Jumat, 02 Agustus 2013

Ah... Tsunami Hatiku, Sebab Diamku!

13751213881085398936
www.busana.com


Sahabat. Mungkin benar ini adalah sebuah kebodohan. Suatu kesia-siaan akibat logikaku berkalang perasaan.Namun tolong, jangan salahkan aku yang merindukannya walau harus selalu tanpa balas darinya. Dia memang tak tahu, betapa tersiksanya aku olehnya. Rasanya, ingin segera ku palingkan wajahku ketika harus melihat ramahnya bercengkrama dengan yang lain.
Dia tak tahu atau mungkin tak harus tahu. Demi sekadar ingin menghapus bayangnya, kemarin sempat ku serahkan hatiku untuk dimiliki pejantan lain, walau ku tahu itu sebuah kesalahan terbodoh yang pernah ku lakukan. Dan benar, oleh sebab khilafku kemarin, teror untukku pun tiba-tiba ada. Aku lelah diteror dan ku putuskan untuk mengakhiri salahku itu, walau teror itu tak serta merta pergi.
Sahabat, sejujurnya, aku tersiksa di sini. Berdarahku juga oleh sebab rasaku yang terlalu besar untuknya. Jika mampu ku teriakkan di telinganya, akan ku katakan, “Hey pejantan… khilafku kemarin adalah oleh sebab aku ingin terlepas dari bayangmu.” Kau dengar?
Huff, tapi tetap saja, tak bisa ku lakukan.
Ah… Seandainya saja ia mengetahui, oleh sebab rasa yang tak berani ku sebut cinta ini terus menggerogoti aliran darahku, hingga terkadang, sedikit menitikkan air mata ketika harus ku sesali diriku yang dibutakan olehnya.
***
Aku memilih sendiri bukan sebab aku tak laku seperti yang dikatakan oleh mereka yang iri padaku. Kemarin, ada pejantan lain yang menawarkan cintanya kepada perempuan yang merindukanmu ini.
Bahkan tadi, ada yang menanyakan padaku, “sampai kapan kau bentengi diri dan tak mengubris lelaki lain?”
Tercekat ku mendengar pertanyaan itu. Sebab bingung dan tak tahu harus berkata apa, segera ku alihkan obrolanku dengannya. Aku tahu, aku telah melakukan kesalahan lagi. Namun tetap saja, oleh sebab hatiku telah terlanjur ku serahkan sepenuhnya padamu, aku tak menerimanya.
***
Jika mampu ku katakan, aku lelah. Hatiku teramat perih ketika melihat realitamu yang tak melihatku. Namun tetap saja, aku tak bisa berbuat apa-apa.
***
Hey Lelaki..!
Lelah ku berjuang sebab tsunami hati yang kau ciptakan. Sekelilingku mungkin telah bosan mendengarkan lafal namamu yang selalu ku sebut ketika aku merindukanmu. Ingin rasanya ku katakan padamu, bahwa nurani perempuanku membutuhkanmu.
Namun, mungkin ada benarnya perkataan sahabatku, bahwa kesalahanku adalah memiliki rasa padamu, menjadi double salah sebab rasa itu (mungkin) tak terbalas olehmu.Dan (mungkin) benar, aku tak boleh memiliki asa apapun terhadapmu.
Ah.. logikaku berkalang rasa. Oleh sebab terlanjur, maka saat aku merindukanmu, hanya do’a yang boleh ku kirimkan untukmu melalui perantaraNya, sebab hanya Dia yang mengetahui apa yang tak ku dan kau ketahui.
*
Medan, 30 Juli 2013

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...