Kamis, 04 Oktober 2012

Tak Hanya Cinta, Aku Juga Butuh Imam di Dalam Hidupku


Rinda adalah nama yang kusandang hingga di usiaku yang kini beranjak 25 tahun. Cukup indah, bukan? Ya,, namaku adalah pemberian dari seorang pria yang telah menantikan kehadiranku ke dunia ini selama 16 tahun pernikahannya dengan seorang wanita tegar yang kini tengah beranjak tua. Mereka adalah orang tuaku yang juga telah memiliki seorang jagoan yang berselisih 15 tahun denganku. Ketika umurku 3 tahun, kakak laki-lakiku itu pun pergi ke luar kota untuk melanjutkan kuliah. Tinggallah aku bersama kedua orang tuaku di kota kelahiranku sampai akhirnya, pria terhebat itu harus meninggalkanku untuk menghadapNya ketika usiaku 6 tahun. Sejak saat itu aku dibesarkan oleh ibu yang selalu memperlihatkan ketegarannya dihadapku.
Tamat SD, aku melanjutkan ke SMP. Disitulah aku baru sadar kalau ada lawan jenis yang menyukai tampilan tomboyku. Riza namanya. Temanku Awan mengharuskan sekaligus memaksaku untuk menerima Riza untuk menjadi pacarku. Demi persahabatan, aku pun terpaksa menerimanya. “Ah,, anak SMP ngapain sih pacaran?”, pikirku saat itu sampai akhirnya aku mengajaknya berteman saja, walaupun dengan berat hati ia harus menerima keputusanku. Selanjutnya aku hanya membiarkan perasaanku begitu saja walaupun kenyataannya aku juga pernah menyukai seseorang setelah itu.
Tamat SMP, aku melanjutkan ke SMA. Di SMA juga tak ada seorang pun yang menarik perhatianku sampai pada akhirnya ada seseorang yang menelepon ke rumahku. ia mengatakan bahwa dia menyukaiku. Setelah kubertanya, ia mengatakan bahwa umurnya 6 tahun lebih tua daripada aku. Keesokan harinya ia datang ke sekolahku dan menunggui jam sekolahku usai. Sejujurnya saat itu aku tak menyukainya apalagi melihat rentang usia kami yang cukup jauh. Namun ia terus mendesakku sampai akhirnya aku diharuskan untuk menerimanya. Seminggu kemudian, aku pun mengikuti abangku untuk tinggal di rumahnya di kota domisiku sekarang. Karena sudah tak memungkinkan lagi bersama, maka aku menghubunginya untuk menyudahi hubungan kami. Dia tetap tidak mau. Ia juga mengatakan akan pindah ke kota ini dan sempat berkata, “dek, kamu itu pokonya harus 5 tahun pacaran sama abang ya, setelah itu kita akan menikah”.
What??? Aku pun semakin ketakutan karena perkataannya dan sempat berkata, “Masa’ sama anak SMA sempat-sempatnya berbicara tentang pernikahan?”. Ia hanya mengatakan wajar, toh 5 tahun lagi usianya akan menginjak 28 tahun. Apapun alasannya, aku tetap ketakutan. Setelah ia mengatakan itu, aku pun benar-benar memutuskan hubunganku dengannya.
***
Rinda namaku. Menurutku aku bukanlah seorang perempuan cantik dan selalu tampil apa adanya bahkan cenderung tomboy, sampai akhirnya di tahun 2006 aku masuk kelas khusus perempuan dimana aku diharuskan bermake-up dan memakai high heels. “Hey,, what the hell it is !!!“. Tapi, berkat kelas neraka itulah aku mampu menjadi perempuan sesuai kodratku. Saat itu aku menjalin hubungan dengan beberapa laki-laki yang usianya tak berbeda jauh denganku. Semuanya berakhir karena keegoisan kami masing-masing.
Tamat kuliah, aku berlibur ke kota kelahiranku. Tanpa diduga, aku pun mengalami kecelakaan yang menyebabkan comma dan mengalami penyempitan syaraf. Setelah itu aku kembali ke kota ini. Aku memulai beberapa pengobatan. Setelah 80 % sembuh, atas permintaan kakak laki-lakiku, aku pun melanjutkan kuliah. Untuk yang ingin melanjutkan kuliah, dapat mengambil kelas sore hari.
***
Di kampus ini aku berinteraksi dengan banyak orang yang telah berumur diatas 26 tahun. Ada juga yang seumuran denganku bahkan lebih muda dariku. Berinteraksi dengan mereka bukanlah suatu hal yang sulit bagiku, mengingat aku yang kadang banyak bicara dan cukup nyambung dengan pembicaraan mereka. Seiring dengan berjalannya waktu  perkuliahan ini, aku jadi semakin tahu bahwa yang aku butuhkan adalah sesosok pria dewasa yang cukup pintar dan dapat mengajariku banyak hal. Saat itu juga aku tak mau lagi menjalani hubungan dengan laki-laki yang sebaya denganku. Makanya setelah putus dari mantan pacarku dulu, aku lebih memilih untuk menjalani hari-hariku dengan berinteraksi dan bertukar pikiran bersama mereka, teman-teman kuliahku.
Sebagai seorang gadis biasa yang pernah patah hati, aku pun tak mau mengalami itu lagi. Makanya, aku cenderung menutup diri dan tak mau ambil pusing dengan urusan hati. Dari pada mikirin hati, mending aku mikirin harga beras, harga tarif listrik atau bagaimana caranya menyelesaikan kuliahku. Aku sempat mengeraskan hatiku, bahwa sementara ini aku tak mau berpikir soal cinta. Mengapa?  Salah satunya ya karena itu tadi, aku tak mau patah hati lagi. Sakitnya benar-benar terasa. Menangis pun sudah cukup sering, namun syukurlah tak pernah ada pikiran untuk mengakhiri hidupku hanya karena patah hati,  seperti yang pernah dilakukan temanku yang menegak racun pembasmi serangga.
Sahabatku bernama Putri pernah berkata ditelepon, “Nda, ada baiknya kamu membuka hatimu untuk mengenal seorang pria”.
“iya nantilah”, jawabku sekenanya.
“kamu gak mungkin hidup sendiri, kamu harus berbagi bersama seseorang. Dan yang pasti mamamu perlu cucu juga darimu”, jelasnya lagi.
“sudahlah, nanti saja itu. Kamu tahu kan gimana rasanya sakit hati, gimana tangisanku ?”. Aku ‘gak mau ngalamin itu lagi Put, aku punya hati yang terlalu perih kalau harus dilukai lagi, lagi pula aku masih kuliah”, kilahku.
“Owalah Nda.. aku tahu rasanya sakit hati, toh aku kan pernah juga nyamperin cowok sialan yang selingkuhin kamu dulu. Belum lagi, kamu pernah pacaran serius sama cowok tapi putus karena ‘gak disetujui sama keluarganya akibat beda suku, tapi Nda kamu butuh separuh hati yang baru untuk menutup luka hatimu yang dulu”, cerocosnya.
Ok, fine ya Put, tapi itu nanti. Untuk sekarang, aku ‘gak mau bermain lagi sama yang namanya cinta. Cinta buatku itu njelimet, bahkan sangat rumit”, tegasku.
“aku tahu Nda, tapi kapan lagi kamu mau mencari salah satu dari mereka? Usiamu udah mau 25, kan?”, carilah sesosok pria dewasa sebagai pengganti ayah dan kakak lelakimu. Aku tahu itu yang kamu buthkan Nda.  Di rumah menulismu apa ‘gak ada yang bisa kamu dekati Nda”, sambungnya.
“dulu sempat ada, ya.. cinta maya kan? sekarang gak ada lagi. Kamu tahu kan gimana hancurnya hatiku karena kaum adam itu?”, sedihku.
“cari Nda, dimana pun itu. Aku tahu kamu butuh pria yang bisa membimbingmu, mengerti keadaanmu, bukan hanya mementingkan fisikmu”, gemasnya padaku.
“sudahlah, aku mau kuliah”, dan terputuslah telepon kami saat itu.
***
Keesokan harinya, aku melaksanakan hobiku. Seperti biasa, aku bergumul dengan wifi di cafe langgananku. Saat itu melalui fitur chatting di facebook, teman Sdku yang telah menikah memanggilku, Tasya namanya. Ia juga bertanya, “ Nda, kapan merid?. “apaan sih, negur aku bukannya nanya kabarku malah nanya merid?”, seruku di chat.
“kalau kamu OL, berarti kamu sehat-sehat aja, ngapain nanyain kabar. Yang aku tanya, kapan merid?”, tanyanya.
“nantilah, aku kan masih kuliah”, kataku. “pacar, mana pacarmu? Jadi kapan nih rencana nikahnya?”, tanyanya lagi.
“gak ada, aku kan sedang melajang. Menikmati kesendirianku”, kataku lagi. “lha, yang hari itu mana, cowok itu yang kamu ceritain ke aku?”, tanyanya. “putus, keluarganya ‘gak mau sama aku karena kita beda suku”, lanjutku.
Sama seperti Putri, Tasya juga menyarankan aku untuk memiliki seorang kekasih yang benar-benar serius. Tanggapanku tetap hangat kepadanya dengan berkata, “iya nantilah ya, mungkin belum sekarang saatnya, tunggu anakmu lahir dulu, kamu lagi hamil, kan? Ya sudah, tunggu calon keponakanku lahir ya”.
“Bener loh, jangan lama-lama lagi, temen-temen kita juga udah banyak yang nikah”,jawabnya. “Insya Allah, jika Dia menghendaki, maka aku pun tak mungkin menolak”,jawabku lagi.
***
Suatu hari ibuku bertanya, “sekarang lagi dekat sama siapa nak?”. “gak ada, ada apa ma”,jawabku. “kapan mau kenalin calonmu sama mama dan abang?”, pertanyaan beliau yang sulit untuk kujawab. “iya nantilah”.
“Saudara sepupumu udah banyak yang nikah, kamu jangan keasyikan sendiri, tamat kuliah kamu harus sudah punya calon dan ingat harus sama yang seiman”, pesan mama.
What?? Tamat kuliah?? Owalah ma,, hatiku yang terluka ini belum ada yang mampu menyembuhkannya, ah.. seandainya mama tahu sudah berapa kali aku patah hati, batinku saat itu.
***
Sejujurnya aku juga tak mau kelamaan berstatus lajang atau jomblo, atau apapun namanya. Hatiku terlalu sakit untuk disakiti lagi, maka biarkanlah aku menikmati kesendirianku sampai Dia memberikan seorang pria yang mampu meluluhkan hatiku dan mampu menerima segala kekuranganku. Aku ingin memiliki sesosok tubuh yang memiliki perangai seperti ayah dan abangku yang menurutku cukup dewasa.
Aku tak mau terpaku pada usia mereka yang harus lebih tua, namun menurutku pria dewasa itu adalah pria yang mapan. Tidak hanya mapan secara materi, tapi juga harus mapan secara emosional serta dapat membimbingku dan menjadi imam dalam keluarga kecilku nanti.
Dan selama aku menjalani hari-hariku, belum ada yang benar-benar menarik perhatianku. Mungkin aku harus bersabar dan menunggu saat indah yang aku impikan. Aku tak ingin gegabah dalam menentukan pilihan, karena bagiku pernikahan itu hanyalah terjadi seumur hidup bagiku. Semoga keinginan hatiku yang satu itu segera terwujud. Amin.

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...