di negeri ini, atau  bahkan kita alami sendiri.

Saya menonton Jawan di bioskop. Duduk di ruang gelap dengan layar besar dan suara menggelegar. Di tengah adegan serius tentang ketidakadilan dan kemarahan rakyat, tiba-tiba terdengar suara dengkuran dari bangku belakang. Tak lama kemudian, aroma autan menyebar pelan di udara dingin bioskop. Aneh, tapi nyata. Dan entah kenapa, momen kecil itu justru terasa simbolis.

Di satu sisi, film ini sedang berteriak tentang sistem yang rusak, korupsi, dan kebijakan yang menghancurkan hidup banyak orang. Di sisi lain, realitas tetap berjalan seperti biasa---ada yang tertidur, ada yang sibuk melindungi diri dari nyamuk. Seolah-olah tidak semua orang terjaga, meski masalahnya nyata dan dekat di kehidupan sehari-hari. 

Jawan memang bukan film yang halus. Ia marah. Ia keras. Tapi kemarahan itu terasa jujur. Seperti demo yang terjadi berkali-kali di negeri ini. Tentu hal itu bukanlah  kemarahan kosong, melainkan kemarahan yang lahir dari ketidakadilan yang dibiarkan terlalu lama, sehingga membuat rakyat muak.

Bagian yang paling membekas bagi saya adalah latar penjara perempuan. Penjara, yang biasanya digambarkan sebagai tempat hukuman dan keputusasaan, justru menjadi ruang kesadaran. Para perempuan di dalamnya tidak digambarkan sebagai korban pasif. Mereka memahami betul bagaimana sistem bekerja, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang selalu dikorbankan. Seperti yang sudah saya bilang di awal, para perempuan yang membantu Azad, adalah korban dari kejahatan para koruptor.

Penjara dalam Jawan terasa seperti simbol yang kuat. Bukan hanya tentang ruang fisik, tetapi tentang masyarakat yang dikurung oleh kebijakan tidak adil, oleh korupsi yang dibiarkan, dan oleh kekuasaan yang lebih sibuk menjaga kepentingannya sendiri. Tampak jelas di beberapa adegan, tokoh penguasa ingin meluaskan kekuasaannya, demi menambah uang dan bisnisnya. Ironisnya, justru dari ruang yang paling terpinggirkan inilah (penjara perempuan), keberanian dan perlawanan muncul.

Film ini juga menyinggung persoalan yang terasa sangat akrab di banyak negara: petani yang terlilit utang, layanan publik yang dijanjikan namun tak pernah benar-benar hadir, serta elite politik yang tetap aman meski kebijakan mereka merugikan banyak orang. Demokrasi terdengar indah di pidato, tetapi sering terasa hampa dalam praktik.

Saat menonton Jawan, saya sulit untuk tidak membandingkannya dengan realita perpolitikan di negeri ini. Mungkin konteks dan sejarahnya berbeda, tetapi polanya terasa sama. Rakyat kecil selalu diminta bersabar, diminta memahami, diminta berkorban dan diiming-imingicdengan janji palsu.  Sementara mereka yang berada di lingkar kekuasaan, seolah selalu punya ruang aman dan melegakan karena banyak uang.

Tokoh utama dalam film ini tidak digambarkan sebagai pahlawan tanpa cela. Ia adalah produk dari sistem yang rusak---seseorang yang memilih jalan ekstrem karena jalur keadilan yang seharusnya tersedia sudah tidak lagi bisa diandalkan. Jawan tidak menawarkan solusi sederhana. Film ini hanya menunjukkan apa yang terjadi ketika ketidakadilan dibiarkan terlalu lama.

Di tengah film, dengkuran itu masih terdengar. Bau autan masih samar. Dan saya kembali berpikir: mungkin beginilah dunia bekerja. Ketika sebagian orang berteriak tentang ketidakadilan, sebagian lainnya memilih tidur. Ketika ada yang marah, ada pula yang memilih tidak peduli. Mungkin juga, ketidakpedulian itu adalah bentuk kelelahan dan sudah terlanjur muak atas korupsi tapi tak bisa berbiat apa-apa sebagai rakyat. Padahal, pajak rakyat yang dimintakan setiap saat, seharusnya menjadi hak rakyat juga.

Ketika Jawan masuk ke platform streaming, saya menontonnya kembali. Kali ini tanpa dengkuran orang lain, tanpa bau autan. Namun justru terasa lebih berat. Tanpa gangguan, pesan film ini terasa lebih telanjang, karena saya menontonnya dengan serius dan saya menangis berkali-kali ketika nenonton adegan yang bikin hati menjerit.

Bagi saya, Jawan bukan film yang meminta penonton untuk menyetujui semua tindakannya. Film ini mengajak kita bertanya---tentang siapa yang sebenarnya dilindungi oleh negara, tentang mengapa suara rakyat sering kali baru dianggap penting ketika situasi sudah terlanjur kacau.

Mungkin Jawan hanyalah sebuah film. Namun kemarahan dan rasa muak yang ia tampilkan terasa terlalu nyata untuk diabaikan. Dan setelah menontonnya, saya justru bertanya pada diri sendiri: apakah yang kita saksikan di layar benar-benar fiksi, atau justru cerminan dari realita yang selama ini kita hadapi---sementara sebagian dari kita memilih untuk tetap terlelap?

Posting Komentar

0 Komentar