Sabtu, 26 Januari 2013

[Stop Cyberbully] Bullying, Cyberbullying, dan Kematian



Sebagaimana yang kita ketahui, setiap manusia terlahir di dunia ini memiliki perbedaan baik dari jenis kelamin maupun bentuk fisik. Tujuan hidup manusia di dunia ini pun berbeda-beda sehingga ada satu kalimat yang mengatakan Rambut Sama Hitam, hati siapa tahu? Jelas tak dapat di pungkiri, bukan? Interaksi yang dilakukan oleh seorang manusia dengan manusia lainnya (selain keluarga) tentunya dimulai sejak kita masih duduk di bangku TK/SD dimana kita menemukan banyak orang dengan ciri-ciri, perbuatan, pandangan maupun pemikiran yang berbeda dengan kita.

Bullying

Di masa sekolah dasar (SD) misalnya. Jika ada seorang teman yang merasa tersaingi dengan seorang anak atau akibat faktor ekonomi dan sosial lainnya, maka sang teman tak segan-segan untuk membullynya (dengan berkelompok). Misalnya dengan tidak mau mengajaknya bermain bersama, menjadikannya bahan lelucon (tertawaan teman-teman lain) atau pun memusuhinya. Tak menutup kemungkinan jika fisiknya ikut di sakiti.

13591383321195635432
ilustrasi dari http://gayahidup.plasa.msn.com

Selanjutnya pada jenjang SMP dan SMA, seorang anak mendapatkan perlakuan sama bahkan cenderung mengarah ke penganiayaan fisik sebagaimana seorang teman laki-laki saya pernah mengalaminya. Kegiatan bully di SMA yang secara langsung dapat kita lihat adalah di dalam adegan seorang anak introvert yang menjadi korban bully teman-teman sekolahnya hingga menjadikan ia sebagai seorang psikopat dan mati mengenaskan (bunuh diri)  seperti yang terlihat dalam film Ekskul.

Mungkin ada segelintir orang yang mengatakan bahwa kegiatan bullying ini adalah hal yang sepele. Ada yang berkata, “ah, itu Cuma hal biasa, jadi biasa saja deh nanggapinnya, toh demi interaksi sosial dalam masayarakat lah, biar akrab gitu.”
Ucapan apa itusebelum berucap, sempatkah Anda berpikir akan efek yang ditimbulkan dari ucapan Anda? Menurut Anda, seakan-akan bullying itu berdampak ringan. Kalaulah sekali dilakukan, toh mungkin masih bisa ditolerir. Bagaimana bila sering kali? Masih menganggap itu adahal hal sepele juga?

Anda tahu, kenyataannya tidak demikian. Tanpa sadar perbuatan bullying itu menimbulkan dampak negatif yang serius dan fatal. Perilaku tersebut sangat berdampak negatif bagi perkembangan psikologis si korban. Sadarkah Anda? Dan Anda yang melihat atau sedang dibully namun Cuma diam saja, sesungguhnya Anda telah memberikan ruang (bulliespower) bagi si pelaku. Jadi si pelaku tak sadar akan perbuatan tercelanya.

Sebenarnya “aktifitas” bullying yang terjadi di sekolah, sudah menjadi bahan pemikiran seorang Professor dari University of Bergen, Skandinavia sejak tahun 1970-an yang bernama Dan Olweus seperti yang tertulis di sini. Beliau membagi pengertian bullying ke dalam 3 unsur yaitu :

1. Bersifat menyerang (agresif) dan negatif.
2. Dilakukan secara berulang kali.
3. Adanya ketidakseimbangan kekuatan antara pihak yang terlibat.

Dengan perilaku, sbb :

1. kekerasan fisik (mendorong, menendang, memukul, menampar).
2. Secara verbal (Misalnya panggilan yang bersifat mengejek atau celaan)
3. Secara mental (mengancam, intimidasi, pemerasan, pemalakan).
4. Secara sosial, misalnya menghasut dan mengucilkan.

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, ke-3 unsur tersebut selalu diikuti oleh ke-4 perilaku tercela itu yang di alami oleh anak usia sekolah. Sungguh kasihan seorang anak yang semestinya masih harus menutut ilmu namun mendapat perlakuan demikian dari teman-temannya. Sampai sekarang, fenomena ini terus menjadi perhatian  peneliti, pendidik, organisasi perlindungan, dan tokoh masyarakat . Disinilah orang tua harus berperan aktif dimana seorang anak sudah sepantasnya ditanamkan nilai agama dan etika dari rumah supaya tidak menjahati temannya di sekolah.

Cyberbullying

Seiring perkembangan zaman yang diikuti dengan kecanggihan teknologi internet, bullying tersebut pun berubah menjadi Cyberbullying. Cyberbullying merupakan tindakan pelecehan yang dialami seorang anak dimana ia diejek dan dihina melalui dunia cyber. Seperti yang tertulis di sini, pelaku dan korban cyberbullying dianggap valid bila berumur 18 tahun dan secara hukum belum dianggap dewasa. Dan bagi yang telah berusia diatas 18 tahun, kasus tersebut dikategorikan sebagai cyber crime ataucyber stalking (cyber harrasment).

Mungkin Anda telah melupakan kasus cyberbullying yang mengantar seorang anak ke peristirahatan terakhirnya. Sedikit menyegarkan pikiran Anda dimana Amanda Todd (15)  yang meninggal dunia akibat cyberbullying yang dilakukan melalui jejaring sosial facebook. Ia merasa depresi karena mendapati satu akun khusus yang menjadikan foto payudaranya sebagai subjek sekaligus objek. Dan karena gambar tersebut telah tersebar, otomatis Amanda dijauhi teman-temannya. Tak lama pada tanggal 1o Oktober 2012, Amanda ditemukan telah meninggal dunia di rumahnya. Ada sebuah video yang di unggah Amanda ke youtube pada tanggal 7 September 2012 (sekitar 5 minggu) sebelum kematiannya yang berjudul Struggling, Bullying, Suicide, Self Harm, Fighting.

1359138588946104294
http://www.infospesial.net

Seperti yang tertulis di sini dimana disebutkan bahwa Cyberbullying bukan satu-satunya pemicu aksi bunuh diri di kalangan remaja. Biasanya bunuh diri lebih karena didorong oleh bully atau pelecehan di dunia nyata, juga depresi yang ditimbulkannya. Demikian menurut studi American Academy of Pediatrics (AAP) di ajang National Conference and Exhibition belum lama ini. Bisa jadi benar, sebab Amanda Todd selain mengalami cyberbully juga menjadi korban pelecehan di lingkungan sekitarnya, yaitu sekolah.
Jadi dengan adanya kejadian tersebut, masihkah Anda menutup mata dan tak mau tahu dengan fenomena tersebut?

***

Internet ini bukan Cuma “mainan” anak-anak yang sering saya temui di warnet yang menyediakan fasilitas game online. Anda semua juga menggunakan internet, bukan? Di zaman canggih ini, Internet layaknya seperti makanan bagi para pelajar, mahasiswa maupun pekerja. Anda yang sedang mengakses Kompasiana pun telah dianggap dewasa dimana di Kompasiana ini disediakan kolom komentar.

Selama saya berkarir di dunia kompasiana ini, saya pernah menjadi korban cyberbullying oleh orang yang mencoba menjatuhkan mental saya dimana orang tersebut selalu saja berkomentar dengan mengata-ngatai saya sebab ketidaksetujuannya dengan tulisan-tulisan saya atau pun dia selalu menguntit komentar saya dan menyerang komentar saya dengan kata-kata yang tidak pantas. Ada lagi orang yang selalu beradu argumen di postingan saya tapi malah bahasanya yang digunakan tidak pernah bagus.

Untuk si penguntit itu, pernah ada usulan untuk membawa kasus tersebut ke ranah hukum. Sebenarnya bisa saja, Cuma saya biarkan dulu karena kasihan sampai akhirnya si penguntit itu akunnya di suspended admin berkali-kali (dia ganti namanya sampai episode 4), dan setelah dia memiliki akun baru dengan nama lain, ia tidak menganggu saya lagi.
Kasus cyberbullying selanjutnya di Kompasiana ini yaitu adanya inbox kasar yang dilayangkan oleh dua buah akun yang tak bertanggung jawab kepada Bunda Khadijah dan Bang Arke dimana isinya amat kasar, seperti orang yang tidak pernah makan bangku sekolah.

13591386812000848862
http://tokitea.blogspot.com
Dari sini saya mendapati bahwa faktor yang menyebabkan seseorang melakukan cyberbullying adalah :

1. Marah, balas dendam, sakit hati dan frustasi
Bila dirasakan memiliki masalah, ada baiknya masalah itu di komunikasikan.  Jadi tak perlu menggunakan cara tersebut. Toh segala permasalahan masih bisa dibicarakan dengan kepala dingin, bukan?

2. Haus kekuasaan dengan menonjolkan ego dan menyakiti orang lain
Menurut hemat saya, tak ada gunanya membuktikan kehebatan Anda di sini, ini hanya dunia maya. seperti kata teman saya, dunia maya, Just for Fun.

3. Merasa bosan dan memiliki kepandaian hacking
Kalau bosan dan ingin mencari kesenangan, bisa dilakukan dengan apa saja, bukan? toh di komputer Anda memiliki berbagai Game. jika memiliki kepandaian Hacking, ya.. buat saja satu akun sendiri, dan mulailah bereksperiment meng-hack akun tersebut. laebih bermanfaat menambah ilmu Anda dari pada menambah Dosa karena membully orang lain.

4. Untuk Hiburan, menertawakan atau mendapat reaksi
Tertawa di atas penderitaan orang lain? Tegakah Anda melakukan hal demikian? bayangkan jika Anda yang diperlakukan begitu.

5. Ketidaksengajaan, misalnya berupa reaksi/komentar impulsif dan emosional
Jika tak sengaja mengganggu orang lain dan tidak menyakitkan, saya rasa masih bisa ditolerir. Tapi kalau sering dan menjurus melakukan pelecehan, bagaimana? kembali lagi, bayangkan jika Anda atau keluarga Anda yang mengalaminya.

***

Kemudian ada pula yang dengan sinis mengatakan, cyberbullying itu Cuma dialami oleh anak-anak.

Pertanyaan saya, Kata siapa?

Seperti dilansir di Live Science, sebuah penelitian yang dilakukan para peneliti dari Nothingham University dan University of Sheffield di Inggris telah mengungkapkan bahwa para pekerja yang mengalami cyberbully memiliki penderitaan lebih berat bila dibandingkan dengan penganiayaan secara konvensional disebabkan oleh tertekannya mental yang tinggi serta rendahnya kepuasan dalam bekerja. Seperti yang diungkapkan oleh Coyne, hal ini mungkin disebabkan oleh sifat alami ruang cyber yang memang terisolasi.  Dengan demikian, jelaslah sudah bahwa Cyberbully Bukan Cuma Masalah Anak-anak  seperti yang tertulis di http://jakarta.okezone.com.

***

Kasus yang menimpa BK sejatinya telah menganggu psikologisnya secara beliau seorang perempuan. Layaknya perempuan biasa, beliau juga amat sedih dengan inbox tersebut, dimana  beliau sempat vakum dalam menulis di Kompasiana ini selama beberapa waktu. Selanjutnya, beliau telah menempuh jalur hukum dimana telah menunjuk Bapak Sutomo Paguci sebagai pengacaranya. Pak Sutomo Paguci tentunya sangat paham apa yang harus beliau lakukan terkait kasus penghinaan berikut pencemaran  nama baik ini. BK sudah memiliki pengacara dan mau menempuh jalur hukum, saya jadi heran, kok masih ada yang skeptis? Serahkan saja urusan tersebut kepada Pak Sutomo, biarkan BK dan beliau yang menangani kasus tersebut. BIla Anda merasa tak berkepentingan dan tak mau tahu, cukup diam saja tanpa mencampuri urusan beliau. Cukup adil kiranya jika itu Anda tanamkan di pikiran Anda.

Akhirnya, cukup baik jika kita mengetahui potensi yang kita miliki masing-masing untuk menciptakan kenyamanan di luar dan di dalam Kompasiana. Tak perlu berkata kasar atau mengirim inbox kurang ajar seperti yang di alamatkan kepada BK dan Bang Arke. Sejatinya, orang akan menilai Anda melalui tulisan Anda di dunia maya ini terlepas dari kredibilitas Anda yang mungkin baik di dunia nyata.

Seperti Joshua dalam film Ekskul dan Amanda Todd yang memilih mengakhiri hidupnya akibat bully dan cyberbully, apakah Anda masih mau melakukan hal bodoh (membully) itu lagi? Bila masih mau, UU ITE masih ada kok dan dapat menjerat Anda.So, Think Before Doing Something.

Selamat Pagi

Auda Zaschkya - 1

Tulisan ini diikut sertakan pada tema Stop Cyberbully.
Untuk melihat karya peserta lainnya silahkan klik di sini.

Tidak ada komentar:

[Review] Natu Savon Kose Cosmeport, Refresh Your Day with Apple & Jasmine

Hai Beauties. Kembali lagi ke blog saya yang kali ini masih akan membahas skin care. Namun, sedikit berbeda dari biasanya. Kalau...