Kamis, 01 Mei 2014

Bermodal Selebritas, Caleg Seksi Tak Cukup Menuju Senayan!

Tiga minggu yang lalu, rakyat republik ini telah menggunakan salah satu hak politiknya dalam memilih anggota dewan/parlemen. Selanjutnya, mereka yang telah terpilih (baca: legislator),  diharapkan dapat mengemban amanah yang diinginkan rakyat, termasuk para legislator perempuan yang sudah sepatutnya memahami benar juga terjun langsung dalam penyelesaian isu-isu seksi yang kerap “menemani” perempuan, seperti yang pernah penulis utarakan di sini
Menyinggung caleg perempuan, dari penjual kopi hingga pengusaha dan selebritaspun terkesan nekat mengadu peruntungannya di Pileg 9 April lalu, walaupun mungkin, mereka  tak memiliki skill politik yang cukup mumpuni. Pada tulisan kali ini, penulis tak akan membahas tukang kopi maupun pengusaha. Penulis hanya akan mengangkat mereka para caleg dari ranah hiburan.

Fenomena selebritas perempuan pada Pileg 2014 adalah bukan merupakan suatu hal baru. Sebut saja Nurul Arifin (tak terpilih lagi di Pileg 2014), Rachel Maryam Sayyidina, dan Rieke Dyah Pitaloka yang terlebih dahulu berjaya di DPR-RI berkat Pileg 2009 yang lalu. “Lahan garapan” ini, tentunya menjadi tempat baru bagi selebritas lainnya. Berbagai latar belakang caleg dari pemain film horror  semi sensual, penyanyi dangdut hingga model majalah pria dewasa yang akrab disebut caleg seksi, bermain di ranah dewan ini. Lalu, muluskah mereka melenggang ke Senayan?

Bermodal Selebritas, Caleg Seksi Tak Cukup Menuju Senayan!

Yang pertama menjadi sorotan masyarakat, tentu saja seorang Angel Lelga. Tadinya, mungkin kita tak begitu peduli dengan pencalegannya, mengingat ia juga nihil prestasi di bidang hiburan. Namun, sejak janda dari Capres Rhoma Irama ini hadir di program Mata Najwa, cibiran dan komentar miring tersemat padanya, akibat jawaban ngawurnya ketika menghadapi “gempuran” pertanyaan Najwa Shihab yang terkenal mampu mematikan jawaban lawan bicaranya. Setelah itu, Angel Lelga yang diusung dari PPP ini mendapat pembelaan dari Sang Ketum yang tengah bermasalah itu (baca:SDA). Pembelaan SDA yang dapat penulis tangkap yaitu, jawabannya AL ngawur wajar saja, apalagi kan dia masih baru.

Saat itu, AL sangat yakin lolos ke Senayan bermodal visi dan misinya yang katanya pro lahan pertanian. Namun, berbeda 180 derajat dengan keyakinannya itu, ternyata Angel Lelga tak lolos ke Senayan. Diakui oleh Arif Sahudi, Ketua DPC PAN Surakarta, mantan istri Rhoma Irama tersebut gagal menjadi legislator karena masyarakat pemilih makin cerdas saat ini.
Sebentar, bagi penulis pribadi, pengakuan beliau tersebut adalah sebuah hal yang menggelikan. Bagaimana tidak? PPP sendiri yang mengusulkan (baca: Merekrut) AL guna menjadi caleg, padahal PPP sangat mengetahui kredibilitas AL yang belum tentu mengerti akan dunia politik. Tapi, PPP sendiri melalui Arif yang menjatuhkan image AL di hadapan publik, dengan alasan karena masyarakat pemilih makin cerdas saat ini.

Hemat penulis, seharusnya, sedari awal, AL tak dipersiapkan untuk pencalegan di 2014 ini. Akan lebih baik, jika AL dibina sehingga lebih matang di dunia perpolitikan untuk masa 2019 mendatang. Apalagi mengingat AL ini adalah muallaf dan PPP sendiri berbasis partai islam, AL lebih baik mendapatkan pendidikan agama islam terlebih dahulu.

Mengenai kegagalannya ini, ia mengatakan, “Kalau ditanyakan sekarang, masih terlalu prematur. Saya masih tunggu penetapan.” Seperti yang dikatakan di sini, ketetapan resmi perolehan suara dari KPU pusat, 9 Mei 2014 mendatang.

AL tentunya tak sendiri. Masih banyak caleg selebritas yang gagal menjadi legislator. Namun, yang kerap mendapat sorotan dan juga mengalami kegagalan seperti AL adalah kedua caleg dari PKPI besutan Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, Destiara Talitha dan Camel Petir.

*

Destiara Talitha (Tata,25) yang juga sebelumnya berprofesi sebagai model majalah pria dewasa juga gagal mendapat kursi ke Senayan. Menurut penuturannya, ia mengaku pasrah dengan hasil tersebut. “Santai saja, enggak stres. Namanya juga persaingan, harus siap kalah. Ini pertama kalinya, anggap saja sebagai pengalaman dan pelajaran politik.”

Bagi Tata, pengalaman kali ini belum membuatnya kapok untuk mencoba peruntungan di ranah politik ini, walaupun dana dari kocek pribadinya hampir mencapai 50 juta demi kepentingan alat kampanye. ”Lima tahun lagi baru nyaleg lagi. Hehehehe,” pungkasnya. Ia juga mengatakan, untuk sekarang mau melanjutkan kuliah.

Hemat penulis, memang lebih bagus ia menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu supaya tak asal masuk ke Senayan. Walaupun kuliahnya tak berasal dari sosial politik, namun dari ranah hukum pun sangat diperlukan bagi memakmurkan negeri, apalagi pembela kaum perempuan. Jadi, mengingat si Tata ini masih terlalu hijau untuk berada di dunia politik, memang sepantasnya ia menambah wawasan seluas-luasnya. Belajar lagi bagaimana caranya mengatur jalannya negara, menindak pelaku kejahatan, melindungi kaum perempuan, dsb.

*

Lain Angel Lelga dan Tata, lain pula dengan Camel Petir. Walaupun menghabiskan dana keseluruhan hampir Rp 600 juta ditambah untuk pulang pergi Jakarta-HongKong (Dapil III DKI), Ia yang memutuskan bergabung dengan PKPI setelah merasakannyambung dengan Bang Yos (Sutiyoso), ternyata juga terancam tak lolos ke Senayan. Namun, ia tetap optimis. Menurutnya, suara untuknya juga ada.

Melalui wawancaranya di pada Metro TV, penulis perhatikan, mimik muka – tingkat keseriusan seorang Camel Petir cukup teruji. Ia yang merupakan lulusan dari sebuah Universitas di Medan ini, telihat mampu juga tanggap dalam menjawab pertanyaan sang presenter di acara Metro Malam, Minggu 26 Januari 2014 pada episode Kontroversi Caleg Seksi. Walaupun ia mengaku tak mengerti politik, namun, berbekal pendidikan dan pengalaman seorang Camelia Panduwinata Lubis dalam beberapa organisasi di kampusnya, menjadikannya dapat cepat mengerti akan permasalahan rakyat republik ini, terutama kaum perempuan. Camel juga mengatakan, jika memang benar ia tak terpilih jadi anggota dewan, ia tak akan kembali ke panggung hiburan. Ia lebih memilih menjadi politikus wanita.

Langkah Camel ini, sejujurnya sangat penulis apresiasi. Melihat kecakapan dan latar belakang pendidikannya, sangat disayangkan jika memang keputusan KPU Pusat mengatakan ia tak terpilih. Jika benar ia memilih menjadi politikus wanita yang memperhatikan rakyat dan tentunya tak korupsi, ini juga merupakan tugas mulia.

*

Mungkin, tadinya mereka menganggap modal terkenal dan sering masuk media karena selebritas, sudah menjamin mereka lulus ke Senayan. Tarnyata? Harapannya sia-sia. Bermodal selebritas maupun caleg seksi saja, tak cukup menuju Senayan. Jadi, bagi Angel Lelga, Tata, dan Camel Petir serta sejumlah selebritas/yang tak terpilih, maupun incumbent yang gagal menuju DPR-RI kembali, belajarlah lagi tentang kebutuhan-kebutuhan masyarakat.

Memberi kesejahteraan kepada seluruh rakyat Indonesia, khususnya bagi masyarakat dapilnya, memang adalah sebuah tugas yang sudah sepatutnya diemban oleh masing-masing wakil rakyat, hingga penulis sendiri merasakan, bila hal-hal semacam ini yang terus diangkat (baca: digembar-gemborkan) di setiap kampanye adalah sebuah hal klise. Masyarakat sudah jengah dengan info dan janji muluk sejenis. Mereka membutuhkan suatu inovasi yang beda serta terkhusus bagi penyelesaian suatu masalah. Apalagi untuk permasalahan perempuan yang cukup kompleks.

Di sinilah peran legislator perempuan yang telah mencapai 37% itu sangat dituntut kepintarannya dalam berkomunikasi politik. Bukannya malah berlomba-lomba berkampanye semenarik mungkin bak finalis ratu kecantikan yang berlenggak-lenggok di Cat Walk, Lho! Jangan buat malu perempuan lainnya jika melihat ketidak cakapan para caleg ini, apalagi legislator yang tersangkut kasus korupsi. Kalau memang tak memiliki bekal apa-apa, tak usahlah memasuki Senayan! [AZ]

Tidak ada komentar:

Review Pure Papaya Ointment: Salap dengan Jutaan Manfaat

Kulit kering bagi kita, terutama perempuan, merupakan sebuah masalah. Pastinya, ini akan membuat kita malu, karena kulit kering terseb...