Efektifkah Antigen dan PCR sebagai Syarat Perjalanan?

iaidiy.com

Selama hampir dua tahun ini, tanpa terasa, kita sudah hidup berdampingan bersama virus Covid – 19, yang masih menjangkiti seluruh dunia, termasuk Indonesia. 

Di Indonesia sendiri, awal ketahuan, di Maret 2020 lalu, saat Presiden Joko Widodo mengumumkan di televisi. Setelah itu,  korban positif dari penyakit yang sekilas mirip flu dan demam biasa ini, dan sempat diremehkan oleh banyak orang, ternyata benar-benar ada dan terus meningkat, khususnya di tempat yang menjadi lokasi berkumpul.

Lalu beberapa bulan kemudian, angkanya sempat turun. Kemudian naik lagi, dan sekarang sudah turun lagi, seiring dengan galaknya program pemberlakuan pembatasan aktivitas masyarakat, seperti PSBB, PPKM level 1 – 4 dan vaksinasi dari pemerintah. 

Sekarang yang kita semua khawatirkan, akhir tahun ini, akan naik lagi saat menyambut tahun baru 2022, kalau masyarakatnya tetap tak patuh pada aturan pemerintah, seperti 3 T ( Test, Tracing, and Treatment), maupun aturan menjaga jarak, menjauhi kerumunan, mencucui tangan dengan air mengalir, juga memakai masker. 

Aturan tersebut tetap berlaku di mana saja, kapan saja, kalau bisa, saat sedang bergejala flu, kita tetap rajin bebersih diri, pakai masker dan sesegera mungkin, untuk periksa ke dokter. Lalu, bagaimana dengan syarat perjalanan sendiri?

Aturan yang berubah-ubah tentang syarat perjalanan, mulai dari mesti mempunyai hasil dari test Antigen, hingga test PCR, sudah pasti membingungkan masyarakat, bukan? Masyarakat pun jadinya tak peduli. Nah, bagaimana kita menyikapinya?


https://www.medinaction.com/service/covid-19-antigen-rapid-swab-test-home-visit-rome/


Di siaran suara KBR pada channel You Tube Suara KBR 10 November 2021 kemarin, dibahas tentang PCR dan Antigen Sebagai Syarat Perjalanan, bersama Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, dr. Pandu Riono, MPH. Ph.D dan Kolabolator Ilmuwan Lapor Covid – 19 & Ketua Lab. Intervensi Krisis, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Dicky Palupessy, Ph.D.

Screen shoot pribadi

Menjawab pertanyaan masyarakat tentang keefektifan Antigen dan Test PCR dikatakan Professor Dicky, kedua tes tersebut, memiliki karakteristiknya masing-masing. Maksudnya, treatment apa yang perlu dilakukan setelah pemeriksaan dengan test tersebut. Kalau Antigen dan PCR itu kan untuk kepentingan screening saja, tidak untuk mendiagnosa penyakit. Kalau ingin lebih akurat, pakai PCR. Tapi sebagai manusia, kita tak cukup hanya mengandalkan Antigen dan PCR ya. Kita juga harus melakukan 3 M maupun 5 M dan diterapkan secara pas dan terus menerus.

Jika PCR digunakan sebagai alat diagonsis sebagai upaya mengatur mobilitas masyarakat dikatakannya, malah menjadi tidak pas dan memicu banyak pertanyaan hingga perilaku abai masyarakat, dalam menjaga kebersihan dan protokol kesehatan. Jadi bukan hanya test – test itu saja yang harus dilakukan, tapi kita mesti bicara dan menerapkan langkah-langkah lain juga yang mesti diterapkan secara serius, di mana mesti kita lihat sebagai suatu kesatuan, bagian dari 3 T (Test, Tracing, and Treatment) dan 5 M. 

Jadi Antigen dan PCR tersebut ditambahkannya, bukan satu-satunya alat supaya kasus Covid 19 nya sendiri turun. Itu tergantung dari 3 T dan 5 M yang diterapkan secara pas dan terus menerus.

Kemudian lebih jelas, Profesor Pandu menjelaskan bahwa Antigen dan PCR tersebut adalah metode yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan virus, di mana PCR jauh lebih sensitif, karena benar-benar menggunakan metode amplifikasi yang walaupun virusnya sedikit, tetapi masih bisa terdeteksi. Ini karena ada proses amplifikasi yang menggunakan teknologi yang agak mahal dan tidak bisa dilakukan sembarangan. Jadi mesti ada persyaratan dari laboratorium. 

Covid19.go.id


Sedangkan untuk test antigen, jauh lebih mudah. Ini karena yang dites, bukan virus secara keseluruhan. Jadi yang diperiksa adalah protein virusnya, berarti bagian dari pada virusnya. Ini terdeteksi bila jumlahnya sudah cukup banyak. So pada awal infeksi saat virus baru masuk, virusnya belum berkembang, pas di test antigen, malah sering negati, walau memang lebih cepat dan tidak perlu persyaratan yang banyak, dan kita dapat mengetahui hasilnya dalam waktu yang relatif singkat. Nah, kalau reaktif, hasilnya menunjukkan si penderita sedang memiliki virus yang berpotensi menular. Jadi test antigen ini, digunakan untuk melihat apakah seseorang itu, di fase mudah menular atau tidak. Makanya berlakunya Cuma satu hari.

Berbicara tentang harganya, tentu antigen jauh lebih murah. Walaupun lebih murah, antigen dan PCR itu, berada di bawah tanggungjawab Kementerian Kesehatan, untuk standarisasi kualitasnya. Jangan sampai harganya yang terus ditekan supaya murah, tetapi kualitasnya tidak sesuai standar. Maka dari itu, peran pemerintah, sangat besar sekali di sini, berdasarkan penilaian yang objektif, demi kepentingan masyarakat.

Tak hanya pemerintah, sektor non pemerintah (swasta), juga diajak untuk berinvestasi sebagian dananya untuk membuat laboratorium sesuai standar pemerintah, termasuk produknya. Kalau sudah bisa diproduksi di dalam negeri dan memenuhi standar, dianjurkan digunakan. Tapi kalau masih impor, bisa saja dilakukan penekanan biaya impor, misalnya membebaskan pajak masuk. Makanya, ini yang menyebabkan variasi harga. Tapi tenang saja, ada standarnya juga. Yang penting, hitung-hitungannya pas, sehingga tak ada yang merasa dirugikan. Karena baik pemerintah dan pihak swasta, sudah berusaha menyajikan alat yang terbaik bagi 270.000.000 penduduk Indonesia.


https://m.mediaindonesia.com/megapolitan/409822/dprd-dukung-pembukaan-karaoke-di-jakarta-dengan-prokes-ketat

Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, PCR dan Antigen, tak semata-mata untuk menurunkan Covid 19. Ini tergantung dari kita sendiri, baik-baik menjaga diri dengan menerapkan 5 M. kalau akan bepergian, dirasa wajar saja kita disuruh PCR dan antigen, karena kita akan berinteraksi dengan orang lain. Kalau kita memang terbukti sedang terjangkiti virus covid 19, jangan egois untuk tetap pergi. Untung sudah melewati Test dan Tracing, lalu bisa segera di-treatment ke rumah sakit.

Maka dari itu, meski kasusnya sudah turun, kalau tak mau terjangkiti virus membahayakan ini, kebiasaan jorok dan tidak teliti dalam hal kebersihan diri, mesti dihilangkan. Termasuk selalu cuci tangan dengan hand sanitizer atau air mengalir dan sabun, setelah menyentuh apapun. Protokol kesehatan tersebut (5 M), harus kita terapkan di diri kita, seterusnya, bukan hanya saat Covid 19 ini saja, ya!




You Might Also Like

0 komentar