Senin, 26 Desember 2011

Refleksi 7 Tahun Tsunami : Banda Aceh – Medan untuk Berobat Kista dan Melanjutkan Pendidikan

Medan, 24 Desember 2011 - 2 Hari sebelum 7 Tahun Tsunami

Kini, Ingatanku sedang tepat berada pada peristiwa memilukan di minggu pagi 26 Desember 2004. 7 tahun yang lalu gelombang Tsunami meluluh lantakkan kota kelahiranku. Sebuah kota di ujung pulau Sumatera. Kota yang menyimpan berjuta kenanganku bersama mereka para sahabat dan keluargaku, Banda Aceh tercinta.
13247157541908727983
Pusat Kota Banda Aceh - google
Bersama ibu kami tinggal disebuah rumah yang berjarak sekitar 4 km dari pantai yang berdekatan dengan makam Syiah Kuala. Pada pukul 07.58 wib terjadi gempa yang guncangannya cukup keras terasa sekitar 10 menit sehingga semua warga di tempat tinggalku beramai-ramai duduk di atas jalan, tak ketinggalan aku dan ibuku. Gempa pun berakhir dan semua warga kembali ke dalam rumah. Aku melihat bak kamar mandi yang cukup lebar sudah kosong, padahal sebelumnya sudah terisi penuh. Dari situ saja jelas telihat bahwa gempa yang tejadi memang cukup besar, setelah itu terdengar suara riuh dari luar, orang-orang berteriak “air laut naik, cepat tinggalkan rumah, sudah… tak perlu menyelamatkan apapun, Lari !!!!, selamatkan diri”. Serta merta kepanikan menjalari tubuhku serta menambah kesakitanku (aku baru divonis kista dan rencananya akan menjalani operasi 27 Desember 2004). Segera ku tarik ibuku dan lari untuk menyelamatkan diri, 5 menit kemudian bersama warga lainnya kami tiba di sebuah gedung sekolah dan segera naik ke lantai 2. Tak lama kemudian air laut pun menggenangi jalan, dan ya… itulah tsunami terjadi. Kami kelaparan, untungnya ada tetangga kami yang sempat mengambil makanan dari warungnya. Malampun tiba, kami tertidur di kelas sekolah itu dengan ketakutan akibat gempa yang masih terus terjadi walaupun dengan skala ringan. Dan aku harus menahan kistaku sendiri,

Setelah 1 hari mengungsi di sekolah dan air tsunamipun telah surut, aku dan ibu serta warga lainnya berbondong-bondong kembali ke rumah, niat awalnya mau membersihkan rumah dan tentunya kembali tinggal. Sepanjang jalan tergenang oleh lumpur lengket yang menghitam dan itu pula yang aku dapatkan ketika sampai dirumah. Dengan kecewa kami pun kembali kesekolah. Pukul 12.00 siang, salah seorang sepupuku yang kebetulan rumahnya tak terkena tsunami menemukan aku dan ibu yang sedang mengungsi, langsung aku dibawa ke rumahnya dan aku bisa sedikit lega walaupun saat itu pendarahan akibat kista masih menemaniku.

Tsunami yang disebabkan oleh Gempa Bumi Samudera Hindia ini maha dahsyat. Seluruh Banda Aceh dan pantai barat Aceh terkena tsunami bahkan sampai ke beberapa negara tetangga seperti Malaysia, thailand, Bangladesh bahkan juga ke beberapa negara di benua Afrika.
13247174521106062844
tsunami aceh - google
Mengapa kini aku berdomisili di Medan?

Rabu pagi 29 desember 2004, kakak laki-lakiku yang berdomisili di Medan tiba di Banda Aceh, tak lain dan tak bukan bertujuan untuk menjemput aku dan ibu untuk menginap dirumahnya. Saat itu penerbangan Banda Aceh – Medan masih sangat padat, sehingga kami harus menginap lagi semalam di bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh. Pukul 04.30 wib kami berangkat ke Medan, setelah itu pukul 05.30 kami tiba di rumah. Perutku masih teramat sakit oleh kista. Bulan pun berganti memasuki tahun baru 2005. Aku ingin kembali ke Banda Aceh namun sakitku tak mengizinkan. Mulai saat itu, Aku menjalani pengobatan secara intensif dan juga melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 4 Medan.

Memasuki sekolah baru sungguh membuatku malu karena aku salah satu korban dari banyaknya yang selamat dari Tsunami. Teman-teman disekolah baru memanggilku dengan sebutan “Si Aceh” dan mereka juga menanyakan, mengapa namaku tidak memakai “Cut” layaknya Cut Keke atau Cut Tari. Aku menjawab, tak semua orang aceh memiliki nama awal “Teuku atau Cut” seperti Nova Eliza dan Hemalia Putri. 

Memang benar diawal namaku tidak memakai kata “Cut”, tetapi darah Aceh mengalir deras dalam tubuhku. Ditambah lagi dengan keturunan Arab yang menjadi ciri khas masyarakat di kampung halamanku (Arab, China, Eropah, dan Hindia) menjadikan rupaku terlihat berbeda dari masyarakat kota Medan yang aku tinggali kini. Inilah jawabanku atas Pertanyaan yang sering ditanyakan oleh orang disekitarku. Terlahir sebagai seorang puteri Aceh merupakan anugerah terindah dalam hidupku.

13247162161586604466

Banyak sekali korban pada musibah tersebut, kemudian di Bangunlah Museum Tsunami yang diresmikan oleh Bapak Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (2008) di pusat kota Banda Aceh. Kini keadaan kota Banda Aceh telah kembali kondusif bahkan lebih ramai dari sebelum Tsunami walaupun masih sering terjadi gempa disana, semoga ini tak separah dulu dan Semoga musibah Tsunami ini tidak terulang lagi di Indonesia bahkan di seluruh dunia.

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...