Selasa, 05 Mei 2015

Antara Jokowi dan Realisasi MEA 2016



Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 yang disebut-sebut akan berlangsung tahun 2015, ternyata baru dapat direalisasikan pada awal Januari 2016 mendatang, walaupun memang, dibuka secara resmi pada 31 Desember 2015. Dengan demikian, beberapa bulan ke depan, Pemerintah Indonesia masih memiliki kesempatan untuk mempersiapkan dan mengedukasi calon dan para pengusaha UKM ini dalam membuka diri agak tak terlalu ketinggalan dalam menghadapi pasar bebas negara-negara ASEAN nanti. 

Apalagi, Program Presiden Joko Widodo yang sering menyebutkan Revolusi Mental, diharapkan juga mampu menghalau para koruptor, sehingga uang yang ada dapat digunakan untuk membangun infrastruktur bagi kepentingan rakyat, dalam hal ini UKM sendiri.  Demikian yang disampaikan Wahyu Ario Pratomo, SE MEc selaku Pengamat Ekonomi dan juga Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USU.

Setelah MEA berlangsung, lanjutnya, dampaknya sendiri memang tidak terlalu besar bagi Indonesia. Karena  investasi itu akan lebih banyak menyasar ke kawasan ASEAN lain, terutama yang baru mulai membangun seperti Laos, Kamboja, Myanmar, dan Vietnam. 4 negara tersebut menurutnya, memang membutuhkan modal, tenaga-tenaga ahli dan sebagainya sehingga nanti akan ada aliran dana pemasukan yang besar ke negara-negara tersebut. Harapannya tentu agar mereka dapat membangun perekonomian yang tinggi.

Dijelaskannya, jika dilihat secara persentase, pertumbuhan ekonomi di beberapa negara itu memang tinggi. Akan tetapi pada kenyataanya, mereka memang harus terus meningkatkan SDMnya sendiri aga tak semakin jauh ketinggalan dengan negara-negara seperti Indonesia misalnya. Jadi katanya, MEA itu sendiri memang bermanfaat bagi negara-negara tersebut. Tentu saja agar lebih mudah bersaing dengan negara lain yang memang memiliki GDP yang tinggi.

Kalau untuk Indonesia sendiri tuturnya, masih memiliki beberapa hal tersendiri yang membuat para pengusaha asing agak enggan menginvestasikan dananya ke Indonesia. Salah satu asumsinya adalah apabila perekonomian masih seperti sekarang tanpa adanya perubahan.

Contohnya, kita kan negara yang sulit mengembangkan bisnis karena daya saing kita rendah, jadi investor itu mengalami kesulitan tersendiri jika ingin masuk ke Indonesia. Mereka akan berpikir, lebih baik menginvestasikan dana ke negara-negara seperti Laos, Vietnam, Kamboja, dan Myanmar yang notabenenya lebih “Welcome” terhadap mereka.

“Kekurangan kita cuma dari segi Welcome saja. Orang kita masih terlalu banyak terdoktrin dengan kata-kata anti asing maupun ketakutan dengan investasi asing. Hal-hal seperti itu yang masih susah diterapkan pengusaha, khususnya UMKM di Indonesia,” jelasnya.

Selain asumsi di atas, alasan lainnya yaitu dari segi pembangunan yang belum merata, yang diikuti dengan tingginya angka kemiskinan di Indonesia, serta tingginya ketergantungan terhadap import barang untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Pun juga, pemicunya juga dari segi rendahnya daya saing infrastruktur yang menyebabkan tingginya biaya logistik dibandingkan regional.
Selanjutnya, rendahnya akses layanan keuangan masyarakat Indonesia dibandingkan negara lain juga memiliki peranan besar dalam hal tersebut. Tak ketinggalan, rendahnya kuantitas, kualitas dan kapasitas tenaga kerja terdidik yang produktif dari Indonesia dibanding mereka yang berada di regional ASEAN.

Tak lupa, kurangnya minat dari investor asing tersebut juga dipengaruhi dari kualitas pendidikan  di Indonesia terbilang cukup rendah. Karenanya perlu melakukan terobosan terbaru dalam sektor pendidikan.

Selain beberapa hal di atas, menurutnya Indonesia juga mampu berdiri sendiri jika masyarakatnya mencintai produk dalam negeri.
“Biar saja makanan kemasan misalnya, masuk dari mana saja bahkan dari luar negeri sekalipun. Kalau kita tak membelinya dan justru lebih memilih produk lokal, kita juga tetap dapat membangun negara,” ujarnya lagi.

Kata dia juga, yang demikian ini juga merupakan bagian tugas pemerintah dalam mengedukasi masyarakat kita agar tak terlalu tergantung dengan produk luar negeri. Kalau ini berhasil, sebutnya, orang kita yang akan untung besar.

“Pelan-pelan, dalam beberapa bulan ke depan kita menunggu kerja pemerintah. Selain itu, sebagai masyarakat, kita juga harus mulai mencintai produk dalam negeri jika mau meningkatkan perekonomian kita sendiri,” pungkasnya.

[Review] Natu Savon Kose Cosmeport, Refresh Your Day with Apple & Jasmine

Hai Beauties. Kembali lagi ke blog saya yang kali ini masih akan membahas skin care. Namun, sedikit berbeda dari biasanya. Kalau...