Jumat, 18 Oktober 2013

Temanku Pengkhianat!

Sakitku mungkin tak separah yang kau rasakan, ketika kau korbankan perasaanmu demi sahabatmu yang jatuh cinta pada lelaki yang sama. Namun, rasa kecewaku terlanjur membuatku membenci kebohonganmu, hingga kini tak mampu kutempatkan ceritaku pada siapapun lagi.
*
Setelah mendengar kejujuranmu kemarin, amarahku menggelegak. Sempat terlintas di pikiranku untuk membencimu, namun adalah suatu kewajaran jika saat itu amarah yang menguasai seluruh tubuh tiga puluhan ini, berupa raungan yang membanjiri bantal.
Ah... rasanya itu wajar saja bila kurealisasikan marah ini, menamparmu hingga membunuhmu, mungkin. Toh semua ini berawal dari salahmu sendiri yang awalnya berpura tak butuh pada sang lelaki, membohongi dirimu sendiri padahal lelaki itu yang menghiasi dan menerangi hatimu. Kau berkata pada hatimu bahwa kau akan pasrah demi kebahagiaanku saat itu, namun kau menyimpan harapan yang mendalam untuk dapat bersama sang dia.
Berbahagialah kau sebab pilihannya jatuh padamu, kini. Dengan bebas, kau dapat merengkuhnya dalam pelukan sucimu. Perempuan bersih sepertimu yang diinginkannya.
Kau memang tak sekotor aku, tak sebinal aku, juga bukan perempuan durjana seperti hidupku. Kau adalah yang terbaik untuknya. Dan ya... kalian sama, sama-sama lurus. Dunianya memang sungguh kontras denganku. Kalian sama, sama-sama putih. Beda dengan si kelam sepertiku.
Pengakuanmu kemarin sangat mengejutkan. Salutku padamu bahwa memang kau tak pernah mampu berbohong pada siapapun, termasuk kepadanya tentang perasaanmu yang dibalas olehnya. Dan karena itu, aku akan benar-benar pergi dari kalian. Jikapun kita terpaksa bertemu di suatu waktu, maaf... Aku tak mampu berbicara banyak padamu. Sebab kebohonganmu terlanjur menyiramkan luka di atas perih yang hampir mengering. Juga karena itu, luka lama itu kembali menganga, setelah nyaris terlupa.
Kau menyesal? Lalu maaf katamu? Tak mampukah terbayangkan olehmu akan siraman cuka ini? Kau egois! Memakan daging saudaramu sendiri. Ya... Untuk penyesalan terlambatmu, segala kemunafikanmu, ulutku mungkin mampu memaafkanmu, namun tidak untuk hatiku. Hatiku terlanjur sakit, perihnya dalam. Kalaupun belenggu kecewa ini mampu terobati, bukan kini saatnya. Aku marah!
Bukan. Bukan sebab cemburuku. Toh setelah kusadari, dia juga bukan inginku. Dia sangat jauh dari yang kuharapkan, tahu? Cukup mampu kukatakan bahwa dia hanya pelampiasanku untuk melupakan raja di hatiku yang sesungguhnya. Aku marah!
Marah sebab sikap curangmu, terlanjur membakarku dalam bara amarah juga benci yang belum mampu untuk terhenti.
Seandainya jujur kau katakan bahwa kau juga mengharapkannya saat itu, sebagai kakak, aku yang akan mundur. Toh bila melihatmu bahagia, aku juga bahagia. Namun, karena pengakuanmu kemarin yang sangat mengecewakan menurutku, adalah telah memberikan sebuah batas bagi kita.
Ini sakit, teramat perih bagiku yang tak pernah menyangka, akan hujaman dalam darimu. Sungguh, tak pernah terpikir olehku, bahwa kau mampu menusuk kakakmu sendiri.

Tidak ada komentar:

Review Pure Papaya Ointment: Salap dengan Jutaan Manfaat

Kulit kering bagi kita, terutama perempuan, merupakan sebuah masalah. Pastinya, ini akan membuat kita malu, karena kulit kering terseb...