Sabtu, 22 Februari 2014

Jadi Penulis, Jangan Anti Kritik!

Di dalam proses interaksi kita sebagai manusia, tentunya kita bertemu banyak orang. Diantara mereka yang berinteraksi dengan saya, biasanya mereka mengajak saya untuk tukar pikiran. Kebetulan, dari beberapa teman saya, sering menjadikan saya “tong sampahnya”, ada beberapa yang tak sanggup menerima kritikan saya yang menurut mereka ‘ngeri-ngeri sedap’, sampai ada yang cuma butuh untuk didengarkan, tanpa mau dikritik atau dinasehati.

Berhubung saya ini tak bisa menjadi seorang munafik, bila dimintai pendapat, saya berkata jujur saja. Seandainya memang tak bagus, ya tak bagus. Tak jarang memang ada yang bisa menerima kritikan saya. Namun ada juga yang tak bisa menerima dan malah saya yang dimarah-marahi, dikatai menghina bajunya, dll.

Sebenarnya, itu soal sepele. Namun, mungkin karena ia tak pernah dikritik dan semua mengangguk padanya, makanya ia terkejut dan jadinya marah. Namun, itu tak berlangsung lama.

Jadi Penulis, Jangan Anti Kritik!

Nah, itu tadi cerita teman saya di dunia nyata yang anti kritik. Ya,,, mungkin masih ada kesan manjanya gitu sama saya karena di dunia nyata, jadi gampang ngambekan. Bayangkan saja jikalau dia masuk dan menulis di blog sebesar Kompasiana.com ini, mungkin dia perempuan bakalan sedih a.k.a down, mengingat banyak penulis berkualitas di sini, yang tak segan akan memberikan sebuah kritik pada tulisannya.

Sejarah awal saya menulis di sini, tentunya tak bisa saya lupakan. Tak usahlah saya jabarkan, rekan kompasianer pasti hampir semua mengetahuinya. Intinya, berkat kritik pedas beberapa pendahulu itu, saya jadi berani menghadapi segala kritik pedas atau cukup tersenyum saja ketika membaca ada beberapa gosip yang menceritakan saya di belakang saya. Mungkin penulis gosipnya khilaf atau merasa sakit hati hingga berkarat kepada saya akibat saya mengkritik tulisan atau komentarnya.

Kenapa saya sampai mengkritik? Ini jawabannya sangat mudah. Tentunya karena ada suatu ketidaknyamanan tersendiri ketika saya membacanya. Yang pasti, bukan tanpa sebab saya mengkritik tulisan/komentarnya. Dan bukan karena saya kepo, usil, nyinyir dsb. Sungguh ini bukan kebiasaan saya.

KEPO a.k.a Knowing Every Particular Object, menurut hemat saya adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang yang bertujuan untuk mengetahui segala seluk beluk suatu benda/orang lain. Sementara Kritik adalah menyampaikan sebuah pandangan yang mana menurut orang lain adalah sebuah kebenaran.

Dari kritik ini, bila mampu disikapi secara bijaksana, maka lambat laun akan diperoleh jalan tengah (baca: kata sepakat). Jikapun tidak, ini tak perlu dibesar-besarkan, apalagi menceritakan/menggosip di belakang bahwa si empunya tulisan adalah korban aniaya si pengkritik.

Jelas, ini adalah dua hal yang berbeda namun tak sedikit orang biasa bahkan penulis baik tenar maupun tidak, tak mampu membedakannya. Inilah akibat buiruk dari keseringan dipuji, jadi agak terkesan manja.

*

Bila telah memutuskan untuk sekedar menyalurkan hobi bahkan menggantungkan kebutuhan perutnya dari menulis, alangkah baiknya jika kita selalu ingin belajar. Belajar dari mana? Browsing internet, membaca buku, serta tahan banting menghadapi gempuran (baca: kritik) dari orang (pembaca). Kalau kita penulis tidak mengerti, jangan malah balik menggurui pembaca, apalagi marah-marah karena kita tak mau menerima kritik.

Terkadang saya juga harus bertanya, apakah si empunya tulisan itu ketakutan setengah mati bila tulisannya dikritik? Sebenarnya tak perlu takut. Jika memang salah, berjiwa besarlah untuk meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Jangan malah memberikan kesan bahwa kita penulis yang selalu benar. Ingat lho. Jangankan kita yang penulis maya, penulis nyata juga tak lepas dari kesalahan. Belum lagi pemuka agama yang dianggap selalu benar, acapkali mereka juga melakukan kesalahan dan perlu ditegur.

Sekali lagi saya tekankan, kritik atau teguran itu bukanlah semata-mata karena si pengkritik tak menyukai kita secara personal. Lagi pula, bukan urusan (baca: kepo) si pembaca tentang latar belakang atau  mau jadi apa si penulis tadi. Itu urusan masing-masing toh? Pembaca hanya menikmati tulisan kita, kan? Jika bagus, tentunya akan sangat diapresiasi walaupun tak harus diucapkan terima kasih secara terbuka. Jika ada yang dirasa janggal, si penulis harus siap dengan pertanyaan atau kritik si pembaca. Ini juga merupakan apresiasi, lho!

Budayakan bertanya kepada si pengkritik, tentunya lebih menjamin keberlangsungan nasib tulisan kita. Bila masih ada yang mengkritik itu adalah sebuah apresiasi yang bagus, guna menyadarkan kita dari kebiasaan kita yang melenakan, seperti sombong dan sok tahu tadi. Jadi, jangan langsung marah apalagi sakit hati serta menceritakan/menggosip di belakang pembaca. Hemat saya, ini adalah kebodohan mutlak jika dilakukan oleh penulis, apalagi yang mengaku telah lama berkecimpung di dunia tulis menulis. Mau jadi penulis atau tukang gosip, sih? []




Tidak ada komentar:

Peran Industri Kreatif Anak Muda Indonesia di Era Milenial

Sungguh beruntung, Kota Medan mendapat kesempatan dalam rangkaian sosialisasi 4 Tahun pemerintahan Kabinet Kerja yang diselenggarakan ol...