Senin, 23 Desember 2013

Perempuan di Dunia Politik: Antara Persepsi Khalayak dan Kontribusi bagi Negara

13866415921514474437
Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)
Tak terasa, 4 bulan lagi, Republik ini akan merayakan pesta demokrasinya. Sebelum Pilpres yang akan dijadwalkan pada 9 juli 2014 mendatang, terlebih dahulu kita disuguhkan pesta Pileg yang akan terselenggara pada 9 April 2014. Menjelang pileg ini, tentunya di masing-masing daerah domisili kita, sudah ditempelkan poster-poster wajah para calon wakil rakyat yang mengharapkan suara kita. Tak sedikit dari mereka adalah perempuan.

Sesat Pikir ala Kaum Lelaki
Adanya ucapan dari kaum adam kebanyakan yang mengatakan bahwa perempuan lebih baik hanya bertugas di kasur, dapur, dan sumur, sesungguhnya adalah suatu kesalahan yang menganggu sisi psikologis bagi perempuan zaman sekarang. Adanya kebiasaan yang membudaya ini, tentunya menjadi momok tersendiri bagi kaum hawa. Jangankan berbuat untuk negara, untuk dirinya sendiri dia tak bisa karena doktrin tadi.

Perempuan ini jadi tak berani mengaktualisasikan dirinya karena stigma negatif tadi, semisal adanya larangan bekerja dari suami. Sehingga, pendidikan yang ia peroleh, seakan-akan tak berguna oleh karena tak tahu ke mana harus mengaplikasikannya.

Penulis dapat mengatakan bahwa ini adalah salah satu dari kesalahan pemikiran dari kaum adam. Seperti yang dikatakan Abraham Maslow dalam Hirarki Kebutuhannya, setiap orang mempunyai hak yang sama dalam mengaktualisasikan dirinya, termasuk perempuan. Jadi, jangan batasi kaum hawa untuk mewujudkan keinginannya bekerja, termasuk menjadi caleg.

Politik Itu Kotor, Tak Cocok Bagi Perempuan
Anggapan politik itu kotor dan kejam, tentunya sering kita dengarkan, bukan?  Sehingga banyak dari kaum perempuan yang takut berpolitik. Tentunya bagi para ibu, juga kurang atau bahkan tak setuju bila putrinya terjun ke dunia politik.

Wajar memang, karena tak jarang di dalam dunia politik, jangankan pembunuhan karakter, pembunuhan fisik juga kerap terjadi. Namun, adanya anggapan demikian, memberikan satu stimulus bagi si perempuan itu. Mereka penasaran, lalu ingin membuktikan anggapan tersebut, hingga merekapun tak jarang melakukan observasi. Observasinya dengan menjadi caleg, minimal kepala desa atau Lurah, seperti Lurah Susan.

Tentang kiprah perempuan ini, salah seorang ibu dari teman penulis ada yang menjadi caleg di Pileg 2014 mendatang. Suatu hari, penulis berkesempatan ngobrol santai dengan beliau setelah beliau berkegiatan di kantor lurah, sebutlah namanya Bu Siti. Dari penampilannya, beliau terlihat seperti ibu kebanyakan yang tak berdandan “wah”, padahal beliau caleg, Lho!

Penulis sempat menanyakan perihal kotornya politik. Dengan santainya beliau berkata bahwasanya tak menampik adanya politik kotor itu. Dikatakan oleh Bu Siti, banyak lawan politiknya yang berbuat curang Dari penuturannya tentang politik dan perempuan, beliau kelihatan berwawasan dan tak asal bicara. Beliau tak ingin, para caleg perempuan ini Cuma bisa mengandalkan penampilan fisik tanpa bisa dan mau berbuat apa-apa untuk negara, minimal daerah pemilihannya. Menurut hemat penulis, orang-orang seperti Bu Siti yang layak diberikan kesempatan menjadi caleg. Pertanyaannya, adakah perempuan lain seperti beliau?

Efektifkah Caleg Perempuan dari Aktris?
Adanya caleg dari kaum perempuan, tentunya memberikan warna tersendiri di dunia perpolitikan tanah air. Mereka memiliki hak sebanyak 30% untuk menduduki jabatan ini. Pada bagan yang terdapat pada acara Politika Metro TV (9/12/2013), hingga 2009 yang lalu, kuota perempuan ini telah mencapai angka hampir 18%.

Sebut saja, Angelina Sondakh (sekarang tersangkut kasus korupsi), Vena Melinda, Inggrid Kansil dari Demokrat. Rachel Maryam dari Gerindra, dan Nurul Arifin dari Partai Golkar telah berhasil duduk di DPR pada Pileg 2009 lalu. Mereka semua tentunya dari kalangan aktris. Setelah melihat “keberhasilan” teman-temannya di DPR, ramai pula para aktris lain yang ingin menyusul menjadi caleg 2014 ini.

Pertanyaannya, pantaskah mereka bila menjadi wakil rakyat?
Simple jawabannya, tentu sebagai warga negara, siapapun berhak menjadi caleg maupun capres dari latar belakang apapun juga, termasuk mereka.

Seperti yang telah penulis singgung sebelumnya, perempuan memiliki hak sebanyak 30% di panggung perpolitikan negeri ini. Demi mencapai kuota itu, tak jarang banyak Partai Politik yang asal comot. Misalnya si aktris tadi. Karena mereka memiliki nama di panggung hiburan, jadinya mereka pun lolos seleksi menjadi caleg. Namun sayangnya, mereka belum sempat benar-benar menyeleksi si caleg perempuan ini.

Seleksi yang sepatutnya dilakukan adalah latar belakang pendidikannya, juga tindak tanduknya di panggung hiburan tanah air. Atau bisakah si caleg ini menjadi politisi yang bukan hanya berdandan glamour bak peragawati bila menjadi anggota legislatif nanti? Mampukah ia memikirkan kebutuhan seluruh rakyat, atau minimal pembela kaumnya sendiri? Bila bukan dari kalangan aktris, adakah keinginannya menjadi politisi untuk membangun daerahnya, memajukan kesejahteraan masyarakat luas? Serta yang paling penting, mampukah ia sebagai perempuan meminialisir penjajahan bagi kaum perempuan? Ini yang harus kita perempuan pikirkan sebelum benar-benar terjun ke dunia politik. Karena sejatinya, kita akan menjadi public figure nantinya.

*

Keterwakilan perempuan di panggung perpolitikan tanah air, tentunya memberi angin segar bagi kaum perempuan negeri ini yang masih banyak mengalami pelecehan seksual, kurang mendapatkan pendidikan, dan tak berani mengaktualisasikan dirinya sendiri. Bukannya malah bermewah-mewahan dengan style OK, Lho!

Menjadi caleg perempuan jangan cuma bermodal pintar dandan dan berpenampilanglamour saja. Ada baiknya kita bisa menyeimbangkan kecantikan fisik yang kita miliki dengan pikiran kita demi kemajuan bangsa, terlebih kaum perempuan yang banyak terjajah.

30% kursi yang tersedia bagi perempuan, merupakan alat kita demi berkontribusi. Tolong ini jangan disalahgunakan. Negara ini membuka peluang bagi kita kaum perempuan yang tertarik di dunia politik untuk sama-sama membangun negeri, terlebih meninggikan martabat kaum perempuan. Jika bukan perempuan sendiri yang berempati terhadap nasib perempuan lainnya, siapa lagi?  []

Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...