Sabtu, 21 September 2013

Je t'aime, Still Thinking of You, Dear!


1379697961952532734
http://penanies.blogspot.com/

*
Rahasia ini selalu kusimpan rapat. Tentunya tak elok bila harus kuceritakan pada orang lain selain sahabat, sekaligus adikku, Maria. Namun, kepergiannya ke luar kota tentunya membiarkanku dalam dilema yang cukup mendalam. Di satu sisi, aku merelakannya pergi demi tugas dan perkembangan kariernya. Di sisi lain, aku butuh tong sampah lain selama kepergiannya yang  juga mampu menjadi luapan rasaku terhadap Hendra, sang lelaki yang sampai saat ini selalu ada di sampingku walau aku tak ada di hatinya. Seandainya mampu kuungkapkan, Je t’aime, Hendra. Namun, tetap saja, aku hanya bisa diam. Ah, apa kabar kau, Hatiku?
Sebelum Maria pergi, ia selalu berpesan agar mencari tambatan hati yang lain. Maria menyarankan agar aku menyukai orang lain atau membuka hati bagi siapa saja yang ingin memasuki hatiku. Ini yang sebenarnya menjadi kebimbinganku. Mampukah aku menerima yang lain sementara hati dan pikiranku masih tak berpindah dari Hendra?

*

Senin, 16 Sepetember 2013

“Hai, kamu Sarah yang kerja di LSM di sebrang cafe ini, ya? Tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul di hadapanku.
“Ya, ada apa? Tanggapku cuek sambil meneguk Iced Coffee Latte pesananku.
“Kenalkan, saya Marko.” Ucapnya sembari tersenyum. Ya, Senyum yang manis mungkin. Namun bagiku, tak ada senyuman yang lebih manis dari kepunyaan Hendra. “Ok. Terima Kasih.” Balasku singkat.
“Sepertinya kamu sedang sendiri ya?” Pertanyaan basa-basi yang memang basi menurutku. “Memangnya seperti apa yang kamu lihat?” Jawabku lagi.
“Ya sendiri sih kelihatannya. Kalau gitu, aku duduk di sini. Bang, Cappucino dinginnya satu.” Permintaannya kepada sang waiter yang segera melengggang ke dapur. Sembari memberi senyuman, ia pun menghempaskan pantatnya ke kursi di hadapanku yang sebelumnya tempat kuletakkan kaki.
Basa-basi lainnya pun segera dilancarkannya padaku, dan aku? Tetap cuek dan enggan menggubrisnya. Sosok Hendra yang masih kujaga pada hati terdalamku, padahal di hadapanku ada lelaki lain yang cukup tampan, rapi dan kelihatan seperti eksekutif muda. Dan dari obrolan ini, mengisyarakatkan rasa sukanya kepadaku dengan terus menyunggingkan senyumnya.
“Duh, ini orang kenapa sih? Aku tak mau GR”. Begitu kata hatiku sembari sibuk dengan laptopku. Sementara dia terus menebar rayuannya padaku hingga aku lelah mendengar celotehannya yang menurutku tak penting dan membosankan. Lagi-lagi batinku menyalak, “ngomong apa sih?”
Segera kuhabiskan Iced Coffee Latte di depanku, dan berpamitan padanya. “Maaf, saya  harus kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan.”
“Baiklah, Cantik. Tapi sebelum kamu pergi, saya minta nomor ponselmu ya?” ucapnya.
“08XX69488699.” Tulisku di selembar kertas pemberiannya dan aku pun segera kembali ke kantor.

*

Sesampaiku di kantor, aku tak langsung melanjutkan pekerjaanku. Apalagi Hendra tak ada di ruangannya, mungkin sedang ada keperluan di luar. Ah… Sepi. Terlebih Maria sedang pergi. Segera kutuliskan curahan hati seperti biasanya di blog pribadiku. Mungkin kali ini aku akan menuliskan tentang Marko.
Marko itu tetap sama seperti lelaki lainnya di mataku. Perkenalan yang seperti biasanya ia tebarkan. Penuh intrik dan Licik seperti perpolitikan negeri ini. Tak ada yang menarik bila dilihat dari tutur katanya.
Dia sungguh membosankan. Rayuan seperti itu sangat memuakkan bagi perempuan yang sering berinteraksi dengan berbagai macam lelaki di kantor ini. Marko tak ubahnya seperti lelaki yang sebelumnya juga. Lelaki durjana itu. Lelaki yang telah kukenal sejak lima tahun yang lalu.
Tiba-tiba, bayangan Rian pun menelusup dalam ingataknku. Rian yang awalnya memberi kesan sopan dan menerima walaupun amarahku sedang meluap-luap. Kesabarannya juga ternyata tak mampu meluluhkan hatiku. Entah berapa kali, ucapan kata cinta menari-nari ditelingaku, juga melintas di mataku lewat chattingan kami. Hati kerasku tetap saja tak melemah. Kurasa iapun menyerah.
Lama tak saling berkomunikasi, secara mengejutkan ia mencoba memperbaiki hubungannya denganku. Ya… Mungkin kali ini memang harus kusambut dengan tangan terbuka mengingat, hubunganku dengan Hendra mungkin tak memiliki harapan untuk berubah dari sebatas teman yang saling mengisi. Juga mengingat nasehat Maria yang menyuruhku untuk membuka hati untuk lelaki lain.
Setelah kucoba dan memang hubungan ini kembali baik. Ketika kutanyakan bagaimana perasaannya padaku, ia Cuma menjawab, “aku gak bisa ngomong. Soalnya aku gak terlalu suka basa-basi. “Nice, mungkin lebih baik begitu.” Pikirku.
Saat itu, aku tengah mencoba merelakan hatiku jika harus dimiliki oleh Rian. Untuk itu, aku mencoba menfikanmu, Ndra. Ditengah-tengah kegembiraanku menjalani pendekataan degan Rian, secara mengejutkan suatu malam ia mengajakku chatting. Awalnya hanya menanyakan kabar, lama kelamaan pembicaraanpun menuju soal seks. “Apa-apaan ini?” Pikirku. Lalu
“Hei, ini benar kamu Yan? Kok chattingannya gitu ya?” tanyaku
“Iyalah, ini aku. Kenapa? Ah, aku Cuma berani di chatting aja. Kalau ketemu, mana berani aku. Aku Cuma mau buktikan kalau aku sayang sama kamu, Sarah. Makanya aku berusaha jujur dan menceritakan semua tentangku padamu” balasnya.
Kukatakan saja bahwa aku tak suka pembicaraan menjurus seks seperti ini. Tak munafik, jangankan dia sebagai lelaki, aku juga membutuhkan itu. Namun, sangat tak pantas jika untuk membuktikan cinta, harus melayaninya membicarakan soal seks.
Mungkin tanggapanku terlalu keras padanya. Ah, biar saja. Mau keras atau tegas, yang penting aku agak risih jika harus membicarakan hal itu, apalagi baru di tahap pendekatan. Ok, cukup untuk masa pendekatan yang harus kuakhiri dengan ketegasanku, daripada aku dilecehkan dan berakhir dipenjara karena membunuh orang.

*

Entah dari sudut mana saja, cukup banyak dari mereka yang hanya ramah di awal namun setelah lama berkenalan, mereka mulai tak sopan. Ini juga yang kutakutkan dari Marko. Aduh Ndra,,, coba deh buka sedikit hatimu buatku. Aku tetap tak bisa menggantikan pesonamu dengan sosok lainnya. Tetap saja dia atau mereka yang pernah bermain bersamaku, tak ada yg sesantun kamu, Ndra. Kamu itu berbeda. Dari awal hingga kini selalu sama, jangankan melecehkanku, mengajakku perang opini pun tak pernah kaulakukan.

Mungkin orang akan berkata bahwa aku buta. Namun bagiku, tutur bahasamu mencerminkan kepribadian lembutmu, walaupun banyak yang tega mengulitimu di kantor ini.Aku yang mengenalmu tetap menghormati kecakapanmu, kok. walaupun kau bukan milikku, ah… ini tetap saja.

*

Dan entah mengapa, semakin berusaha untuk menafikan rasaku padanya, semakin menyiksaku. Perlahan, rasa ini semakin menenggelamkan angan dan ingatanku pada sosok lelaki itu, Hendra. Dia yang tak pernah tahu akan luapan rasa yang hanya kupunya untuknya dan jelas, tak mampu kunafikan.
Salahkah aku berharap padanya? Bodohkah aku sebab masih menyimpan segudang rasa bahkan jutaan rindu bila sehari saja tak melihatnya? Ataukah harus kuganti sosoknya dengan yang lain?

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...