Rabu, 07 Desember 2011

Cerita Fiksi Tak Berhubungan Dengan Agama dan Kesusilaan

Membaca tanggapan atas karya fiksi yang dihubungkan dengan agama yang sempat ramai di jagad kompasiana ini, saya tertarik untuk menuliskan pandangan saya sendiri.
13232632401067573344
image - google
Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah Apakah yang dimaksud dengan fiksi? Menurutayotulis.com, Fiksi adalah karya sastra yang mengungkapkan realitas kehidupan sehingga mampu mengembangkan daya imajinasi yang memiliki sifat tidak dapat dibuktikan kebenarannya dalam kehidupan sehari-hari karena fiksi ini hanya merupakan hasil rekaan. Dari pemaparan di atas, fiksi tersebut teramat jauh kaitannya dengan agama.

Berikut sedikit saya sajikan pengalaman saya tentang fiksi dan agama. Maaf, disini saya bukan curcol a.k.a curhat colongan, tetapi hanya sekedar sharing kepada sesama kompasioner.
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat menjalin hubungan dengan seorang pria (ya iyalah pria,,lo kira gw lesbong,, gw normal cin ^_^ hahaha..). Baik, kita kembali ke topik. Sebutlah sang pria bernama Bagus. Bagus adalah sosok pria yang baik dan agamis, seorang calon perawat. Mungkin ia adalah sosok dambaan para muslimah untuk dijadikan suami di masa depan. Pada saat itu saya juga berfikir, ya sudahlah mungkin bagus memang yang terbaik yang dianugerahkan Tuhan untuk saya yang mampu menjadi imam saya nantinya.

Dia menerima saya baik dari segi fisik maupun sifat saya. Namun lama kelamaan saya menemukan suatu ketidak cocokan dengannya. Memang, ia menyukai hobi saya menulis namun untuk mencari berita dan menyajikan  berita tersebut kedalam sebuah reportase ia amat keberatan (ia tak suka bila saya mencari berita). Dan bila suatu saat saya bersamanya, saya dilarang untuk bekerja ataupun berkegiatan diluar rumah. Saya berfikir, ini gila. Capai – capai saya sekolah dan dibiayai sekolah oleh orang tua dan kakak saya sampai D3 bahkan sekarang saya sedang melanjutkan S1 pada program komunikasi yang memang menjadi minat saya bila nantinya saya hanya berkutat dirumah. Tentu ini bertentangan dengan keinginan saya.

Pernah suatu ketika, saya membacakan puisi yang berjudul “Kutancap Cinta di Selangkanganmu”karya seorang kompasioner, yang sudah jelas ini hanya karya fiktif.  Apa yang terjadi? Dia amat tidak menyukai karya tersebut. Ia marah-marah, Lalu dia membawa Agama ke dalam obrolan kami, dan saya diceramahi lagi tentang agama. Apapun yang saya lakukan jika salah dimatanya selalu Ayat suci Al-Qur’an dan Al-Hadist yang diketengahkan. Saat itu saya Cuma mengatakan, ini puisi.

Fiktif hanya karangan. “Kamu tau ‘gak sih kalau ini Cuma tulisan? Pandanglah ini sebagai seni, kamu sendiri ‘gak pernah bisa buatnya karena fikiranmu ‘gak berkembang Cuma seputaran kegiatan kampus, rumah dan Mesjid”. Sekali lagi saya katakan, itu Cuma fiksi dan dia terus-terusan memojokkan karya tersebut. Saya mengatakan, “biarlah orang berimajinasi, sekalipun itu liar toh puisi saya juga ada yang mungkin menurutmu liar”. Dia tidak setuju bahkan semakin marah. Lalu keluarlah kalimat saya “ Kau kira Kau dibuat dimana dan Keluar dari mana kalau bukan dari Selangkangan mama mu?”. Jelas, dia marah mendengar ucapan saya tersebut dan mengatakan lagi tentang agama. Saya bosan diceramahi tentang agama. Tak lama setelah itu, saya menyudahi hubungan kami karena ada suatu hal yang tak layak kiranya jika saya ungkapkan disini.

Kemudian status Facebook nya sempat mengatakan “Paling tidak suka dengan cewek / akhwat / mahasiswi yang pakai parfum lumayan lebay. “Maaf, aku bukan suami mu, yang halal menikmati aroma mu”. Lalu saya mengomentari status tersebut, itu sudah jelas hak mereka sebagai perempuan, kalau kamu ‘gak suka ya cukup diam dan tidak perlu berkomentar. Lalu temannya mulai mengatakan khusus ditujukan kepada saya,  Auda : Siapa saja perempuan yang memakai minyak wangi, kemudian ia keluar lalu ia melewati suatu kaum (orang banyak) supaya merekamendapati (mencium) baunya , maka dia itu adalah perempuan zina” (Hadits ini hasan shahih diriwayatkan Imam Ahmad (4/414),Abu Dawud (4173),Tirmidzi (2786),An-Nasa’I (8/153). What,,,, Perempuan ZINA ??

Baik, saya akui saya memang tidak tahu mengenai hadist tersebut. Dan saya mengatakan, “begini ya, yang saya maksudkan adalah tidak perlu ikut campur akan urusan orang lain. Belum tentu diri anda sebagai sang pengkritik lebih bersih dari yang dikritik. intinya urus saja urusan anda sendiri’.

Dan ia menyambung, “ kita hidup tidak sendiri”. Saya jawab, “memang kita hidup tidak sendiri tapi tetap saja tidak etis rasanya jika anda mengomentari urusan orang lain, itu urusan pribadi sesorang dengan Tuhan.
Dari perbincangan kami di status facebook nya tersebut, telah jelas terlihat bahwa kami memang berbeda tentang pandangan hidup. Entah saya yang katanya terlalu modern, entah pun dia yang terlalu kolot.

Fiksi sendiri terdiri dari Puisi, Novel, Cerpen atau Prosa. Namanya juga Fiksi yang memang murni Cuma khayalan sang penulis. Mungkin kita sebagai pembaca karya tersebut akan merasa masuk di dalamnya bahkan sempat terbawa akan alur ceritanya. Namun, pada kenyataannya fiksi tetaplah fiksi, tak layak kiranya bila kita menyangkutpautkan antara sang fiksi tersebut ke dalam kehidupan nyata, apalagi ke dalam agama. Atau menyebutkan sang penulis fiksi adalah pemain dari fiksi yang diceritakannya.
Fiksi. Ya,, selamanya akan menjadi fiksi. Lihatlah fiksi tersebut dengan seni. Maka fikiran anda pun akan lebih terbuka untuk melihat dunia luar tanpa harus terkungkung pada norma agama dan kesusilaan.

Selamat Malam

Auda Zaschkya

1 komentar:

Herry FK mengatakan...

ehm....... tulisan yang berisi dan cukup jelas serta tegas meletakan dimana posisi penulis tentang sesuatu yang menurutnya terlalu berlebihan dapat menempatkan nilai-nilai agama versus seni dalam hal ini tulisan berbau fiksi :) alangkah naifnya jika sebagai manusia yang hidup dikekinian kita tidak bersuaha mencari titik tengah yang paling imbang dalam masalah ini, masalah seni versus nilai agama....

biarkan tulisan dan imajinasi tetap berkembang sesuai dengan melangkahnya imaji, dan biarkan sosok manusia lainnya berekspresi dalam seni sejauh nuraninya bicara......... :) cukuplah agamaku untuku dan agamamu untukmu :) sebagai jembatannya :)

Nice share Auda.. selamat malam :)

Review Pure Papaya Ointment: Salap dengan Jutaan Manfaat

Kulit kering bagi kita, terutama perempuan, merupakan sebuah masalah. Pastinya, ini akan membuat kita malu, karena kulit kering terseb...