Selasa, 31 Januari 2012

Ganja dan Rokok, Sama-sama Mengancam Jiwa

Pasti pembaca sekalian sudah sangat mengenal akan tanaman yang bernama ganja? Ya.. tak dapat dipungkiri bahwa ganja tumbuh subur di Indonesia tepatnya di daerah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).  Ganja (Cannabis Sativa) a.k.a marijuana ini sudah jelas masuk ke dalam lingkup narkoba yang efeknya bisa buat badan jadi lebih ringan, juga bisa buat kita ‘gak ngerasain sakit.

Lalu, bagaimana dengan ungkapan ini : Kalo’ gak ngerokok, ‘gak gentle!!! Pasti ungkapan tersebut sudah tak asing di telinga para pembaca sekalian. Begitu juga terhadap saya, Ungkapan serupa juga sering saya dengar dari orang-orang (laki-laki) disekeliling saya. Mereka berkata “rokok harus ada apalagi sehabis makan, asam mulut klo ‘gak ada rokok”. Dan tak tertutup kemungkinan banyak diantara wanita juga merokok. Seperti yang telah kita ketahui bersama, banyak sekali kerugian yang ditimbulkan.

Lantas apa hubungannya antara ganja dan rokok? Berikut dapat disimak perlahan-lahan yang mana akan saya bahas mengenai kedua barang tersebut.
1327988319298107941
images from http://sandaljepitz.wordpress.com
Saya mempunyai beberapa mantan teman dekat, sebutlah namanya Hendra. Jika sedang bersama saya, ia tak pernah lepas dari rokoknya. Habis satu bungkus, pasti dia langsung membeli lagi. Batuk-batuk pasti ia alami dan jujur saya risih. Setelah saya tanyakan berapa bungkus rokok yang dikonsumsinya? Dengan jujur ia berkata Kira-kira 3 bungkus perhari. Whattt???? Banyak sekali. Coba bayangkan, sampoerna AMild seharga 12 ribu x 3 = 36 ribu. 36 ribu perhari jumlah uang yang rela ia keluarkan Cuma untuk membeli rokok. Kalau sedang tak memiliki uang, ia pasti minta rokok pada temannya.

Kemudian ada seorang lagi, sebutlah namanya Heri. Ia pun sama seperti hendra, Cuma rokok yang ia konsumsi sekitar 2-3 bungkus perhari. Apalagi jika selesai makan, tidak putus-putus ia menghisap rokoknya.

Lalu yang paling saya ingat bernama feri. Ini yang saya tidak habis pikir, ia rela menghabiskan uang hanya untuk membeli rokok sekitar 4-5 bungkus perhari. Asal kita teleponan, pasti dia batuk-batuk juga. Jika saya bertanya, apakah kamu sakit? Pasti jawabannya tidak. Dia selalu menjawab habis merokok dan dengan jujur ia mengakui ‘abes duet udah gara-gara beli rokok”. Jika saya suruh berhenti pasti ia berkata tak bisa.

Nah,,, yang jadi pertanyaan sekarang, mengapa mereka begitu kecanduan akan rokok? Setelah saya minta jujur, mereka mengaku : dulu pernah make’ ganja. Sangat candu sekali malah mereka dengan ganja. Jadi menurut pengakuan mereka, tak berganja lagi, tetapi menghisap rokok saja. ini yang saya tidak habis pikir, bukankah sama saja penggunaan dan efek negatifnya?

Dari hasil penjaringan opini yang saya lakukan melalui facebook, berbagai jawaban dari responden saya dapati. Bang ogek berpendapat, kalau demikian halnya bukan candu lagi namanya, lebih tepatnya niat bunuh diri. Karena menurut bang ogek, jika sudah addict begitu, sama saja ia menjual masa depan dan keselamatan jiwanya pada rokok.

Pendapat lain dari kakak Sheila, beliau mengatakan kenyataannya yang pernah ia temukan adalah memang seperti kasus yang pernah saya alami. Namun sedikit berbeda. Dimana kakak Sheila menemukan, selain pecandu narkoba (mis. Ganja), ia juga perokok berat. Badannya sungguh teramat kurus. Saat ia berusaha untuk menghilangkan candu terhadap ganja, tingkat aktivitas merokoknya justru semakin meningkat, karena tubuh yang sudah terbiasa menggunakan ganja dan rokok pasti membutuhkan “Sesuatu” untuk “Menggantikan” posisi ganja yang selama ini dikonsumsinya. dengan rokok?

Pendapat lain saya dapatkan dari Rivai, dimana rivai mengatakan mengganti kecanduan ganja ke kecanduan rokok itu salah banget. Karena menurut penelitian, rokok itu lebih adiktif dibandingin ganja. Berarti, kalau dia mengganti kecanduan ganja ke rokok, dia bakal lebih sulit untuk menghilangkan kecanduannya itu, karena lebih sulit untuk berhenti merokok daripada berhenti nyimeng a.k.a nge-ganja.Sebenarnya jika ditanyakan mana yang lebih bahaya, ya saya dapat mengatakan sama saja bahayanya seperti disini www.blomada.com.
1327989630818090913
from google image
Pantas saja mereka lebih sering batuk dan tak pernah lepas dari ketergantungan rokoknya, atau mungkin walaupun kata mereka sudah bisa mengganti ganja dengan rokok, namun sekali-sekali mereka masih menggunakan ganja.

Yang pasti Rokok tidak lebih baik dari ganja, bahkan bisa jadi rokok lebih berbahaya bagi tubuh dibandingkan ganja. Cuma bedanya memang ganja menimbulkan perubahan kesadaran (mabok) dan mungkin juga halusinasi, sementara rokok ya … racun.

Solusinya, kembali kepada “Si pemilik jiwa” itu sendiri. sanggupkah dia “Berjuang” melawan “Hasrat” ingin mengkonsumsi lagi atau tidak. karna kenyataannya adalah, “Tidak mudah menghilangkan dua kebiasaan yang cukup berbahaya”  itu. Akhir kata, saya cuma berharap semoga para pembaca sekalian tidak seperti mereka bertiga karena ganja dan rokok ini sama-sama berbahaya dan mengancam jiwa.

Tidak ada komentar: