Senin, 16 Januari 2012

Pro Kontra Pembangunan Hotel & Mall di Kawasan Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Terdapat banyak pro dan kontra berkaitan dengan pembangunan Hotel Best Western & Mall di Banda Aceh, yang lokasinya berdekatan dengan Mesjid Raya Baiturrahman (Ex. Geunta Plaza). Seperti yang kita ketahui bersama, mesjid ini adalah icon kota Banda Aceh yang dijuluki dengan serambi mekkah.
13266422821503827417
image - www.atjehcyber.net

Pembangunan hotel ini diprakarsai oleh PT. Jakarta Intiland yang akan menelan biaya sekitar Rp 200 miliar dan AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan) pun telah diterbitkan oleh pemerintah kota Banda Aceh walaupun masih ada isinya yang harus direvisi. Terkait dengan hal ini, pemerintah kota dan pimpinan DPRK Banda Aceh juga telah menyetujui dan merekomendasikan pembangunan hotel ini sebab akan berdampak positif bagi perekonomian kota Banda Aceh sendiri seperti yang dilansir olehwww.harianaceh.com. Hal ini senada dengan opini dari teman-teman saya selaku penduduk Banda Aceh melalui penjaringan opini di facebook dan SMS yang saya lakukan.

Opini masyarakat yang pro

Sebagian mengatakan setuju, sebab akan dapat membuka lapangan pekerjaan bagi penduduk Banda Aceh. Salah seorang teman memberikan opininya di SMS, sebutlah namanya Ika.
Menurut ika, dia setuju asal bayar pajak dan turut mengikuti peraturan kota karena dekat dengan Mesjid megah serta bisa menarik wisatawan asing yang berkunjung ke Banda Aceh. Kalau dikatakan takut terjadinya maksiat, dimana saja bisa terjadi maksiat dan untuk mall sendiri, orang belum tentu suka ke mall jadi pasar aceh tetap ada. Yang pasti ini untuk menarik investor agar mau menginvetasikan dana demi pembangunan kota Banda Aceh supaya Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) tidak hanya terkenal sebagai daerah konflik, tetapi juga punya kesempatan untuk menjadi Big City,, untuk menarik lebih banyak investor juga tentunya. Atau tetap menjadi small city yang hanya bisa mengandalkan pemasukan dari Negara, yang sedikit-sedikit rusuh, apalagi belakangan ini timbul lagi penembakan yang entah apa motifnya. Mengapa kita tidak berfikir, mengapa orang aceh kalau liburan minimal pergi ke Medan dan rela buang-buang uang di Medan? Sebab di Medan ada Mall dan kebutuhan masyarakatpun lengkap. Mereka juga belanja di pajak petisah dan pajak ikan lama (bukan mall) yang notabenenya sudah lama ada di Medan. Ika menambahkan, kalau kita mau kota kita maju maka bukalah hati dan marilah menerima tamu. Namun, para pekerja (kayawan) di Hotel dan Mall tersebut haruslah putra putri daerah yang sudah mengenal seluk beluk kota Banda Aceh layaknya Bali atau Hawai.

Seperti ika, Farul juga setuju apalagi design hotel ini bernuansa islami layaknya hotel di sekeliling masjidil haram. Farul juga menambahkan bahwa Aceh International Islamic Hotel tersebut akan menerapkan hal-hal sbb :
1.seluruh karyawan ya mengetahui adanya maksiat dan membiarkannya maka petaka akan menghampiri, Menurut farul ini aman sehingga hotel tersebut terhindar dari syeitan.
2.Seluruh karyawati ya memakai busana standar muslimah. Seluruh maksudnya tertutup kecuali muka dan telapak tangan (layaknya sedang sholat).
3. menyediakan tempat ganti busana bagi non muslim. Seperti yang juga dikatakan ika, ganti busana ini tidak mesti berjilbab tetapi cukup berbusana sopan.
Pesan ika kepada saya, silahkan buat tulisan tentang ini supaya muda mudi aceh bisa berfikir dan terbuka. Sudah hampir 20 tahun ex. Geunta plaza terbengkalai tapi belum dilakukan apapun oleh pemerintah aceh sendiri. Orang aceh juga yang rugi. Selagi ada yang minat dan merasa mampu, beri kesempatan dan pastinya harus disesuaikan dengan syariah islam. Siapa tahu Banda Aceh akan menjadi kota tujuan wisata terlaris setelah bali atau bahkan setingkat bali, karena didukung juga dengan pemandangan alam Aceh yang indah.

Opini masyarakat yang kontra

Dalam suatu hal yang kontoversial seperti ini, selain pro pastinya terdapat yang kontra. Masih dari hasil penjaringan opini dari Facebook dan SMS yang saya lakukan, ada juga yang kontra (tidak setuju) dengan pembangunan hotel dan mall tersebut.
Deni, Nita, Zaki, dan Sayed mengatakan hal yang sama. Mereka tidak setuju BILA lokasinya berdekatan dengan Mesjid Raya Baiturrahman mengingat sejarah Mesjid tersebut.
“Kalau mau bangun hotel, kenapa harus dekat mesjid raya? Kenapa gak cari lokasi laen yang jauh dari mesjid raya? Didalam hotel, paling tidak ada mesumnya kan? Nah,,,, bukankah ini sebaiknya dihindari? Masa’ mau berbuat mesum di depan mesjid icon kota Banda Aceh. Menarik wisatawan sih benar, tetapi jangan disitulah.

Ada mall lagi,, hadooooohh.. masyarakat Banda Aceh ‘gak pernah punya mall di kota ini. Yang ada, sifat konsumtif masyarakat akan membabi buta dan keseringan ke Mall. Coba pikir, Yang terdekat dari mesjid raya kan ada pasar aceh. coba pikir lebih jauh lagi deh, adanya mall itu sendiri akan berdampak bagi pedagang di pasar aceh. Pedagang-pedagang tersebut akan mati usahanya, kan kasian.. mereka Cuma pedagang kecil yang berusaha bekerja dan bertahan hidup serta mencari makan untuk hidup diri dan keluarganya”, begitulah penuturan beberapa responden lainnya melalui Facebook saya.

Dan selepas sholat jum’at (13/1) dikumpulkannya tanda tangan oleh jemaah mesjid raya sebagai bentuk penolakan tersebut, sepeti yang dikatakan sayed “ iya, tadi kami ramai-ramai tanda tangan itu kain putih, katanya 200 meter panjangnya, kain ini sumbangan mahasiswa, pedagang, dan para ormas aceh. Kami gak setuju, kami mau tunjukin bahwa kami gak suka, apalagi IMB (izin membangun bangunan) belum keluar,, yaaa,,, mudah-mudahan gak keluarlah”.
132664181922057499
penandatanganan kain putih - image www.globejournal.com
Masyarakat kota Banda Aceh menolak keras jika pembangunan hotel tersebut di dekat Mesjid Raya Banda Aceh. Menurut mereka alangkah lebih bijak lagi jika pemerintah kota lebih peka akan hal ini seperti yang dimuat dalam http://aceh.tribunnews.com

Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa antara sesama khalayak yang hidup di bumi memiliki berbagai perbedaan. Di dalam perbedaan tersebut tak jarang pula ditemukan suatu permasalah, sehingga Publik dan Opini itu sendiri timbul disebabkan adanya masalah yang dirasakan menarik dan dapat menimbulkan pro dan kontra (Masalah controversial yang dalam hal ini pembangunan hotel dan mall) yang sering dijadikan alasan untuk beropini, Baik secara sehat maupun tidak.

Pro Kontra ini masih berlanjut, Kita lihat saja nanti bagaimana kelanjutan dari permasalahan ini. Hendaknya pemerintah kota Banda Aceh sendiri dapat lebih arif dan bijaksana dalam menyikapinya.

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...